di dalam sepatumu

akar dari akar seluruh tulisan berawal dari curhatan seorang sahabat dekat saya, ManisMan, yang mengaku hatinya ‘menciut’ selama berhubungan dengan kekasihnya selama 9 tahun, Evandut.

mengapa ‘menciut’? dan ‘menciut’ yang seperti apa?

kategori yang terjadi adalah kekerasan secara emosional. pacar ManisMan yang bernama Evandut menurut observasi saya sangat pintar memanipulasi emosi ManisMan. dengan segala tindak tanduknya, ManisMan dibuat sedih dan tidak bisa menikmati masa pacaran yang harusnya… jauh lebih indah daripada nanti di perkawinan.

Evandut sangat mudah marah. dan sering mengeluarkan kata-kata kasar walaupun bukan sama ManisMan. setiap hari Evandut antar jemput ManisMan di kantor, tetapi most of the time, pada saat Evandut sedang tidak mood dan ManisMan melakukan kesalahan-kesalahan kecil seperti terlambat turun dari lantai atas, ingin pulang lebih cepat dari waktu biasa, atau minta dijemput di luar kantor, maka… jeng!jeng!mood Evandut akan berubah total.

saya tentu saja berpihak pada ManisMan, saya sarankan pada sang gadis agar menunda pernikahan yang direncanakan akan segera berlangsung, and take some time to think about her relationship all over again.

tetapi Beliau dengan manisnya (sesuai namanya) berkata pada saya,
“situasi lo ga jauh berbeda ama gue, bukan?. you should know me better than anyone else… kita ga bisa menjelaskan perasaan kita kecuali kita mengalaminya sendiri”

alias…

you can’t never tell what it feels like to be in the shoe, until you ARE inside the shoe”

in her shoes
DANG.

langsung saya terdiam.i actually inside her shoes. saya mengalami perasaan yang seringkali ‘menciut’ di dalam hubungan saya dengan soulmate saya, tetapi saya tetap rela. saya tetap cinta. saya tidak ingin meninggalkannya. tapi jangan salah… saya tetap kadang berkeluh kesah. bukan karena saya menyesal dan ingin keluar dari percintaan ini. tapi hanya karena saya butuh pelampiasan emosi.

dan itulah yang sedang dilakukan ManisMan tersayang.

itulah cinta. dulu waktu saya masih berpetualang cinta dengan laki-laki berwajah tampan, kece, atau entah iblis, jin, setan, atau dedemit, saya tidak tahu apa itu cinta. saya bicara cinta, tapi saya ngga ngerti cinta. sebagai feminis sejati waktu itu saya hanya senang menikmati perhatian dari banyak lelaki dan hanya bisa teriak,

“jangan harap lo bisa seenaknya sama gue… coba aja kalo berani, gue putusin lo!”

tapi jaman sekarang… cinta yang saya tau tidak lagi seperti itu. saya rela memberi, saya meleluasakan hati sebesar samudera untuk mengerti dia, bahkan saya bisa ikhlas memberi cinta tanpa balasan dari si dia.

basi dan goblok? … itulah cinta…

so.. yang saya lakukan setelah terdiam cukup lama adalah mengangguk-angguk dan menyediakan telinga saya untuk ManisMan tanpa ada judgement mengenai cinta. it’s her life, so she have to decide what’s best for her dan bertanggung jawab terhadap keputusan dia sendiri.

tapi… buat yang belum mengenal cinta, saya sarankan tetap menjaga hati agar tidak menjadi korban siksaan emosional. toh, bagaimana bisa membahagiakan orang lain kalau diri sendiri tidak bahagia…?

am i right..?

Advertisements