the bitch wears Prada

pagi-pagi kantor heboh.  dan pusat kehebohan sudah bisa ditebak, seperti biasa, ManisMan.

ada kabar apa gerangan? ternyata mengenai peraturan kantor yang baru saja Beliau terima melalui email. peraturan berpakaian.

untuk menciptakan suasana kerja yang semakin nyaman, maka setiap hari Jumat, seluruh karyawan diperkenankan menggunakan pakaian kerja informal yang bebas, rapi, dan sopan dengan ketentuan sebagai berikut :

wanita :

  1. blouse, kaos berkerah atau kaos wanita berlengan (bukan oblong) yang sopan dan rapi
  2. celana panjang atau rok segala jenis (celana panjang minumum ukuran 7/8, celana 3/4 atau selutut tidak diperkenankan)
  3. selalu memakai sepatu formal/sepatu santai/sepatu olah raga selama jam kerja dan tidak mengenakan sandal atau sepatu sandal.

hahahaha.

dari selembar kertas tersebut, cukup mudah bagi orang-orang yang mudah tersinggung untuk menjadi sensitif dan memaknai sendiri kalimat per kalimat yang ada di dalamnya. contohnya, sahabat saya, ManisMan.

“Gila! most of my pants were cropped pants! 7/8 atau 3/4! trus gue pake celana apa dong ke kantor? itu-itu aja?”

saya sendiri termasuk golongan yang sedikit ‘tersinggung’ dengan email tersebut. ingat posting saya yang sebelumnya? saya bahkan pernah memakai top motif leopard sleeveless dan males pake blazer sebagai pelengkap karena ribet, di hari kerja biasa, bukan hari Jumat. di hari Jumat saja sudah jelas-jelas tidak diperbolehkan, saya beri nama apa surat ini kalau bukan sindiran secara halus.

but then again, surat tersebut tidak sampai ke inbox saya. entah karena mailbox saya sudah kepenuhan sehingga email HRD bounced back, atau saya tidak masuk kategori orang yang perlu ditegur HRD, sehingga tidak dikirimi surat ini? saya pilih yang kedua saja.

ManisMan yang masih misuh-misuh karena peraturan ini membuat saya berpikir, apakah ternyata pakaian yang selama ini saya consider sebagai fashion sebenarnya merupakan pelanggaran terhadap norma-norma perusahaan dan norma-norma sosial. saya jadi ingat kalau dulu pertama kali masuk, saya sempat jadi bahan pergunjingan orang kantor karena baju saya yang menurut mereka agak seksi.

the bitch who wish to wears Pradathis is not the first time i heard it. sewaktu kuliah S2, saya sudah menganut gaya berpakaian seperti ini. entah karena saya yang agak tuli dengan omongan sekitar atau pura-pura tuli, tapi saya tidak merasa ada satu orang pun yang keberatan dengan gaya berpakaian saya. 2 tahun setelah saya lulus, seorang adik kelas bertemu dengan saya dan bercerita kalau salah satu dosen (yang dulu juga pernah mengajar saya) bercerita di depan kelas mengenai kisah seorang gadis dari satu angkatan yang selalu memakai kemeja dengan kancing dibuka 2 sampai 3 mentang-mentang asetnya ‘memadai’.

yes, sang dosen yang harusnya berbahasa santun selayaknya seorang guru, mengucapkan the boobs word in front of post-graduate students.

clue adik kelas yang menyatakan bahwa sang dosen menyebut angkatan 52 sebagai angkatan sang gadis objek buah bibir menguatkan asumsi saya. angkatan S2 saya adalah angkatan 52. dengan total 40 siswa, 26 lelaki dan hanya 14 perempuan yang tidak ada yang berpakaian seperti saya, sudah jelas yang dimaksud adalah… saya.

menarik bahwa sejak kuliah strata 2 saya selalu jadi objek pembicaraan orang untuk masalah gaya berpakaian.

saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk memantau gaya berpakaian perempuan di belahan dunia lain dengan selalu memborong majalah-majalah fashion luar. mungkin di situ letak kesalahannya, gaya berpakaian di belahan dunia saya belum bergerak secara progresif seiring dengan belahan dunia lain. sehingga di dunia ini, saya banyak dikecam.

saya tidak mengatakan bahwa saya sudah sangat fashionable, tapi gaya berpakaian saya bisa dikatakan tidak lazim. karena menurut saya, gaya berpakaian boleh berkiblat dari suatu mode, tapi tetap saja, selera pribadi memberi pengaruh di dalamnya. dan saya sendiri sadar kalau selera saya tidak lazim.

lu ngapain sih suka pake baju seksi? buat narik perhatian cowok?” hal yang sering keluar dari mulut orang-orang di sekitar saya.

terkadang orang menilai pikiran orang lain sama dengan apa yang kita pikirkan. kenyataannya tidak. hal ini berlaku juga sekarang. salah kaprahnya adalah kenyataannya ada orang-orang tertentu yang berdandan bukan sekedar untuk dilihat orang lain. salah satunya adalah… saya.

saya berpakaian to feel good about myself. sehingga pada saat saya berhadapan dengan mesin duplikasi (cermin), saya merasa puas. this is who i am. sehingga pada saat berjalan di tempat umum dan melirik ke segala hal yang memantul (selayaknya perempuan-perempuan lainnya), i feel good about myself.

saya pernah mencoba berpakaian sesuai selera publik, tetapi saya menghabiskan sisa hari saya dengan merasa sangat tidak nyaman dengan apa yang saya pakai. i stop feeling good about myself. itulah sebabnya saya memutuskan berhenti menyenangkan orang lain dan mulai menyenangkan diri sendiri. masalah apabila lelaki kebetulan menyukai gaya berpakaian tertentu bukan sebuah isu, karena selalu ada dua sisi dari sebuah cerita. ada yang suka dan ada yang tidak suka. jadi pernyataan kalau saya berpakaian karena ingin menarik perhatian lawan jenis, bisa dibantah.

fakta bahwa teman saya lebih banyak lelaki dibanding perempuan hanya sebuah efek dan tidak semata-mata berhubungan dengan gaya berpakaian. kenyataannya adalah mereka tidak melakukan tindakan ofensif dan tidak kompleks untuk dijadikan teman.

tentu saja dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. masyarakat berharap saya bisa menjadi fleksibel dan lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. oleh sebab itu, saya memutuskan untuk tidak membuka kancing kemeja 2-3 kancing teratas lagi. tapi tetap, saya berpakaian sesuai dengan pakem yang menurut saya nyaman.

pada akhirnya,  sekeliling saya sudah mulai menerima stereotipe saya. tentu saja hal tersebut memakan waktu. satu tahun lebih.

but that’s life. sebagian besar orang berbuat sekuat tenaga untuk membuat diri mereka diterima di lingkungannya. hal itu sama saja dengan saya. tapi bukan dengan mengorbankan kenyamanan diri saya sendiri. i love myself big enough to let myself feel good about myself (look how many times ‘myself’ being stated here?…).

untuk sebagian kecil perempuan yang mengalami hal yang sama dengan saya, remember this. you might considered as bitch. you might not being accepted by your surroundings. tapi apakah hidupmu tergantung semata-mata dari mereka? daripada memusingkan omongan orang, lebih baik fokus pada hal-hal yang membuat diri sendiri berkembang dengan baik dibandingkan membiarkan orang lain membuat anda feel down about yourself. you should love yourself and you should feel good about yourself.

tapi, with a hint. tidak semua orang suka ekstrimis (kanan atau kiri). tidak ada yang mencintai Jamaah Islamiyah atau Klu Klux Klan. so, kita tetap harus menyesuaikan diri sedikit dengan sekitar kita sambil berdoa suatu saat belahan dunia kita akan bergerak progresif sesuai karakteristik kita sekarang.

and the tips for those of you, girls, who doesn’t crave bitches,… be gentle. kita juga manusia. kita juga tidak berniat merebut perhatian lelaki mana pun di sekitar kalian. kita juga punya kualitas-kualitas lain dibandingkan hanya sekedar penampilan kita. memang terkadang kita memilih buku pertama dari cover-nya. tapi penilaian untuk review, baru bisa dilakukan setelah kita membaca isinya.

i know that you also read fashion magazine, dan kalian semua setuju kalau itulah mode. terkadang lazim dan tak biasa. but you still love them! kenapa kalian harus tidak suka ketika apa yang kalian lihat di lembaran itu muncul di dunia nyata?

tidak apa jika anda tidak ingin berteman dengan kita, tetapi tidak perlu setiap saat terlihat seperti lebah berdengung di balik punggung kita. karena sebesar apa pun kalian menunjukkan sedang membicarakan kita, we still consider that as one form of flattery nonetheless. bahwa kalian semua sangat memperhatikan kita dan sebenarnya ingin berteman dengan kita. so… bertemanlah dengan kita.

in the end, we could live happily ever after… side-by-side.

Advertisements

One thought on “the bitch wears Prada

  1. STUJU!! 😀 Nicely written, bu! Kode etiknya adalah: berpakaian secara nyaman, kalau gue nyamannya pake tanktop, masa dipaksa pake tangan panjang? Bisa biang keringet!hehehe..Dan bagi yang melihat..harap selalu menerapkan etika bergosip yang sehat..melihat latar belakang..dan..OBJEKTIF!huahahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s