mimpi [terlanjur] basah

sejak kecil, saya mengaku ahli mengkhayal. seringkali saya hanya tidur-tiduran, membuat skenario-skenario aneh di dalam otak saya, sampai memvisualisasikan detail-detailnya.

saking dalamnya penghayatan mengkhayal, terkadang saat ‘kembali’ ke dunia nyata, saya suka bingung…. “kok saya ada di sini ya?”

i have a dream

serius.

tapi kegiatan yang sedari dulu saya sukai itu berangsur-angsur sudah tidak pernah dilakukan lagi. karena kesibukan pekerjaan, kemalasan, dan tetek bengek tidak penting lainnya, saya mulai melupakan ritual mengasyikan yang membantu saya berpikir menjadi lebih kreatif.

titik kesadaran saya, adalah pada saat sedang mengobrol dengan sahabat baru saya, margie.

lo seneng ngga dengan pekerjaan lo sekarang?”

LONG PAUSE.

pertanyaan simpel yang sulit saya jawab.

sepanjang hidup saya mulai sejak SMA, saya habiskan untuk menyenangkan orang tua. lulus SMP, Nilai Ebtanas Murni saya membawa saya masuk ke SMA unggulan se-Indonesia dengan mudah. pada waktu itu saya sebenarnya hanya ingin masuk SMA biasa. dekat rumah. alasannya sederhana, supaya ngga cape di jalan, supaya ngga tua di jalan. prestisius dan kesempatan yang menganga di depan mata waktu itu mentah-mentah saya tolak hanya demi… ingin sekolah dekat rumah saja.

saya ingat betul, waktu itu ibu saya membujuk dengan kalimat paling lucu di dunia.

neng, mbok ya diterima saja masuk SMA X. bapakmu kan lagi jadi ketua RT, jarang anak kompleks sini yang bisa masuk SMA X. bapakmu pasti bangga banget”

bujukan simpel dan lucu. tapi saya akhirnya mengalah dan menurut.

nyatanya, selama SMA, saya terkena sindrom kurang percaya diri. bersekolah dengan otak-otak paling cemerlang di seluruh Indonesia membuat saya stress. alih-alih belajar keras, saya malah sering membolos dengan genk SMA saya. bahkan pernah sekali loncat pagar, ketauan guru BP dan diskors 3 hari.

saat lulus, hanya berbekal kepercayaan diri dan (tetap) tidak mau belajar, saya mendaftar ke 4 universitas paling top di Indonesia. 2 fakultas arsitektur negeri, 1 fakultas arsitektur swasta, dan 1 fakultas seni rupa dan desain negeri. jelas, dengan otak yang sangat pas-pasan karena 3 tahun di SMA dihabiskan dengan bolos entah kemana dan meng-gencet adik-adik kelas.

orang tua yang punya otak strategis meminta saya menambah pendaftaran fakultas swasta sebagai cadangan ‘seandainya’. yakni ‘seandainya tidak lulus… maka… masuk situ’. karena ngga niat, saya mendaftar ke jurusan yang saya pilih hanya karena… namanya keren, Hubungan Internasional.

ternyata… saya hanya keterima di sana.

keinginan saya untuk mengulang setahun lagi ditolak mentah-mentah oleh bapak. menurutnya, umur berjalan terus. tidak ada gunanya membuang umur untuk mencoba masuk fakultas yang belom tentu bakal mau nerima saya di taun depan. bujukan saya untuk masuk ke fakultas seni yang -tidak punya nama besar- pun ditolak habis-habisan. alasannya singkat dan padat,

“seni adalah hobi. bisa dipelajari di luar sekolah”

seperti layaknya SMA, saya menjalani tahun-tahun universitas dengan hidup segan, mati tak mau. untunglah saya bisa lulus hanya dengan waktu 3.5 tahun. sukses? tidak juga… sungguh sulit mendapat pekerjaan dengan titel diplomat. selama 3 bulan saya menganggur, sudah cukup membuat Bapak (lagi-lagi) merasa perlu turut campur dalam kehidupan saya.

“daripada kamu ngabisin duit ngga jelas jadi pengangguran. lebih baik ngabisin duit yang jelas”

alhasil, saya menurt saja disekolahkan lagi ke Master Management.

karena merasa tidak berbuat cukup maksimal di SMA dan universitas, saya bertekad lebih serius di Strata Dua. saya jadi murid paling kompetitif, paling vokal, dan paling… menyebalkan. menyebalkan karena tidak pernah mau kalah dibandingkan yang lain. tidak sia-sia, saya lulus dengan peringkat cum laude.

sejak kecil, hobi saya adalah menggambar. selalu ikut perlombaan tapi tidak pernah juara. itulah sebabnya saya memilih jurusan arsitektur dan seni rupa desain untuk pilihan jurusan universitas. dan walaupun sembari menjalani kuliah Master Management, hobi saya itu tetap berkembang terus.

setiap ada presentasi di depan kelas, oleh grup saya kebagian tugas membuat presentasi. bukan sekedar dengan Microsoft Office PowerPoint, tapi dengan program Flash. semata-mata karena ingin bersaing menjadi yang terbaik di hadapan dosen. saya tidak pernah kursus. hanya dengan membaca literatur Flash dari buku-buku impor dan mempraktekannya langsung di bahan presentasi kelas. semua orang bahkan bisa menangkap kalau saya memiliki bakat di situ.

lulus S2, menambah sengsara, tidak ada perusahaan yang cukup berani mempekerjakan saya.

Mengapa?

karena saya terlalu ‘tinggi’ dari segi pendidikan, tapi sebaliknya terlalu ‘lemah’ dari sisi pengalaman. ingat? transisi saya dari S1 ke S2 tidak melalui proses kerja sama sekali. akibatnya, saya ‘hanya’ diterima di sebuah perusahaan agency promosi ‘hanya’ sebagai seorang Client Service.

lagi-lagi Bapak berkata bijak,

ngga apa-apa, nduk. semua orang mulai dari bawah. ini bagus buat batu loncatan kamu”

selama bekerja di kantor ini, saya banyak melakukan hal-hal di luar job description saya, yang ‘hanya’ bertugas mencari klien baru dan mengeruk order lebih besar dari klien lama.

saya sering pamer keahlian saya membuat presentasi Flash, editting video, dan bahkan modelling 3D. semua saya pelajari tanpa kursus. hanya dari membaca buku dan berani mencoba sendiri. akhirnya, sang atasan pun mendaulat saya dengan dua jabatan, Client Service dan Creative Designer, namun tetap… satu gaji saja.

orang tua mulai resah gelisah. karena dianggap saya idak pantas berlama-lama bekerja di sana dengan kualitas pendidikan saya. akhirnya, saya mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut dan diterima di perusahaan sekarang. sebagai manager yang menangani brand di salah satu perusahaan terbesar Indonesia.

sesuai dengan pendidikan saya.

tapi saya tetap membutuhkan waktu lama untuk menjawab pertanyaan Margie.

seusai percakapan kita berdua, saya banyak melamun di kamar. apakah saya sudah cukup bahagia dengan apa yang saya lakukan dan terima saat ini?

jabatan saya di kantor sangat menyenangkan. banyak sekali yang saya pelajari. banyak pula orang penting yang saya temui. ke sana kemari dipanggil ‘Ibu’, bahkan oleh orang yang jauh lebih tua dari saya dan merupakan bawahan saya. gaji tidak usah ditanya. saya bisa menghabiskan uang banyak hanya untuk sepasang sepatu, tetapi tidak perlu kuatir di kemudian hari menghitung dan berkeringat dingin memantau sisa saldo di tabungan.

tapi apakah ini yang saya inginkan? apakah semua itu membuat saya bahagia?

saya ingat dulu di sekolah pernah ada tugas menulis pekerjaan impian kita. saya ingat betul yang saya tulis adalah : Menjadi Animator di PIXAR studio Disney. semua teman saya waktu itu berkomentar,

“memang cocok dengan bakatmu, non”

and here i am todaynot as an animatornot even close.

saya hanya seorang mbak-mbak kantoran dengan titel kinclong tapi hati bertanya, apakah saya bahagia? apakah pekerjaan ini yang saya impi-impikan?

adakah yang salah dari menyenangkan hati orang tua? (mengingat itu yang saya lakukan sejak SMA). toh akhirnya membawa saya menjadi orang yang sukses di karir. berapa harga yang harus saya bayar kalau saya berani ‘membelokkan’ garis hidup saya dengan membuang semua yang sudah saya raih hanya untuk mimpi yang belum pasti.

mau jadi animator, tapi tidak sedikitpun pendidikan di CV yang menjurus atau bahkan sedikit ‘menyetil’ bidang tersebut. semua hanya otodidak. tidak terjamin keabsahannya. siapa yang mau terima?

sudah takutkah saya bermimpi, karena mimpi sudah tidak semudah dulu? hanya sambil tidur-tiduran, tanpa memikirkan resiko apa yang menanti jika tetap ngotot mengikuti mimpi tersebut.

sudah takutkah saya bermimpi, karena kalau mau ngimpi sekarang harus mulai memikirkan external dan internal influences, membuat list Strength dan Weaknesses yang dimiliki, serta menganalisa opportunities dan threat yang mungkin datang?

seandainya saya bisa, saya ingin kembali ke masa-masa dimana saya bisa bermimpi tanpa takut akan resiko mimpi padahal saya belum mulai menjalani mimpi itu sendiri.

so… buat yang belum terlanjur ‘basah’, keep on dreaming, guys

Advertisements

7 thoughts on “mimpi [terlanjur] basah

  1. aaahhhahaha,, gila.
    gue banget.

    ni aja gue kena penyakit aneh saking stress nya gara2 dijeblosin ke fakultas PERTANIAN *yak, coba diulang: P-E-R-T-A-N-I-A-N!* dan setelah hampir mati sekali dan sampe skrg kaga lulus2,, enyak babeh gue dah nyiapin dengan manisnya sebuah pekerjaan buat gue setelah lulus.
    gue minta kawin kaga boleh.

    mana tuh yg bikin statement “mother really knows the best”??? pengen gue gantung tu orang..

    • hahaha.. iya, win. emang aneh bgt. gue pas baca blog lu aja bingung.
      and gue setuju statment kedua lo. mother is only a human, just like us. belom tentu apa yg doi bilang bener semua!
      (ngeles aja lu tukang ngelawan ortu!)
      hahahaha! ogah nuruttt!

  2. wakakkakaa….. numpang ngakak baca komen no.1
    😀

    pengalaman gw hampir sama, masuk jurusan teknik sipil karena abang gw ditahun sebelumnya ambil teknik sipil. dan tak dinyana, ketika gw diterima, abang gw “resign” n banting setir ambil jurusan keperawatan hanya karena muak dan ga sanggup 😀

    dan gw terperangkap…

    bout dream, jgn pernah takut bermimpi
    karena kalo mimpi saja takut, apalagi kenyataannya

  3. gilaaa buuw… gue banget nih tulisan , sama banget sama kejadian gue tapi gue gak nyangka lo mau jadi animator di PIXAR itu okeeeeh banget tau..bahkan gue dulu punya mimpi jadi MC dan announcer kaya Indy Barends .. tapi ternyata gue sekarang juga bahagia karena gue bisa ngatur mereka lewat duit orang lain ( hehehe..duit perusahaan deh) tapi tetep ya bo” obsesi jaman dulu itu emang indaah banget .. tapi bener karena gue gak takut bermimpi gue bisa jadi lebih dari sekedar itu hehehehe

    • betuulll!
      secara lo paling talkative deh. terlalu bawel. gue rasa indy barenz aja bisa tenggelam namanya gara2 lo…
      hehehe… gue jg br tau itu mimpi lo tnyata. kapan jd rencana diwujudkan?

  4. saya suka gambar dari kecil.mau masuk seni rupa tapi menurut orang tua (sigh) ntar gak bisa hidup.akhirnya masuk arsitek yg ternyata bedanya jauhhhhhhhhh banget sama seni rupa.

    setelah terombangambing di dunia pekerjaan selama 4 tahun, saya memutuskan putar balik dan mulai menggambar lagi. nekat.hasilnya gimana lihat ntar.

    orang tua memang harus dituruti, tapi kadang kita harus tutup kuping dan mendengar kata hati biar nggak “tersesat”. PRnya tinggal mengunngkapkan apa yg kita mau ke mereka … *yg emg rada ribet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s