Kapan Kawin?

“de, lo kapan nikah?”

“de, skrg pacar lo siapa?”

yes, dear. pertanyaan seperti itu paling dihindari kalau kita datang ke kawinan.

tapi ternyata tidak cuma di kawinan. pertanyaan-pertanyaan semacam itu datang juga pada saat acara reunian. tidak hanya itu. lalu diikuti dengan sang empu penanya pelan-pelan memamerkan kehidupannya yang seolah-olah bahagia dan tanpa cacat cela. bagaimana caranya? dengan meminta terkoneksi dengan akun sosial media! begitu permintaan pertemanan diterima, langsung banjirlah linimasa dengan foto diri, foto keluarga, dan foto anak yang ngga peduli cakep jelek, lucu atau mengerikan, tetap harus kita nikmati.

kehidupan di usia sekarang, memang rawan dengan pertanyaan-pertanyaan macam begitu. Jika ingin dianalisa, apa penyebabnya?

Kemungkinan penyebab pertama, sejak jaman dahulu, siklus kehidupan memang seperti itu. kita lahir, punya nama, belajar bicara, belajar berjalan, sekolah, lulus, kerja, punya pacar, menikah, punya anak, punya cucu, lalu mati. begitu berulang-ulang. itulah sebabnya, saat kita berada dalam satu stage kehidupan, akan ditanya ‘kapan kamu masuk ke stage berikutnya?’.

Baru lahir, akan ditanya, “sudah bisa bicara belum?” atau “sudah bisa jalan belum?”

sudah bisa bicara dan jalan akan ditanya, “sudah sekolah belum?”

setelah sekolah beberapa tahun, akan ditanya, “kapan lulus?”

begitu seterusnya. siklus kehidupan yang berulang-ulang. bahkan setelah sampai pada stage terakhir yakni mati, akan ditanya, “kapan dikubur?”

Kemungkinan penyebab kedua, si empunya yang bertanya ke kita sebenarnya sangat ingin membuka pembicaraan dengan kita. basa-basi yang terbaik menurut versi turun temurun adalah, “sudah menikah belum?”, “sudah punya pacar belum?”. terutama untuk orang-orang dengan usia 30 tahun ke atas.

kemungkinan penyebab ketiga adalah keinginan untuk pamer. yes, benar. akui sajalah. paling tidak sekali dalam hidup kita ingin memamerkan kesuksesan atau keberhasilan kita di depan orang lain. mulai dari keberhasilan dan kesuksesan besar, seperti kerja di perusahaan besar dengan jabatan tinggi, sampai kesuksesan remeh seperti punya pacar ganteng atau cantik.

“kerja dimana sekarang?… ooh.. kalo gue sih kerja di … blablabla”

“udah menikah? oh kenalin nih pacar saya, istri saya, suami saya, anak saya, babysitter saya..”

sounds familiar…?

namun terkadang, hidup tidak berjalan sesuai dengan stage yang seharusnya. terkadang dalam jangka waktu yang lama bahkan sampai kepada jangka waktu tidak ditentukan, kita tidak jua punya pacar. terkadang, sudah mengirimkan lamaran kerjaan ke berbagai perusahaan, tetap saja tidak ada yang memanggil untuk wawancara, apalagi mau menerima. atau bahkan terkadang, walau sudah ditulis dalam target di buku harian, dipajang di vision board atau dream board, sampai sudah disindir-sindir, tetap saja pasangan tidak kunjung mengajukan lamaran pernikahan.

terkadang, hidup tidak berjalan sesuai dengan stage ideal dan rencana kita. zaman dulu mungkin iya. tapi dijamin zaman sekarang lebih banyak penyimpangannya. setelah lulus, tidak langsung dapet kerja. punya pacar, belum tentu langsung menikah. banyak sekali tantangan untuk pindah dari satu stage ke stage lainnya.

lalu jika di urutan stage itu ada yang kita skip, lalu bagaimana?

apakah itu artinya hidup kita gagal? hidup tidak normal?

contohnya, sehabis lulus, menganggur. lalu tidak punya pacar. setelah punya pacar, menikah. tapi lalu cerai. sehabis cerai, belum punya anak, lalu kena sakit kanker. tidak langsung mati. tidak sempat punya cucu. apakah artinya hidup gagal?

tentu tidak.

menurut saya pribadi, tidak ada yang normal dalam hidup. oleh sebab itu tidak ada yang gagal dalam hidup. memang benar ada stage ideal yang harus dilalui. tapi jika kita gagal atau meloncati satu stage, tidak berarti hidup lantas tidak normal atau kehilangan maknanya. karena selalu ada sebab seseorang tidak melewati satu stage ideal dalam hidupnya.

buat apa menikah dengan pacar padahal kita sebenarnya cinta dengan orang lain? buat apa meneruskan pernikahan kalau cerai jauh lebih baik? apakah bekerja pilihan paling tepat kalau kita lebih baik jadi ibu rumah tangga, tinggal di rumah dan menganggur? apakah tepat memiliki anak hanya karena umur sudah cukup, penghasilan memadai, atau tuntutan lingkungan kalau sebenarnya hati tidak siap dan tidak ingin?

karena sebab-sebab di ataslah, makanya menanyakan pertanyaan semacam, “kapan menikah?”, atau “sudah punya pacar atau belum?”, atau “kapan punya anak?” sebaiknya tidak menjadi topik utama dalam sebuah pembicaraan basa-basi. saya yakin masih banyak pilihan pertanyaan lain yang bisa ditanyakan ke teman, saudara, kerabat, relasi yang sudah lama tidak pernah kita temui.

tapi bukan berarti pertanyaan-pertanyaan tersebut salah atau tidak boleh ditanyakan. hanya saja, dengan abnormalitas dan tantangan kehidupan saat ini yang seiring dengan evolusi manusia secara psikologis, maka relevansinya menjadi menurun dan meningkatkan sensitivitas yang selanjutnya dalam menyebabkan rusaknya hubungan antar manusia.

namun tidak semua orang tahu mengenai hal ini, mengenai teori saya. jadi solusinya apa?

kalau saya, setiap ada orang mulai bertanya, “kapan menikah?”, atau “sudah punya pacar atau belum?”, atau “kapan punya anak?”, saya membalasnya dengan santai,

“kenapa tidak tanya, kapan punya helikopter? kapan jadi milyuner? kapan punya pesawat pribadi?”. tentu saja dengan nada santai dan bercanda. mudah2an saja si penanya tidak tambah rese dan menanyakan hal-hal lain yang menyinggung kita.

yah walaupun jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas tetap saja….

belum, belum mampu beli pesawat sendiri, cuma pesawat telepon.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s