Pernikahan (bagian pertama…)

 

“gue kemarin liat di Path, Otong lagi ngejalanin taaruf”

“taaruf? where did i ever heard those word?”

“itu lho, de…kenalan atau silahturahmi untuk nyari jodoh”

“haaa…??

of course i’m surprise.

Otong adalah teman baru. anak baik yang walaupun sering bercerita mengenai masa lalunya yang pernah semenleven dengan pacarnya, adalah anak yang rajin beribadah dan terlihat sangat baik-baik. lalu, apa anehnya Otong melakukan taaruf?

di suatu sore saat saya pulang bersama teman dan Otong yang menyetir mobil, di dalam mobil hampir setiap berapa menit, Otong mengecek dan bermain dengan telepon selulernya. awalnya tidak ada yang aneh. tapi lama-lama, sinar hape yang lumayan terang di tengah sore yang gelap itu mengganggu saya yang duduk di belakang dan memancing untuk melirik layar hape yang dibuka Otong.

warna kuning dominan itu langsung saya kenali. aplikasi online dating untuk sesama jenis, yang mayoritas diisi pria. as guilty as I am, saya sampai berkali-kali melirik untuk memastikan apakah yang dibuka oleh Otong benar-benar Grindr. ya tentu saja benar! lalu apa yang aneh?

sejak pertama kenal dengan Otong, saya dan teman-teman sudah merasakan that quality on him. tapi karena itu urusan masing-masing pribadi, kita tidak pernah memusingkannya. apalagi Otong sering kali menceritakan mengenai beberapa masa lalunya dengan menyelipkan ‘sama cewek gue’, saya berpikir, mungkin gaya Otong saja yang agak feminin. tapi kejadian terbukanya Grindr dan melakukan taaruf can’t help but got me thinking…

why?

i don’t have much of gay friends, apalagi yang terbuka dan terang-terangan mengakui identitasnya. dan sekarang, Otong menjadi salah satunya. dan jika memang benar dia gay, lalu kenapa dia melakukan taaruf dengan perempuan?

“mungkin buat dia, ya sudahlah, ini adalah hal yang tepat untuk dijalani”

“tapi, dia kan ngga suka perempuan. dan apakah calonnya kira-kira tau orientasi dia sebenarnya?”

“mungkin dia pikir suatu saat dia bakal cinta sama istrinya”

will him??”

“yah… mungkin dia pikir, pernikahan adalah ibadah. so… ngga apalah walau tidak cinta. yang penting menjalankan ibadah. it’s not our business anyway”

itulah percakapan siang saya dengan si Cemong, teman saya yang super cuek dan tidak suka ngurusin urusan orang lain. kalau dia sudah ngomong begitu, artinya adalah stop jangan ghibah mulu, ngga ada untungnya. biasanya saya langsung diam tidak melanjutkan topik yang sama.

ibadah. tentu benar pernikahan adalah ibadah. sebuah argumen yang sulit terbantahkan. tapi bagaimana dengan perasaan? apakah dengan pernikahan taaruf ini Otong akan serta merta berubah haluan menjadi cinta lawan jenis? dan melupakan hasratnya terhadap sesama jenis? menurut saya tidak. walau banyak orang yang berpendapat suka sesama jenis adalah penyakit atau dosa atau karena pergaulan, saya tetap berpendapat ada sebagian orang yang lahir tanpa diminta telah membawa kecenderungan tersebut. bukan karena dia terbawa arus pergaulan, they just born with it. seperti saya pernah bahas sebelumnya.

bagaimana jika perasaan tersebut tidak akan pernah hilang? bukankah pernikahan yang seharusnya adalah ibadah itu akan berubah menjadi kebohongan seumur hidup karena Otong akan tetap diam-diam membuka aplikasi Grindr, bercakap-cakap dengan matchnya, dan membohongi sang gadis lugu yang dipanggilnya neng itu? apakah hal tersebut tetap dihitung ibadah?

“tapi de, suatu saat manusia tetap harus menikah. memiliki pasangan hidup. walau itu tidak selalu harus dengan orang yang dicintainya”

“Otong dari keluarga yang sangat beragama sepertinya. mungkin bagi dia tidak mungkin buat jujur pada keluarga dan embrace his life as total gay dan menikahi lelaki yang dia cintai”

apakah benar? apakah lebih baik menikah dengan orang bukan yang benar-benar kita cintai tapi diam-diam masih mencintai orang lain daripada hidup sendirian mencintai orang yang mungkin belum tentu dapat bersatu?

pernikahan, di zaman sekarang, walau tetap disebut sakral, banyak terlihat sebagai kontrak kehidupan. entah mengapa walau kita sudah masuk era kebebasan, masih saja ada orang-orang yang terpaksa memasuki pernikahan bukan karena cinta yang meluap-luap, melainkan hanya just to be settle, punya teman hidup yang akan saling mengurusi sampai maut memisahkan.

atau orang-orang yang terpaksa tinggal di dalam pernikahan tanpa gairah dan cinta yang kemudian akhirnya menemukan cinta di luar pernikahan namun belum tentu dapat langsung bersatu. salah satunya adalah Otong.

tapi apakah Otong salah?

otong memutuskan untuk tidak mendobrak norma-norma yang dianggap benar oleh masyarakat, mengorbankan perasaan hatinya dan menikah dengan orang yang akan dianggap ‘normal’ oleh masyarakat. tapi di satu sisi juga Otong berpotensi mencegah neng bertemu jodoh yang benar-benar mencintainya dan hidup bahagia tanpa takut pasangannya diam-diam buka aplikasi Grindr di malam hari.

tapi Otong kan tidak hidup sendiri, begitu argumen lain bersuara. Otong punya keluarga yang mungkin tidak akan siap menerima Otong memiliki kencenderungan suka sesama jenis dan sebenarnya tidak mau menikah dengan gadis macam neng. Otong tidak mungkin menyakiti keluarganya hanya untuk napsu pribadinya semata.

sebegitu kuatnya kedua argumen, akhirnya membuat saya berpendapat, lalu kenapa harus one way or the other? bagaimana kalau Otong tidak menikah saja?

ya menikah adalah ibadah. tapi apakah tetap dihitung ibadah kalau hati masih ada di tempat lain dan membuat Otong membohongi Neng? ya mengakui diri adalah gay akan sangat membebaskan diri Otong, tapi bagaimana dengan resiko menyakiti seluruh anggota keluarga yang mungkin tidak ikhlas Otong bersama sesama jenis?

siapalah saya tahu apa yang terbaik untuk hidup Otong. tapi mungkin jika Otong suatu saat bercerita ke saya sejujurnya mengenai orientasinya, saya akan mengatakan padanya bahwa terkadang kita berpikir tidak dapat melanjutkan hidup tanpa teman hidup. bahwa hidup ini akan sulit dijalani jika kita sendirian. maka akhirnya kita memutuskan to settle for what’s available agar hidup bisa kita jalani tanpa takut sendirian dan tidak ada yang mengurus sampai mati.

padahal saat dijalani nantinya, kita akan merasakan sesuatu yang hilang, yang berpotensi suatu saat celah tersebut akan diisi oleh orang lain -yang biasanya bukan pasangan yang kita pilih-. then, what good comes to that? another heartbreak. yang kali ini bukan hanya dari Otong, tapi berpotensi dari neng dan orang baru yang akan mengisi hati Otong.

ah… tapi siapalah saya ini menasihati Otong tentang pernikahan. i’m not perfect myself. seperti layaknya Otong dan manusia lain di muka bumi ini, saya pun takut hidup sendiri jadi tua bangka tanpa ada yang ngurusin dan mendampingi.

but still, i hope Otong comes to his better senses. semoga Otong menyadari bahwa hidupnya bisa jadi lebih baik tanpa harus bersama neng yang baru dikenalnya itu.

semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s