[NOT] que sera-sera…

Bakat ditemukan seseorang di dalam dirinya dalam waktu yang berbeda-beda, seringkali dalam usia yang sangat muda. Namun saya tidak seberuntung itu. Sampai sekarang pun sebenarnya saya belum terlalu yakin akan bakat saya.

Mozart mengarang lagu pertamanya di usia 5 tahun. Picasso tahu bakatnya adalah melukis hanya pada saat dia masih berumur 8 tahun. Tiger Woods sudah bisa mengayunkan stick golfnya dengan baik, sebelum genap berumur 2 tahun!.

Apapun yang saya lakukan sejak kecil tidak ada yang menjadi smashing success. Umur 4 tahun saya diikutsertakan Mama ke kontes fashion show pakaian daerah. Dilihat dari foto hasil dokumentasi masa kecil, saya tampak lumayan oke, tapi pada kenyataannya tidak sama sekali. Instead of senyum manis seperti tampak di foto dan melenggak-lenggok membuat juri terpana, saya malah cemberut sepanjang catwalk karena kepanasan dan kelamaan nunggu, dan pulang tanpa membawa hasil apapun.

Umur 5 tahun saya diikutsertakan lagi dalam kontes model-modelan. Lagi-lagi, di foto saya tampak potensial jadi juara. Kenyataannya, bukannya pulang bawa piala, menurut cerita Mama Papa saya, saya pulang sambil menangis meronta-ronta minta dibelikan piala padahal juara juga tidak. Papa saya bilang, pintarnya saya, saya sudah mengerti diusia 5 tahun, kalau piala itu bisa dibeli sendiri dan digrafir sendiri. Tapi Papa bilang lagi, bodohnya saya, siapa juga yang bangga memajang piala hasil grafiran sendiri.

Tampaknya di umur 5 tahun itu saya bangga.

Umur 7 tahun, saya diikutkan les electone (organ), sampai dibelikan organ sendiri. Tapi minat saya ternyata hanya bertahan setahun saja. Sampai setua ini, lagu yang saya ingat note­nya dari les masa kecil cuma Burung Kakak Tua. Itu juga tanpa chordnya. Umur 8 tahun saya diikutsertakan dalam lomba menggambar. Boro-boro menang, sampai waktu habis, kertas gambar saya masih berupa sketch setengah jadi tanpa warna karena saya kelamaan mikir mau ngegambar apa.

Umur 13 tahun saya ikut club basket sekolah. Saya juga ikut club basket paling ngetop se-Jakarta waktu itu. Tetapi sepertinya basket bagi saya murni olahraga ‘fisik’ semata. Terbukti dengan panggilan ‘kuli’ yang saya terima semasa SMP, yang artinya saya tukang tabrak-tubruk sana sini saat bermain basket demi mencetak skor yang tidak pernah masuk kecuali murni karena belas kasihan Dewa Keberuntungan.

Di akhir masa SMP, melihat ‘bakat’ menggambar saya, teman-teman saya menyuruh saya membuatkan desain buku tahunan. Berdiri di sini saat ini dan melihat hasil ‘kerja’ saya waktu SMP, saya rasa, teman-teman saya perlu membuka mata lebih lebar mengenai ‘bakat’ menggambar saya. Saya saja malu melihat Buku Tahunan SMP hasil bikinan saya itu.

Sejalan dengan tren saat itu, umur 16 tahun saya membentuk band bersama teman saya. Dimulai dari memegang posisi bassist sampai jadi vocalist, tampaknya karir saya hanya mentok sampai lapangan mungil sekolah saja. Dibelikan gitar oleh Papa pun tampaknya sia-sia belaka. Selain jari-jari yang buntet ini kurang piawai memainkan note-note gitar, gitar itu juga akhirnya lenyap entah kemana karena saya lupa terakhir ada di siapa.

Umur 17 tahun saya lulus dengan nilai pas-pasan membuktikan kalau bagian akademisi sama sekali bukan ‘bakat’ saya. Keinginan saya untuk memilih jurusan arsitektur dan seni rupa (yang kata orang-orang di sekeliling saya adalah bakat saya) unggulan pun pupus sudah karena kecongkakan saya sendiri. Merasa ‘berbakat’, saya menolak ikut kursus seni khusus untuk ujian masuk sekolah itu. Hasilnya bisa ditebak, saya tidak lulus tes. Keinginan masuk ke sekolah seni bukan unggulan ditolak mentah-mentah oleh orang tua. Apalagi keinginan untuk mengulang lagi di tahun depan. Mending lulus! Kalo ngga, udah keburu ketuaan! Begitu kata mereka.

Papa pernah bercerita kalau saya sudah bisa bernyanyi dengan fasih di umur 6 bulan! waktu itu saya diopname di rumah sakit karena radang tenggorokan. sebagai bayi, saya ditempatkan di kamar khusus bayi dengan televisi menyala menayangkan TVRI yang waktu itu ngetop banget. suatu malam tiba-tiba -kata Papa saya- saya yang sedang diinfus di ruang isolasi itu terdengar menyanyi lagu Garuda Pancasila dengan fasihnya. saya, umur 6 bulan, menyanyi Garuda Pancasila, hanya dari mendengar siaran TVRI.

Tapi ceritanya belum selesai sampai di situ…

Masih merasa ada ‘bakat terpendam’ di bidang tarik suara hanya karena dipuji beberapa kali saat karaoke, saya pun ikut kontes Indonesian Idol. Masih untung lulus sampai di depan juri-juri artis. Tapi setelah itu dihina-dina karena dibilangin suara saya cuma menjiplak punyanya Agnes Monica. Kaga punya style sendiri! Mending tampang mirip! Saya jadi ingat di umur 9 tahun saya pernah difoto pada saat menyanyi di acara ulangtahun kantor Papa saya. Di dalam foto itu, di sebelah saya yang sedang menyanyi memegang microphone dengan pede, tampak seorang anak sedang menutup erat kedua kupingnya. Masa iya lo masih ngira suara lo cakep kaya agnes monica?

Lulus kuliah jurusan politik dengan nilai Memuaskan, saya tidak kunjung dapat kerjaan di departemen luar negeri, tidak juga di bidang pekerjaan lain. Akhirnya Papa saya memutuskan saya harus masuk Magister Manajemen. Motto-nya waktu itu : daripada ngabisin duit ngga jelas, lebih baek ngabisin duit yang jelas. Simple tapi masuk akal.

Lulus 15 bulan dengan gelar cum laude membuat saya ditawari jadi dosen setempat. Tapi setelah melewati beberapa trial tutorial, saya memutuskan mengurungkan niat menjadi dosen. Apa sebab? Saya ternyata sangat tidak penyabar dan juga galak.  Melihat pengalaman pernah membanting kursi pada saat berantem dengan teman satu kelompok belajar dan mengguncang-guncang bajaj bersama sopir yang ada di dalamnya gara-gara menyerempet mobil teman saya, saya tahu saya punya sifat cepat jengkel dan naek darah. Apalagi  kalau murid saya lambat menerima materi atau keseringan nanya-nanya yang ngga penting. Siapa coba yang mau dapet guru begituan? Kebayang betapa sekolah bagai neraka jika saya memang ngotot jadi dosennya.

Saat ini saya duduk di posisi junior manajerial brand salah satunya akibat pendidikan yang saya tempuh itu. Tapi melihat hampir setiap hari bos mukanya kurang senang dengan hasil kerja saya, setiap bulan sales ngos-ngosan hendak meraih target, setiap akhir tahun saya harus mendapat ceramah panjang lebar saat performance appraisal tanpa sedikitpun melihat senyum apalagi jempol dari atasan saya, dan setiap awal tahun saya harus memohon-mohon dapat budget expense yang lebih besar padahal penjualan saya tidak masuk value untuk itu, … saya cukup tahu kalau ini bukan lahan saya.

Saya masih suka menyanyi, saya masih suka menggambar, dan walaupun saya sudah tidak pernah bermain musik, ‘bakat’ saya bertambah, yakni di bidang fotografi. Saya terkadang masih mendapat pemasukan tambahan dari pekerjaan sampingan untuk membuat desain website, membuat cover buku, bahkan dari memfoto model, keluarga atau pre wedding dan wedding.tapi kenyataannya, saya masih belum terlalu yakin bakat saya apa.

Lulus dengan predikat cumlaude membuat dosen marketing saya percaya betul kalau saya adalah calon marketer ahli. Kenyataannya, pendapat dan tampang bos saya setiap kali melihat saya dan setiap tahun pada saat memberikan penilaian kinerja kepada saya, sudah cukup jadi jawabannya.

Kesukaan menggambar, membuat desain dan mengutak-atik photoshop membuat teman-teman saya percaya kalau saya punya bakat di sana, tapi siapa yang mau percaya dan terima tenaga ahli dengan keahlian setengah-setengah dan tanpa background pendidikan dari bidang tersebut?

Hobi baru memfoto dan hasil-hasil foto yang sudah saya buat juga membuat teman-teman saya percaya kalau saya harus lebih serius menekuni bidang itu dan berani menerima tawaran seorang sahabat untuk meninggalkan pekerjaan sekarang dan membuka usaha fotografi bersamanya. Tapi apa benar itu bakat saya dan jalan hidup saya? Bagaimana kalau saya sudah nekat tapi ternyata orang tidak ada yang berminat menggunakan jasa saya dan usaha saya berakhir bangkrut dan masa depan jadi makin suram?

Akhirnya saya memutuskan untuk menjalani semuanya dulu. Sambil berusaha memperbaiki kinerja dengan bekerja lebih cepat, dan lebih teliti untuk mengurangi tingkat kesalahan, saya juga tetap membuka jasa fotografi bak tukang foto keliling serta dengan senang hati melayani pekerjaan membuat ilustrasi atau desain untuk siapapun, kapanpun dan dimanapun.

Beruntunglah Tiger Woods, Mozart, dan Picasso… karena sejak dari muda sudah menemukan bakatnya, dengan tekun melatih dan menekuninya. Despite of kebosanan yang mungkin mereka dapatkan sepanjang umurnya, mereka tahu betul apa yang jadi panggilan hidupnya.

Saya mungkin tidak seberuntung orang-orang itu. Tapi dengan menjalani semua ‘bakat’ yang tersisa dalam diri saya ini, saya tahu kalau ‘bakat’ bukan hanya sesuatu yang kita bawa dari lahir, tapi juga sesuatu yang terus kita tekuni dan kita latih dengan semangat, cinta dan kerja keras.

Dan saya belum mau menyerah untuk itu.

Advertisements

One thought on “[NOT] que sera-sera…

  1. huahaahhaah!! Of course you’re talented, dear!! Dan gue tetap akan mengulangi kata-kata seperti yang ‘semua orang’ katakan, you’re a very talented photographer, illustrator, and an artist. Kalaupun enggak, loe sangat menyukai semua itu sampai loe bisa mahir sekali melakukannya. Dan gue ga pernah ngeliat ada orang yang melakukan sesuatu yang dicintainya dan gagal. *atau mungkin gue belum hidup cukup lama untuk melihat contoh2nya?*

    Klo kata prinsip gue sebagai orang Cina: think high of your product so u can sell it in high price. Kalau loe adalah produknya, think high of yourself, put high price and never accept something lesser than what you worth…

    Kalau kata orang padang: Klo punya barang bagus, jual! Klo loe ga jual, GUE yang jual!

    Intinya, kamuh punya modal untuk believe in yourself, atau…orang lain yang bisa melihat potensi itu cuma akan menjadikan loe budak belian yang selalu cemberut melihat hasil kerja loe *yg mungkin sebenarnya sangat baik..* 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s