3 MUSKETEERS: the wedding

Tersebutlah saya dan dua orang teman laki-laki saya di group brand management yang sama, Kang Stamina dan Mas Cape-Cape sedang jalan bertiga untuk makan siang. Berjalan-jalan dengan sahabat-sahabat laki-laki sangat refreshing karena terkadang kita bisa dapat update gossip atau persepektif yang lain dari biasanya. Ya.. ya.. ya… mereka juga gossipaholic in denial (apalagi kalau berhubungan dengan laki-laki yang masih ‘setengah mateng’).

Kang Stamina adalah pria beristri dan beranak satu, sedangkan Mas Cape-Cape masih perjaka ting-ting (kecuali kalau mbak LUX dan nona BIORE dikategorikan sebagai salah dua korban). Mas Cape-Cape baru saja lulus masa percobaan kantor, sehingga bermaksud merayakan dengan mentraktir satu kantor dengan pizza. Dan sekarang, kita dalam perjalanan menjemput pizza dan mencari konsumsi lain untuk pengganjal perut di siang hari.

Pembicaraan yang tadinya berkisar mengenai : gimana presentasi panel 3 bulanan lo tadi? Pak boss nanya apa aja? Apa aja yang ngga bisa lo jawab? Trus mereka komen apa aja ama lo? Beralih ke pembicaraan yang lebih intim dan miring. Apalagi kalau bukan masalah relationship. (ya… ya… ya… again, laki-laki memang juga pencinta obrolan mengenai relationship).

Perdebatannya adalah mengenai institusi yang kau sebut sebagai pernikahan. Pembicaraan jadi menarik karena ada tiga buah kubu di dalam mobil bercat hijau dangdut ini : pria beristri dan beranak, laki-laki single ingin punya istri dan anak tapi belum dapet, dan perempuan yang ingin bersuami dan beranak tapi takut belum siap lahir bathin, dunia akhirat.

Pertama adalah mengenai apa yang terjadi dengan pria dan wanita, lelaki dan perempuan jika sudah masuk dalam institusi pernikahan. Kang Stamina memberi testimoni bahwa hidup dan emosi akan menjadi jauh lebih stabil. Saya mengernyitkan dahi dan bertanya : apa yang akan terjadi dengan sifat-sifat sebelum menikah? sifat-sifat baik apakah akan semakin muncul dan sifat sifat jelek akan berganti dengan komitmen perubahan demi kemajuan bersama?.

 Sebenarnya saya sudah tahu jawabannya, sebagai saksi hidup pernikahan orang tua saya selama 10 tahun (sengaja dikurangi usia sebenarnya dengan interpretasi kapan sudah bisa mengerti mengenai hubungan pernikahan yang sebenarnya).

 “oh, bullshit itu! Yang ada sifat-sifat jelek tidak akan hilang! Bahkan akan semakin bertambah,” jawab Kang Stamina dengan berapi-api.

 “bukannya kalau sudah menikah, katanya orang akan timbul rasa ingin bertanggung jawabnya, jadinya setiap tindakan mulai dirubah dan dikompromikan demi kebaikan karena selama 40 sampai 50 tahun ke depan akan bersama orang yang itu-itu aja,” tanya saya sebagai korban artikel psikologi mengenai apa yang apa yang seharusnya ideal terjadi dalam kehidupan berumah tangga dengan mengutip ‘katanya…’ supaya ngga nampak sok tahu.

 “BULLSHIT!”, jawab Kang Stamina lagi sambil masih tetap berapi-api dan penuh stamina.

 ”jadi… kalau misalnya si laki-laki tukang bohong, tukang selingkuh and… tukang pukul pacarnya pas belom nikah, pas udah nikah bakal berubah dong. Kan sekarang konteksnya udah bukan pacaran, tapi pernikahan?” tanya saya lagi. Pertanyaan bloon, tapi toh biar rada seru gitu loh

 “Heh! Siapa yang dipukul apa pacarnya? Lo ya? Ama laki lo!” teriak Mas Cape-Cape terkaget-kaget. Awas nabrak, kan lagi nyetir.

“bukan,” jawab saya pendek berahasia. “ada deh… temen gue”

“hah! Mana ada bisa berubah yang begituan! Yang ada malah makin parah! Kalau udah kawin, sifat-sifat jelek tuh bukannya jadi ilang, tapi malah menjadi-jadi!” tambah Kang Stamina. “ayo ngaku, itu elo kan?”

“sayangnya bukan. Ada laah temen gue…” jawab saya sambil pura-pura liat kiri-kanan supaya mereka tidak mengorek lebih dalam siapa objek pembicaraan yang dimaksud.

 “bilang sama temen lo, putusin aja yang begituan! Emang ngga ada cowok laen lagi apa?” hasut Kang Stamina.

 Inilah kadang laki-laki lupa kalau perempuan adalah all about emotional. Pada saat perempuan sudah benar-benar jatuh cinta dan cinta (dalam arti yang sebenarnya), mereka totally kehilangan pikiran rasionalnya. Atau mungkin tetap punya otak rasional. Hanya saja isinya Cuma, gue ngga akan mau dan bisa ninggalin laki-laki ini, gue harus tetep bersama dia sampai mati.

 “ngga semudah itu! Temen gue udh pacaran 9 tahun! 9 tahun, bo! Perasaan sudah terlalu dalam, udah ngga bisa pindah ke lain hati!”, saya lalu mendesah membayangkan masa depan teman saya yang jadi topik pembicaraan kami siang itu.

 “hmm… gitu yah… susah juga kalau misalnya udah dalem banget perasaannya…” Kang Stamina menjawab pelan seola-olah ngomong sama dirinya sendiri.

 “Kalau gue bilang sih, non. Lebih baik lo kasitau dia supaya sadar… trus putusin cowoknya, kekerasan itu parah lho kasusnya,” tambah Mas Cape-Cape sambil tetep konsen nyetir.

 “gue udah coba bilangin. Tapi ya susah juga sih ya kalo udah cinta. Gue udah pernah bilang, ‘kalau lo putusin sekarang bakal lebih baik, lo masih bisa keluar dari situasi ini. Tapi kalo lo udah keburu nikah, lo udah terperangkap and bakal lebih susah buat keluar dari situ… gitu gue udah bilangin”, jawab saya sambil melipat tangan.

 “HEH! Dia mau kawin ama tuh orang?” teriak Mas Cape-Cape terheran-heran.

 “udah gitu orang tuanya ngga setuju lagi! Lo bayangin aja betapa banyaknya masalah dia,” tambah saya.

 “wah, kalau gitu sih gawat punya. Mendingan sih ngga usah,” sambung Mas Cape-Cape. “putusin aja, cuy!”

 Kang Stamina menambahkan, “tapi susah juga kalau ternyata perasaannya udah dalem banget. Pastinya bakal susah buat ngambil keputusan tinggalkan dan putuskan. Pacaran 9 taun gitu loh… Yah… paling kalau emang temen lo masih mau ngejalaninnya, ya dia harus sudah siap dengan resiko-resiko yang bakal terjadi,” jelasnya panjang lebar. “yakni abis kawin semuanya bakal lebih parah dan kompleks”

 “menurut lo pernikahan itu sesuatu yang bagus?” tanya saya yang mulai takut dengan institusi pernikahan.

 “bagus. Pokoknya lo akan menjadi orang yang jauh lebih teratur, lebih stabil emosinya. Lo sebaiknya cepet-cepet nikah, non” testimoni Kang Stamina dengan tambahan promosi di belakang kalimatnya.

 “ih kok gue? “ kelit saya.

 “umur lo kan udah cukup buat nikah. Saatnya nikah tuh supaya hidup jadi jauh lebih teratur dan stabil,” iklannya lagi.

 “ya tapi gue merasa belom siap kok! Siapa juga yang ngga mau kawin… eh nikah. Tapi kan kalo perasaan sendiri belom yakin, ngapain gue buru-buru. Ini kan keputusan bukan maen-maen. Kalau bisa Cuma sekali seumur hidup! Gimana coba kalo gue terjebak sma pacar yang suka mukul kaya temen gue itu! Mending gue puas-puasin dulu hidup sekarang, baru kalo udah siap, ya nikah!”

 “Kapan lo siapnya, non?” tanya kang Stamina.

 o-ow..

 “I’ll be there when I’m ready,” jawab saya akhirnya pendek.

 Ha ha ha. Kang Stamina dan Mas Cape-Cape menertawakan saya.

 “eh, tadi lo bilang kalau setelah nikah hidup jadi jauh lebih teratur dan stabil, tapi lo juga bilang kalau abis kawin semuanya bakal lebih parah dan kompleks. Mana yang bener nih?” tanya saya curiga setelah me-reffreain semua obrolan kami barusan.

 “oh emang gue bilang gitu ya?” Kang Stamina ketawa, “yaaaa… maksudnya… lo nikah supaya hidup jadi jauh lebih teratur dan stabil, tapi di dalam pernikahan nanti, sifat-sifat masing-masing orangnya bukannya akan otomatis membaik, tapi kemungkinan bakal lebih parah dan kompleks. Jadi jangan berharap sehabis nikah, sifat seseorang akan berubah jadi lebih baik dan bertanggung jawab. Tapi karena lo berdua berkompromi dan sama-sama menghadapi sifat jelek masing-masing, itulah yang bakal bikin hidup lo jadi jauh lebih teratur dan stabil,” terangnya bak konsultan pernikahan ciamik.

 “ah, lo ngomong gitu cuman karena udah terjebak. Jadi semua omongan lo ya merupakan pembenaran sekaligus denial mengenai pernikahan yang sebenarnya itu kaya apa!” serbu saya ke Kang Stamina yang mencoba ngeles padahal sebenarnya ngga konsisten sama testimonialnya mengenai pernikahan.

 “eh beneran! itu yang sebenernya! gue ngga boong sama lo! Udah sana lo cepetan nikah!”

 “ah boong lu, Kang! Ngomong aja mencla-mencle! Lo sendiri ngga yakin ama yang lo omongin!” cibir saya.

 “eh, dibilangin ngga percaya…!” jawab Kang Stamina.

 “boong!”

 “beneran! ayo cepetan kawin sana!’

 “ih, gelo!”

 “WOI! WOI! WOI! Jangan berantem aja! Gue ngga tau niy, belok mana niy, cuy?” tanya Mas Cape-Cape yang biasa nangkring di selatan, jadi kurang familiar dengan daerah timur. Bah, sok kali pun si Mas! Menyebut dirinya sebagai anak selatan, padahal tinggalnya di Kebon Jeruk, which is Jakarta Barat bukan?

 “belok kanan aja di sini,” jawab Kang Stamina.

 Akhirnya pembicaraan 3 kubu berakhir dengan gantung dan tanpa kesimpulan. Selanjutnya kami sudah sibuk makan di dalam restoran Sunda dan pulang dengan membopong 50 pieces lebih pizza hangat.

Pernikahan. Buat Mas cape-Cape masih merupakan statement yang normal dan penuh harapan akan next step dari kehidupan yang penuh kebahagiaan, padahal sebenarnya bisa jadi gerbang yang ia belum tahu akan penuh masalah baru.

Pernikahan. Buat Kang Stamina, dianggap sebagai sesuatu yang membuat hidupnya jauh lebih teratur dan emosinya menjadi lebih stabil, padahal bisa saja itu cuma denial dari keadaan sebenarnya di dalam yang beliau sebut sebagai kumpulan manusia-manusia dengan sifat-sifat jelek yang makin parah dan kompleks.

Pernikahan. Buat saya, bukan sesuatu yang harus dilakukan kalau memang belum siap lahir bathin, moril materil, dunia akhirat, padahal sebenarnya bisa jadi cuma sebuah kedok dari perasaan saya yang sebenarnya di balik semua argumen itu, yakni TAKUT GAGAL.

Advertisements

One thought on “3 MUSKETEERS: the wedding

  1. TEGA loe komen gue diapus!! cihhh…hahahaha…aku lupa aku ngomong apa kmaren tuh..tapi seingetku, aku adalah orang yg realistis dan suka mengambil keputusan berdasarkan bukti empirikal yang ada..

    Aku belum siap untuk kawin, itu jelas adanya. Aku akan menjadi lebih dewasa dan mapan setelah nikah? BELUM ADA BUKTI. Kecuali kalau aku menikahi pemilik perusahaan yang dermawan itu…then i should say, bahwa aku punya segala ingredients dalam rumus menjadi lebih kaya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s