sayang setelah hilang, cinta setelah tiada

saya tidak ikut nonton siaran langsung pemakaman Michael Jackson. Bukan karena benci.

Lebih karena alasan bahawa acaranya terlalu malam sedangkan saya harus mempertanggungjawabkan masuk pagi ke kantor setiap hari.

Dalam rangka ikut berduka, saya dengan setia meng-convert videoklipnya yang jadi favorit saya ke iPod dari VCD butut yang sudah lama saya beli dan sudah usang dan berdebu.

Sambil mendengarkan lagu-lagunya –yang tampak remeh tapi penuh pesan emosional–, pikiran saya ngga brenti-brenti melayang ke saat-saat terakhir Michael sebelum meninggal. Bagaimana kasus pelecehan seksualnya membuat karirnya menurun drastis, bagaimana wajahnya yang tadinya tampan rupawan bin manis legit menjadi aneh karena operasi plastik addict, bagaimana semua orang mulai menjauhi dan hampir melupakan sang maestro yang dulu pernah jaya dengan sebutan King of Pop.

Sangat ironis melihat pemakamannya yang dipadati oleh orang yang menangisi kepergiannya dan menjerit mencintainya padahal di masa-masa akhir hidupnya dia dicaci oleh banyak orang. Itulah sebabnya di sini sengaja saya tidak pakai sebutan Jacko untuk Micahel, karena sebenarnya Jacko adalah nama ‘cercaan’ dari pers. Plesetan dari wacko (alias aneh).

Sering sekali kejadian semacam itu terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita.

Bagaimana sepasang kekasih saling bertengkar sepanjang hubungannya, semata-mata sebenarnya karena takut kehilangan kekasihnya. Setelah putus, mulai sadar kalau sebenarnya masih saling cinta.

Anak yang terus-menerus bertengkar dan berbeda pendapat dengan orang tuanya. Menolak menghabiskan waktu bersama setelah remaja karena tipikal kepribadian yang tidak ingin diatur, ingin eksis, dan malu kalau selalu didampingi orang tua yang notabene dianggap tidak keren. Namun setelah sang orang tua sakit dan kemudian meninggal, baru sadar betapa sang anak sangat mencintai orang tuanya.

Begitu sebaliknya dengan orang tua yang terus-menerus mengkritik anaknya. Selalu melihat ke figur anak lain yang dianggap sempurna, sehingga sebaik apapun anaknya berusaha, tetap saja tidak pernah bisa memenuhi ekspektasinya, tidak pernah sempurna. Setelah sang anak pergi dari rumah karena studi atau karena menikah, baru orang tua sadar kalau anaknya sebenarnya sudah cukup sempurna untuk versinya sendiri.

Pada umumnya orang (termasuk saya) lebih mudah melihat kejelekan orang dibandingkan kebaikannya. Sejuta kebaikan yang dibuat orang bisa tak terlihat sama sekali karena tertutup satu kekurangan yang kebetulan adalah ekspektasi kita dalam menilai. Akibatnya, kita lupa mencintai.

Apa sebab?

Setiap manusia punya kelemahan, tetapi juga punya sejuta kelebihan yang jauh lebih berarti daripada kekurangannya. Kekasih kita memang terlalu ramah dengan lawan jenisnya sehingga membuat kita selalu terbakar api cemburu, tetapi dia sebenarnya sangat mencintai kita dan tetap memilih kita dibandingkan lawan jenis lainnya yang ia jadikan teman. Anak memang seringkali bandel dan susah diatur. Sulit diminta membersihkan kamar, menyapu, dan sebagainya. Tapi ia juga pintar di sekolah, selalu juara kelas, pekerja keras, dan sukses dalam karirnya di kantor. Orang tua memang selalu ingin ikut campur terhadap urusan kita, selalu ingin bersama dalam setiap kegiatan kita, tetapi sebenarnya mereka hanya ingin melindungi kita dan memastikan yang terbaik untuk kita.

Mulailah mencintai dengan cara yang benar. Kita tidak bisa mengubah orang lain, karena yang bisa kita ubah adalah diri kita sendiri.

Jangan sampai kejelekan dan kekurangan seseorang membutakan mata kita akan kehebatan dan kebaikan orang tersebut yang luar biasa.

Jangan sampai kita terus membenci dan baru sadar bahwa jauh di dalam lubuk hati kita kalau kita sebenarnya sayang setelah orang itu hilang, dan kita sebenarnya sangat cinta padahal orang itu sudah keburu tiada.

Advertisements

2 thoughts on “sayang setelah hilang, cinta setelah tiada

  1. iya, bener. ga sebatas cuma orang. tapi juga barang dan laen2.. hiks, semoga yg ilang dr gue bisa balik lg. doain yah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s