keringatmu gairahku…

berdiri tepat jam 2 siang di depan 35 ribu lebih manusia yang berdesak-desakan dan berteriak antusias, saya disadarkan kembali bagaimana rasanya menjadi seorang anak muda.

di dalam keadaan bernafas dan detak jantung dalam ritme normal, kemungkinan besar saya tidak akan tertarik dengan lelaki itu. tapi siang ini, di bawah terik matahari yang tertutup riging panggung, saya terpesona dengan lelaki itu. lelaki yang sedang melompat-lompat, menyanyi, bermain musik, tertawa, dan sekali-sekali berkomunikasi dengan puluhan ribu manusia lainnya dengan bahasa yang kental nuansa Sunda-nya.

charly's colorful stage action

sepanjang sejarah hidup pendek yang saya lewati, personil band adalah sekelompok manusia yang memiliki daya tarik paling besar untuk memikat para perempuan, baik ABG, wanita muda, ibu-ibu, bahkan sampai nenek-nenek. yang masuk kategori band ini mulai dari yang tanpa alat musik -yang lazim disebut boy band– sampai yang memainkan alat musik lengkap -yang biasa disebut band saja-.

sewaktu ABG, saya cinta banget sama NKOTB. saya sering mengkhayal datang ke konsernya dan dapat kesempatan mengobrol akrab dengan salah satu personil favorit saya, Jonathan Knight. tentu saja, mimpi tinggal mimpi, karena Bapak saya saat itu tidak pernah mengijinkan saya nonton konser, apalagi mau kesampean ngobrol intim.

saya juga sempat melewati fase Backstreet Boys dan Oasis. ikut nge-fans pada saat mereka sedang ngetop-ngetopnya. lagi-lagi dengan mimpi yang sama, menonton konsernya, diikuti dengan sesi obrolan intim. dengan kenyataan yang sama, tidak pernah terkabul.

menjelang remaja sampai kuliah, saya suka sekali dengan Radiohead. dua lagunya, Creep dan Just membuat saya setia mengulang-ulang playlist yang sama. sejalan dengan hobi saya main band di usia SMA dan kuliah, mimpi saya agak berbeda, main gitar sebagai pengiring dan duet nyanyi dengan mereka.

banyak orang bingung dengan kekaguman saya pada Thom Yorke, sang vokalis. secara fisik Beliau tidak bisa dikatakan ganteng seperti Noel atau Liam Gallagher, atau Damon Albarn. lebih pasti lagi tidak mungkin lebih ganteng dari Kevin Richardson. tapi setiap kali nonton videoklip Creep dan Just, saya langsung terpesona total dan hooked up. entah apa yang lebih membuat saya terpesona, wajahnya, gaya panggungnya, ekspresinya… yang jelas, saya bisa memutar-mutar ulang lagu dari Radiohead yang sama berkali-kali tanpa bosan.

dan siang ini, saya kembali muda. melihat lelaki itu sungguh saya terpesona.  saking terpesonanya sampai waktu meng-observasi lelaki ini dengan lensa tele, saya sempat bengong sesaat. sama seperti pada Thom Yorke, entah apa yang lebih membuat saya terpesona, wajahnya, gaya panggungnya, atau ekspresinya.

saya melihat sekeliling dan mendapati 35 ribu orang di sekitar saya sependapat. bahkan seorang nenek-nenek rela terjepit di pagar barikade panggung demi menonton lelaki itu. pada saat saya menengok ke kanan, pemandangan lain menunggu…

seorang gadis muda sambil menangis terharu menonton sang superstar baru. temannya di samping membujuknya untuk pulang. dari ekpresinya saya tahu, itu ekspresi jatuh cinta sang penggemar kepada idolanya.

in love and cry

35 ribu lebih penonton tersihir. semua ikut aksinya, semua menangis terharu… entah karena apa, semua menuruti permintaan sang lelaki, bahkan untuk hal yang sempat membuat saya tertawa.

“mana tanda fisnya?” teriak sang lelaki sambil mengacungkan jari perdamaian.

saya bengong dan mencoba membenarkan anak-anak rambut di pipi dan telinga untuk mendengarkan lebih jelas. sumpah, saya tidak salah dengar.

“mana tanda fisnya?” teriak sang lelaki untuk kedua kalinya.

sebagian besar penonton dengan kompak mengacungkan jari tanda perdamaian. saya tersenyum. bahkan pesonanya bisa menulikan kuping sebagian besar penonton. kesalahan pengejaan karena dialek Sunda yang kental tidak membuat penonton memaki sang lelaki. bahkan semakin memuja.

charly in guitar action

ada apa dengan perempuan dan musisi? bahkan sejak masih di bangku sekolah, pemain band amatir sekolah lah yang paling banyak mendapat hadiah histeria murid perempuan. wajah lelaki yang dalam kehidupan nyata rakyat jelata tidak akan dilirik sebelah mata, mendadak jadi pujaan hati di atas panggung. saya bertaruh, di luar panggung bisa menemukan tukang becak, tukang ojek yang mukanya serupa sang lelaki, tetapi di atas panggung… semua berubah menjadi pesona, pesona, dan pesona.

sambil terus mengambil gambar sang lelaki lewat lensa tele, saya terus tersenyum-senyum dan bergoyang pinggul. he is a magnet and i admit it. di atas panggung melihat aksinya, saya tidak peduli apakah di luar sana saya dengan mudah bisa mendapat 1000 lelaki dengan wajah yang serupa atau bahkan lebih tampan daripada beliau.

saya terpesona.

charly the rocker in bw

saya sempat berpikir, apakah setiap laki-laki, seperti apapun wajahnya di dunia nyata, di atas panggung dengan sebuah gitar akan terlihat mempesona seperti Charly? seperti Thom Yorke? dalam kehidupan nyata, wajah seperti mereka jarang dilirik oleh perempuan kota besar seperti saya, tetapi pada saat di panggung, tidak ada perasaan lain menyelimuti hati saya… kecuali pesona. apakah benar?

sekelompok lelaki yang akan naik panggung selanjutnya akan saya jadikan teori apakah memang benar, lelaki yang di kehidupan nyata tidak akan dilirik sebelah mata, serta merta akan menjadi magnet di atas panggung?

dari mulai lewat depan mata, saya sudah mulai males dengan musisi lelaki yang akan mengisi panggung setelah Charly. dengan nama yang sama dengan tukang jagal penyuka sesama jenis, keberadaan Ryan seolah-olah membuat saya hilang gairah. tinggi badan? tidak memadai. wajah? pas-pasan. model rambut? seperti sudah tidak menyentuh shampoo selama berbulan-bulan. pakaian? ugh… skinny jeans putih, converse hitam, dan cardigans hijau tosca? ehm ehm… it’s a BIG NO NO NO in male fashion dan sama sekali tidak mengangkat kualitas penampilannya yang sudah katro dari sananya

(big kiss and sorry, ryan… but, that’s the truth).

ryan on the massive action

saya mencoba optimis. mungkin pesona itu muncul setelah ada aksi panggung. maka dengan harap-harap cemas saya berdiri di samping panggung menunggu aksi si Ryan yang sangat massive katanya.

Gleg.

mulai dari lagu pertama dan aksi panggung pertama, tanda-tanda penuaan sudah muncul di wajah saya. dahi berkerut dan ilfeel seketika. semua lagu yang lelaki ini bawakan adalah lagu romantis. yang sukses membuat perempuan termehek-mehek. tapi, instead of terpesona, saya merasa drop.

saya lalu melayangkan pandangan ke ribuan penonton. hawa kerumunan sudah tidak se’panas’ saat lelaki pertama manggung. dan ada yang berubah dari karakteristik penontonnya. sungguh banyak penonton yang berganti kelamin. eits, eits, maksud saya adalah… band yang massive ini ternyata lebih banyak memiliki penggemar perempuan dibanding laki-laki. terutama adalah dari kalangan remaja perempuan bawah umur.

bandung lautan remaja wanita

mungkin masalah selera, tapi saya sama sekali tidak bernafsu menonton aksi panggung sang tukang jagal gairah, apalagi sampai terpesona. yang saya pikirkan cuma, kenapa orang ini bisa manggung? disertai spekulasi-spekulasi dan legitimasi, ah mungkin tadi  sengaja disusun sebagai klimaks acara dan yang kali ini sebagai anti klimaks..

yeah right… saya sungguh tidak akan merasa klimaks.

acara berakhir. saya bersiap-siap hendak keluar dari backstage saat seorang Bapak-bapak menghampiri saya dan ManisMan,

punten, neng… ini saya bawa orang. saya kasian. tadi dia dikasi sesuatu sama Ryan, tapi direbut sama penonton lain. sekarang saya anter supaya dia bisa minta barang lain ke Ryan”
(*translate: Punten berarti Permisi…)

saya mengernyitkan dahi (ah.. penuaan semakin dekat..) dan melongok ke belakang Bapak-bapak ‘baik hati’ itu. dua orang ABG perempuan. yang satu wajahnya normal, satu lagi wajahnya merah padam sambil menangis. kontan saya panik.

waduh… trus sekarang gimana dong?”, sungguh tidak menawarkan solusi.

itu, teh… hiks hiks… saya .. hiks …direbut anduknya. anduk yang dilempar Ryan… Hiks… direbut sama penonton lain… hiks

trus.. mau apa?” sungguh makin tidak sensitif. tapi sumpah, saya bingung dia maunya apa. ManisMan pun tidak membantu. Beliau tampak bingung di sebelah saya.

“itu, teh… mau ketemu…hiks… Ryan aja”

“Heh! Ryan mah udah pulang dari tadi,” sergah saya. again… with the sensitivity. “begitu selesai manggung tadi langsung pulang”

(kaget) “Haah? masa sih, teh?!

ya iyalah! pintu backstage udah terbuka lebar dan elo bisa masuk! mana mungkin lo dibiarin bebas masuk kalau artisnya masih pada gentayangan di sini. tapi bukan itu yang keluar dari mulut saya,…

“iya tuh, duuh… maaf banget ya. trus sekarang gimana dong?”

setelah melewati bujukan-bujukan ngga penting yang lumayan bikin saya dan ManisMan mangkel, akhirnya keluarlah kalimat dari mulut sang ABG yang bikin saya makin kaget,

“kalau minuman bekas Ryan, ada ngga, teh? pasti ada kan, teh? aku mau minta botol minum bekas Ryan aja,” sambil mukanya tetap merah dan menangis.

“wah,..ngga ada. tapi saya punya foto Charly yang bagus. mau?”

ih. ogah,” katanya pendek dengan nada jijik.

saya dan ManisMan saling pandang.

oke, bentar ya”

entah kenapa saya masuk ke dalam tenda yang tadi dipakai artis untuk transit dan mencari-cari botol minum.

mana lu tau mana yang bekas si Ryan? lagian emang ada?”, ManisMan sewot melihat saya bertingkah aneh.

nek, daripada lama-lama kita mesti ngadepin ABG itu! udah! tuntaskan saja! lebih cepat lebih baik!,” entah kenapa quote dari salah satu calon presiden Indonesia selalu kebawa-bawa.

tega lu….” kata ManisMan.

dengan sigap saya meraih botol air mineral setengah isi yang ada di sebuah meja. entah punya siapa. tapi jelas itu botol minum dan jelas itu bekas minum. saya bukan tega. tapi saya harus mengambil keputusan cepat selayaknya manager yang baik untuk membuat sang gadis ABG lebih bahagia dan mengeluarkan saya dari situasi tersebut. karena saya yakin, beliau akan tetap ngotot sampai apa yang dia inginkan bisa didapat.

benar saja. teknik saya berhasil! sang ABG memandang saya dengan penuh rasa terima kasih. botol air mineral yang entah bekas dipakai siapa dipegang dengan penuh kasih sayang selayaknya botol minuman keramat.

baru saja saya dan ManisMan beringsut kabur, segerombolan ABG lain muncul dan menyerang tanpa ampun.

teteh! teteh! minta nomer handphone Ryan atuh!” teriak mereka bersahut-sahutan.

Heh! Mana gue punya!

bohong! biasanya kan orang-orang di backstage punya nomer telepon artis-artisnya!” seru mereka sok tahu.

ini yang perlu diluruskan. tidak semua orang yang berkeliaran di belakang panggung punya nomer telepon artis, atau memiliki hubungan dekat dengan artis. saya cuma panitia acara yang kebetulan sponsor utama sehingga punya akses bebas di belakang panggung, salaman, cipika cipiki, ketawa ketiwi palsu, foto bareng berbagai pose sampai nungging, joget-joget di pinggir panggung tanpa takut kegencettapi tidak pernah memiliki hubungan dekat dengan artis. apalagi sampai dibagi nomer handphonenya.

Helooo? emangnya lagi kopi darat sampai harus tuker-tukeran nomor handphone?

dan apakah mereka tidak pernah berpikir kalau di belakang panggung juga ada janitor dan cleaning service?

akhirnya saya berhasil kabur dari ABG-ABG yang jejeritan mencari Ryan si tukang jagal gairah yang sudah entah kemana di dalam mobil artisnya.

ternyata memang benar.

keringatmu bukan gairahku

lelaki di dalam sebuah band memiliki pesona dan daya tariknya sendiri. masalah akan tertarik atau tidak, itu masalah selera. sang ABG lebih suka tipe Ryan, sedangkan saya ilfeel, saya yang lebih tua tertarik pesona Charly dan sang ABG tampak ogah saat mendengar nama Charly saya sebut. tapi yang jelas, ada sesuatu di dalam diri musisi-musisi itu. terlepas dari apakah wajah itu akan ‘laku’ jika jalan-jalan di dunia nyata tanpa microphone dan gitar listrik, tapi saat mereka berada di atas panggung, bahkan keringatnya pun jadi incaran dan gairah para perempuan.

contohnya, sang handuk bekas lap keringat Ryan yang direbut dari tangan sang gadis, ditangisi sampai muka merah dan dikejar sampai dapat botol air mineral setengah minum -yang entah punya siapa- dan langsung dijaga seakan-akan harta karun berharga…

… oh keringatmu, memang bisa jadi gairahku…

*posting ini tidak berlaku untuk Rhoma Irama dan band-nya, Soneta Group. maaf, bang Oma…. tapi saya berkata jujur.

Advertisements

5 thoughts on “keringatmu gairahku…

  1. Huahahaa..baruuu aj dibahas kmaren di radio, klo personel boyband itu slalu punya pangsa pasar untuk setiap tipe yang disukai wanita..i guess it’s a power relations..yang di atas panggung punya kekuatan lebih, dan kekuatannya tidak berasal dari fisik..mungkin..hehehe

    • hiks…
      lo tau ngga sih tadi malem udh dipaksa ngikut nonton SCTV awards, gue udh kepengen krn mau liat Charly lagi. eehh… acaranya SUNGGUH membosankan jadi gue diajak pulang.
      pas gue pulang, Charly naek panggung. damn!
      and gue ga jadi pergi ke Batu Caras ama lo krn… ga sempet lg ke Bekasi.
      pagi ini gue misuh2.

      gagal cium keringat.
      hahahaha.

    • Thank you,lex.

      Do u like my pictures? Semua nya foto asli buatan saya lho. Actually, smua foto yg ada di blog ini bukan diambil dr search engine atau stock photo.

      Mampir2ya ke http://www.adeirra.com
      Btw,keep coming here and read more !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s