turunan!

Di sebuah pertemuan keluarga menjelang pernikahan saudara sepupu, 3 orang nenek-nenek -yakni mama saya dan adik-adiknya- sedang bergossip.

“Eh, si ITU gelo ya. Rumahnya berantakan banget. Kemarin saya ke rumahnya. Padahal rumah baru, tapi kok tetep berantakan juga,” mama saya memulai diskusi kelompok itu.

“Ohya! Saya juga liat! Rumahnya yang dulu kan bareng ibunya juga begitu!” Tante saya menyahut.

Udah turunan kali ya,” sahut Tante saya yang kedua.

Lalu ketiganya manggut-manggut dan meneruskan obrolannya yang tidak perlu saya jelaskan panjang lebar di sini.

Di lain waktu, saya dan saudara saya mengobrol ringan mengenai anaknya yang berumur 3 tahun.

“Si Nino bener-bener ngga bisa diem. Kadang-kadang gue kewalahan juga nih!” Keluhnya sambil tertawa.

“Oia? Emang dia ngapain aja?” Tanya saya.

“Ya lari sana-sini, trus tau-tau di luar jatoh, nangis! Bener-bener parah,” lalu saudara saya melanjutkan, “mirip banget ama ibunya. Turunan kali ya!”

Pembicaraan lain adalah antara saya dan kakak saya, mbak Kucrut.

“Si cam-cam udah bisa bahasa Inggris lho!” Ceritanya mengenai anaknya yang belum lancar bicara dan baru berumur 2 tahun bulan depan.

“Oia, bisa apa aja?” Tanya saya.

“Kalau ditanya ‘sapi bahasa Inggrisnya apa?’ Dijawab ‘chaauw’, ‘biri-biri bahasa Inggrisnya apa?’ Dia jawab ‘syiip’. Anjing ama kucing juga bisa”

“Wah hebat! Pinter banget!” Jawab saya basa basi.

“Ya wajar lah.. ibunya aja pinter! Turunan kali!” Jawabnya bangga sambil saya cibir.

Pada kesempatan lain pula, saat saya dan teman-teman brand management sedang makan siang sambil menonton tayangan berita di televisi, terjadi percakapan antara saya dan teman-teman.

“Wah ada Bapak dan anaknya yang ketangkep karena sama-sama masuk sindikat copet!” Seru Cici Mini.

“Iih… Serem banget ya,” sahut LingLing.

“Yah.. Maklumlah. Bapaknya copet, ya anaknya pasti juga jadi copet. Namanya juga udah turunan!” Ko Jabrik menjelaskan layaknya seorang ahli.

Ucapan Ko Jabrik di-amin-i teman-teman lain yang tampak manggut-manggut mengiyakan.

Turunan atau kependekan dari keturunan, menurut definisi buku Biologi yang saya pelajari di SMP dan SMA adalah penerusan atau penjelmaan ciri-ciri fisik dari orang tua ke anak-anaknya. Hal ini adalah dikarenakan adanya penggabungan kromosom X dan Y yang dibawa oleh masing-masing orang tua dalam proses pembuahan.

Jadi, kalau Bapaknya memiliki rambut keriting dan hitam serta kulit yang juga sehitam rambutnya, sedangkan ibunya berkulit cokelat dan berambut hitam dan ikal, HAMPIR TIDAK MUNGKIN berharap anaknya berambut blonde selurus triplek dengan kulit putih porselen ala penduduk asli Cina daratan.

Anaknya MUNGKIN bisa diharapkan memiliki ciri-ciri seperti itu jika dalam proses pembuahan adalah hasil perselingkuhan sang ibu dengan pria Cina daratan dengan rambut pirangnya.

Dan menurut teori Biologi jugalah dipertegas bahwa tanpa adanya perselingkuhan dan campur tangan Tuhan dalam bentuk anomali keturunan, sangat tidak mungkin suami istri tersebut mendapatkan seorang anak yang berkulit putih dan berambut lurus warna pirang.

Sifat-sifat dan karakter, dalam kata lain, tidak masuk di dalam pertalian kromosom darah. Belum pernah ada teori Biologi manapun yang saya baca menyatakan bahwa di dalam darah manusia mengalir semua kromosom sifat-sifat dan karakternya yang merupakan hasil turunan dari orang tua dan nanti akan diturunkan ke anak-anaknya.

An apple doesn’t fall far from the tree…
Tapi apakah jika apel jatuh itu ternyata busuk dan ada cacingnya, sudah pasti penyebabnya adalah sang pohon?

Tapi kenapa seringkali kita temukan kemiripan antara anak dan orangtuanya? Seperti kata Mama saya, si ITU berantakan mirip dengan orangtuanya yang diketahui punya sifat berantakan juga. Bapaknya copet, terus anaknya juga akhirnya berprofesi seperti copet juga. Lalu ada juga tetangga saya yang Bapaknya tukang kawin, gonta-ganti perempuan, anaknya setelah beranjak dewasa adalah penjunjung tinggi azaz poligami dan memiliki istri 4 orang.

Semuanya disahut gemilang oleh orang-orang -mungkin juga termasuk Anda- dengan, “ya wajar ajalah! Namanya juga turunan!”

Orang-orang mungkin lupa dengan kasus lain yang terjadi di sekitarnya yang membantah total teori ‘Turunan’ itu. Saya punya seorang sepupu, Trinity, adalah seorang pekerja keras. Dengan keterbatasan materi, Trinity bisa menunjukkan kepada orang-orang kalau dia pun bisa jadi orang sukses.

Dengan mengantongi ijasah D4 dari Sekolah Tinggi tak ternama, segala pekerjaan dilakoni mulai dari pelayan toko, SPG departemen store, sampai akhirnya sekarang dia menjadi pegawai negeri Departemen Keuangan bagian pajak dengan gaji 2 kali lipat gaji saya yang merupakan lulusan master manajemen.

Bapaknya waktu kecil adalah seorang pemalas, SD saja tidak lulus. Ajakan oleh Papa saya untuk bekerja sama agar taraf hidupnya meningkat ditolaknya dengan alasan, “susah”. Sang Ibu juga tidak jauh beda. Punya sifat materialistis sehingga ogah-ogahan mendampingi suaminya yang pemalas dan tidak berharta banyak.

Itu adalah salah satu bukti kalau sifat tidak diturunkan dari orang tua ke anak-anaknya.

Lalu -sekali lagi- kenapa sering kita temukan seseorang yang sangat mirip sifat dan karakternya dengan orangtuanya? Apalagi alasannya kalau bukan ’emang turunannya!’?.

Teori saya adalah Teori Kebiasaan Memandang.

Sepanjang hidupnya, seorang anak melihat seluruh tingkah laku ibu bapaknya dengan mata telanjang. Segala sifat dasar, kebiasaan, karakter serta pendidikan mau tidak mau terserap oleh otak sang anak.

Itulah sebabnya sangat sulit menyuruh anak untuk rajin beribadah, kalau dia melihat sehari-hari orangtuanya juga jarang beribadah.

Itu jugalah mungkin merupakan salah satu alasan kenapa muncul peribahasa ‘a women’s worst nightmare is to becoming their own mother’

Mama saya adalah orang yang sangat emosional. Saya sedari kecil bersumpah tidak akan berubah menjadi orang yang emosional karena orang-orang jenis itu punya kecenderungan lebih besar untuk menyakiti orang lain. Tapi kenyataannya dalam perjalanan hidup, saya berubah menjadi orang yang emosional.

Apa sebab?

Melihat setiap hari -walaupun dibarengi dengan penolakan- merupakan sebuah pelajaran. Kita melihat terus menerus, tanpa sadar kemudian menjadi diri kita dan kebiasaan kita, yang akhirnya menjadi karakter jika tidak ditindaklanjuti.

Jika sifat baik yang kita serap, maka itu bagus. Jika sifat jelek yang kita serap, maka harus kita sadari dan rubah.

Itulah sebabnya, sering kita lihat seorang anak yang sukses padahal orangtuanya miskin, seorang anak kawin cerai padahal orangtuanya adalah pasangan paling mesra di dunia, seorang anak adalah pecandu narkoba padahal ibunya adalah pelayan rohani di gereja.

Sifat-sifat itu bukan turunan. mereka muncul karena kebiasaan, pendidikan dan hal-hal lain yang mempengaruhi hidup di sekitar kita. Lain dengan hidung pesek turunan orang tua yang tidak bisa dirubah kecuali dengan operasi plastik, sifat-sifat dan karakter bisa dibentuk sesuai mau kita dan dirubah jika tidak sesuai dengan kehendak kita.

Jadi, sebaiknya hindari mengeluarkan ‘teori Turunan’ ini, kecuali pada saat membicarakan hal-hal fisik seperti betapa bagaimana menawannya mata sipit saya, karena itu adalah warisan ayah saya yang seringkali membuat kita disangka anomali keturunan Cina daratan, padahal berkulit hitam, jadi ya… bukan.

Advertisements

2 thoughts on “turunan!

  1. Emakku maw sm bapakku,spy anaknya pintar katanya..pas aku gede barulah emakku tau,kepintaran konon turunan dr ibu..sigh..anak jg bs jd korban teori turunan yg dipercaya org tua..

  2. Sy mo nanya, sy dah punya anak 3 orang dan penglihatan saya ketiga2nya anak sy ini nga mirip2 bngt antara yg satu dgn yg lain, bgtu jg dgn sy(bapaknya)trus anak sy 2 orang punya pusaran di kepala dua dan yg satu orang lg nga. Pd hal antara saya dan istri sy sama2 satu pusaranya. Yg mau sy tanya apakah itu termsk ciri2 istri selingkuh? Trimksh ats jwbnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s