sila V Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Cerita bermula dari boss I yang pernah mengalami cedera di syaraf tulang belakangnya sehingga mengharuskan Beliau membawa kursi khusus untuk dipakai di ruangannya. Oleh sebab itu, boss II dengan senang hati memakai kursi yang ditinggalkan oleh boss I. kursi istimewa dengan sandaran tinggi yang nyaman dan tidak membuat leher pegal walaupun berjam-jam bekerja menatap layar komputer.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, berkat kerja boss II yang sangat baik, Beliau naik level dan harus pindah ke dalam ruangan khusus yang sesuai pangkatnya, dengan kursi baru berjenis sama dengan yang lama, yang pernah ia duduki.

Saya, sebagai anak buah boss II, –yang sudah lama mengajukan permintaan pada Beliau untuk bisa memakai kursinya sewaktu-waktu Beliau dipromosikan dan masuk ke dalam ruangan– sudah tentu sangat bergembira. Akhirnya saya mendapatkan kursi yang tidak membuat leher dan punggung saya pegal, walaupun berjam-jam harus menatap layar komputer.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan hendak berganti tahun, saya lewati dengan nyaman dan bergembira bersama sang kursi. Walaupun sebenarnya sudah rusak –karena bekas pakai selama bertahun-tahun –, saya tidak terlalu peduli. Toh kenyamanan suasana bekerja adalah salah satu hak saya sebagai karyawan. Sampai suatu hari…

General affairs kantor hendak membetulkan kursi-kursi yang dipakai oleh karyawan sebagai bagian dari program continuous improvement yang sedang giat-giatnya dicanangkan.

“mbak, kursi diambil dulu ya untuk dibetulkan”

“yaaah… ngga usah deh. Aku ngga apa-apa kok. Kursiku ngga usah dibetulin,” jawab saya. Karena memang menurut saya kursi tersebut tidak perlu dibetulkan. Toh masih terasa nyaman dan ngga membuat saya jumpalitan akrobat saat duduk di situ.

“tapi memang semua kursi harus dibetulkan, mbak”

Akhirnya setelah lumayan ngotot menahan sang kursi kesayangan, saya harus rela melepas kepergiannya untuk… heh, berapa lama ya?

“berapa lama ya, mbak, selesainya?”, tanya saya pada mbak Susi (*bukan nama sebenarnya), sang eksekutor kursi.

“sebentar aja kok, mbak. Dibetulin trus dicuci. Setelah itu bisa dipakai lagi”

Sambil menghela napas, saya akhirnya rela kursi saya ditukar dengan kursi kecil yang biasanya dipakai tamu kalau sewaktu-waktu datang dan meeting di meja kami masing-masing.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan,… tidak sampai berganti tahun, tapi saya tiba-tiba sadar, kok kursi saya belum dibalik-balikin ya… ?

Positive thinking harus selalu mendahului setiap prasangka. Ah… mungkin memang belum selesai. Atau… pihak GA mungkin tidak ingat kursi mana saja yang harus dikembalikan karena kursinya memang banyak. Atau… kerusakannya agak parah, sehingga perlu lebih lama diinepin di dokter kursi. Akhirnya saya meninggalkan pesan ke resepsionis untuk membantu menanyakan perihal status sang kursi,

Dimana gerangan kursi saya?

Dasar pelupa. Saya sempat tidak aware untuk menindaklanjuti konfirmasi dimana gerangan kursi saya berada. Setelah beberapa minggu, di suatu pagi yang cerah, saya baru sampai kantor dan berpapasan dengan mbak Susi yang menggantikan resepsionis karena belum datang.

“pagi, mbak Sus,” sapa saya.

“pagi, mbak”

eh, mbak Sus, kursiku kemana ya? Kok kayanya udah lama banget belom balik-balik ke aku? Udah selesai dong harusnya. Kok belom dibalikin ke tempat aku ya?” cerocos saya.

oh, mbak. Kursi mbak sekarang dipakai sama mbak Putri Mahkota,” jawab mbak Susi sambil menatap saya lurus.

Heh?

lho? Itu kan kursi aku? Kok dipake sama mbak Putri? Lagian, kok ngga ada yang kasitau aku? Pantesan aja kursinya kok ngga balik-balik,yes, saya memang cerewet dan bawel.

“iya, mbak. Kemarin kursi mbak Putri Mahkota rusak. Tiba-tiba bawahnya rusak dan jebol, jadinya kursinya dipakai dulu sama mbak Putri Mahkota,” jawab mbak Susi –masih dengan tatapan lurus–.

trus… kapan kursi mbak Putri selesai dibetulin?,” tanya saya lagi. Setelah dibetulin berarti kursi saya bisa saya pakai kembali.

oh, kursinya ngga bisa dibetulin, mbak. Jadi sekarang mbak Putri Mahkota pake kursi itu,” jawab Beliau lagi.

L–H–O? what the hell…?

lho? Tapi… itu kan kursi aku. Kemarin kan katanya diambil Cuma mau dibenerin, trus dibalikin lagi ke aku. Kok sekarang tiba-tiba dikasi ke mbak Putri dan ngga ada yang kasitau aku?” nafas saya mulai terengah-engah dan nada mulai terdengar tinggi seperti ayam kejepit golok, tanda kemarahan mulai muncul dan dada rasanya mau meledak.

“ya, sekarang dipakai sama mbak Putri Mahkota, mbak,” jawabnya lagi dengan muka selurus jalan tol CIkampek.

“tapi… itu kan kursi saya…” tambah saya lagi makin bingung dan … okebete.

“yaa.. sebenernya kan itu kursi khusus manager, mbak. Jadi seharusnya ya disimpan khusus untuk manager,”

Kepala dan hati yang sudah mau meledak terselamatkan oleh seorang sahabat yang baru datang dan menggiring saya naik ke atas.

Sejak kapan manager harus memakai kursi khusus? Dan setahu saya, semua manager lantai II tidak ada yang memakai kursi semacam itu. Lalu kalau saya pakai emangnya kenapa?

Clearly I’m not getting well… merasa diperlakukan tidak adil karena sewaktu kursi itu diambil, saya dengan jelas mendengar perjanjiannya : kursi hanya diambil untuk diperbaiki dan dicuci bersih, untuk selanjutnya dikembalikan kepada yang menggunakan. Bukan untuk diambil, disimpan, lalu dipakai orang lain tanpa pemberitahuan sebelumnya!.

Akhirnya saya menghubungi mbak Sridevi (*lagi-lagi bukan nama sebenarnya), yang bertanggung jawab di bidang general affair karena menurut orang-orang sekitar, Beliau bisa memberikan keadilan.

“oh gitu ya, non. Oh mungkin kursimu yang ada di ruanganku. Oh pantesss. Oke deh, nanti gue urus. Gue sebenernya juga ngga suka sama kursi itu. Karena terlalu tinggi, menghalangi pandangan gue,”

Hati mulai lega. Akhirnya dengan hati gembira, saya melanjutkan pekerjaan karena merasa keadilan akan segera datang. Saya tidak salah kan? Itu memang kursi yang saya pakai sebelumnya. So.. itu adalah hak saya sebagai karyawan untuk bertanya mengenai kapan kembalinya sang kursi menemani saya bekerja.

Keesokannya, sepulang dari talkshow di radio, saya mendapati pemandangan aneh di meja saya. Kursi saya berubah bentuk. Bukan lagi kursi mungil yang biasa dipakai tamu-tamu di depan meja kami, tapi berubah bentuk menjadi kursi yang lebih besar. Tapi… BUKAN kursi saya.

kursi sengketa
Kepala saya mulai pusing dan kecewa. Saya langsung panggil OB dan minta tolong mereka menukar kembali kursi saya dengan kursi yang kecil. Kenapa harus pakai tak-tik? Menukar kursi sewaktu saya tidak ada di kantor, tapi bukan dengan kursi saya yang sebenarnya?

“itu bukan kursi saya,” jelas saya pendek setengah putus asa dan kecewa.

Beberapa menit kemudian mbak Susi menelepon saya untuk menjelaskan. Inti penjelasannya, kursi saya adalah kursi khusus manager di dalam ruangan. Jadi kursi itu harus disimpan kalau sewaktu-waktu ada manager dalam ruangan yang mengalami rusak kursi dan memerlukan penggantian.

lho? Dulu Bapak (boss saya, maksudnya) pake kursi itu bertaun-taun dan ngga ada yang ngambil, padahal dia kan dulu belum  ada di dalam ruangan. Kenapa sekarang aku ngga boleh pake?

“ya, mbak, sebenarnya dulu Bapak Cuma dipinjami. Sebenarnya ini kursi khusus manager dalam ruangan. Jadi ya harus disimpan kalau-kalau sewaktu-waktu ada kursi yang rusak,” jawab mbak Susi. Tidak rasional, jelas.

“yakin? Bukan karena dipakai sama mbak Putri?,” tanya saya mulai jengkel.

“ya, mbak, itu kursi khusus manager dalam ruangan. Jadi harus disimpan sampai nanti dibutuhkan lagi”

Disimpan gimana? Jelas-jelas kursinya dipakai sama mbak Putri. Salahkah saya kalau menganggap argumen itu terlalu tipis dan bukan didasarkan oleh fakta?

Saya jelas saja masih tidak terima. Mbak Sridevi kemudian menelepon saya untuk minta maaf dan menawarkan kursinya yang jauh lebih nyaman untuk diduduki agar digunakan oleh saya. Hellooo… it’s NOT her fault! Saya cuman pengen kursi saya kembali! Mbak Sridevi kemudian memberikan alasan lain sewaktu saya berargumen. Beliau bilang kursi di dalam ruangan lantai saya harus seragam wujudnya.

Saya memandang sekeliling ke kursi-kursi teman-teman yang tidak seragam warnanya, apalagi bentuknya!.

Mana yang seragam? Ngga ada yang seragam!

Beliau lalu menyempurnakan argumennya, “maksudnya… seragam tingginya,”

Sampai saat ini, saya belum mendapatkan kursi saya. Dan saya menolak kursi kecil yang sekarang saya pakai diganti dengan kursi lain –yang BUKAN kursi saya yang dulu– dengan janji akan jauh lebih nyaman. Mbak Sridevi juga menawarkan saya untuk bicara langsung ke HRD kalau saya mau minta kursi saya kembali.

Ya ampuuunn… hak saya diambil dan saya yang harus menghadap HRD?

Bagi sebagian besar orang yang membaca tulisan saya ini –mungkin termasuk Anda– akan merasa bahwa tindakan saya bodoh dan remeh. Saya ribut untuk sebuah masalah kecil. Masalah yang harusnya bisa diselesaikan saja dengan saya nrimo pertukaran kursi dengan kursi lain yang menurut versi mereka, ‘jauh lebih nyaman’.

Bagi saya, ini bukan Cuma masalah kursi. Ini masalah hak dan keadilan.

Sejak dari awal masuk dan dibagikan buku peraturan, tidak ada yang menyinggung mengenai masalah perbadaan kursi dengan perbedaan kasta : yang kasta bawah (means, ‘luar ruangan’) seperti saya, diharamkan memakai kursi jenis tertentu. Ketidakadilannya adalah pada saat kursi tersebut diambil, tidak ada yang memberi sinyal ke saya kalau kursi itu tidak boleh saya pakai, akan diambil dan selama-lamanya diharamkan bagi saya untuk menyentuh –kecuali seizin HRD–.

Kursi itu diambil atas nama perbaikan ke arah yang lebih baik, agar karyawan menggunakan kursi yang layak. NOTE : hanya untuk diperbaiki dan dicuci selama beberapa hari, lalu dikembalikan lagi.

Ternyata kursi yang saya pakai diambil. Dan tiba-tiba saja muncul peraturan-peraturan aneh yang seakan-akan melegalisasi pengambilalihan kursi saya. Peraturan-peraturan yang sebenarnya masuk akal. Tapi jadi tampak tidak adil karena beberapa hal.

Pertama, sejak dulu, Bapak (atasan saya, si boss II) selama bertahun-tahun menggunakan kursi itu. Tidak ada yang protes atau mengambil kursi itu dari Bapak. Begitu Bapak masuk ruangan, saya memakai kursi itu juga selama berbulan-bulan, juga tidak ada yang mengatakan apa-apa mengenai peraturan perkursi-kursian.

Kedua, jika memang itu peraturan, kenapa tidak ada yang mensosialisasikannya terlebih dahulu? Dan kenapa sejak dulu tidak diterapkan? Dan kenapa pada saat kursi saya diambil –dengan alibi ingin dibetulkan– tidak ada yang berbaik hati atau berniat profesional menyampaikan bahwa ada peraturan : saya bukan manager dalam ruangan dan saya tidak boleh memakai kursi untuk manager dalam ruangan?

2 butir dalam Sila V Pancasila menyatakan bahwa kita harus : Mengembangkan sikap adil terhadap sesama, dan Menghormati hak orang lain. Dalam hal ini jelas saya merasa sedih sebagian besar karena saya merasa diperlakukan tidak adil. Bukan Cuma karena sebuah kursi.

Saya baru sadar kalau selama SD kita mempelajari butir-butir Pancasila sebenarnya hanya sekedar menghapal saja. Selama SD kita tidak aware bahwa suatu saat di masa depan kita akan dihadapkan dengan masalah ‘ketidakadilan-pengambilan-kursi-secara-paksa’ semacam ini. Sehingga kita tidak sadar, sampai hal ini terjadi dan menampar tepat di muka kita sendiri.

kursiku sekarang
Kursi adalah sekedar kursi. Tidak seharusnya menimbulkan masalah besar. Yang menjadi sumber kesedihan saya hanyalah bentuk kecil ketidakadilan yang saya hadapi karena pengambilan kursi yang janggal ini. Saya tahu jika saya terus melawan dan
ngotot meminta balik kursi –karena memang tidak ada peraturan yang berkaitan dengan kasta dan kursi–, saya malah akan semakin terlibat jauh lebih dalam ke dalam masalah yang lebih besar instead of mendapatkan hak saya, sebuah kursi.

Mungkin itu sebabnya kenapa banyak orang terkadang takut meminta apa yang menjadi haknya. Ada orang takut melapor kepada pihak berwajib padahal sudah menjadi korban kejahatan korupsi, seorang anak takut melapor kepada guru atau orang tua padahal sudah menjadi korban penyiksaan teman-teman di sekolahnya, seorang istri takut melapor ke komnasham padahal sudah mendapat pukulan fisik dari suaminya. Karena seringkali di Indonesia, meminta hak bisa jadi malah menimbulkan masalah yang jauh lebih besar.

Mungkin itulah sebabnya ada kejadian, ketua KPK, Bibit dan Chandra sudah keburu ditahan padahal sebenarnya belum ada bukti-bukti kejahatan pidana, sementara koruptor-koruptor tetap bebas berkeliaran menghirup udara segar di luar negeri.  Mungkin itulah sebabnya ada kejadian seorang yang men-charge handphone di koridor apartemennya ditangkap polisi karena dituduh telah mencuri listrik yang bukan miliknya, sementara masih banyak pelaku penebangan hutan yang mencuri kayu-kayu milik negara dibiarkan tetap beroperasi dan mengeruk keuntungan di atas suramnya masa depan ekologi kita.

Mungkin itu sebabnya… mungkin itu sebabnya….

Orang-orang semua pernah melalui masa SD dan mempelajari Pancasila. Tetapi orang lupa untuk menghayati daripada hanya sekedar menghapalkan sila per sila, butir per butir dan lulus ujian dengan nilai 100.

Memang masalah saya tidak sebesar dan serumit kejahatan korupsi, penyiksaan teman-teman sekolah, pukulan fisik suami. Masalah tolol saya yang tolol ini hanya se-remeh… kursi. Tetapi saat ini, jelas saya duduk di depan meja saya dengan kursi kecil, merasa terluka lebih dalam karena keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam versi terkecil se-remeh sebuah kursi –bisa memintanya kembali, tanpa harus ketakutan akan menerima masalah yang lebih besar dari sang kursi–, tidak saya rasakan di sini dan saat ini.

Advertisements

9 thoughts on “sila V Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

  1. Bwakakakakak!! Asli gw ngakak abis ngebaca kisah perjuangan kursi loe, guna menuntut persamaan hak dalam kantor! LOL!! Dan bener banget, banyak orang kelewat pasrah di negeri ini, melihat ketidak adlian ya diem aja, males protes, atau merasa memang tidak selayaknya keadilan itu ada senantiasa. Sekarang kursi di pulogadung, mungkin nanti..kursi DPR yg direbut..hehehe…

  2. Ya itulah dia. Belom lagi membayangnkan reaksi orang2yang kita sebut tidak adil atau sudah merebut hak kita.. Mereka pasti jadi lebih galak dari kita. Akhirnya.. Bukan dapet kursi balik,bisa2 gue malah dapet SP!

  3. hehehehe… yang jelas saya suka cara kamu menceritakan derita dan membuat saya percaya bahwa masalah remeh kamu adalah juga masalah besar untuk saya. bravo, lovely girl!

  4. Aku baru baca “siapa saya?” saja setelah baca kepalanya womanation, kata aneh yg menarik. Di situ terbacaku bahwa kau adalah perempuan tak lebih! Pls koreksi jika salah!

    Salam Kenal!

    • tepat banget, Maren.. ‘lebih‘-nya palingan : saya terkenal agak aneh dan sering membuat kening orang di sekitar saya berkerut. hehehe… mudah-mudahan you’re not one of them. even so… gue akan tetap jadi teman terbaik lo, Maren. sori blm sempet blogwalking ke tempatmu… but be right there soon!!

      love,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s