tontonan publik : CNN vs. TV ONE

‘teeeet…’

“maaf, mbak. Coba masuk lagi, ikat pinggangnya mohon dilepas dulu”

Saya memandang dari bawah ke atas. Baju yang saya pakai adalah sackdress warna hitam. Tanpa ikat pinggang! Bagian mana yang mesti saya lepas. Tapi sepertinya si satpam jutek itu tidak mau dengar alasan apa pun.

“saya ngga pake ikat pinggang,” kata saya dengan nada menggantung. Setengah mengejek.

“coba masuk lagi, mbak” begitu perintahnya. Akhirnya saya memutar untuk masuk gerbang bunyi itu tadi sementara beberapa pasang mata yang sedang mengantri mengisyaratkan, ‘cepetan napa! Emang lo doang yang mau masuk!’

‘teeeeet…’

Bunyi lagi!

“lepas sepatu!” kali ini lebih terdengar seperti perintah karena tidak mengikutsertakan kata ‘maaf, mbak’.

Saya memandang strappy heels warna merah yang cantik tapi membuat saya susah jalan, karena tingginya 12 senti dan haknya licin. Sepatu tinggi bertali milik saya itu memang memiliki buckle logam.

ah, mungkin memang ini penyebabnya’, ujar saya dalam hati sambil susah payah membuka tali sepatu sambil menjaga keseimbangan karena harus melepas dalam keadaan berdiri, tak ada kursi.

Suara mendesah bête yang mulai terdengar membuat saya memandang ke satpam dengan tatapan ‘haruskah?’. Tapi tatapan tajam sang satpam seolah jadi keputusan akhir. Buka! Atau kamu saya tahan!

‘teeeeeeettt…’

Perasaan saya saja atau suaranya makin kencang? Mulailah saya di-scan dengan detektor panjang bertuliskan GARRETT warna kuning. Tangan? Clear. Badan? Clear. Kaki beserta betis? Clear. Begitu sampe ke kepala…

‘tit tititt tiiit…’

Oh my God! Jepit rambut sialan!. Akhirnya dengan penampilan kusut masai, tanpa sepatu, rambut terburai karena jepit yang sudah susah payah selama satu jam disematkan harus dilepas, saya sukses melewati satpam jutek dan gerbang metal detector-nya yang menyebalkan. Oia, juga puluhan pasang mata dengan desahan geramnya karena kelamaan ngantri gara-gara saya.

Teroris-teroris sialan… Sambil memasang sepatu di lobby hotel berbintang lima yang pernah dibom dengan dashyat ini, saya memandang sekeliling dan ingatan melayang ke peristiwa beberapa bulan sebelum ini.

Saya sempat menunggu selama 1 jam setengah di lapangan parkir hotel pada saat menjemput teman saya, padahal Beliau sebelumnya sudah setengah maksa minta dijemput jam 8 atau saya mati. Ini sudah setengah 10 dan batang hidungnya saja belum tampak. Waktu saya dengan cemberut bertanya, dia Cuma menjawab dengan santai tanpa rasa berdosa,

“nonton penangkapan Noordin M Top dulu tadi. Seru”

What the Hell?

Ahh… saat-saat nostalgik itu. Dimana televisi di ruang kantor kami dikeraskan volume-nya setiap setengah jam sekali. Setiap ada headline news dan teman-temannya yang membahas betapa heroiknya para polisi menebus barikade rumah ‘yang-disangka-sebagai’ rumah Noordin M Top. Dimana TV ONE jadi juara rating dan rebutan para pemegang brand semacam kami untuk memasang spot iklan agar CPRP tinggi. (Cost Per Rating Point)

Semua orang seperti disihir. Semua mata seperti hipnotis dengan drama penangkapan teroris nomer satu Indonesia itu. Padahal, dari semenjak saya dengar kalau sang teroris teriak, ‘Noordin M Top!!’ pada saat ditanya, ‘siapa yang ada di dalam?’. Hehehe, saya langsung curiga kalau itu bukan beneran Noordin M Top. Mana ada penjahat langsung ngaku waktu ditanya namanya? Apalagi teroris macam Nooridn M Top yang terkenal cerdik dalam menghindar dari polisi dan intel. Segala macam penyamaran dilakoni, mulai dari numbuhin jenggot, pakai cadar, kawin dengan perawan setempat, sampai menyamar jadi wanita, … segalanya deh.

Tapi hampir semua televisi Indonesia, terutama TV ONE, tetap semangat dan optimis menayangkan adegan dramatis penangkapan itu, dan dengan pede menayangkan title : drama penangkapan teroris Noordin M Top. Dan seluruh pemirsa Indonesia yang cinta drama (terbukti dengan laris manisnya infotainment dan reality show drama) setia memantengi televisi 24 jam untuk ikut larut dalam peristiwa heroiknya polisi menangkap ‘dia-yang-disangka’ Noordin M Top.

Di saat yang sama di rumah, saya pindahkan saluran ke CNN. Murni iseng! karena macamnya saya mana pernah kuat nonton CNN!. Penyiarnya ngga ganteng, gaya bicaranya monoton, layout tempat duduk reporternya pun membosankan abis! Tapi mengingat kesohornya teroris dari Indonesia, karena berhasil memusnahkan ratusan warga asing dunia, saya pikir drama mantap yang dianggap berkualitas oleh sebagian besar rakyat Indonesia itu juga akan diliput dengan serius oleh CNN. Apalagi… ini prosesi penangkapan Noordin M Top gitu looch… ,menurut sebagian besar orang Indonesia, sama serunya dengan nonton aksi pembebasan tawanan oleh John McCaine di dalam seluruh sekuel film Die Hard.

Metro TV walaupun menayangkan berita yang sama, kurang laku dibandingkan TV ONE. gaya bahasa Metro TV mirip CNN. Lebih objektif dan bukan kearah drama. Liatlah betapa Grace, sang reporter TV ONE yang putih mulus cantik jelita terpaksa ada di medan penangkapan teroris, demi mengemban tugas kepada Negara, yakni Menyuguhkan berita terkini kepada masyarakat Indonesia! Kasian ya si Grace... Sempat-sempatnya teman saya berkomentar soal betapa sayangnya reporter se-putih dan se-mulus Grace ada di ‘medan yang berbahaya’ itu.

Bahkan setelah terkuak kenyataan kalau yang ada di situ ternyata bukan Noordin M Top beneran, TV ONE tetap dengan gempita menayangkan proses pernyataan revisai dari Kapolri berisi : ‘eh kita salah ternyata, bo’. Bukan Noordin M Top ternyata, cin..

Indonesia tetap bangga. Darahnya tetap mendidih dan berharap Noordin M Top yang sebenarnya segera tertangkap oleh Kapolri yang luar biasa hebat. Dengan senjata robot cucunguk yang bergeraknya luar biasa lambat, bisa menjebol pertahanan seorang teroris yang ada di dalam gubug tua yang luar biasa reyot. Lupa bicara dan mendengar fakta, tapi TV ONE tetap dicintai dan dianggap sebagai saluran televisi penyaji berita terbaik di Indonesia, dengan rating yang melonjak tinggi. Orang Indonesia sangat suka yang namanya drama, dan jiwanya serasa hidup dan dikasi makan dengan nonton tontotan dramatis yang padahal belum tentu benar.

Itulah salah satu beda mencolok orang Indonesia dan orang bule. Pada saat yang sama saya mencari berita drama itu di CNN, sama sekali tidak ada liputannya. NIHIL. Sebagai kantor berita yang terpercaya, CNN belum berani menayangkan berita apapun mengenai penangkapan Noordin M Top. Bukan karena mereka tidak ingin menjadi saluran berita terkini, tapi karena mereka percaya kualitas. Mereka hidup karena kualitas berita mereka. Apa yang mereka sajikan adalah kualitas yang akan ditonton dan dijadikan kiblat oleh seluruh penonton dunia yang punya parabola mini, satelit, atau saluran kabel seperti saya. Karena CNN percaya kualitas, maka mereka tidak akan bicara, sampai benar-benar keluar… FAKTA.

Tapi saya tidak bicara orang Indonesia dan TV ONE-nya payah. justru TV ONE dengan cerdas menangkap tipikal penonton Indonesia. Gaya bahasanya yang dramatis dalam setiap reportasenya menandakan kalau bagian riset TV ONE sudah mengerjakan PR dengan baik. Indonesia hidup karena drama, makanya semakin dramatis, semakin baik!

Saya juga harus berterima kasih sama TV ONE, karena berkat TV ONE jugalah saya jadi lebih mudah memilih waktu tayang untuk iklan-iklan produk saya, dan yang paling penting,… berkat TV ONE dan tayangan dramatisnya ‘penangkapan-teroris-yang-disangka-Noordin-M-Top-padahal-bukan’ itu, televisi di kantor jadi terus-menerus dikeraskan volume-nya dan boss saya jadi berkurang marah-marahnya karena sibuk nonton televisi.

VIVA TV ONE dan PENONTON SETIA INDONESIA!

Advertisements

5 thoughts on “tontonan publik : CNN vs. TV ONE

  1. hihihi..aku juga gregetan pas nonton ituh…heboh gonjrang gonjreng, ehhh..salah juga..udah salah ga brasa salah!! Tapi kaw bener juga, akulah salah satu penonton indonesia itu..yg menjerit2 liat reality show dunia lain di lawang sewu…dan kemudian mengunjunginya sungguh2…we’re a drama nation indeed…

  2. tv one salah satu tv yg paling males gue liat karena memang sok mendramatisir berita. liyat aja gaya presenternya lebih mirip presenter gosip. tv one lebih mengeksploitasi sisi emosi penonton dibandingkan ‘objektifitas’ berita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s