tricky 30s : perawan tua atau janda muda

melanjutkan tulisan saya sebelumnya adalah posting ini. bagaimana sebuah umur bisa menjadi ambigu (makna ganda) setelah mengalami penambahan status sosial, perawan tua dan janda muda.

saya melakukan survei kepada dua kategori manusia, lelaki dan perempuan, keduanya dibagi lagi menjadi dua kategori yang lebih dalam : menikah dan sudah atau pernah menikah. sangat menarik pada saat mendengar jawaban yang muncul bervariasi namun tampak serupa di dalam kelompok jenis responden yang sama.

dengan umur yang sama -yakni 30 tahun-, wajah yang sama cantik, karir yang sama sukses, bodi yang sama aduhai, perilaku yang sama sempurnanya, mana yang lebih dipilih : perawan tua atau janda muda?

janda... atau perawan saja ?

lelaki yang belum menikah hampir seluruhnya lebih memilih janda muda. sedangkan kawanan lelaki yang sudah menikah hampir semuanya lebih memilih perawan tua.

menarik.

saya memutuskan melakukan diskusi dengan dua kelompok tersebut. apakah yang menjadi sebab musabab ada kecenderungan tertentu bagi sebuah kelompok tertentu.

lelaki belum menikah hampir semua memberikan alasan yang sama, berkata memilih janda muda karena menurut mereka janda muda lebih berpengalaman -dalam konteks ini sudah jelas, yang dimaksud adalah pengalaman di tempat tidur-. selain itu, janda muda dianggap memiliki karakteristik lebih nakal atau nasty, dan gabungan dua alasan ini menggairahkan kawanan lelaki belum menikah.

alasan lainnya adalah karena kawanan perawan tua dianggap memiliki stereotype yang galak atau bitter. dalam hal ini sudah jelas, lelaki belum menikah memilih yang nakal, nasty, dan bisa diajak bersenang-senang.

yang menarik, lelaki sudah menikah yang memilih jawaban perawan tua, terbagi menjadi dua kategori alasan. yang pertama memberi alasan dengan mengiblatkan diri ke golongan lelaki belum menikah. lelaki sudah menikah berpendapat kalau lelaki belum menikah pada umumnya memiliki ekspektasi tinggi mengenai kehidupan di tempat tidur, sehingga mereka cenderung memilih janda muda. sedangkan lelaki sudah menikah merasa SUDAH merasakan kehidupan di tempat tidur setelah menikah, sehingga tidak memiliki ekspektasi lagi. yang lucunya, mereka berpendapat kehidupan setelah menikah itu biasa-biasa saja, tidak sesuai ekspektasi mereka pada saat masih perjaka. menurut mereka, lebih menarik jika mereka kemudian memilih lagi perawan (walaupun) tua yang belum berpengalaman, sehingga akan banyak belajar hal-hal baru.. di tempat tidur.

yang membuat saya senang adalah jawaban kelompok kedua yang jauh lebih jujur. lelaki sudah menikah memilih perawan tua karena perawan tua dianggap belum memiliki benchmark (lagi-lagi) di tempat tidur. kenapa hal tersebut penting? penting, karena dengan tidak memiliki benchmark, maka lelaki tersebut akan terbebas dari pembanding-pembanding yang mungkin muncul dari mulut sang perempuan jika ia adalah janda muda,

“hmm… yang dulu kayanya lebih tahan lama…”

“dulu sih saya lebih sering posisi selain ini”

atau yang paling menakutkan kaum lelaki,

aduuh.. kok punyamu lebih kecil yaaa”

walaupun hal terakhir jarang keluar dari mulut janda muda yang santun. ekspresi yang muncul lebih kepada muka masam, cemberut, atau datar serasa tidak merasakan apapun di tempat tidur.

survei tidak akan lengkap tanpa responden dari kaum yang yang menjadi objek. sang perempuan.

walaupun terdapat jawaban bervariasi, tapi saya bisa tuliskan di sini bahwa sebagian besar perempuan (baik ia janda muda, perawan tua atau bukan keduanya) menjawab memilih menjadi janda muda dibandingkan perawan tua.

bagi yang memilih menjadi perawan tua (golongan kecil) biasanya sudah menikah dan memiliki pengalaman yang biasa-biasa saja atau cenderung kurang menarik di area pernikahannya, baik itu di tempat tidur maupun di luar tempat tidur.

hal yang menarik, sebagian besar perempuan yang memilih menjadi janda muda -baik saat ini statusnya sudah menikah atau belum- memiliki alasan yang serupa, mereka lebih memilih jadi janda muda karena dengan menjadi janda muda artinya at least sekali (atau sebaiknya berkali-kali) sudah merasakan pengalaman di tempat tidur dan ekstrimnya, merasakan pengalaman orgasme paling tidak sekali di dalam hidup.

alasan kedua adalah perempuan lebih suka mendapat sebutan muda -dimanapun ia berada, di usia berapapun- dibandingkan mendapat sebutan tua, apapun embel-embel di depannya -perawan atau bukan-.

hal ini mengesampingkan fakta kalau pada kenyataannya banyak perawan tua yang sebenarnya sudah tidak benar-benar perawan.

apa yang bisa diambil dari survei ngga penting saya ini?

bahwa perempuan sebenarnya adalah makhluk yang fun. anggapan mayoritas yang pernah menyebutkan bahwa perempuan tidak fun setelah menikah adalah misleading. pada kenyataannya survei menunjukkan bahwa perempuan sudah menikah memiliki pandangan yang lebih ke arah tempat tidur, dibandingkan lelaki yang sudah menikah.

lagi-lagi ini hanya survei, tetapi jika dihubungkan dengan mitos pernikahan, mungkinkah sebuah pernikahan menjadi biasa-biasa saja karena lelaki memandang sebagai hal yang biasa-biasa saja? sehingga perempuan yang -ternyata- memiliki orientasi ‘tempat tidur’ yang cukup tinggi, menjadi terlihat (juga) biasa-biasa saja. lelaki sudah menikah lebih memilih perawan tua karena dianggap di luar ‘biasa-biasa’ saja.

kenyataannya dua makhluk ini adalah sama. sama-sama usia 30an, sama-sama cantik, sama-sama sukses di karir, sama-sama ber-bodi yahud, sama-sama berperilaku baik. apapun stereotipe-nya, harusnya kedua jenis ini mendapat kesempatan yang sama dalam cinta.

hidup, para janda muda!
dan
hidup, para perawan tua!

Advertisements

3 thoughts on “tricky 30s : perawan tua atau janda muda

  1. HIDUP!! meski tentunya gw berharap tidak berakhir dalam kedua kondisi sedemikian..sperti yang temen loe bilang, gw lebih suka jadi perawan muda..hihihi..

    Aku merasa bukti once, someone is crazy enuf to marry me itu krusial..bisa membantu kepercayaan diri yang kadang tak muncul terlalu besar di diri perempuan..kalau soal ranjang nggak ranjang..hihihi..status perawan tua pun..bukan berarti literally perawan kan?hehehe..

    • huahaha… kalimat terakhir emang harus di-highlight, marge…!
      i hope someday someone will also crazy enough to marry me! hahahahaha

  2. jiaelah ra…
    emange lo blom nikah ye..?
    ckckckck…….
    sama dong..hehehe…
    ntar kl gw dah sukses lagi.. gw bakal kejar lo lagi ra.. hehehe…
    krn lo memang layak diperjuangkan. 😀

    sukses ye ra.. smoga semua cita2 lo tercapai..
    u still the one euy.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s