LEARNING FROM SEX AND THE CITY [wanita dan Samantha]

Anda salah satu penggemar serial Sex and The City atau at least pernah menonton salah satu episodenya?

Semua perempuan yang menjadikan Sex and The City sebagai kitab suci baik untuk barometer fashion, lifestyle¸ataupun relationship, pasti mengenal dengan baik Carrie Bradshaw, Samantha Jones, Miranda Hobbes, dan Charlotte York beserta karakteristik dan kepribadian mereka.

Carrie Bradshaw adalah seorang penulis kolom koran New York Star, spesialisasi di urusan relationship dengan judul kolom Sex and The City –yang menjadi judul serial ini–. Carrie adalah selayaknya remaja dengan keinginannya untuk selalu mengikuti fashion, baju-baju branded dan fashionable serta high heels Jimmy Choo, Manolo Blahnik, Stuart Weitzman, dan Christian Loubotin yang rela dia beli walaupun harus berhutang dan kesulitan pada saat harus membayar downpayment apartement-nya.

Samantha Jones, powerful single yang juga merupakan successful public relation. Digambarkan sebagai jiwa lelaki yang terperangkap di dalam tubuh seorang perempuan, tidak keberatan berganti-ganti pasangan tempat tidur setiap malamnya dan komitmen adalah daftar terakhir di dalam list hidupnya. Samantha selalu tampil sexy, dan di setiap penampilannya hal tersebut selalu terlihat. Samantha juga sangat percaya diri, dan percaya bahwa dia telah memiliki segalanya tanpa perlu hidup berkomitmen dengan pria.

Miranda Hobbes dikenal sebagai sarcastic benchmark bagi teman-temannya. Lulusan Hukum Harvard yang berhasil menjadi partner di sebuah mid-size law firm dan sangat mandiri dari segi finansial. Beda dengan Samantha, Miranda jauh lebih sinis dalam hal yang berkaitan dengan lelaki dan relationship. Menurutnya, perempuan masih membutuhkan lelaki, tetapi tidak semestinya bergantung kepada lelaki. sinisme yang Miranda miliki, jadi daya tariknya sebagai salah satu perempuan yang powerful dari sisi karir.

Charlotte York adalah tipe yang paling mendekati tipikal perempuan pada umumnya. pekerjaannya sebelum menikah adalah menjadi kurator art gallery. Impiannya adalah memiliki suami kaya raya yang bisa membawanya tinggal di sebuah apartement penthouse di Park Fifth Avenue. Pada saat menikah ia ingin big white wedding dress dan big party yang muncul di page six New York Star, sesudah menikah ia merasa tidak perlu lagi bekerja, dan pada saat masih single sebisa mungkin menghindari trashy talk bahkan dengan sahabat-sahabatnya. Tipe perempuan sempurna, everybody’s sweetheart yang sangat sopan dan santun.

Dengan kegemaran menghabiskan slip gaji untuk baju-baju (yang menurut saya ) fashionable dan juga untuk high heels –yang terkadang membuat saya susah hidup di tanggal-tanggal menjelang gajian berikutnya–, saya mengidentifikasi diri saya sebagai Carrie. Hal ini diperkuat dengan fakta kalau saya suka menulis (dalam blog) dan memiliki sejarah long complicated relationship dengan soulmate saya, selayaknya yang dimiliki Carrie dan Mr. Big.

Tapi ManisMan tidak sependapat dengan saya.

you are soooo Samantha,”

am i a Samantha...?

Begitu katanya pada saat melihat saya datang ke kantor hari itu dengan atasan leopard animal print, rok pensil hitam, dan satin high heels 12 senti.

Am i?

Menurutnya, saya selalu tampil sexy. Sama seperti Samantha, sexy tidak selalu berarti baju terbuka, tetapi dalam setiap pakaian yang saya pilih, selalu melulu mengeluarkan aura Samantha, penggoda, penggoda dan penggoda. Saya menyangkal mirip Samantha. Salah satunya karena saya tidak memiliki hubungan cinta yang ‘cepat datang dan cepat pergi’ seperti Samantha. Cinta saya hanya satu, Mr. Big, atau dalam hal ini, soulmate saya yang juga punya kepribadian se-complicated Mr.Big.

but you’ve onced had that kind of relationship,” jawab ManisMan.

Oke, saya dulu pernah memiliki sejarah menjadi Samantha. Tiada hari tanpa menggoda lelaki. Bahkan saya pernah pacaran dengan 10 lelaki dalam satu waktu sekaligus. Hanya saja fase tersebut sudah lewat jauh dalam hidup saya, dan beda dengan Samantha, saya tidak bangga pernah melewati fase tersebut. lain dengan Samantha, I considered THAT as my dark ages.

Menurut saya, ManisMan mirip Charlotte, she’s an everybody’s sweetheart. Waktu saya tanya, Manis Man menolak dengan keras kalau dia mirip Charlotte dan bilang kalau dia berharap bisa menjadi Samantha, powerful woman, percaya diri, sukses dalam karir, dan superior dibanding pria. Dan berdasarkan hasil survey dadakan saya dengan para penggemar serial Sex and The City, setiap 8 di antara 10 perempuan berharap bisa menjadi atau digambarkan mendekati Samantha.

Menurut mereka, Samantha adalah gambaran pribadi jelmaan yang jadi impian setiap perempuan.

“beib, lo dipanggil ke ruangan HRD tuh,” panggilan salah seorang teman membuyarkan analisa saya.

HRD saya, membuka percakapan siang itu dengan kuesioner career development path yang baru saya isi. Beliau membahas mengenai jenjang karir apa yang saya inginkan, bentuk-bentuk pengembangan yang saya harapkan, bla, bla, bla,… sampai akhirnya sampai ke sebuah topik.

“saya mau menyampaikan masukan buat kamu,”

“apa, pak?” tanya saya.

“hmm… ada sedikit masukan dari wanita X (bukan nama sebenarnya), kalau dia kurang nyaman dengan gaya kamu berpakaian. Menurutnya, kamu terlalu seksi,”

Saya ingat betul kalau Wanita X adalah salah satu teman kantor yang pernah memuji gaya berpakaian saya. Saya ingat betul kalau dia pernah berkata berharap bisa berpakaian seperti saya. Bahkan di dalam survey dadakan saya, Wanita X masuk kategori salah satu perempuan yang berharap bisa menjadi seorang Samantha dalam karakter Sex and The City. Ternyata di belakang saya, dia merasa tidak nyaman dengan Samantha yang sebenarnya mungkin cuma secuil ada di dalam diri saya.

is there a 'lil samantha in all of us ?

Hal tersebut membuat saya berpikir, apakah setiap perempuan memiliki hasrat terpendam menjadi Samantha, tetapi ternyata tidak nyaman saat melihat seorang Samantha di dekat mereka? Mengapa mereka sangat bersemangat menjadi seorang yang seksi, percaya diri, dan superior, tetapi pada saat meilhat perempuan lain di sekitar mereka yang seksi, percaya diri, dan superior, mereka merasa tidak nyaman?

Saya bisa saja memilih analisa dangkal dan mengambil konklusi kalau Wanita X Cuma iri. Tetapi saya menolak menjadi perempuan pendek akal.

Apakah mungkin perempuan semacam Wanita X berpendapat seperti itu karena Beliau merasa belum mampu menjadi seorang Samantha dan merasa terintimidasi? Dengan melihat saya yang di matanya mirip Samantha dianggapnya sebagai mengancam eksistensinya di kantor dan kemudian memutuskan menjadi seorang bitch yang bisa membicarakan saya di belakang punggung.

Kemungkinan kedua adalah kritikannya merupakan ungkapan rasa kagum. Ya, rasa kagum. agak mustahil tapi… mungkin Wanita X dan perempuan-perempuan lain yang berbicara negatif tentang saya, sebenarnya sangat peduli dengan penampilan luar saya. Mereka ingin agar saya tetap menjadi Samantha, tapi dalam versi yang lebih sopan dan –kalau bisa–, office friendly. kritikan mereka tak lain adalah masukan agar saya menjadi ‘Samantha yang lebih baik lagi’.

Analisa kemungkinan ketiga adalah semua perempuan sangat menyukai image Samantha, mereka ingin menjadi Samantha di dalam mimpi mereka, tetapi tidak terlalu berani untuk mewujudkannya dalam kehidupan nyata mereka. Image Samantha terlihat sangat indah di dalam bayangan, tetapi untuk menjadikannya bagian dari kepribadian mereka membutuhkan keberanian ekstra. Dalam bayangannya, Samantha adalah karakter ideal seorang wanita, tetapi dalam kehidupan nyata, seorang Samantha sangat susah diwujudkan dalam diri manusia, dan apabila ada seorang manusia dalam wujud mirip Samantha, maka itu adalah ancaman buat mereka.

Entah masuk kategori mana Wanita X, tetapi tetap waktu pulang dan berpapasan dengannya, Beliau tersenyum (yang sepertinya tulus) dan berkata,

“hai, bajumu keren banget, non. Seksi pula!”

Hmmm.

Mungkin memang ada sedikit Carrie dan sedikit Samantha di dalam diri saya, dalam hal ini menurut saya adalah keberanian saya untuk menunjukkan diri. berpakaian seperti ini adalah memang kepribadian saya, sesuatu yang nyaman menurut saya. sama seperti Samantha ataupun Carrie, saya berpakaian karena saya menyukainya. bukan semata-mata memiliki objektif yang berkaitan dengan pihak ketiga. saya rasa, setiap perempuan perlu lebih berani untuk put herself out there. menjadi diri mereka sendiri dikombinasikan dengan menjadi sesuatu yang mereka inginkan -dalam hal ini, menjadi Samantha-.

dan sebetulnya, memang ada Samantha yang ingin dimunculkan di dalam diri masing-masing perempuan. Masalahnya adalah keputusan di dalam diri perempuan itu masing-masing, apakah mereka cukup berani untuk menjadi Samantha, –atau dalam kalimat : seorang yang seksi, percaya diri, dan superior–, atau mereka akan terus mengkritik seseorang di depan mata mereka yang mereka lihat mirip Samantha (seksi, percaya diri, dan superior, walaupun dalam kasus saya, belum tentu benar saya memang mirip Samantha) dan pada akhirnya tidak pernah memutuskan merubah diri mereka sendiri menjadi seksi, percaya diri, dan superior.

silahkan dipikrikan baik-baik dan diputuskan masing-masing.

Advertisements

9 thoughts on “LEARNING FROM SEX AND THE CITY [wanita dan Samantha]

  1. huahahahahahahha..kalau jujur emang jadi samantha tuh asik banget independent , gak diatur sama laki2 ( bahkan bisa ngatur ) , kaya , sukses dan pekerjaan dia tuh sebenarnya “gue banget” . Tapi gue gak bisa kaya dia krn gue orangnya terlalu peduli dan mikirin apa yang orang anggep tentang gue ( takut diomongin org lah dan bla bla bla ) yang sebenarnya gue pengen bangeet lepas dari ini semua tapi gue sadari itu gak akan pernah bisa karena gue gak mau ngecewain orang2 yang sudah berharap terlalu banyak.. tapi gue selalu menghargai orang yang bisa jadi dirinya sendiri seperti elo..karena lo gak takut berekpresi you do whatever you want ( so congratulation lo bisa menapilkan sisi samantha dalam diri lo) yang gak semua cewek bisa begitu padahal merka semua pasti ada keinginan jadi sam dalam dirinya..

    • bisa… caranya tapi gimana ya? soalnya saya g punya section khusus link. cukupkah hanya dengan dirimu memasukkan comment di sini?
      anyway, thanks comment ‘tuker link‘-nya…

  2. Ternyataaa…komen gw waktu itu nggak masukk!! BB Siallll..hahaha..uda curhat panjang2, sirna sudah kini…Nicely written bu, suka cara mendeskripsikan keempat karakter itu..

    Klo mnurut gw melihatnya, SATC menggambarkan berbagai cara feminis meraih tujuannya. Bisa menjadi gadis normal seperti Carrie, bisa jadi wanita ‘baik-baik’ seperti charlote, bisa jadi Super-mamma macamnya Miranda dan yang juga selalu valid, menjadi femme fatale, perempuan yang memanfaatkan seksualitasnya to empower herself, like Samantha…

    Nggak smua bisa nerima mereka, but they are all valid stories of women in this world! GO SAMANTHA! 😛

  3. Pingback: the bitch wears Prada « why woman should run a nation

  4. waduh. sorry. gw juga cinta banget sama sex and the city. serial paling top sepanjang sejarah! dan ceritamu, kok ya sama banget! di kantor gw sampe pernah dilabrak gara2 jadi fashionista dengan rambut merah. padahal gw hrd. jiaaaaaahhhh…dan soal BIG, ga tau secomplicated apa BIGmu, tapi gw ngalamin juga..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s