cinta ketinggian

Jamannya majalah fashion di tanah air cuma ada Cosmopolitan, saya sudah mulai jatuh cinta dengan sepatu high heels. Pada saat itu, entah kenapa di Indonesia susah sekali menemukan toko yang menjual high heels lebih tinggi dari 7 cm. mungkin karena demand-nya kecil sehingga importir males meng-impor sepatu-sepatu model pencakar langit. Kenapa demand-nya kecil? Mungkin karena saat itu hampir semua perempuan Indonesia masih mengutamakan kenyamanan dibandingkan penampilan.

Kecintaan saya mulai, tetapi saya hanya bisa bermimpi suatu saat memiliki at least salah satu pasang sepatu itu. Mary jane high heels, peep toe, caged heels, patent leather, platform heels, kitten heels. Dan karena saya beda dengan teman-teman seumuran saya saat itu –tidak mendapat kucuran dana lewat unlimited credit card dari orang tua–, maka tidak mungkin juga bagi saya untuk membeli high heels tersebut walaupun dengan cara alternatif, yakni online shopping.

Pada saat high heels sudah mulai muncul di butik-butik Plaza Indonesia pun saya belum terpikir membelinya. Antara lain karena harganya yang tidak masuk akal, dan lebih tepatnya… tidak masuk kantong saya saat itu. Saya tetap sibuk bermimpi. Bermimpi suatu saat akan melenggang cantik dengan sepasang high heels more than 7 cm itu.

Hingga suatu hari saya mencoba berani membeli dengan meminjam credit card sahabat saya. Sepasang ALDO dengan heels setinggi 12 cm segera berpindah tangan dan menjadi awal pembebasan mental saya dan awal kecanduan saya dengan yang namanya high heels.

Walau jumlahnya tidak terlalu banyak karena sangat sedikit model yang saya suka ada di Indonesia, high heels sudah jadi teman yang ‘saya paksa selalu setia bersama saya’ selama 2 tahun belakangan ini.

Pengalaman dengan high heels juga sangat banyak macamnya. Mulai dari betapa memalukannya pembelian pertama, dimana credit card sahabat saya yang saya pinjam sempat ditolak 2 kali, sehingga terpaksa saya harus kembali ke butik yang sama keesokan harinya, membawa ‘teman lain’ untuk saya pinjam credit cardnya. Gaya sudah pol, tapi kantong dodol.

Atau pengalaman bela-belain membeli strappy heels sandal merah cabe ALDO yang saya sebut sepatu pecun, dimana saya sebenarnya memaksakan diri mengelilingi Vivo City Mall pada saat kaki sudah tegang karena otot cedera 3 hari dipaksa menggerilya Singapore, 10 menit sebelum lari-lari mengejar kapal ferry yang hampir meninggalkan saya, dan uang lagi-lagi meminjam teman karena sebelumnya sempat kena tipu pedagang elektronik gila sebanyak tiga juta Rupiah di Lucky Plaza.

Atau waktu memaksa membeli mary jane platform Nine West warna putih yang tinggal satu size yang kekecilan, sehingga akibatnya saya selalu kesulitan berjalan, kaki lecet-lecet, dan tiap hari belajar akting pasang muka cantik dan gaya padahal kaki setengah mati nyeri demi memakai sepatu seksi dengan sol merah mirip Christian Louboutin itu.

Atau impulsive buying fetish heels punyanya ZARA dengan memakai uang yang harusnya untuk biaya perjalanan dinas saya keluar kota, sehingga saya harus sibuk cari pinjaman untuk melanjutkan the rest of the week of up country trip. Or else saya akan berakhir di pinggir jalan dengan memakai sepatu ZARA dan bukannya tidur di dalam hotel.

Atau pengalaman termimpi-mimpi sampai tidak bisa tidur, ingin membeli mary jane leather patent peep toe GUESS dengan warna hitam setelah 2 jam sebelumnya di mal saya sudah membeli sepasang sepatu sama dengan warna merah darah. Akhirnya saya mengorek tabungan saya yang sebenarnya untuk membeli lensa kamera baru, lalu rela mengendap-endap memisahkan diri dari orang tua di mal dan mati-matian berusaha memasukkan dus sepatu ke dalam tas saya, supaya tidak ketahuan beli sepatu yang sama dalam 2 hari, cuma karena warnanya beda.

Atau saat saya menangis-nangis meratapi high heels saya ada yang lecet karena sebenarnya tidak pantas dipakai di lokasi saya bekerja. Di dalam kantornya sih oke-oke saja. Tapi pada saat makan siang di warung-warung? Sangat sulit mempertahankan high heels akan selalu dalam kondisi prima dengan medan se-kejam warung-warung di kawasan Pulo Gadung, Rawamangun, dan sekitarnya.

Atau pengalaman buruk yang lumayan bikin deg-degan pada saat Gala Dinner Rapat Kerja Nasional, dimana high heels saya nyangkut ke gaun panjang motif naga yang saya pakai, sehingga saya sukses tersandung dan berakhir jatuh memeluk (dan dipeluk) Bapak Marketing Director. Untung Beliau cuma tertawa, memaklumi dan tidak memutuskan memecat saya keesokan harinya.

Atau sekian kali high heels saya melalui pengalaman diinjak sandal kotor ibu-ibu gendut tidak tau diri atau sepatu besar om-om sok keren yang malah cengar-cengir berharap kenalan setelah membuat saya melotot dan marah besar.

Atau seribu kali pengalaman berjalan telanjang kaki di mal sambil menenteng sang high heels, berharap tetap kelihatan kosmopolitan dan gaya padahal sebenarnya kaki sudah tidak kuat dan butuh refreshment melalui dinginnya lantai marmer mal tempat saya berjalan.

Anehnya, mengingat semua pengalaman di atas, saya tetap cinta semua high heels saya dan tetap ingin memakainya setiap saat. Bagi saya, lecet yang diakibatkan high heels jauh lebih indah dan menyenangkan dibandingkan ketidaknyamanan yang anehnya saya dapatkan setiap memakai flat shoes atau ballet shoes yang kata orang ‘super nyaman’ itu.

Entah kenapa saya bisa sangat cinta dengan high heels above 7 cm itu, padahal sebenarnya sang high heels kurang cinta sama saya, sebenarnya menyusahkan saya, menyakiti saya, membuat hari-hari saya lebih ribet serta tidak selalu sehati dan sejalan.

Pikir punya pikir, ternyata hubungan saya dengan sang high heels hampir sama dengan hubungan percintaan yang saya alami selama ini.

At the end of the day, dibandingkan memilih yang punya kriteria ‘super nyaman’ dan datar seperti flat shoes, saya selalu memilih jatuh cinta dan cinta mati kepada orang yang sebenarnya saya tahu bisa jadi kurang cinta sama saya, dan sebenarnya selalu akan bikin saya lebih ribet, disusahin, tidak selalu sehati dan sejalan, dan memiliki probabilitas bikin sakit hati yang cukup tinggi.

Advertisements

7 thoughts on “cinta ketinggian

  1. huahahahah!! babe, aku sukaa semua crita2 kaw dhe, slalu membuatku tertawa, and trust me, be it a fashion blog, a photo blog, or story blog, or whatever they call it, the stories here are much much much better than the top 100 in you-know-what-list! hahaha…and you don’t even need to pay 500thousand to make me say this! 😀

  2. errgghhhhhhh… usul dong…. font tulisannya digedein… kalo lagi gak bawa kacamata kayak sekarang, buset, susah banget baca postingan lo… kecil banget hurufnya! hehehe

  3. hahaha, setuju!!!! terutama bagian akhir. padahal baru sebulan lalu, gw mikir, kenapa sih, laki2 perfect dan baik2 yang dihadirkan selalu ga bisa nyentuh hati gw? justru yang badboys dan bikin gw klepek2 selalu dibukain lebar2 pintunya sama hati????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s