ironi gedung baru

Setelah menjadi gossip selama lebih dari satu tahun, akhirnya diputuskan juga kepindahan kantor kami ke gedung baru. Tidak hanya itu, lokasi pun dengar-dengar sudah diputuskan. Tapi seperti biasa, di awal-awal informasi belum bocor sehingga membuat kroco-kroco seperti kami ini mulai melakukan investigasi.

Marketing director kami tergolong pria dengan selera tinggi. Sekolahnya di bidang arsitektur dan hobinya di bidang desain membuat kami 100% yakin akan pindah ke gedung yang lebih nyaman, elegan, dan lebih bagus dari sekarang.

Sebagian besar teman-teman berharap kita keluar dari kawasan industri. Selain karena dianggap ngga keren banget!, lokasi juga membuat pencarian sesuap nasi untuk makan siang lebih sulit. Jarang tempat gaul yang genah dan terjamin bebas bakteri e colli. Rumah makan dengan AC (atau at least kipas angin) berjarak lebih dari setengah jam dari kantor kami, sehingga Warung Amigos (Agak Minggir Got Sedikit) sudah pasti jadi langganan setiap makan siang.

Alasan kedua adalah karena nama jalan kantor kami sangat-sangat tidak menjual untuk disebut, rawa gatel. Entah apa yang dipikirkan orang yang menciptakan nama jalan ini dulu. Yang jelas, jika maksud orang itu adalah agar reaksi orang yang mendengar jawaban kami saat ditanya alamat kantor adalah tertawa keras atau diam tapi memandang hina, maka usaha beliau berhasil dengan gemilang.

Pembangunan infrastruktur jalan yang tidak merata adalah alasan ketiga. Entah kenapa, pengembang kawasan industri memutuskan hanya memasang jalan beton sepanjang 100 meter sebagai usaha memperbaiki jalan depan kantor yang sering rusak dan bolong-bolong. Dan beton yang keren itu dibangun tepat berhenti di sebelum depan kantor kami. Pemasangan beton setinggi hampir 20cm yang ‘pilih kasih’ itu membuat jalan di depan kami menampung air hujan dan tergenang seperti kolam ikan, dimana air tidak tahu harus ‘berlari’ kemana. Begitu pula kami –yang tidak tahu harus berlari kemana– pada saat hujan deras dan jalan banjir besar. Kecuali punya mobil jenis amphibi seperti Hummer.

Lengkaplah sudah sebutan Rawa Gatel pada jalan kantor kami.

Sayangnya, harapan tinggal harapan. Berita bahwa kantor hanya pindah 3 nomer yang justru semakin menjorok ke dalam jalan yang sama bagaikan petir di siang bolong.

“hah! Sumpe lo! Gue pikir kita bakal pindah ke daerah Sudirman!”

“Mana mungkin, cuy! Denger-denger ini politik jenis kelamin! Ada pihak-pihak tertentu yang mempengaruhi supaya kantor kita kagak pindah ke luar kawasan industri laknat ini!”

“masa sih?”

“menurut looo? si babe kan rumahnya di ujung dunia gitu. Kalo dia pengen pindah ya harusnya menuju Sudirman dong. Biar makin deket ke rumahnya! Ya ngga sih?”

Semua orang manggut-manggut dan memenuhi otaknya dengan kecurigaan dan prasangka.

Belum lagi, pembicaraan mengenai si gedung baru yang rupanya belum pernah kita lihat itu.

tau ngga sih lo, tuh gedung katanya bekas pembunuhan!”

hah! Yang bener lo?”

“iya. Udah gitu, udah lama banget ditinggalin, kagak ada yang nempatin! Pasti banyak setannya!”

yo oloooh! Di sini aja udah banyak setannya! Di sana lebih banyak lagi? Edan!”

Makin kacaulah otak para karyawan yang sebelumnya sudah dipenuhi kecurigaan dan prasangka, makin Pol ditambah dengan ketakutan yang tidak beralasan.

Dengan berbekal kecurigaan, prasangka, ketakutan plus rasa kecewa, sepulang makan siang di salah satu cabang Amigos kawasan industri, kami memutuskan mampir ke calon kantor baru. Tak kenal maka tak sayang.

Begitu masuk, kami sudah disambut gudang besar dengan tumbuhan liar di sekelilingnya.

“yang ini?”, Dodonat membelalak.

Ternyata bukan.

Sepanjang jalan dari gerbang depan hingga ke kantor yang dituju harus melewati 2 gudang besar lagi yang sudah lama tidak terpakai. Bayangkan betapa banyaknya setan-setan bergentayangan di sana! Tanaman merambat liar yang belum dipangkas membuat rasa ilfil semakin mendalam. Tiba-tiba keberadaan mas Lani si tukang taman di kantor sekarang sangat disyukuri oleh semua orang yang ada di dalam mobil itu.

Gedung yang akan menjadi kantor masa depan kita bagaikan Puskesmas terbengkalai kalau dilihat dari luar. 3 ekor angsa yang super galak hampir menerkam kami saat keluar dari mobil. Gedung macam apa ini kok penjaganya bukan anjing tapi malahan soang?

Untuk naik ke lantai dua –tempat brand management akan mangkal nantinya– belum dibangun tangga. Jadi terpaksalah kami harus naik lewat tangga besi darurat yang mirip dengan tangga yang dipasang di rumah menuju tempat jemuran.

lu sebaiknya nanti jangan pake high heels lagi deh, karena berisik, bo, pas lo naek tangga!” ujan Dodonat pada saya.

lah? Ini bakalan jadi tangga permanen?” teriak saya.

“menurut looo?”

Sudah keburu lemas dengan perjalanan menuju lokasi, serangan 3 ekor soang, pendakian tangga jemuran ditambah dengan bekal kecurigaan, prasangka, ketakutan plus rasa kecewa yang dibawa sebelum ke lokasi, membuat aura pada saat melihat lantai dua sudah keburu ngga enak.

kok jadi kecil bgini sih?”

“perasaan kita dipindahin karena kantor kita sebelumnya udah kekecilan deh! Lah ini kok malah lebih kecil lagi?”

“katanya per meja disekat-sekat. Lemari isi barang-barang gue mau ditaro dimana? Trus, kalo kita mau nge-gossip kan jadi susah!”

gimana kita bisa bekerja dengan baik kalo gedung tempat kita bekerja ngga nyaman dan ngga mendukung!”

Akhirnya kami berdelapan pulang ke kantor tanpa berkata apa-apa saking lemesnya dengan kenyataan yang dihadapi.

“perusahaan se-gede ini kok ya milih kantornya begini?” umpat salah seorang teman.

Ke delapan karyawan itu pun kemudian membuat heboh kantor dengan membahas ’temuan lapangan’ mereka dengan seisi kantor setelah shock berangsur-angsur hilang. Bisa ditebak, rasa kecewa meluber dengan mudah dan susah hilang selayaknya jalan depan kantor yang diluberi air pada saat hujan besar dan banjir ‘kolam ikan’.

Acara Brand-Brand Paling Nge-Top yang diadakan di hotel kawasan Senayan malam itu membawa sebagian dari kami melewati daerah kantor perusahaan kompetitor. Ternyata hampir mirip dengan kami, sang kompetitor baru saja membangun gedung kantor baru. Bedanya, dengan jarak hanya beberapa ratus meter dari kantor yang lama, bangunan kantor baru mereka jauuuuh lebih megah, ciamik, dan naik kasta mendekati langit, lantai 33!. Khas kantor modern kawasan Sudirman dan Kuningan. Lengkap sudah ke-ilfil­-an kami semua.

Secara skala perusahaan, kami jelas lebih besar. Perusahaan kami adalah terbesar di Asia Tenggara untuk kategori industrinya. Brand yang ada di bawah komando kami lebih dari 20 jumlahnya, dan setiap brand dikomandoi satu orang manager. Orang yang banyak plus tanggung jawab yang besar… paling tidak gedung yang kami miliki harus mirip –atau malah, lebih bagus– dari kompetitor kami, yang bukan terbesar se-Asia Tenggara.

lu tau ngga kalo anggota DPR katanya mau bangun gedung baru buat kantornya?”, siang itu saya menguping pembicaraan dua orang teman satu kantor.

gue baca sih di koran tadi pagi. Selewat doang. Gila juga ya! Perasaan gedung lamanya masih bagus”

lu tau ngga bugdet estimasi pembangunannya berapa?”

berape? Pasti M-M-an deh!” jawab sang temen sok yakin.

“jangan salah, cuy! 1.6 trilyun!”

“HAAAA! Apa alesannya harus bikin gedung semahal itu? Emang isinya apa? Gedung lama kan masih bagus!”

Denger punya denger, gedung perwakilan rakyat itu berisi spa dan kolam renang. Spa masih diperdebatkan kebenarannya, tetapi fakta kolam renang terjustifikasi dari twitter yang saya terima dari kantor berita online :

7 Sep 2010 xxxxx.com situs warta era digital. Anggota DPR: Kolam Renang Gedung Baru Bisa Bantu Padamkan Kebakaran

“Ini bukan untuk exercise. Menurut arsitek, pool yang terletak di lantai 36 (paling atas) bisa membantu kalau ada kebakaran. Kalau pemadam biasanya baru datang 1 sampai 2 jam, ini bisa langsung digunakan untuk memadamkan,” ujar Michael Wattimena, Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR.

“mereka bilang, gedung yang sekarang sudah miring, jadi tidak nyaman lagi buat bekerja. Makanya butuh gedung baru!”

“miring? Kan keren, kaya Menara Pisa. Jadi serasa di Italia”

“gila apa ya. Pake gedung sekarang aja mereka ngga bisa menghasilkan apa-apa. Apalagi pindah gedung baru!”

“iya ya, trus kolam renang sebenernya tuh fungsinya apa?”

“mungkin maksudnya biar kalo kebakaran tinggal nyemplung aja!”

cin… kolam renangnya di lantai 36! Gimana mau nyemplung!”

“atau… mungkin ntar tinggal dibocorin kolamnya biar airnya langsung turun ke bawah”

emangnya betonnya kelas kerupuk? Lagi ribet-ribet kebakaran masih sempet gitu nge-bor langit-langit atap?”

“atau pake ember? Jadi anggota DPRnya mondar-mandir naek turun madamin api?”

kalo kebakarannya di lantai 3 gimana? Keburu encok kaleeee”

“apapun itu! Gue yakin kalo gedung baru ngga akan mempengaruhi kinerja DPR! Tetep aja rakyat Indonesia bakal gini-gini aja!”

“gedung ngga ada hubungannya dengan kinerja!”

Sekeras-kerasnya teman-temanku berteriak, mereka tidak sadar kalau mereka (termasuk saya) meneriakkan sesuatu hal yang berbeda dengan apa yang dipraktekkan. Kami semua terluka dengan tindakan anggota DPR yang meminta gedung baru dan mewah demi kinerja lebih baik, di satu sisi kami sendiri kepengen juga punya gedung baru yang bagus sesuai keinginan kami karena kami anggap bisa mendukung kinerja kami.

Bekerja –hampir semua karyawan berpendapat sama– membutuhkan lingkungan yang nyaman dan mendukung. Tetapi kadang-kadang manusia menaikkan standar hak yang ingin mereka terima dan bukannya lebih dulu mendahulukan pemenuhan kewajiban. Dan ironisnya, kita (termasuk saya) tidak sadar kalau kelakuan kita ngga jauh beda sama anggota-anggota DPR yang kita cemooh!

Gedung baru kami bahkan belum 50% jadi, tapi kami sudah keburu berpikir yang ngga-ngga dan menjustifikasi seolah-olah kami pasti akan tinggal di kantor yang tidak layak dan bahwa kami sebenarnya berhak untuk dapat kantor yang jauh lebih mewah dan nyaman.

Kecurigaan, prasangka, dan ketakutan yang tidak beralasan menutupi mata kami untuk melihat yang sebenarnya:

  • Bahwa ubin gedung baru menggunakan granit yang jauh lebih bagus daripada gedung sekarang yang ‘Cuma’ pakai keramik biasa.
  • Bahwa Marketing director kami sebenarnya sudah khusus memanggil interior design untuk membuat kantor baru jadi senyaman mungkin untuk kami tempati.
  • Bahwa tetap berada di Rawa Gatel –dengan melupakan banjir lokal ala kolam ikan– adalah keuntungan bagi kami karena uang makan kami terselamatkan warung-warung Amigos dibanding jika kami bekerja di wilayah Sudirman atau Kuningan yang minimal pake budget cafe-cafe atau mall ber-AC.
  • Bahwa dengan sering makan kuliner rawan bakteri e-colli, perut kami jadi lebih terlatih dan tidak manja pilih-pilih makanan.
  • Bahwa kami lupa bersyukur pada situasi yang sebenarnya sudah sangat nyaman bagi kami.
  • Bahwa kami selalu menuntut hak –yang cenderung berlebihan–, padahal sebenarnya tugas kami adalah bekerja dengan baik. Dan tempat yang kami punya sebenarnya sudah layak.

Memang sih, kepindahan ke gedung baru masih di’hantui’ oleh kemungkinan banjir lokal dan gangguan soang atau setan-setan penghuni gedung yang merasa tempatnya diambil kami. Tapi kami juga tidak boleh lupa untuk belajar untuk lebih fokus pada hal-hal baik yang akan kami terima dan kepada kewajiban yang harus selalu kami maksimalkan dalam bekerja.

Anggota DPR dan rencana Gedungnya yang melukai sebagian besar rakyat Indonesia sebenarnya jadi pelajaran buat kami. Walaupun beda kasus jauh –dimana kita bukan pelayan masyarakat seperti anggota DPR–, tapi dimanapun kita berada, apapun kasusnya, jangan pernah lupa kalau memenuhi kewajiban dengan maksimal harus mendahului sebelum (dengan berlebih) kita menuntut hak-hak kita.

Selain itu, jangan pernah lupa bersyukur pada hal-hal apapun yang kita terima,… biarpun hal tersebut tidak punya lantai 36 dan kolam renang di atap gedung…

Advertisements

6 thoughts on “ironi gedung baru

  1. bersyukur masih bisa kerja di kawasan terpadu yang sangat ” Gatel ” duit buat beli baju ngirit , nge blow rambut gak usah disalon, dan yang terpenting mau pulang ke rumah cuman 20 menit .. indaaahnya dunia, sementara yang lain butuh waktu 2 jam buat sampai rumah. Trus pas banjir besar libur 3 hariii cihuyyy ” I LOVE RAWA GATEL “

  2. gue kerja di senayan, samping ps. sentral senayan II lebih tepatnya, tmpt org2 yg fashionable n wangi2, mau maksi dr yg 15rb perak smp 1.5jt ada..tp jaraknya dr rumah killing me de..
    malah dipulgad tuh surga bagi gue, gilaa cuman palingan 30menit pake boil, lah disenayan? udah parkiran 1,5jt per3 bulan perlu 2 jam pula kesana….males bgt, tukeran yuk tmpt kerjanya…hehehehe

    • Jangan tukeraaan… Ayo ayooo gabung di kawasan industri paling gaoulll… Pulo gadung! Lebih oke lg kl gabungnya di rawa gatel. mancappp…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s