rise of the machines

Duduk di Starbucks café malam itu, sehabis pulang kerja, membuat saya merasa bak berada dalam salah satu episode film Terminator atau dua sekuel Transformers.

Di satu pojokan ada sepasang kekasih, I assume (karena satu lelaki dan satu perempuan). Mereka ternyata adalah robot yang dikirim dari masa depan. Hehehe. Ya ngga lah! Mereka berdua sedang menghadap laptop. Yang perempuan sibuk dengan SONY VAIO warna merah marun, dan sang lelaki intens dengan MacBook Pro silver-nya.

one of the machines

Sejak mereka masuk hingga saya menghabiskan ice tall chocolate classic untuk yang kedua kali, mereka tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Mata seakan tak berkedip menatap terus-menerus ke layar LCD tanpa sedikit pun melirik ke pasangan masing-masing. Seakan-akan dua gadget di hadapannya waaayyy more HOT than their own love partner.

Pertama saya pikir mereka sedang menyelesaikan pekerjaan maha penting yang mungkin melibatkan nyawa seseorang jikalau tidak menepati deadline. Dengan rasa penasaran, waktu hendak mengambil chocolate croissant yang baru dipanaskan di meja kasir, saya lewat di belakang mereka dan melirik ke layar 2 notebook mengkilap itu,

Facebook !

Di pojokan lain, sepasang kekasih (again!) yang duduk berhadapan. Mereka tampak sesekali saling bercakap-cakap. Tampak normal, hanya saja… mata mereka terus-menerus terpaku ke layar BlackBerry yang mereka pegang tepat 15 senti di depan hidung! Bercakap-cakap hanya sesekali saja, itu pun tanpa melihat ke mata masing-masing lawan bicara!

Saya berhenti berpikir saat seorang lelaki ganteng permisi untuk duduk di sofa sebelah saya yang kosong. Dengan sedikit Ge-eR saya mempersilahkan. Seperempat menit kemudian, dalam gerakan lancar tanpa cela seperti sudah ada standard operation procedure-nya, Beliau mengeluarkan notebook beserta colokan-colokannya, lalu duduk tenang sambil tak-tik-tuk serius mengetik… ICQ! Yang saya intip dengan tidak sopan.

Ternyata Beliau bukan mengincar saya, tetapi colokan yang ada di samping sofa saya.

Sambil menghela nafas saya melemparkan pandangan ke pintu masuk. Sepasang ABG bergandengan tangan masuk Starbucks. Tampak intim, tapi… Sang lelaki –dengan kostum wajib ABG abad ini– bercelana skinny jeans dan memakai grandpa’s cardigan tampak ber’du-bi-bi-du-bi-du-dam-dam’ dengan earphone putih khas iPod yang memainkan Puspa dari ST12 (I can absolutely hear it because it was soooo damn loud!).

sang gadis ABG di sampingnya?… sibuk memegang iPhone 3G warna putih dengan tinggi 45 derajat di atas kepala, sambil senyum-senyum sok imut sendiri. She was busy taking herself some pictures

Saya, yang duduk memegang buku non fiksi Edwin Black dengan judul IBM and the Holocaust setebal 454 halaman jadi tampak 100% seperti manusia paling urdu, ketinggalan jaman, dan seakan-akan berasal dari abad sebelum Masehi di café kecil dengan isi manusia-manusia yang dikontrol oleh mesin.

Pikiran saya terbang ke ingatan kejadian memalukan beberapa bulan lalu, saat saya dipanggil ke ruangan boss karena beberapa menit sebelumnya mengirim BlackBerry Messenger ke Beliau berisi pemberitahuan kalau saya sudah mengirim Beliau email. Sangat norak mengingat ruangan Boss hanya 3 langkah di belakang meja saya.

“kenapa kamu BBM saya? Ngga ngomong langsung saja?”

“Maaf, pak. Tadi saya lihat Bapak lagi ngobrol sama Pak JLO*. Jadi saya ngga mau ganggu. Lagian saya pengen nge-tes BlackBerry baru”

Jujur amat noraknya!

Beliau tersenyum dan menjawab,

“lain kali ngga usah pake BBM ya. Saya lebih suka kamu dateng ke ruangan dan menghadap saya. Kalaupun saya di luar kantor, lebih baik jangan pake BBM untuk kontak saya. Saya lebih suka ditelepon”

oke, pak. Thanks

Saya pun keluar ruangan dengan muka merah padam seperti lambang salah satu partai yang sedang mengajukan protes hasil Pemilu ke Mahkamah Konstitusi.

Inilah realiti yang sedang terjadi di sekeliling kita. Manusia-manusia kehilangan keintimannya bahkan pada saat mereka sedang berhadapan berdua, berjalan berdampingan, duduk berpelukan. Fisik mereka bersama, tetapi hati mereka tidak berada di tempat yang sama.

it’s enough that a thrill of doing a journey to meet someone was replaced by a telephone, sekarang bahkan telepon sudah terlalu urdu untuk dijadikan alat menanyakan kabar teman kita.

“lo kemana aja kok ngga pernah dateng ke acara arisan Black Kingdom?” tanya saya kepada salah seorang teman pada saat dia akhirnya datang di Arisan Black Kingdom kami.

Black Kingdom adalah nama arisan saya bersama 14 orang teman laki-laki saya (ya, benar, semuanya lelaki!) dari kelas S2. Kami kebetulan menjadi teman akrab karena saya satu-satunya perempuan yang tidak keberatan dan tidak pernah merasa menjadi objek pada saat mereka sedang membicarakan pornografi, saling kirim foto wanita-wanita telanjang yang seksi, dan saling tukar video esek-esek mulai dari edisi remaja SMP sampai pejabat pemerintahan dengan penyanyi dangdut, mulai dari tipe film yang semi sampai hardcore.

“lo ngga liat status gue di FaceBook?”

what the hell? Gue ngga punya FaceBook tau!!”

Yes, another fact that I’m a person BC (Before Centuries). Saya tidak punya account FaceBook. Don’t get me wrong… menurut saya situs sosial itu adalah penemuan luar biasa dari seorang anak muda yang luar biasa. Saya hanya tidak terlalu nyaman dengan karakteristiknya yang membuat saya feel socially stalked.

“ya ampuuun, non. Kemana aja lo ngga punya account FaceBook! Makanya bikin doong!”

gue ngga mau bikin. Soo…? Lo belom jawab gue? Lo kemana aja ngga pernah ikut arisan?”

“cek status FaceBook gue dooong! gue keluar negeri kemaren, cuy! Business trip

Orang-orang berangsur-angsur kehilangan keintimannya dalam menjalani hubungan. Tanpa sadar kedekatan yang diperoleh dari bertemu muka, bertatap mata, berpegangan tangan, cipika-cipiki, bahkan (kalo sial), menerima cipratan ludah dari lawan bicara yang terlalu antusias hendak berbagi pengalamannya kepada kita, sudah tergantikan oleh hangatnya sebuah mesin.

Teknologi yang harusnya dibuat untuk mempermudah kehidupan manusia telah mengambil alih kehidupan manusia dan –seperti saya bilang– menjadikan hidup selayaknya salah satu episode Terminator atau slash, Transformers.

FaceBook yang awalnya dengan jenius ditemukan oleh Mark Zuckerberg untuk mempertemukan kembali dua teman lama yang sudah terpisah ruang dan waktu, malah berubah menjadi sebuah alat untuk mengganti eksistensi hubungan antara dua individu. Saya yakin kalau bukan ini yang diinginkan oleh mas Mark dalam sejarah peradaban dunia.

ICQ, Skype, FaceBook, Yahoo Messenger, GTalk, BlackBerry Messenger, AOL Online bahkan hal se-simple SMS dan telepon yang tidak bisa dihindari menjadi bagian dari hidup, seharusnya tidak menggantikan kehangatan pegangan tangan, tatapan mata, temu muka, cipika-cipiki, dan bahkan cipratan ludah yang menjadi kekuatan hubungan antar manusia. Pertemuan antar individu adalah sempurna dengan melalui sentuhan fisik, bukan sentuhan teknologi.

the 'machine' touch

Mengutip isi tulisan sahabat saya, Margie, dengan berbicara dengan seseorang melalui teknologi virtual (ICQ, Skype, FaceBook, Yahoo Messenger, GTalk, BlackBerry Messenger, AOL Online dan bla bla bla…), seseorang bisa tidak menjadi dirinya sendiri.

Kata-kata keluar bisa jadi bukan spontan dan tulus dari dalam hati, melainkan melalui proses screening backspace, undo, dan delete. Setiap kata-kata yang keluar bisa dimodifikasi agar terlihat jauh lebih intim, jauh lebih lucu, jauh lebih menarik, jauh lebih romantis, jauh…, jauh… yang nyata-nyatanya… juga sangat jauh dalam mewakili originalitas seseorang pada saat melakukan interaksi face-to-face.

Apa yang orisinil dari : ‘ah.. kalimat ini kayanya kurang lucu… hapus dulu ah, ganti sama….’.?

Orang menjadi tidak genuine, tidak asli, tidak orisinil. Apa yang keluar di layar bukan produk spontan dari hati, melainkan bisa saja melalui proses revisi berkali-kali undo dan backspace sebelum akhirnya tombol enter ditekan dan kalimat muncul di layar online chatting.

Everything is not real and it is AS IF the machines has rising.

Sebelum kita menjadi bagian dari kaum The Ressistance dan bersama-sama melawan kebangkitan Skynet, mari sama-sama bangkit melawan tanda-tanda manusia akan digantikan oleh mesin.

Bukan… bukan dengan serta merta menghapus account ICQ, Skype, FaceBook, Yahoo Messenger, GTalk, AOL Online, atau bahkan membuang notebook, PDA, BlackBerry dan juga stop menggunakan SMS serta telepon.

Mari mulai memilih :

  • menggandeng pujaan hati kita saat berjalan bersama dibandingkan sibuk foto-foto sendiri dengan kamera handphone untuk segera di-update ke online social networking,
  • menatap matanya dan menggenggam tangannya saat berbicara dibandingkan sibuk menggenggam dan menatap layar HP, PDA, dan/atau BlackBerry,
  • mematikan sejenak BlackBerry Messenger pada saat sedang berkumpul dengan teman atau keluarga,
  • memilih mengajak pasangan pergi nonton, candle light dinner daripada hanya sekedar phone sex dan/atau cyber sex,
  • tidak setiap menit sekali mengecek apakah email kantor sudah ada yang masuk inbox mail BlackBerry atau belum pada hari libur kantor,
  • segera kopi darat dengan teman lama atau kenalan baru dari online dating dibandingkan terus-menerus bercakap-cakap tengah malam lewat webcam atau siang hari saat jam kerja,
  • memilih reuni di café kecil di daerah pusat kota daripada conference chatting lewat messenger atau sekedar menulis status ga penting di FaceBook wall,
  • menelepon untuk mengabari akan pergi kemana kita kepada teman-teman jika memang kita tidak bisa bertemu mereka untuk sementara waktu dibanding mengganti status FaceBook dan berharap semua orang update mengecek profile-mu seperti selayaknya kamu adalah seorang artis ternama,
  • .. dan… hal-hal intim remeh lainnya.

Mari bersikap selayaknya dua manusia dan berhubungan selayaknya dua manusia.

Let’s stop the machine for rising against us, humans.

*bukan nama sebenarnya tetapi diambil dari inisial professional yang dipakai secara resmi di kantor saya. JLO benar-benar inisial Group Brand Manager saya, bukan kepanjangan dari Jennifer Lopez.

Advertisements

9 thoughts on “rise of the machines

  1. aaahahhahahahaaaa keren!!
    gila aja lho gue dah seminggu semenjak leptop rusak plus plus HP GSM gw tercinta *juga* rusak
    tanpa dua benda tersebut hidup gue berasa balik ke jaman jahiliyah…

    • nah. gue juga serem kl inget2 itu. padahal cuma hp lho. tp gue jamin, seharian bisa stres dan resah gelisah.
      bnr kan gue?

  2. Wahahaha!!can’t agree more with u!spanjang baca gw teruuuss manggut2 stuju..qta smua jd cyborg..sparoh badan jd komputer..ga ad teknologi qta lumpuh sparoh..blom aj ntar muncul si terminator!ludhes qta!haha

    • iye, secara lo tiap hari kerjaannya di depan monitor mulu. kudu online.. online… (kaya lagu gue..) yah ditambah untuk itulah lo dibayar.
      makin parah. hihihi, gue ngiri aja nih ama kerjaan lo sebenernya. (ketauan… ketauan…)

  3. seorang teman memplesetkan sebuah tag line iklan

    teknologi yang mengerti anda…
    walaupun anda tak mengerti teknologi

    teknologi yang akhirnya membelenggu dan manusia tunduk akan teknologi itu
    sebuah fenomena yang menggelitik dan agak menyeramkan.

    btw aneh juga gaya pacaran kayak gt ya..
    gw mah pilih yg konvensional aja deh 😀

    nice post…. lam kenal *sory kepanjangan komennnya* 😀

  4. Nice reminder for all people 🙂

    anw… gue and hubby sepakat : no BB (toh gak perlu konek inet 24jam)
    No inet at the weekend; totally for us.. sekali2 boleh cek lewat hape. Tapi gak boleh OL pake lappy ato kompie 😀

    sound ridiculous tapi itu yg bikin kita tetep hangat 😉

    salam, EKA

    • duh mesranyaaa… NGIRI!!!
      laki gue lah yang ngasi gue BB. tapi entah kenapa gue rasanya nyesel udh pegang BB dengan pin-pinnya. kl ngeliat dia sibuk ama BBnya, rasanya hati ini teriris2(ala ratih purwasih), seakan2 si BB lebih seksi dan oke dr gue. YA NGGA LAHHH!

  5. banget banget.. tulisannya emang ekjadian sehari hari yang ternyata gak kita sadari.. tiap detik nge cek face book , pengen punya hape yang bisa face book ..akhirnya disadari.. ternyata facebook membosankan..

    • elu tuh! baru poto ama pasha, lgsg aplot, br poto ama charly lgsg aplot.. br poto ama kuburan, langsung aplot. aplot aplot aplot.
      sampe pertengkaran rumah tangga lo jadikan konsumsi publik. dasar gendeng…
      hehehe, tp pak JLO demen tuh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s