keras BELUM TENTU bikin puas

saya tidak pernah merasakan menjadi Rihanna, tapi at least saya pernah merasakan rasanya jadi sahabat Rihanna.

eits… jangan buru-buru cek majalah gossip luar negeri terbaru buat lihat apakah tampang saya ada di dalam salah satu majalah, berdiri di samping Rihanna…

terus terang menceritakan hal ini bukan hal yang mudah. tetapi saya rasa, akan ada beberapa orang yang bisa mendapat kegunaan dari membaca cerita ini. apapun itu.

ManisMan, sahabat saya, bercerita kepada saya kalau selain baru-baru ini Evandut, kekasihnya mulai berubah sikap, beliau juga mulai (lagi) melakukan kekerasan emosional dan fisik kepada ManisMan.

apa saja bentukan kekerasan emosional dan fisik yang dialami ManisMan? mari kita mulai dari kekerasan jenis emosional.

Evandut (tanpa berusaha bersikap rasis…) adalah keturunan Ambon. tentu saja tidak bermaksud mendeskriditkan orang Ambon pada umumnya yang terkenal kasar dan keras. karena lihat saja, penyanyi soul -yang baru-baru ini- bercerai dengan istrinya, dengan karakteristik lagu-lagunya yang halus dan lembut sudah pasti menggambarkan kalau stereotipe orang Ambon kasar adalah salah.

tapi Evandut sayangnya masih masuk kategori Ambon feodal. setiap kali bertengkar atau marah ke ManisMan, Evandut kadang-kadang tidak bisa mengontrol emosi. kata-kata penghinaan kepada ManisMan sering kali keluar pada saat beliau marah. dan kata-katanya (tanpa perlu disebutkan di sini…) masuk kategori kasar, dan perlu masuk Badan Sensor.

saya bukan kategori konvensional, oleh sebab itu, kata-kata kotor yang masuk kategori kebun binatang atau segala varian kotoran masih bisa saya tolerir kalau memang orang tersebut sedang marah besar. tapi… yang dialami ManisMan adalah penghinaan yang berkaitan dengan kondisi fisik.

kedua, adalah kekerasan secara fisik. awalnya ManisMan tidak pernah cerita ke saya mengenai hal ini. bisa jadi karena malu, atau terlalu males untuk menceritakan kepada orang lain. tapi akhirnya beliau cerita ke saya, kalau pada saat bertengkar, Evandut terkadang melakukan kekerasan fisik ke ManisMan.

contoh yang terjadi adalah : membenturkan kepala ManisMan ke tembok berulang kali … sampai kepada… melempar ManisMan dengan barang-barang yang seharusnya ada di tempatnya dan bukan untuk dilempar.

jika saya feminis sejati, saya pasti akan langsung angkat senjata, menuju KomNasHam perempuan dan melaporkan perlakuan Evandut, sementara di lain pihak menyusun plot tindakan balas dendam untuk menghajar Evandut atau memberi pelajaran dalam bentuk apa pun, termasuk pasang bom, sewa hitman, dan hal-hal sejenisnya.

tapi saya BUKAN feminis.

i’m a sucker for love.

jadi pada saat saya mendengar ‘Rihanna versi Indonesia’ bercerita di depan saya, hati saya terbelah menjadi dua.

saya tahu jika seseorang bercerita, terkadang mereka hanya ingin bercerita. mereka bukan ingin minta saran (karena kalau mau minta saran akan dateng ke psikiater atau nulis surat pembaca ke majalah-majalah wanita). mereka bukan ingin minta bantuan (karena kalau ingin minta bantuan, pasti datengnya ke KomNasHam atau lapor polisi seperti Manohara). mereka kadang juga bukan ingin minta petunjuk jalan yang benar (karena kalau ingin minta petunjuk jalan yang benar, tinggal berdoa saja sama Tuhan atau yang ekstrim, minta petunjuk dukun).

Beliau hanya ingin didengar. dan didukung secara moril.

jadi, walaupun sedih dan ingin marah karena terluka, yang keluar dari mulut saya bukan kalimat-kalimat template seperti,

lu gila kali yaa! tinggalin aja orang begituan!”

edan setan alas! cari aja cowok laen! masih banyak kale yang mau ama lo!”

sialan tuh laki-laki! gue gamparin baru tau rasa!”

atau hal-hal sejenis. walaupun saya sebenarnya ingin.

pada saat kita jatuh cinta, kita tetap memiliki otak rasional. hanya saja otak rasional tertutup oleh emosional. dan memang begitu yang seharusnya. jika rasional kita lebih berperan pada saat kita jatuh cinta, bisa dipastikan kita sebenarnya tidak jatuh cinta beneran.

sebagai penggemar Sex and The City, di film-nya Carrie pernah berkata kepada Miranda, kalau Miranda sebagai seorang lawyer bisa berargumen dalam dua sudut pandang masalah (PRO dan KONTRA), tapi tetap saja, jika berkaitan dengan cinta, sisi emosional-lah yang memutuskan. you could argue both sides of the case, but still, when it comes to love, the decision purely emotional, NOT rational.

dan seperti tulisan saya sebelumnya, seseorang tidak berhak memberi saran kepada orang lain kecuali orang pertama pernah atau sedang mengalami hal yang sama. begitu pula dengan saya, saya tidak berhak memberi saran selama saya tidak berada di dalam ‘sepatu yang sama’. dipukuli sekaligus dihina orang yang saya cintai.

selain itu, hidup adalah pilihan. apapun yang jadi pilihan seseorang adalah mutlak hak dia. salah atau benar itu adalah kata hatinya. jika keputusan yang kita ambil benar, berarti kita ketiban jackpot kehidupan, jika salah berarti itu adalah bahan pembelajaran atau ada maksud tersembunyi di dalamnya.

tapi, pada saat sudah memilih sesuatu, seseorang harus komit pada pilihannya. menjalani dengan sepenuh hati segala kesenangan dan resikonya. dan ZERO COMPLAINT.

say NO to domestic violence

mencintai dalam versi saya adalah memberi. memberi dengan tidak menuntut kembalian -dalam bentuk apapun, termasuk uang receh. but then again, manusia bukan malaikat atau Tuhan. yang bisa memberi tanpa rasa pamrih atau keinginan untuk sebuah balasan atau timbal balik. manusia adalah manusia. dengan segala keterbatasan tanggungan perasaannya. termasuk keinginan untuk mendapatkan balasan atas cinta yang sudah diberikan.

pada dasarnya kita tidak bisa merubah orang lain, meminta orang tersebut menyesuaikan diri dengan kita. yang bisa kita lakukan adalah merubah diri kita sendiri. menyesuaikan diri kita dengan orang lain. kita tidak bisa merubah kekasih kita yang punya kebiasaan selingkuh, berbohong, memukul, dsb. tapi jika kita benar-benar cinta, kita-lah yang menyesuaikan diri. sambil berdoa, suatu saat dia akan berubah. jika pun tidak, kita tetap akan di sisinya, karena kita cinta. tanpa tuntutan.

maka yang saya lakukan saat berhadapan dengan ‘Rihanna Indonesia’ adalah…

berkata padanya bahwa apapun yang jadi pilihannya, terus atau berhenti, saya dukung keputusannya 100%. saya ada di belakang dia, tetap sebagai temannya saat dia butuh saya ataupun tidak. tapi saya memberi catatan-catatan tambahan khusus padanya.

pada saat memutuskan lanjut atau terus mencintai sang kekasih, kita harus berpedoman bahwa yang namanya cinta, harus membuat kita sendiri merasa bahagia, dan tanpa beban, tanpa keluhan. jika kita sudah mulai menuntut dan merasa berat jika tidak dapat balasan yang sama, artinya sudah bukan cinta, keputusan yang lebih baik bisa jadi adalah tinggalkan dan lupakan.

kalau mau teruskan… sok wae, silakan, my pleasure… tapi lakukan dengan hati yang penuh cinta, seperti tujuan sebelumnya, juga jangan lupa menanggung bonus sesuai paket, resiko-resiko dari pilihan kita.

seorang teman (sebut saja Melou – bukan nama sebenarnya) pernah cerita kalau dia mencintai istri orang lain. dan sang istri yang di’kawin’ paksa dengan suaminya sekarang juga sebenarnya sangat mencintai Melou. awalnya Melou terus menuntut sang istri untuk cerai dengan suaminya. tapi hubungan jadi tidak bahagia. tuntutan-tuntutan hanya mengarah kepada frustasi dan kecenderungan saling menyakiti.

which is OF COURSE… not categorized as love.

akhirnya Melou tersadar. dengan situasi itu dia punya dua pilihan : terus atau berhenti. setelah mencoba membuka diri kepada the other hottie in town dan tidak berhasil, akhirnya Melou sadar… dia hanya cinta kepada sang perempuan. dia cuma bahagia jika mencintai perempuan itu, yang sudah jadi milik orang lain.

akhirnya dia memutuskan, tetap mencintai sang perempuan. karena itu membuatnya bahagia. because his love is a food for his soul. dan cinta itu tanpa tuntutan. hanya memberi. jika memang suatu saat sang perempuan memutuskan bercerai dan meninggalkan suaminya, maka itu adalah salah satu jackpot kehidupan. tapi jika akhirnya Melou bertemu dengan jodoh lain dan bukan perempuan itu, at least dia tidak pernah menyesal karena melewatkan kesempatan mencintai orang yang dia puja seumur hidupnya. dan tetap… siapkan kesadaran penuh menerima segala resiko-resiko yang ada.

get it?

hal sejenis itu yang saya ucapkan ke ManisMan.

tapi diam-diam saya tetap menyiapkan bom untuk jaga-jaga. atas nama cinta saya untuk ManisMan, sahabat saya…

i love you, my girl. and cheers for love…

*buat para feminis yang kebetulan mampir dan baca, atau para ibu-ibu dan/atau bapak-bapak KomNasham yang terhormat, mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Advertisements

4 thoughts on “keras BELUM TENTU bikin puas

  1. Ahhh…tulisan yang indah..aku jd terharu..hehehe..Gw stuju sih sama loe, tetep aj, biar kata qta ngomong sampei berbusa2, yg ngerasain kan Rihanna, bukan qta. Then again, feminism is about choosing our own BEST way to explore feminity. Jika ada yg rela di-KDRT, itu juga gerakan femininisme..jadi lebih tough kata orang..

    Sering2 nulis ya neng..Loving it.. 🙂

  2. I don’t agree with u…

    walaupun kita ga pernah ngalamin, tapi kita dalam posisi orang ke-3 yang bisa ngasih nasihat secara lebih personal…
    pas kena masalah, sebagai orang ke-3, kita bisa bantu ngasih masukan rasional…
    bukan berarti kita ngambil keputusan buat orang itu, tapi beberin sedetil2nya untung rugi setiap alternatif keputusan yang mungkin bisa diambil…

    and let’s her make a decision based on that…

    kalopun manisman&melou tetep mau nerusin hubungan
    trus ingetin mereka resiko yang mereka hadapin sesering mungkin
    ga mau kan kalo suatu hari ngeliat manisman masuk RS dengan muka benyot2, gigi depan ilang 2…(extrim bgt ya…)
    or melou masuk acara “orang ketiga” yang disiarin di tv, trus makin susah dapet ce..
    hehe…

    • bener banget, dear… itu sebenernya udh gue lakuin. tapi ngga terlalu sering. kenapa? karena daku sendiri bukan manusia benar, yang bisa kasih saran seolah-olah semua yang gue lakukan benar. tapi saran lo oke… dan gue akan ikngat itu, lilis…nice knowing you, dear… keep reading, ok? even if you nor agree with me… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s