Pernikahan (bagian pertama…)

 

“gue kemarin liat di Path, Otong lagi ngejalanin taaruf”

“taaruf? where did i ever heard those word?”

“itu lho, de…kenalan atau silahturahmi untuk nyari jodoh”

“haaa…??

of course i’m surprise.

Otong adalah teman baru. anak baik yang walaupun sering bercerita mengenai masa lalunya yang pernah semenleven dengan pacarnya, adalah anak yang rajin beribadah dan terlihat sangat baik-baik. lalu, apa anehnya Otong melakukan taaruf?

di suatu sore saat saya pulang bersama teman dan Otong yang menyetir mobil, di dalam mobil hampir setiap berapa menit, Otong mengecek dan bermain dengan telepon selulernya. awalnya tidak ada yang aneh. tapi lama-lama, sinar hape yang lumayan terang di tengah sore yang gelap itu mengganggu saya yang duduk di belakang dan memancing untuk melirik layar hape yang dibuka Otong.

warna kuning dominan itu langsung saya kenali. aplikasi online dating untuk sesama jenis, yang mayoritas diisi pria. as guilty as I am, saya sampai berkali-kali melirik untuk memastikan apakah yang dibuka oleh Otong benar-benar Grindr. ya tentu saja benar! lalu apa yang aneh?

sejak pertama kenal dengan Otong, saya dan teman-teman sudah merasakan that quality on him. tapi karena itu urusan masing-masing pribadi, kita tidak pernah memusingkannya. apalagi Otong sering kali menceritakan mengenai beberapa masa lalunya dengan menyelipkan ‘sama cewek gue’, saya berpikir, mungkin gaya Otong saja yang agak feminin. tapi kejadian terbukanya Grindr dan melakukan taaruf can’t help but got me thinking…

why?

i don’t have much of gay friends, apalagi yang terbuka dan terang-terangan mengakui identitasnya. dan sekarang, Otong menjadi salah satunya. dan jika memang benar dia gay, lalu kenapa dia melakukan taaruf dengan perempuan?

“mungkin buat dia, ya sudahlah, ini adalah hal yang tepat untuk dijalani”

“tapi, dia kan ngga suka perempuan. dan apakah calonnya kira-kira tau orientasi dia sebenarnya?”

“mungkin dia pikir suatu saat dia bakal cinta sama istrinya”

will him??”

“yah… mungkin dia pikir, pernikahan adalah ibadah. so… ngga apalah walau tidak cinta. yang penting menjalankan ibadah. it’s not our business anyway”

itulah percakapan siang saya dengan si Cemong, teman saya yang super cuek dan tidak suka ngurusin urusan orang lain. kalau dia sudah ngomong begitu, artinya adalah stop jangan ghibah mulu, ngga ada untungnya. biasanya saya langsung diam tidak melanjutkan topik yang sama.

ibadah. tentu benar pernikahan adalah ibadah. sebuah argumen yang sulit terbantahkan. tapi bagaimana dengan perasaan? apakah dengan pernikahan taaruf ini Otong akan serta merta berubah haluan menjadi cinta lawan jenis? dan melupakan hasratnya terhadap sesama jenis? menurut saya tidak. walau banyak orang yang berpendapat suka sesama jenis adalah penyakit atau dosa atau karena pergaulan, saya tetap berpendapat ada sebagian orang yang lahir tanpa diminta telah membawa kecenderungan tersebut. bukan karena dia terbawa arus pergaulan, they just born with it. seperti saya pernah bahas sebelumnya.

bagaimana jika perasaan tersebut tidak akan pernah hilang? bukankah pernikahan yang seharusnya adalah ibadah itu akan berubah menjadi kebohongan seumur hidup karena Otong akan tetap diam-diam membuka aplikasi Grindr, bercakap-cakap dengan matchnya, dan membohongi sang gadis lugu yang dipanggilnya neng itu? apakah hal tersebut tetap dihitung ibadah?

“tapi de, suatu saat manusia tetap harus menikah. memiliki pasangan hidup. walau itu tidak selalu harus dengan orang yang dicintainya”

“Otong dari keluarga yang sangat beragama sepertinya. mungkin bagi dia tidak mungkin buat jujur pada keluarga dan embrace his life as total gay dan menikahi lelaki yang dia cintai”

apakah benar? apakah lebih baik menikah dengan orang bukan yang benar-benar kita cintai tapi diam-diam masih mencintai orang lain daripada hidup sendirian mencintai orang yang mungkin belum tentu dapat bersatu?

pernikahan, di zaman sekarang, walau tetap disebut sakral, banyak terlihat sebagai kontrak kehidupan. entah mengapa walau kita sudah masuk era kebebasan, masih saja ada orang-orang yang terpaksa memasuki pernikahan bukan karena cinta yang meluap-luap, melainkan hanya just to be settle, punya teman hidup yang akan saling mengurusi sampai maut memisahkan.

atau orang-orang yang terpaksa tinggal di dalam pernikahan tanpa gairah dan cinta yang kemudian akhirnya menemukan cinta di luar pernikahan namun belum tentu dapat langsung bersatu. salah satunya adalah Otong.

tapi apakah Otong salah?

otong memutuskan untuk tidak mendobrak norma-norma yang dianggap benar oleh masyarakat, mengorbankan perasaan hatinya dan menikah dengan orang yang akan dianggap ‘normal’ oleh masyarakat. tapi di satu sisi juga Otong berpotensi mencegah neng bertemu jodoh yang benar-benar mencintainya dan hidup bahagia tanpa takut pasangannya diam-diam buka aplikasi Grindr di malam hari.

tapi Otong kan tidak hidup sendiri, begitu argumen lain bersuara. Otong punya keluarga yang mungkin tidak akan siap menerima Otong memiliki kencenderungan suka sesama jenis dan sebenarnya tidak mau menikah dengan gadis macam neng. Otong tidak mungkin menyakiti keluarganya hanya untuk napsu pribadinya semata.

sebegitu kuatnya kedua argumen, akhirnya membuat saya berpendapat, lalu kenapa harus one way or the other? bagaimana kalau Otong tidak menikah saja?

ya menikah adalah ibadah. tapi apakah tetap dihitung ibadah kalau hati masih ada di tempat lain dan membuat Otong membohongi Neng? ya mengakui diri adalah gay akan sangat membebaskan diri Otong, tapi bagaimana dengan resiko menyakiti seluruh anggota keluarga yang mungkin tidak ikhlas Otong bersama sesama jenis?

siapalah saya tahu apa yang terbaik untuk hidup Otong. tapi mungkin jika Otong suatu saat bercerita ke saya sejujurnya mengenai orientasinya, saya akan mengatakan padanya bahwa terkadang kita berpikir tidak dapat melanjutkan hidup tanpa teman hidup. bahwa hidup ini akan sulit dijalani jika kita sendirian. maka akhirnya kita memutuskan to settle for what’s available agar hidup bisa kita jalani tanpa takut sendirian dan tidak ada yang mengurus sampai mati.

padahal saat dijalani nantinya, kita akan merasakan sesuatu yang hilang, yang berpotensi suatu saat celah tersebut akan diisi oleh orang lain -yang biasanya bukan pasangan yang kita pilih-. then, what good comes to that? another heartbreak. yang kali ini bukan hanya dari Otong, tapi berpotensi dari neng dan orang baru yang akan mengisi hati Otong.

ah… tapi siapalah saya ini menasihati Otong tentang pernikahan. i’m not perfect myself. seperti layaknya Otong dan manusia lain di muka bumi ini, saya pun takut hidup sendiri jadi tua bangka tanpa ada yang ngurusin dan mendampingi.

but still, i hope Otong comes to his better senses. semoga Otong menyadari bahwa hidupnya bisa jadi lebih baik tanpa harus bersama neng yang baru dikenalnya itu.

semoga.

Kapan Kawin?

“de, lo kapan nikah?”

“de, skrg pacar lo siapa?”

yes, dear. pertanyaan seperti itu paling dihindari kalau kita datang ke kawinan.

tapi ternyata tidak cuma di kawinan. pertanyaan-pertanyaan semacam itu datang juga pada saat acara reunian. tidak hanya itu. lalu diikuti dengan sang empu penanya pelan-pelan memamerkan kehidupannya yang seolah-olah bahagia dan tanpa cacat cela. bagaimana caranya? dengan meminta terkoneksi dengan akun sosial media! begitu permintaan pertemanan diterima, langsung banjirlah linimasa dengan foto diri, foto keluarga, dan foto anak yang ngga peduli cakep jelek, lucu atau mengerikan, tetap harus kita nikmati.

kehidupan di usia sekarang, memang rawan dengan pertanyaan-pertanyaan macam begitu. Jika ingin dianalisa, apa penyebabnya?

Kemungkinan penyebab pertama, sejak jaman dahulu, siklus kehidupan memang seperti itu. kita lahir, punya nama, belajar bicara, belajar berjalan, sekolah, lulus, kerja, punya pacar, menikah, punya anak, punya cucu, lalu mati. begitu berulang-ulang. itulah sebabnya, saat kita berada dalam satu stage kehidupan, akan ditanya ‘kapan kamu masuk ke stage berikutnya?’.

Baru lahir, akan ditanya, “sudah bisa bicara belum?” atau “sudah bisa jalan belum?”

sudah bisa bicara dan jalan akan ditanya, “sudah sekolah belum?”

setelah sekolah beberapa tahun, akan ditanya, “kapan lulus?”

begitu seterusnya. siklus kehidupan yang berulang-ulang. bahkan setelah sampai pada stage terakhir yakni mati, akan ditanya, “kapan dikubur?”

Kemungkinan penyebab kedua, si empunya yang bertanya ke kita sebenarnya sangat ingin membuka pembicaraan dengan kita. basa-basi yang terbaik menurut versi turun temurun adalah, “sudah menikah belum?”, “sudah punya pacar belum?”. terutama untuk orang-orang dengan usia 30 tahun ke atas.

kemungkinan penyebab ketiga adalah keinginan untuk pamer. yes, benar. akui sajalah. paling tidak sekali dalam hidup kita ingin memamerkan kesuksesan atau keberhasilan kita di depan orang lain. mulai dari keberhasilan dan kesuksesan besar, seperti kerja di perusahaan besar dengan jabatan tinggi, sampai kesuksesan remeh seperti punya pacar ganteng atau cantik.

“kerja dimana sekarang?… ooh.. kalo gue sih kerja di … blablabla”

“udah menikah? oh kenalin nih pacar saya, istri saya, suami saya, anak saya, babysitter saya..”

sounds familiar…?

namun terkadang, hidup tidak berjalan sesuai dengan stage yang seharusnya. terkadang dalam jangka waktu yang lama bahkan sampai kepada jangka waktu tidak ditentukan, kita tidak jua punya pacar. terkadang, sudah mengirimkan lamaran kerjaan ke berbagai perusahaan, tetap saja tidak ada yang memanggil untuk wawancara, apalagi mau menerima. atau bahkan terkadang, walau sudah ditulis dalam target di buku harian, dipajang di vision board atau dream board, sampai sudah disindir-sindir, tetap saja pasangan tidak kunjung mengajukan lamaran pernikahan.

terkadang, hidup tidak berjalan sesuai dengan stage ideal dan rencana kita. zaman dulu mungkin iya. tapi dijamin zaman sekarang lebih banyak penyimpangannya. setelah lulus, tidak langsung dapet kerja. punya pacar, belum tentu langsung menikah. banyak sekali tantangan untuk pindah dari satu stage ke stage lainnya.

lalu jika di urutan stage itu ada yang kita skip, lalu bagaimana?

apakah itu artinya hidup kita gagal? hidup tidak normal?

contohnya, sehabis lulus, menganggur. lalu tidak punya pacar. setelah punya pacar, menikah. tapi lalu cerai. sehabis cerai, belum punya anak, lalu kena sakit kanker. tidak langsung mati. tidak sempat punya cucu. apakah artinya hidup gagal?

tentu tidak.

menurut saya pribadi, tidak ada yang normal dalam hidup. oleh sebab itu tidak ada yang gagal dalam hidup. memang benar ada stage ideal yang harus dilalui. tapi jika kita gagal atau meloncati satu stage, tidak berarti hidup lantas tidak normal atau kehilangan maknanya. karena selalu ada sebab seseorang tidak melewati satu stage ideal dalam hidupnya.

buat apa menikah dengan pacar padahal kita sebenarnya cinta dengan orang lain? buat apa meneruskan pernikahan kalau cerai jauh lebih baik? apakah bekerja pilihan paling tepat kalau kita lebih baik jadi ibu rumah tangga, tinggal di rumah dan menganggur? apakah tepat memiliki anak hanya karena umur sudah cukup, penghasilan memadai, atau tuntutan lingkungan kalau sebenarnya hati tidak siap dan tidak ingin?

karena sebab-sebab di ataslah, makanya menanyakan pertanyaan semacam, “kapan menikah?”, atau “sudah punya pacar atau belum?”, atau “kapan punya anak?” sebaiknya tidak menjadi topik utama dalam sebuah pembicaraan basa-basi. saya yakin masih banyak pilihan pertanyaan lain yang bisa ditanyakan ke teman, saudara, kerabat, relasi yang sudah lama tidak pernah kita temui.

tapi bukan berarti pertanyaan-pertanyaan tersebut salah atau tidak boleh ditanyakan. hanya saja, dengan abnormalitas dan tantangan kehidupan saat ini yang seiring dengan evolusi manusia secara psikologis, maka relevansinya menjadi menurun dan meningkatkan sensitivitas yang selanjutnya dalam menyebabkan rusaknya hubungan antar manusia.

namun tidak semua orang tahu mengenai hal ini, mengenai teori saya. jadi solusinya apa?

kalau saya, setiap ada orang mulai bertanya, “kapan menikah?”, atau “sudah punya pacar atau belum?”, atau “kapan punya anak?”, saya membalasnya dengan santai,

“kenapa tidak tanya, kapan punya helikopter? kapan jadi milyuner? kapan punya pesawat pribadi?”. tentu saja dengan nada santai dan bercanda. mudah2an saja si penanya tidak tambah rese dan menanyakan hal-hal lain yang menyinggung kita.

yah walaupun jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas tetap saja….

belum, belum mampu beli pesawat sendiri, cuma pesawat telepon.

preambule

hello…

hah? masih ada ni orang.

PhotoGrid_1412350183817udah lama banget tidak ditengok. sudah berdebu sepertinya nih tempat. mau dibersihkan, tapi paling males bebersih… seperti biasa.

motivasi saya menulis biasanya hanya dua. yang pertama, karena membaca blog teman yang suka dan pintar menulis. dalam hati jadi kangen menulis lagi. makanya cari-cari peristiwa yang bagus buat jadi bahan tulisan.

kedua, karena ada kejadian penting yang perlu diabadikan, tentu saja dalam bentuk tulisan. jadi kejadian macam ulang tahun atau pernikahan itu ngga masuk hitungan. karena event-event semacam itu diabadikannya bukan dengan tulisan, tapi dengan foto.
karena ada beberapa kejadian besar yang patut diabadikan sejak terakhir menulis, maka tulisannya perlu dipisah-pisah agar tidak menimbulkan kebingungan saat dibaca. so tulisan ini hanyalah semacam preambule atau pembukaan. so, sampai di sini saja pembukaannya.

enjoy the ride.

2013 in review

 

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Happy New Year and this is my report! Hope it will have a better performance next year!

 

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 1,500 times in 2013. If it were a cable car, it would take about 25 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

to move on OR to (not) move on

it all began at internship. terjadi waktu saya masih berusia 24 tahun. waktu itu saya harus melalui masa kerja praktek di sekolah S2. entah kenapa, semua perusahaan yang saya inginkan tidak membuka peluang internship. akhirnya setelah menunggu lama, dipanggilah saya di salah satu perusahaan percetakan dan media massa terbesar di Indonesia. saya sempat menolak sampai beberapa kali karena saya waktu itu berpikir, buat apa kerja praktek di sana? jualan buku? apa untungnya? what’s the prestige in that?

setelah melalui beberapa kali pemaksaan dari sekretariat kampus dan ditambah belum menemukan kandidat tempat internship lainnya, akhirnya saya menyerah. mau-mau ngga-ngga, saya datang ke sana.

seolah nasib sial yang tidak pernah berakhir, sesampai di sana, saat melapor ke resepsionis untuk dikonfirm ke calon atasan bahwa saya sebagai kandidat internship sudah datang dan siap diwawancara, ehh… resepsionis bilang, “nama Ibu tidak ada di salah satu kandidat yg dipanggil untuk kerja praktek”.

tentu saja saya marah besar. perjalanan ke kantor tersebut sangat panjang dan macet. ditambah saya sebenarnya tidak ingin internship di sana, eh.. ini tau-tau ada update info bahwa saya sebenarnya tidak diinginkan atau dipanggil? it’s a total bullsh*t!! akhirnya setelah marah-marah menelepon sekretariat di kampus saya untuk konfirmasi, saya dipanggil ke atas.

di atas, saya di-brief oleh seorang laki-laki -yang disebabkan karena amarah membara, terlihat seperti oom-oom menyebalkan-. saya di-brief ini itu mengenai proses kerja, kapan harus masuk, peraturan, dll dll. i’m so angry by the previous embarassing moment that i know i would remember that f***ing old face!

sebenarnya saya masih kurang berniat untuk internship di sana. tapi nafsu saya untuk bisa lulus tepat 15 bulan dengan GPA yang menawan, membuat saya memutuskan untuk menekan ego dan berpikir, “ah biarlah… it’s just 2 months internship, how bad could it be...?”, pikir saya. what i didn’t know then, this internship will be the milestone for one of biggest disaster moment in my life.

masuklah saya pada hari yang sudah ditentukan. entah seberapa konvensional atau menyedihkannya perusahaan percetakan dan media no. 1 di Indonesia ini, saya di sana dianggap sebagai gadis idola di antara sekian banyak karyawan yang memang mayoritas laki-laki. they thought i was attractive, how lame is that!? memang karyawan perempuannya bisa dihitung jari sebelah tangan. but still... tidak pernahkah mereka melihat perempuan di luar lingkungan kantor?

hari-hari berlalu, sembari memusingkan laporan kerja praktek macam apa yang harus saya buat?! saya memperhatikan karyawan di sekitar saya. mereka memang tidak masuk kategori karyawan yang menarik secara penampilan fisik, dan usia mereka pun rata-rata sudah tua. hingga akhirnya jatuh pandangan saya ke seorang laki-laki duduk tidak jauh dari meja kerja saya.

dia adalah si oom-oom yang waktu itu mem-brief saya di hari kejadian memalukan itu terjadi, yang kebetulan adalah atasan saya di tempat internship tersebut. dari tempat itu dan di detik itu, dia sama sekali tidak terlihat seperti oom-oom. usianya ternyata baru 28 tahun. he’s laughing in front of his monitor while working… and weird part is.. at that time, i suddenly think that he’s attractive!

to sum it up, ternyata dia juga menganggap saya menarik dan sengaja berpura-pura tetap bersikap sebagai atasan yang baik, karena dia tahu itu akan membuat saya penasaran dan lebih agresif. what a dick, right? but somehow, at time, i’ve been blinded. dan masuklah saya dalam perangkapnya. hanya dengan sedikit kenaikan di level agresivitas saya, gayung bersambut.

mulailah dia mengajak saya makan sewaktu saya harus kerjakan tugas di kampus dan tidak datang ke kantor. saya ingat that 1st un-official date. ayam bakar Ganthari di jl. Sunda. truth be told, saya tidak suka ayam bakar. terlalu manis dan lembek. tapi seperti saya bilang, waktu itu saya sedang buta. malam dihabiskan dengan memuji-muji masakan dari restoran itu. which i actually didn’t like. but all i was thinking a that time is to appeared more attractive in front of him.

semakin banyak waktu yang saya habiskan dengan dia. waktu bekerja saya gunakan untuk sneaked up berdua, pura-pura ada urusan yang harus diselesaikan berdua dan menghabiskan waktu bersama. kabur berdua, mencuri-curi kencan. saya benar-benar seperti sedang diracun dan disihir saat itu oleh dia. saya memujanya mati-matian.

kesempurnaan adalah milik dia, bukan lagi milik Tuhan.

sampai suatu hari di waktu bekerja. karena kapasitas file, saya harus mengerjakan tugas di komputer miliknya, tanpa sengaja saya membuka file yang masuk di recent updates.

isinya… janji pernikahan.

bagaikan petir di siang bolong. akhirnya saya buka semua dokumen di komputernya dan saya temukanlah. rencana pernikahannya 3 bulan ke depan, foto-foto pre wedding, dan… kabur mata saya oleh air mata. hancur hati saya saat itu. saya merasa tertipu. dia sudah mau menikah. dan dia mempersiapkan sendiri pernikahannya? lalu apa yang dia lakukan dengan saya? kenapa? kenapa? kenapa?

tapi jangan salah terka, semua belum berakhir di situ. saya memang terluka. tapi perasaan saya saat itu terlalu besar menguasai otak saya. saya memutuskan untuk tidak mengkonfrontasi. saya masih ingin menguasainya. jadi saya tetap melanjutkan hubungan, seolah-olah saya tidak pernah membuka file bernama janji pernikahan itu.

hubungan kita semakin manis dan semakin jauh. sampai ke titik dimana saya sudah tidak bisa keluar dengan hati yang tetap utuh. begitu pintarnya dia mengambil hati saya, saya adalah orang yang diajaknya menghabiskan waktu pergantian umurnya ke 29 tahun secara eksklusif, alias tanpa kehadiran orang lain. hanya berdua. tidak hanya itu, sampai sempat saya dibawanya ke rumah kakaknya tempat dia menumpang tinggal waktu itu. ah perempuan. dipikirnya waktu itu adalah tanda bahwa ia istimewa. dan itulah yang saya telan. saya adalah perempuan istimewa di hatinya.

sampai suatu hari, entah kenapa, kata-kata akhirnya muntah dari mulut saya. saya menanyakan padanya tentang apa yang saya temukan waktu itu. saya melihat janji pernikahan itu. benarkah dia akan menikah?

dan dia menjawab dengan tenang, seolah-olah memang sudah diprediksi saya akan bertanya. dia memang akan menikah. dia bilang pasangannya adalah pacarnya sejak masa SMA. hubungan yang panjang dan diwarnai putus sambung. sampai suatu ketika, kakak-kakaknya bertanya kepada sang perempuan yang sudah lama selalu bersama keluarga itu, kapan kalian akan menikah? dijawabnya, terserah dia. lalu secara terpisah, kakak-kakaknya bertanya juga pada adiknya, kapan dia mau menikah? pacar saya menjawab, terserah dia.

akhirnya diputuskan oleh kakak-kakaknya kalau dia harus segera menikah dengan pacarnya dan dia menurut. dia bilang, itu bukan keinginan dia. dia dipaksa. bahwa itu adalah kawin paksa.

the hillarious thing is… saya percaya.

saya jadi ingat kata-kata papa. kalo sudah cinta, tai kuda pun rasa cokelat. as gross as it sounds, i must say that i agree.

dibutakan dengan cinta dan mimpi kalau kisah saya bisa seindah cerita dalam dongeng, saya waktu itu bertanya apakah dia cinta saya? dia jawab ya. dan apakah dia cinta calon istrinya? dia jawab dengan diplomatis, hubungannya dengan perempuan itu adalah level yang berbeda.

lalu dia mulai cerita tentang masa lalunya sebagai anak nakal tukang mabok. (dia menyebutnya mabok darat, laut dan udara. yang artinya : mabok laut = mabok minuman keras, mabok darat = mabok pil, semacam ecstacy dan teman-temannya, mabok udara = mabok ganja). dia bercerita bahwa dulu ia hampir saja mati karena kenakalannya itu. tapi si perempuanlah yang selalu ada dan yang menolong waktu dia sedang ada di era kegelapan.

dia juga bercerita bahwa perempuannya itu tetap ada dan setia menunggu biarpun dia sembari berpacaran dengan banyak perempuan lain. dia pernah bertanya, kenapa sih kamu masih mau menunggu dan maafin aku? dan si perempuan menjawab, that’s the power of love..

mau muntah ngga siiih….

tapi seperti saya bilang, saya sedang tersihir. saya malah tersentuh oleh cerita gombal itu. lalu dia pun bilang kalau dia terpaksa menuruti kakak-kakaknya karena ia berhutang budi pada kakak-kakaknya yang sudah membesarkan dia. kakak-kakaknya ada sembilan orang dan sudah jadi orang sukses semua. orang tuanya sudah sangat tua sehingga kakak-kakaknya lah yang membiayai hidup dan sekolah dia dari kecil sampai sekarang. secara garis besar, dia mengimplikasi bahwa itu adalah kawin paksa dan dia sebenarnya ingin bersama saya.

lalu, seperti cerita-cerita dalam film, saya mencoba taktik pengorbanan. saya bilang dengan heroik padanya, asalkan kamu bahagia, saya juga akan melepasmu dengan bahagia. taktik ini dimaksudkan membuat efek dia menjadi tersentuh, terbuka hatinya dan kabur atau menentang keluarganya demi memilih saya. (ah… i should stop to watch those crappy desperate love movies…)

dan demi kemaslahatan dan keselamatan seluruh saudara perempuan saya di luar sana, please stop watching those movies if it will makes you think that those kind of thing trully exist in real life!! stop before someone gets hurted. and that someone is YOU!

dengan segala kharismanya pun ia meminta saya menonton film Notebook dan secara tidak langsung membuat saya berpikir di alam bawah sadar bahwa film itu bisa jadi cerita hidup saya. cinta yang ditentang. cinta yang tidak mungkin, bisa melawan segalanya!

taktik sudah dijalankan, waktu berlalu. dia sepertinya adem-adem saja. dia tetap menjalankan hubungan mesra dengan saya, merayu, bilang sayang, tapi seolah-olah tidak terjadi apa-apa. seolah-olah pernikahan tidak pernah ada. yeah… you wish, ade!

suatu ketika, 2 minggu menjelang tanggal yang pernah saya lihat adalah tanggal ITU. tanggal pernikahannya dengan perempuan lain. di dalam mobil, dalam perjalanan kencan, dengan sok manja saya menanyakan bagaimana proses persiapan pernikahannya? sambil dalam hati berharap dia akan menjawab bahwa sudah dibatalkan dan ia akan memilih saya.

kenyataannya? dia menjawab santai, seolah itu hal biasa, kalau persiapan pernikahannya sudah oke dan beres semua.

i instantly freaked out!! taktik saya gagal! saya lalu histeris dan menangis. orang yang saya sayangi, puja-puja akan menikah dengan perempun lain!! dia kaget. dengan bodohnya dia bilang, “bukannya kamu bilang kamu akan melepas saya dan bahagia kalau saya bahagia?”

it was a very stupid story, to think about it right now, right? but BELIEVE ME…it ain’t over yet.. kebodohan saya belum berakhir di situ.

saat itu, saya ingat saya langsung memaksa dia untuk membatalkan pernikahannya. bilang pada kakak-kakaknya kalau dia mencintai orang lain. bahwa dia tidak mau dipaksa untuk menikah dengan orang yang tidak ia cintai. aneh bukan? semua orang tahu kalau hampir tidak mungkin pernikahan yang tinggal 2 minggu lagi bisa dibatalkan. tapi saya memang terlalu banyak menonton drama romantis sialan itu. semua mungkin terjadi! semua mungkin terjadi jika dilakukan karena cinta.

waktu itu sih kelihatannya dia setuju. katanya dia akan bicara dengan kakaknya untuk menunda atau membatalkan pernikahannya, karena dia sebenarnya tidak mencintai perempuan itu.

saat itu saya lega. saya pun menanti hasil dia berbicara ke kakaknya dan akhirnya mereka setuju dan menjadi keputusan bahagia untuk saya dan dia, sambil trus menonton DVD The Secret, membaca cerita-cerita inspirasinya, membuat afirmasi-afirmasi bahwa saya dan dia akan hidup bahagia selamanya, menulis nama saya dan dia di manapun di setiap kesempatan yang ada,dan melakukan hal-hal bodoh bin mistis lainnya. itulah yang dinamakan harapan. harapan palsu. saya hidup di dalam ilusi harapan bahwa saya dan dia memang diciptakan Tuhan untuk bersama walau harus melalui proses yang berat.

seminggu berlalu.

kami bertemu. saya menanyakan hasil pertemuan dengan kakaknya dengan harap-harap cemas. this is it. this is the moment of love.

ternyata, apa coba yang dia bilang?

kakak-kakaknya tidak setuju. kakak-kakaknya memarahi dia bahkan salah satunya sempat mendamprat dia. mereka mengharuskan pernikahan itu tetap terjadi. tidak ada penundaan ataupun pembatalan. sekali lagi, hati saya hancur. saya menangis sambil memohon-mohon padanya untuk tetap berusaha, toh dia tidak mencintai perempuan itu. dia tidak bergeming. dia bilang, dia tidak mau mengecewakan kakak-kakaknya. dia berhutang budi terlalu banyak dengan mereka.

to think about it today… i think it was all bullsh*t. kemungkinan besar. kejadian itu tidak pernah terjadi. tidak ada adu mulut, tamparan, bahkan kemungkinan besar dia tidak pernah bilang apa-apa ke kakak-kakaknya. dia hanya ingin memelihara saya dan perasaan saya.

dengan hati hancur, pernikahan itu tetap terjadi. pada hari menjelang dan saat pernikahan itu terjadi, saya masuk ke dalam fase stress berat. saya tidak bisa makan. apapun yang saya makan, saya muntahkan kembali. saya tidak merasakan lapar. hal tersebut terus berlangsung, sampai saya kehilangan berat badan sebanyak 11 kilogram.

(kadang kalau ingat, heran juga hal itu bisa terjadi. jika mungkin, pengen juga mengulang kejadian turun berat 11 kilogram. minus pacar kurang ajar tentu saja…)

selain depresi berat, saya pun trauma mendengar lagu Shania Twain – from this moment on. karena lagu itu adalah lagu yg diputar waktu dia dan istrinya pertama menginjak altar setelah resmi jadi suami istri. setelah kejadian itu, saya bisa histeris, menutup kuping erat-erat setiap saya sadar ada intro lagu si Shania Twain itu.

hari pernikahan berlalu, kebetulan pernikahan itu bersamaan dengan waktu internship berakhir dan masuk waktu saya harus mempersiapkan laporan kerja praktek untuk disidangkan di depan dosen. saya disibukkan dengan laporan kerja praktek dan berusaha melupakan tentang bulan madu yang dilewati dia dan istri barunya.

namun, penderitaan tidak selesai sampai di situ.

saya diberitahu oleh pihak kampus, bahwa salah satu penguji materi laporan saya nanti adalah atasan saya sewaktu di tempat internship. lemaslah saya. apa yang harus saya lakukan? apa yang akan terjadi nanti waktu saya bertemu dia? bagaimana perasaan saya?

pertanyaan terjawab saat waktu sidang itu tiba. dia datang dengan wajah yang segar, which i hate. dan dia tetap bersikap seperti sebelumnya. penuh senyum dan berkharisma. selama sidang laporan itu, sewaktu saya presentasi dan menjawab pertanyaan, dia tetap menatap saya seolah-olah saya adalah satu-satunya perempuan yang menarik hatinya. dan… just like that, saya masuk lagi ke dalam perangkapnya.

lame, i know…

setelah sidang itu, dia menghubungi saya. mengajak saya bertemu. mengatakan bahwa dia kangen sama saya dan bahwa saya terlihat sangat menarik dibandingkan sebelumnya. dia masih menginginkan saya! orang normal akan berpikiran : “what the hell?!!! aren’t you married, dude??!“. tapi saya saat itu tidak masuk kategori normal sama sekali. yang ada dalam pikiran saya adalah :

oh my God! ternyata dia masih mencintai saya! dia sangat mencintai saya walau sudah dipaksa menikah dengan perempuan itu!! how romantic!!

again, remember, girls… movies like Notebook? poisoned you.

akhirnya saya jatuh ke kegelapan lagi. saya menjalin hubungan dengan dia lagi. kali ini dalam situasi lebih parah. dia sudah menikah dan saya adalah simpanannya.

saya mulai menipu diri saya sendiri. setiap orang bertanya, saya selalu menjawab saya sudah punya pacar. saya mendeskripsikan dia ke semua orang di sekitar saya. semua. kecuali fakta bahwa dia sudah menikah. semua orang kagum, seakan saya punya pacar yang sempurna. saya menciptakan ilusi bahwa dia adalah seseorang yang bukan dia sebenarnya di dunia nyata.

anehnya saya pun selalu percaya kebohongan dia. suatu hari, dia menelepon dan bilang kalau dia sedang sakit. dia mengajak saya datang ke tempat tinggalnya, sebuah kost kontrakan kecil di belakang ITC Kuningan. dia bilang istrinya sudah berangkat kerja. dia ingin ditemani oleh saya.

datanglah saya ke sana, seolah-olah saya adalah malaikat yang dia inginkan menjaga dia. sampai tempat tinggalnya, saya mulai sedikit disadarkan. dia bukan laki-laki yang sendiri lagi. tempat tinggalnya kecil tapi sangat rapi, dengan foto pernikahan di atas tempat tidur.

dia mengundang saya ke tempat mereka tidur bersama harusnya saya anggap kurang ajar, tapi saya kembali menciptakan kebohongan untuk menenangkan hati saya sendiri. mereka masih tinggal di kontrakan kecil begini, pasti ini bukan pernikahan serius. pasti mereka sebentar lagi bercerai! dosa terbesar adalah pada saat kita berusaha membohongi diri sendiri. saya sempat cemburu melihat kamar kecil itu. dan melihat cemburu di mata saya, dia buru-buru bilang kalau dia tidak pernah tidur dengan istrinya. dia tidur di ruang sebelah yang kecil dengan kasur gulung. at time time, i can’t believe i even bought that load of crap! it’s clearly a lie, but i happily believed it!

tiba-tiba, ada yang datang dan membuka pintu rumah! istrinya ternyata pulang karena ingin memberikan bubur untuk sarapan suaminya yang dia kira sakit. what the hell?!  di luar dugaan saya, saya langsung dipaksa masuk ke kamar mandi di rumah kecil itu oleh dia, dengan niat untuk menyembunyikan saya agar tidak diketahui istrinya.

tapi ternyata istrinya tahu. saya diminta keluar. saya lalu keluar dan pergi dari situ dengan perasaan malu dan hancur. tapi anehnya, tiba-tiba perasaan itu berubah. perasaan itu berubah menjadi…. berharap dia akan bertengkar dengan istrinya, dan dia membela saya dan mengejar saya agar tidak pergi. perasaan senang bahwa akhirnya istrinya tahu ada saya. saya adalah orang yang dicinta suaminya, bukan dia. gara-gara? ya tadi itu… seperti film-film romantis picisan itu.

tapi ilusi memang tidak akan pernah jadi nyata.

tidak ada yang mengejar saya. bahkan dia tidak menelepon saya sampai saya menelepon dia untuk bertanya apa yang terjadi. dia bilang dia dan istinya bertengkar hebat. tapi akhirnya mereka baik-baik saja.

APAAA???

saya kembali terluka. tapi anehnya, luka itu tenyata sangat cepat sembuhnya, karena beberapa waktu setelah itu, dia mengajak saya bertemu seolah tidak pernah terjadi apa-apa, dan saya setuju. saya kembali jadi kekasihnya. saya kembali membohongi diri sendiri dan orang-orang di sekitar saya.

saya rela melakukan apapun untuk dia. termasuk merekomendasikan dia ke teman untuk bisa pindah dan masuk ke perusahaan minuman terbesar di Indonesia. saya rela begadang untuk membuatkan cv yang kredibel, membuat presentasi flash based yang menarik agar dia bisa memukau saat interview dan diterima bekerja di perusahaan tersebut.

ilusi yang saya ciptakan di pikiran saya adalah jika saya bisa berperan begitu besar dalam hidupnya, maka dia akan berhutang budi pada saya. dia akan sadar bahwa sayalah yang bisa membuat dia berhasil mendapatkan karir yang lebih baik dan sukses. dia akan sadar dan akhirnya memilih saya sebagai orang yang paling tepat untuk mendampinginya.

dan memang benar akhirnya dia memukau semua orang. dia berhasil dan karirnya semakin menanjak sejak itu. dengan kharismanya, dia menjadi anak kesayangan atasan. dia bisa melakukan hal-hal yang selama ini cuma bisa ia impikan. berkat saya, dia jadi seorang manajer hebat di perusahaan besar.

hubungan kami terus berlanjut. saya bercerita ke semua orang betapa hebatnya pacar saya. tentu saja dengan menghilangkan fakta bahwa dia sudah menikah. seolah-olah dia adalah eligible bachelor yang luar biasa. dan begitu pintarnya dia memperlakukan saya, saya merasa seolah-olah sayalah satu-satunya perempuan di hati dan dunianya. dia bahkan sempat beberapa kali datang ke rumah saya dan bertemu dengan orang tua saya, seolah-olah dia adalah lelaki bujangan dan kita menjalani hubungan yang normal.

tapi dia tidak pernah ingin terlihat bersama saya di tempat umum. kami selalu pergi kencan ke tempat-tempat jauh yang kecil kemungkinannya untuk bisa bertemu orang yg ia kenal. dan saat jalan berdua, dia tidak pernah menggandeng saya. dia selalu jalan lebih cepat di depan saya. dia hanya bersikap mesra jika kami hanya berdua tanpa kemungkinan kehadiran orang lain. karena saya adalah simpanannya. dia pun tidak pernah memberikan nomor handphone-nya. karena dia tidak mau saya menelepon di saat dia sedang berdua dengan istrinya, atau mengirim SMS mesra yang kemudian akan dibaca istrinya. dia selalu menelepon saya dengan nomor-nomor berbeda yang diganti setiap hari. dan saya diberi nama Made di phone book agar tidak dicurigai istrinya.

sampai akhirnya orangtua saya pun mulai mencium hubungan ini. entah darimana mereka tahu, tapi mereka mulai curiga dan melarang saya untuk bersama dia lagi.

but you know the old saying… tell a girl she can’t have something, aaand… she wants it even more! (from movie Suburban Girl)

saya semakin liar dan berontak. pertama saya sembunyi-sembunyi  tetap berhubungan dengan dia. lama-lama saya terang-terangan, bahkan tidak peduli walau orang tua melarang saya. saya merasa tertantang. ini adalah kisah cinta terlarang. kisah cinta telarang selalu sulit, tetapi pada akhirnya akan bersatu mengalahkan segalanya!

err…. begitu selalu kan yang ada di film-film…?

apalagi keromantisannya tidak berkurang. waktu itu, saya berulang tahun. dia menelepon dan meminta saya mendengarkan single lagu yang baru rilis pagi itu, Sempurna oleh Andra and the Backbone. dia bilang, lagu itu sangat menggambarkan diri saya dan lagu itu dia persembahkan untuk saya.

waktu itu lagu Sempurna benar-benar baru rilis dan saya belum pernah dengar. langsung saya bernapsu mencari-cari dan bertanya ke seluruh teman kantor, seperti apa lagunya? apa liriknya. belum ada yang tahu. karena memang baru rilis. setelah membabi buta mencari ke sana sini, teman saya ada yang sudah dapat dari oom-nya yang kerja di industri musik. dengan tidak sabar saya pasang headset saya, dan….

kau begitu sempurna
di mataku kau begitu indah
kau membuat diriku akan slalu memujamu

bait pertama yang saya dengar langsung membuat saya meneteskan airmata. he loves me that much! saya sangat teharu. dan saat ini, saat saya mengetik cerita ini, saya tidak bisa menahan tawa mengingat betapa lugu dan tololnya saya. saya termakan gombalan lagu seorang lelaki beristri. saya, lulusan S2 cum laude dengan GPA 3.75. geez, louise…!

saya pikir dia sangat mencintai saya, sampai suatu ketika, saya mengalami musibah. seorang teman kantor memfitnah saya. saya dipaksa mengundurkan diri karena sesuatu yang tidak saya lakukan. saya dipermalukan oleh orang-orang yang sudah saya dedikasikan sebagian kerja keras saya. saya berada dalam kondisi hancur. saya menghubungi dia, karena saya tahu dia pasti akan menghibur dan melindungi saya.

ternyata tidak! waktu saya kebingungan dan menelepon dia, dia malah mengatakan sesuatu yang bagai tusukan pisau setelah mendapat tamparan. dia meminta saya meninggalkan dia. alasannya, karena permintaan istrinya. menurut dia, istrinya mengendus kembali hubungan kita dan meminta agar diakhiri, dan dia minta saya merelakan dia.

one of worst days of my life! baru saja dipaksa mengundurkan diri, bukannya didukung dan dihibur… eh malah didepak sama orang yang saya sayang. dan walaupun saya terus menelepon dan menelepon dan memohon dan memohon, dia sepertinya tidak bergeming. katanya waktu itu… lupakan saja dia, saya akan jauh lebih bahagia tanpa dia.

saya menghabiskan waktu untuk menangis dan menangis. bertanya kepada Tuhan kenapa saya diberi kejadian semacam ini. drama queen. it didn’t occured to me at that time, that it was one of God’s awful sense of humor.

saya tidak dipersiapkan untuk menghadapi ini. selama 3 bulan saya bangkrut, tidak tahu harus apa, melamar kerja dimana dan berpikir beberapa kali untuk menghabisi hidup. untungnya saya pengecut. jadi hal itu tidak pernah terlaksana. saya tidak pernah berani bunuh diri. saya masih ada di sini.

dengan sisa harapan dan semangat saya melamar kerja lagi dan akhirnya diterima di perusahaan tempat saya bekerja saat ini. walaupun sudah memulai babak baru dalam hidup, saya masih tidak bisa melupakan dia. apalagi ternyata… di kantor baru saya, salah satu karyawannya adalah mantan teman sekerjanya. dan ada pula karyawan lainnya… adalah kakak kandungnya!! what a nightmare, right?

setiap hari saya harus melihat kakak laki-lakinya di kantor dan melihat bayang-bayang dia di sana. menyiksa! saya harus menghindar sebisa mungkin karena gerak-gerik saya pasti akan mencurigakan. semakin saya sulit untuk melupakannya. setiap malam saya menangis sebelum tidur. bertanya pada ruang kosong, saya harus apa? bagaimana caranya melupakannya? bagaimana cara melanjutkan hidup kalau saya ternyata tidak bisa mencintai orang lain? pokoknya, hidup saya sangat menyedihkan.

sangat sulit pula berkonsentrasi kerja di kantor. karena setiap melihat kakaknya, yang saya lihat adalah dia. saya berkali-kali berdoa, semoga kakaknya pindah ke perusahaan lain. segera! hingga pada suatu ketika, doa saya terkabul. kakaknya mengundurkan diri dari kantor karena mendapat pekerjaan lain. betapa bahagianya saya! satu pengganggu hilang sudah! tapi…ternyata tidak semudah itu. saya masih tetap tidak bisa melupakan dia. saya masih tetap menangis setiap malam karena selalu ingat dia. lagu cinta yang cuma mirip sedikit dengan cerita kami, langsung bikin saya menangis, film romantis bikin mata saya sembab ngga karuan, dan ada hobi baru yang lebih menyedihkan… saya menuliskan nama saya dan dia, dan keinginan-keinginan saya akan hubungan kita di kertas, saya simpan di dasar laci meja kantor, untuk selanjutnya dibaca setiap hari dan berharap suatu saat akan terjadi.

aah… memalukan sekali untuk menceritakan ulang hal ini. tapi, semua harus dibuka. agar tidak ada lagi koban berjatuhan seperti saya.

6 bulan berlalu semenjak saya didepak. saya mulai lebih sedikit memikirkan dan menangisi dia walau belum bisa sepenuhnya lupa. hingga suatu ketika. saya sedang menonton acara tv yang disponsori oleh produk yang menjadi tanggung jawab saya di kantor. tiba-tiba ada nomor telepon tak dikenal masuk. tanpa firasat apapun, saya terima.

 suara yang sangat saya rindukan terdengar di sana!

harusnya saya tutup telepon saat itu juga. harusnya saya maki-maki dia. harusnya saya menjalankan mesin rasionalisasi saya sebelum jatuh ke kegoblokan yang sama lagi. tapi tidak. dengan bahagia dan berbunga-bunga, saya menyambut kembalinya sang pangeran tercinta. seketika saya lupa dengan semua sakit hati yang sudah ia sebabkan. mata saya buta kembali.

dengan gayanya yang menawan, dia menanyakan kabar saya. dia bilang dia ingat saya waktu melihat produk saya tampil di tv. seketika saya bereaksi, dia tahu apa pekerjaan saya sekarang! dia pasti masih terus mengamati saya! dia masih belum bisa melupakan saya! dia masih mencintai saya! kembali suara-suara harapan dan ilusi palsu itu membuat kesimpulan atas asumsi yang ada.

dia juga bercerita bagaimana suksesnya dia sekarang. dia sangat mencintai pekerjaannya. pekerjaan yang dia dapat akibat pertolongan saya dan membuat dia akan selalu berterima kasih dan menganggap saya adalah bagian penting dalam hidupnya, begitu pikir saya. dia bilang dia merindukan saya dan banyak sekali yang ingin dia bicarakan dengan saya sehingga dia mengajak saya untuk menemuinya.

tanpa berpikir panjang, saya setuju. saya bersedia melakukan apa saja untuknya! saya tidak peduli dia sudah memiliki istri! toh cinta sejati pasti akan berakhir bahagia. siapa tau suatu saat dia memutuskan meninggalkan istrinya. atau istrinya yang meninggalkan dia. atau… atau… atau… dengan serakah, saya langsung membuat asumsi-asumsi untuk memvalidasi keputusan saya ini. ini bukti cinta sejati! setelah 6 bulan dia menghubungi saya lagi! sama seperti di film-film yang saya tonton selama ini. fairy tales do come true!

saya kembali menjalin hubungan terlarang itu. saya dibawa ke rumahnya yang baru. sekarang dia sudah tidak tinggal di kost kontrakan butut lagi. dia sudah membeli rumah yang cukup besar di pemukiman dekat kantornya. rumah yang bersih dan sangat minimalis. dan walaupun di tangga saya melihat foto-foto mereka berdua dalam berbagai event bahagia dipajang, saya tetap percaya (atau lebih tepatnya, membohongi diri sendiri!) waktu dia bilang, dia tidak pernah tidur berdua dengan istrinya. dia tidur di ruang di luar kamar tidur dengan sofa bed menghadap televisi.

waktu itu saya mempercayainya karena dia juga bercerita mengenai pekerjaannya yang sekarang banyak berhubungan dengan dunia malam. dia sering pulang larut malam sehingga dia jarang bertemu istrinya. lagi-lagi saya bersorak dalam hati, dia memang mencintai saya! dia tidak betah bersama istrinya! dia malahan mencari saya lagi!. padahal, jelas-jelas saya lihat di foto-foto itu betapa bahagianya mereka. entah apa yang ada di otak saya waktu itu.

saya masih ingat betapa saya rela mengumpulkan uang dari gaji saya yang tidak seberapa untuk membelikan hadiah mahal saat dia ulang tahun. saya selalu menunggu saat itu dan berharap dia akan terkesima dan teringat oleh hadiah-hadiah itu. uang yang saya keluarkan bisa sampai jutaan rupiah!

saya tidak peduli. apalagi sekarang dia sudah kembali ke tangan saya. bukti kalau dia tidak bisa hidup tanpa saya. kami kembali berjalan bersama. seperti biasa, tingkah lakunya tidak berubah karena memang saya adalah kekasih rahasia. di tempat umum, dia selalu jalan di depan saya, menolak saya gandeng, dan seperti dua orang yang tidak saling kenal.

 mengingat dia masih tetap bersama istrinya, dia cukup egois dengan melarang saya untuk dekat dengan laki-laki lain. kalau dia menangkap saya dekat atau didekati lelaki lain, dia bisa marah besar. dan dia bisa menghabiskan waktu lama untuk memaafkan saya. padahal belum tentu benar saya dekat dengan laki-laki itu. saya pun tidak boleh memakai pakaian seksi atau yang bisa menarik perhatian laki-laki. dia ingin saya jadi milik dia seutuhnya. waktu itu, saya merasa sangat tersanjung. padahal… bagaimana dengan dia sendiri? saya tidak boleh protes kalau dia sudah dimiliki oleh istrinya!

selama beberapa bulan kita bersama, saya merasakan ada yang agak aneh. beberapa kali dia terlihat agak menghindar dan menjaga jarak. tapi karena saya sangat takut kehilangan dia, saya tidak protes dan berusaha selalu berhati-hati menjaga perasaannya. termasuk ketika saya mendengar beberapa cerita yang menguak bahwa dia juga dekat dengan beberapa perempuan lain.

seorang teman saya yang baru sekali bertemu dia, tidak sengaja satu lift dengan dia di sebuah mal. dia bersama perempuan lain. mereka tampak mesra sampai akhirnya dia sadar dia seperti mengenali teman saya. dia langsung buru-buru keluar lift dan tidak menunjukkan sikap mesra lagi dengan perempuan tadi.

kedua, teman dekat saya yang lain mendengar cerita koleganya kalau ada temannya, seorang manajer brand minuman yang sukses karena bisa memiliki pacar seorang perempuan yang juga bos club malam bermobil audi TT coupe. manajer itu adalah dia! and clearly, it wasn’t me with the coupe!

i think somewhere i realized that i actually being bullsh*ted. tapi kenyataannya saya masih belum bisa dan belum rela menerima kenyataan kalau dia hanya memanfaatkan saya dan tidak pernah sekalipun benar-benar menyayangi saya.

benar saja. suatu hari. out of nowhere, datang sebuah email. email berisi kalimat perpisahan singkat yang menyatakan dia sudah tidak bisa bersama saya lagi. dengan alasan dia menemukan fakta bahwa saya pernah dekat dengan seorang laki-laki lain pada saat masih berhubungan dengan dia. what a lame excuse to breaking up! saya terkejut dan terluka lagi. saya tidak rela ditinggalkan lagi begitu saja, tanpa kesempatan membela diri.

saya tidak bisa menelepon dia karena dia tidak memberikan nomor teleponnya, seperti dulu. saya tidak bisa BBM, karena dia tidak pernah memberikan nomornya pada saya. saya hanya bisa email. saya email berkali-kali meminta penjelasan. saya email berkali-kali meminta kembali. saya memohon dan memohon tapi…. tak ada balasan.

begitu desperate-nya saya ditinggal untuk yang kedua kali, saya mulai berhalusinasi lagi. saya tetap menyebarkan cerita ke teman-teman bahwa pacar saya adalah dia. saya pasang fotonya di handphone saya, saya pasang di wallpaper komputer kantor saya, saya pasang foto masa kecilnya di meja rumah saya. saya resmi terobsesi. kedua kalinya.

setiap hari saya mengirimkan email untuk dia seakan-akan tidak terjadi apa-apa. saya mengucapkan selamat pagi, mengucapkan selamat siang, jangan lupa makan, dll dll. it was no doubt a desperate act cries for help. saya berharap dengan terus memperhatikannya tanpa mengharapkan balasan, dia akan tersentuh, tergugah dan kembali ke saya. tanpa balasan? we know there’s no such thing! setiap perasaan pasti mengharapkan balasan. dan di dalam hati saya waktu itu, saya tahu, saya mengharapkan dia membalas dan masih memiliki perasaan yang sama.

akhirnya saya sedikit demi sedikit mulai mengurangi email ke dia. saya masih sering menangis memikirkan dia di malam hari. memikirkan apa yang akan terjadi pada saya kalau saya tidak pernah akan bisa melupakannya? orang tua saya tidak tahu saya sudah ditinggal lagi oleh dia. yang mereka tahu, saya masih berhubungan dengan dia. mereka kehilangan akal karena saya sangat tertutup dan selalu menghindar. sampai suatu ketika mama saya datang ke kamar saya dan mengatakan hal yang mengejutkan,

“kalau memang dia serius sama kamu dan kamu mau terima dia, papa bilang suruh dia datang kemari untuk meminta kamu baik-baik jadi istri kedua. kalau itu memang yang kamu mau”.

saya tidak pernah menyangka orang tua saya akan berkata seperti itu. dan itu serius. saya hanya diam saja. tidak bereaksi. karena memang saya tidak tahu dia masih memiliki perasaan yang sama atau tidak. saya bahkan tidak tahu dia ada dimana.

hari berganti hari. begitu pula dengan bulan. sampai suatu ketika, kira-kira setahun kemudian, dia datang lagi. ya, dia menghubungi saya untuk mengajak bertemu dan makan siang bersama. saya terkejut walau sedikit bisa memprediksi. karena tetap masih ada perasaan dan harapan, saya mengiyakannya. kami bertemu lagi untuk makan bersama.

tapi kali ini ternyata berbeda. saya lebih hati-hati dan menjaga jarak karena saya tidak mau terlihat terlalu berharap padanya. dia pun telihat tidak sehangat dulu. hal ini membuat saya berpikir, lalu untuk apa dia mengajak saya bertemu? untuk apa dia kembali lagi?

suatu hari saat sedang pergi bersamanya, saya bertanya,

“bagaimana penikahanmu?”
“yah.. begitulah. seperti biasa.” dia menjawab acuh tak acuh.
“maksudnya?” saya bertanya karena tidak mengerti maksudnya apa.
“ngga apa-apa. hanya saja saya sering membayangkan. kalau saja saat ini, saat saya sedang sukses, ada di puncak karir dan punya banyak uang saya belum menikah, bayangkan betapa fun-nya hidup saya!” jawabnya.

jawabannya membuat saya kaget. ternyata inilah dia. jawaban itu menggambarkan keinginan dia. jawaban itu menggambarkan posisi istrinya. jawaban itu menjelaskan rumor yang saya dapat mengenai banyak perempuan di hidupnya.

kita tidak bertemu sesering dulu. tapi dia masih menyempatkan mengirimkan SMS untuk menanyakan kabar saya atau saya sedang apa. sampai tiba suatu hari datang sebuah SMS. isinya menyuruh saya untuk tidak lagi menghubungi dia, tidak mengganggu dia, karena dia sudah memiliki pacar yang lain. ah… ternyata dikirim oleh seorang perempuan yang juga kekasihnya. entah siapa.

beberapa menit kemudian, dia menelepon. dia minta maaf. dia mengatakan bahwa perempuan tadi yang mengirimkan SMS adalah kekasihnya. dia juga minta maaf karena sudah banyak menyakiti saya dan pamit ke suatu tempat yang jauh karena ada suatu masalah. dan dia berpesan jangan mencari dia.

as usual, saya menangis. tapi kali ini tangis yang berbeda. tangis kelelahan. dalam hati saya bingung, siapa yang mencari dia? siapa yang memulai setiap hubungan? apa sebenarnya yang dia inginkan dari saya?

dan tanpa disangka, itu adalah airmata terakhir saya untuk dia. setelah itu, saya seperti tidak merasakan apa-apa lagi untuk dia. dia pergi, ok, that’s good for him. semoga dia bahagia dengan siapapun itu. dan kali ini, tanpa ada taktik di belakang ucapan saya dalam hati. saya benar-benar merelakan dia.

aneh memang. tapi setelah selama 5 tahun saya berada di dalam emotional hell, jauh dari keluarga saya, berbohong kepada semua orang di sekitar saya dan yang paling parah, berbohong pada diri saya sendiri, saya bisa melewati fase itu begitu saja.

ah well, tentu saja tidak ‘begitu saja’. 5 tahun bukan waktu yang singkat!

sering saya menyesali 5 tahun yang berlalu dengan sia-sia itu. kenapa saya harus bertemu dengan dia, kenapa saya sangat terbutakan sampai tidak bisa melihat bahwa saya dipemainkan, kenapa saya harus memusuhi orang tua saya hanya untuk seseorang yang tidak peduli dengan saya, kenapa saya rela melakukan apapun, menghabiskan berapapun untuk bisa menyenangkan hatinya dan tidak pernah terjadi sebaliknya? yang dia berikan hanyalah tas butut yang bahkan tak pantas dipakai perempuan yang mengaku perempuan. dan anehnya, saya dengan bangga memakainya setahun penuh!

terus terang saya tidak mendapatkan jawabannya. tapi saya menciptakan jawaban sendiri. mungkin saya memang harus melewati semua itu agar saya bisa menilai sendiri apa yang harus saya lakukan. mungkin memang harus seperti itu agar saya mendapatkan pelajaran dan pengalaman.

jika suatu saat ada orang yang Anda kenal atau teman Anda yang mengalami hal yang sama (untuk jaman sekarang ini, yakin… kemungkinannya sangat besar), bersabarlah. tahan diri untuk menasehatinya. percayalah, mereka tidak akan pernah mendengarkan Anda jika Anda sendiri belum pernah mengalami hal yang sama. ngotot menasehati mereka hanya akan semakin menjauhkan mereka dari Anda. dengarkan mereka dan selalu siap di samping mereka jika mereka membutuhkan Anda.

jika suatu saat Anda mengalami hal yang sama, akan sulit untuk melihat kebenaran. Anda akan terus membohongi diri sendiri untuk melegitimasi hubungan itu. harapan saya jika memang Anda juga mengalaminya adalah semoga Anda mendapat jawaban terbaik sebelum terlambat dan semoga di akhirnya Anda tidak menyesalinya. apapun yang Anda alami, selalu ada maksudnya dan ada yang bisa dipelajari.

pada kenyataannya, walau ada konsep jodoh atau soulmate atau apapun itu, kita tidak akan pernah tahu keberadaannya. jadi jangan buru-buru men-stempel seseorang yang spesial dengan ikrar soulmate.

just because he/she likes the same bizzaro crap like you do, doesn’t makes him/her your soulmate. (from movie 500 Days of Summer).

Saat ditinggalkannya, Anda mungkin akan merasakan semua runtuh, Tuhan tidak adil, Anda adalah orang tersial di dunia, tidak ada gunanya lagi Anda hidup di dunia dan Anda merasa Anda tidak akan bisa hidup tanpa dia, takkan bisa mencintai atau menyayangi orang lain seperti dia. percayalah…

that’s pure crap!

nikmati rasa sakit Anda saat itu terjadi. jangan pernah berusaha memaksakan untuk melupakan, jangan pula membuang barang-barang yang mengingatkan Anda padanya, atau menghindari lagu-lagu yang penuh kenangan. biarkan semua tetap ada di sekitar Anda. saya tidak bisa memastikan berapa lama, tapi lama kelamaan semua perasaan sakit dan ingatan terhadap dia akan hilang.

dan jika Anda beruntung seperti saya, setelah 5 tahun penuh tangis dan sakit hati, rasa itu akan pergi hilang begitu saja. tanpa bekas. apa tandanya? sudah tidak ada amarah tersisa, walau Anda paksakan mengingat yang sedih-sedih, airmata tidak bisa keluar, tidak ada keinginan dendam, dan juga tidak ada masalah jika Anda harus bertemu dia lagi. selamat, Tuhan baru saja memberitahu orang itu bukan soulmate atau jodoh Anda (jika memang benar konsep itu ada dan bukan ciptaan Hallmark belaka).

ngomong-ngomong, setelah lama menghilang, dia menghubungi saya lagi. asumsi saya yang keGe-eRan, dia masih ingin melihat peluang untuk memanfaatkan saya. apakah saya masih bisa kembali ke pelukannya. saya menanggapinya dengan sopan dan saya rasa dia tahu, sudah tidak ada antusiasme di dalam respon saya. mungkin dia menyesal, mungkin juga tidak.

well, i’m glad it was all over. just wait for the karma to come.  hehehe…. actually i hope it will never come. i hope the universe is kind enough to forgive me for what i did to the poor wife.

sorry for the long ramblings. you might think some facts were unimportant to revealed, but believe me, if i go on detail, it would be a very thick and boring book!

this is just an excerpt!

CLBK (versi. Cinta Lama Bangkit dari Kubur)

again…. kesibukan di kantor membuat blog ini terbengkalai sementara. contoh keterbengkalaian adalah bagaimana header blog ini belum dirubah. padahal saya sudah berubah tampang sejak 2010. bukan operasi plastik sayangnya. tapi pemangkasan rambut yang ekstrem. tapi sayangnya… tidak sempat ganti header. posting saja sukur-sukur. banyak sekal ke-sok sibuk-an berebut prioritas jadi perhatian. seandainya saja yang berebut perhatian adalah cowok. sayangnya… tidak.

hey, speaking of which, saya perlu share mengenai sebuah kejadian kecil di hidup saya yang menurut saya cukup luar biasa.

as you NEVER knew, i had one toxic partner then in my life. kenyataannya, orang ini harus saya akui sangat luar biasa. despite all the bad things he’s done, he’s still once was a great part of my life.

eniwei, that story ends with bad scene that i ALMOST  forget. sampai suatu ketika, saya sedang berkeliling untuk market visit dengan key account manager, tiba-tiba si Cinta Lama Bangkit dari Kubur alias CLBK. ibu Genduk adalah salah satu boss yang amat disayangi semua karyawan kantor karena dia baik, pintar dan supel. sebagai salah satu fans beratnya, saya pun banyak bercerita aneh-aneh dengan leluasa padanya tanpa malu-malu. mengenai pacar sekarang, dulu dan masa depan.

nah, pada saat membicarakan pacar masa lalu itulah si Cinta Lama Bangkit dari Kubur. ternyata, si cowok itu adalah mantan anak buah dari bu Genduk. tentu saja saya kaget setengah mati. dunia memang tidak luas… sama sekali. orang yang dua tahun lalu berusaha menghindar dan memutuskan hubungan tiba-tiba dengan saya tiba-tiba muncul di muka saya dengan mudah! padahal saya sempat mati-matian mencari kemanakah dia dan menebak-nebak apa yang terjadi dengan dia sehingga sampai bisa menghilang sedemikian rupa.

momen itulah juga yang menjadi penanda saya bahwa (akhirnya) perasaan saya kepada dia benar-benar bisa berakhir juga setelah 5 tahun saya dalam posisi emotional yo-yo. ternyata cintapun bisa diperbaharui dengan mudah.

when it’s over, then it’s over.

akhirnya saya dan ibu Genduk dengan seru membicarakan sang mantan. dari situlah puzzle mulai tersusun satu demi satu. akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan (sendiri) mengenai apa yang terjadi pada sang mantan. ambil kesimpulan sendiri?kok gitu? eh biar saja. toh dia juga tidak peduli untuk mengkonfirmasi, jadi saya yakin kalo premis saya ini pasti benar dan akan terbukti akhirnya.

saya tidak pernah mendendam, apalagi mendoakan yang iya-iya. it’s just a version that if something means to an end, then it’s just end. and in my case, it ends well. walaupun saya sempat kepikiran,oh iya… sebelum menghilang kan dia ngutang satu juta rupiah sama saya dan menghilang begitu saja tanpa mengembalikan? lalu saya teringat kembali, ada orang baik yang mengingatkan… ikhlaslah dan kamu akan mendapatkan ganti yang jauh lebih banyak dan lebih baik.

oke, saya ikhlas.