nasionalisme di baju-ku

Negara saya akan menjadi nasionalis mendadak dalam 2 hari ke depan ini. Tanggal 2 oktober ditetapkan oleh PBB sebagai Hari Batik Nasional Indonesia. Excitement-nya sudah terasa dari seminggu sebelumnya. Kerumunan cewek-cewek sudah mulai janjian bareng-bareng belanja batik di mal-mal terdekat dan yang paling affordable.

Di kantor saya sendiri, batik bukan merupakan excitement lagi. Sejak setahun yang lalu, batik sudah ditetapkan sebagai seragam ‘wajib’ dipakai setiap hari Senin, agak beda dengan kantor-kantor lain, yakni sebagian besar hari batik wajibnya adalah hari Jumat atau akhir minggu. Karena sifatnya yang menjadi ‘kewajiban Senin’ itulah, bagi kami, batik lebih cenderung kepada beban dibandingkan ‘belanja atau dresscode hepi-hepi’.

Excitement tersebut sebenarnya adalah bentuk cinta sejati kepada batik, ataukah hanya sekedar rasa puas karena sudah menang perseteruan dengan tetangga dan ikut-ikutan trend semata? Lalu, apakah batik yang Anda miliki sebenarnya sudah masuk kategori benar-benar batik, atau sebenarnya hanya sekedar tekstil dengan motif penuh yang ‘bertopeng’ sebagai batik?

Salah satu ilmu yang saya dapatkan dari menjadi panitia acara grosir gathering di Jogjakarta digabung dengan menjadi anak seorang laki-laki asli Jawa Tengah membuat saya tahu bahwa batik sendiri hanya ada dua jenis, batik tulis dan batik cap. Saya sendiri hanya punya 3 batik tulis yang berbentuk samping (kain bawahan) yang hanya ‘keluar kandang’ kalo kondangan saja karena make-nya ribet.

Batik tulis biasanya digambar di atas kain semi sutera atau sutera. Digambarnya dengan menggunakan canting, yakni diawali dengan mengambar polanya di atas kertas, yang kemudian dicopy ke atas kain. Tapi si canting ini bukan untuk mewarnai. Lilin di dalam canting fungsinya hanya melindungi kain dari pewarnaan. Dan warnanya sendiri sebisa mungkin berasal dari alam, kecuali untuk jenis-jenis warna lain yang lebih variatif. Contohnya, untuk Yogyakarta biasanya batik monokromatik seperti ParangRusak. Mega Mendung dar Cirebon lebih dominan biru dan/atau ungu, batik Lasem, Pekalongan, Madura sendiri identik dengan motif bunga-bunga dan warna yang lebih cerah.

Mengingat cara pembuatan dan bahan-bahannya yang bisa masuk kategori sulit, maka tidak heran kalau batik tulis termasuk mahal. Tips memilikinya dengan lebih affordable? Langsung datang ke pembuatnya, jangan ke toko kain.

Karena batik tulis relatif mahal, maka ditemuin bentuk lain yang lebih affordable, yakni batik cap dengan Menggunakan cap khusus. Jika penggambaran dengan canting bisa memakan waktu berminggu-minggu, maka dengan cap, batik bisa dibuat dengan lebih cepat sehingga menguntungkan untuk stimulasi industri, dimana dalam jangka waktu yang sama, industry bisa memproduksi batik cap lebih banyak dibandingkan memproduksi batik tulis.

Bisa jadi pula si cap dikombinasi dengan tulis, yakni dikenal dengan nama semi-tulis. Kalo tidak salah, motif semi-tulis salah satunya adalah parangrusak yang merupakan motif repetisi. Walaupun berbeda, tapi ada satu kesamaan ciri-ciri batik tulis dan batik cap, yakni motifnya menembus hingga ke sisi lain kain, sehingga bisa dipakai bolak-balik.

Nah, kalo kita sekarang datang ke pusat-pusat perbelanjaan seperti pusat-pusat grosir, dimana banyak batik bergelimpangan dengan mode beraneka ragam, apakah itu batik? Menurut saya bukan.

Jika dilihat sekilas, memang beberapa batik yang dijual bebas di pasaran dengan model-model trendy itu sangat mirip dengan batik aslinya. Tetapi kalau kita teliti, biasanya motif batik itu tidak menembus ke sisi lain kainnya. gawatnya lagi, beberapa motif dibuat mirip percis dengan aslinya, padahal sebenarnya batik itu adalah impor dari Cina, negara yang sangat pintar dari segi duplikasi barang se-original dan dari brand apapun. si tukang tiru kelas wahid!

Di kantor saya juga sama, karena karakteristiknya yang sudah berulang beberapa kali, teman-teman yang awalnya benar-benar memakai batik dan excited menambah koleksi batik dalam lemari bajunya, pada akhirnya ‘cuma’ pake baju yang ‘asal’ bermotif penuh. Khususnya para perempuan .

Suatu Senin ManisMan muncul di kantor dengan terusan warna biru.

“perasaan baju lo bukan batik deh,” ujar saya.

emberrr… ini kan motif paisley,” jawab ManisMan.

Saya tertawa dan dibalas lagi dengan ucapan cuek khas ManisMan,

bodo ah. Yang penting motif”

That simple.

Coba kita lihat ke belakang pada saat kita jadi siswa SD, SMP dan SMA. Sekolah mewajibkan kita untuk memakai seragam batik di setiap hari Jum’at. Tanpa tahu esensi dan tanpa pernah diajarkan sama sekali mengenai batik –jenis maupun sejarah dan cara pembuatannya–, otak kita mentah-mentah di­-brainwash mengenai konsep si batik itu sendiri dan …. Tidak tepat. Coba ingat-ingat, motif batik Anda waktu masih di bangku sekolah. Apa iya kemeja dengan motif print Hawaii dengan corak Tut Wuri Handayani itu disebut sebagai : Batik?

Pada saat batik diklaim oleh Malaysia sebagai salah satu hasil kebudayaan mereka, kita ribut-ribut panas ati mati-matian membela ‘hasil kebudayaan’ kita itu. Tetapi kalau kita telaah lebih lanjut, sebenarnya apakah benar memang kita cinta dan ingin melestarikan serta membudayakan batik di dalam negeri kita sendiri padahal sebenarnya yang kita pakai adalah batik abal-abal yang sebenarnya bukan hasil produsen Indonesia, melainkan tiruan KW Super dari Cina?

Apa esensi dari teriakan kita, kalau ternyata sejak bangku sekolah kita malah mendidik anak-anak kita bahwa definisi batik adalah print Hawaii yang dipaksakan dengan motif Tut Wuri Handayani?

Apa esensi dari teriakan kita, kalau akhirnya pengrajin-pengrajin batik tetap miskin dan tidak maju, dan cuan dari penjualan batik dan devisa negara tetap masuk ke kantongnya enci-enci dan engko-engko dari negeri Tirai Bambu?

tapi saya juga ngga bisa berkutik apa-apa waktu menghadiri malam gala dinner pengumpulan dana untuk pembangunan gereja dimana satu seatnya berharga 5 juta Rupiah dan di dalamnya dilelang batik almarhum Iwan Tirta dan piring keramik dengan motif batik. kenapa tidak berkutik, karena untuk karya asli yang benar-benar batik itu, lelang harganya saja sudah dimulai dari angka lima puluh juta Rupiah.

Efek wine tasting (yang merupakan bagian dari acara) sebanyak 10 gelas, membuat Dodonat (yang kebetulan jadi partner saya malam itu) bolak-balik mengancam,

“awas ya lu kalo berani-berani salah angkat tangan. gue ngga mau tanggung jawab!”

So… esensi dari batik masa kini yang banyak bertebaran di pasaran and sebenernya adalah hasil karya enci-enci dari negeri nun jauh di sana dan bukan hasil karya pengrajin batik domestik yang rela puasa 7 hari 7 malam sebelum menenun kain sutra batik adalah mbak-mbak dan mas-mas tetep bisa ha-ha-hi-hi merasan bergaya stylish dengan batik kodian tanpa kuatir kantong bolong dan tetap dengan bangga berteriak dan mengaku lantang, ‘Nasionalis!!’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s