women’s right to shoes

Advertisements

nasionalisme di baju-ku

Negara saya akan menjadi nasionalis mendadak dalam 2 hari ke depan ini. Tanggal 2 oktober ditetapkan oleh PBB sebagai Hari Batik Nasional Indonesia. Excitement-nya sudah terasa dari seminggu sebelumnya. Kerumunan cewek-cewek sudah mulai janjian bareng-bareng belanja batik di mal-mal terdekat dan yang paling affordable.

Di kantor saya sendiri, batik bukan merupakan excitement lagi. Sejak setahun yang lalu, batik sudah ditetapkan sebagai seragam ‘wajib’ dipakai setiap hari Senin, agak beda dengan kantor-kantor lain, yakni sebagian besar hari batik wajibnya adalah hari Jumat atau akhir minggu. Karena sifatnya yang menjadi ‘kewajiban Senin’ itulah, bagi kami, batik lebih cenderung kepada beban dibandingkan ‘belanja atau dresscode hepi-hepi’.

Excitement tersebut sebenarnya adalah bentuk cinta sejati kepada batik, ataukah hanya sekedar rasa puas karena sudah menang perseteruan dengan tetangga dan ikut-ikutan trend semata? Lalu, apakah batik yang Anda miliki sebenarnya sudah masuk kategori benar-benar batik, atau sebenarnya hanya sekedar tekstil dengan motif penuh yang ‘bertopeng’ sebagai batik?

Salah satu ilmu yang saya dapatkan dari menjadi panitia acara grosir gathering di Jogjakarta digabung dengan menjadi anak seorang laki-laki asli Jawa Tengah membuat saya tahu bahwa batik sendiri hanya ada dua jenis, batik tulis dan batik cap. Saya sendiri hanya punya 3 batik tulis yang berbentuk samping (kain bawahan) yang hanya ‘keluar kandang’ kalo kondangan saja karena make-nya ribet.

Batik tulis biasanya digambar di atas kain semi sutera atau sutera. Digambarnya dengan menggunakan canting, yakni diawali dengan mengambar polanya di atas kertas, yang kemudian dicopy ke atas kain. Tapi si canting ini bukan untuk mewarnai. Lilin di dalam canting fungsinya hanya melindungi kain dari pewarnaan. Dan warnanya sendiri sebisa mungkin berasal dari alam, kecuali untuk jenis-jenis warna lain yang lebih variatif. Contohnya, untuk Yogyakarta biasanya batik monokromatik seperti ParangRusak. Mega Mendung dar Cirebon lebih dominan biru dan/atau ungu, batik Lasem, Pekalongan, Madura sendiri identik dengan motif bunga-bunga dan warna yang lebih cerah.

Mengingat cara pembuatan dan bahan-bahannya yang bisa masuk kategori sulit, maka tidak heran kalau batik tulis termasuk mahal. Tips memilikinya dengan lebih affordable? Langsung datang ke pembuatnya, jangan ke toko kain.

Karena batik tulis relatif mahal, maka ditemuin bentuk lain yang lebih affordable, yakni batik cap dengan Menggunakan cap khusus. Jika penggambaran dengan canting bisa memakan waktu berminggu-minggu, maka dengan cap, batik bisa dibuat dengan lebih cepat sehingga menguntungkan untuk stimulasi industri, dimana dalam jangka waktu yang sama, industry bisa memproduksi batik cap lebih banyak dibandingkan memproduksi batik tulis.

Bisa jadi pula si cap dikombinasi dengan tulis, yakni dikenal dengan nama semi-tulis. Kalo tidak salah, motif semi-tulis salah satunya adalah parangrusak yang merupakan motif repetisi. Walaupun berbeda, tapi ada satu kesamaan ciri-ciri batik tulis dan batik cap, yakni motifnya menembus hingga ke sisi lain kain, sehingga bisa dipakai bolak-balik.

Nah, kalo kita sekarang datang ke pusat-pusat perbelanjaan seperti pusat-pusat grosir, dimana banyak batik bergelimpangan dengan mode beraneka ragam, apakah itu batik? Menurut saya bukan.

Jika dilihat sekilas, memang beberapa batik yang dijual bebas di pasaran dengan model-model trendy itu sangat mirip dengan batik aslinya. Tetapi kalau kita teliti, biasanya motif batik itu tidak menembus ke sisi lain kainnya. gawatnya lagi, beberapa motif dibuat mirip percis dengan aslinya, padahal sebenarnya batik itu adalah impor dari Cina, negara yang sangat pintar dari segi duplikasi barang se-original dan dari brand apapun. si tukang tiru kelas wahid!

Di kantor saya juga sama, karena karakteristiknya yang sudah berulang beberapa kali, teman-teman yang awalnya benar-benar memakai batik dan excited menambah koleksi batik dalam lemari bajunya, pada akhirnya ‘cuma’ pake baju yang ‘asal’ bermotif penuh. Khususnya para perempuan .

Suatu Senin ManisMan muncul di kantor dengan terusan warna biru.

“perasaan baju lo bukan batik deh,” ujar saya.

emberrr… ini kan motif paisley,” jawab ManisMan.

Saya tertawa dan dibalas lagi dengan ucapan cuek khas ManisMan,

bodo ah. Yang penting motif”

That simple.

Coba kita lihat ke belakang pada saat kita jadi siswa SD, SMP dan SMA. Sekolah mewajibkan kita untuk memakai seragam batik di setiap hari Jum’at. Tanpa tahu esensi dan tanpa pernah diajarkan sama sekali mengenai batik –jenis maupun sejarah dan cara pembuatannya–, otak kita mentah-mentah di­-brainwash mengenai konsep si batik itu sendiri dan …. Tidak tepat. Coba ingat-ingat, motif batik Anda waktu masih di bangku sekolah. Apa iya kemeja dengan motif print Hawaii dengan corak Tut Wuri Handayani itu disebut sebagai : Batik?

Pada saat batik diklaim oleh Malaysia sebagai salah satu hasil kebudayaan mereka, kita ribut-ribut panas ati mati-matian membela ‘hasil kebudayaan’ kita itu. Tetapi kalau kita telaah lebih lanjut, sebenarnya apakah benar memang kita cinta dan ingin melestarikan serta membudayakan batik di dalam negeri kita sendiri padahal sebenarnya yang kita pakai adalah batik abal-abal yang sebenarnya bukan hasil produsen Indonesia, melainkan tiruan KW Super dari Cina?

Apa esensi dari teriakan kita, kalau ternyata sejak bangku sekolah kita malah mendidik anak-anak kita bahwa definisi batik adalah print Hawaii yang dipaksakan dengan motif Tut Wuri Handayani?

Apa esensi dari teriakan kita, kalau akhirnya pengrajin-pengrajin batik tetap miskin dan tidak maju, dan cuan dari penjualan batik dan devisa negara tetap masuk ke kantongnya enci-enci dan engko-engko dari negeri Tirai Bambu?

tapi saya juga ngga bisa berkutik apa-apa waktu menghadiri malam gala dinner pengumpulan dana untuk pembangunan gereja dimana satu seatnya berharga 5 juta Rupiah dan di dalamnya dilelang batik almarhum Iwan Tirta dan piring keramik dengan motif batik. kenapa tidak berkutik, karena untuk karya asli yang benar-benar batik itu, lelang harganya saja sudah dimulai dari angka lima puluh juta Rupiah.

Efek wine tasting (yang merupakan bagian dari acara) sebanyak 10 gelas, membuat Dodonat (yang kebetulan jadi partner saya malam itu) bolak-balik mengancam,

“awas ya lu kalo berani-berani salah angkat tangan. gue ngga mau tanggung jawab!”

So… esensi dari batik masa kini yang banyak bertebaran di pasaran and sebenernya adalah hasil karya enci-enci dari negeri nun jauh di sana dan bukan hasil karya pengrajin batik domestik yang rela puasa 7 hari 7 malam sebelum menenun kain sutra batik adalah mbak-mbak dan mas-mas tetep bisa ha-ha-hi-hi merasan bergaya stylish dengan batik kodian tanpa kuatir kantong bolong dan tetap dengan bangga berteriak dan mengaku lantang, ‘Nasionalis!!’

ironi gedung baru

Setelah menjadi gossip selama lebih dari satu tahun, akhirnya diputuskan juga kepindahan kantor kami ke gedung baru. Tidak hanya itu, lokasi pun dengar-dengar sudah diputuskan. Tapi seperti biasa, di awal-awal informasi belum bocor sehingga membuat kroco-kroco seperti kami ini mulai melakukan investigasi.

Marketing director kami tergolong pria dengan selera tinggi. Sekolahnya di bidang arsitektur dan hobinya di bidang desain membuat kami 100% yakin akan pindah ke gedung yang lebih nyaman, elegan, dan lebih bagus dari sekarang.

Sebagian besar teman-teman berharap kita keluar dari kawasan industri. Selain karena dianggap ngga keren banget!, lokasi juga membuat pencarian sesuap nasi untuk makan siang lebih sulit. Jarang tempat gaul yang genah dan terjamin bebas bakteri e colli. Rumah makan dengan AC (atau at least kipas angin) berjarak lebih dari setengah jam dari kantor kami, sehingga Warung Amigos (Agak Minggir Got Sedikit) sudah pasti jadi langganan setiap makan siang.

Alasan kedua adalah karena nama jalan kantor kami sangat-sangat tidak menjual untuk disebut, rawa gatel. Entah apa yang dipikirkan orang yang menciptakan nama jalan ini dulu. Yang jelas, jika maksud orang itu adalah agar reaksi orang yang mendengar jawaban kami saat ditanya alamat kantor adalah tertawa keras atau diam tapi memandang hina, maka usaha beliau berhasil dengan gemilang.

Pembangunan infrastruktur jalan yang tidak merata adalah alasan ketiga. Entah kenapa, pengembang kawasan industri memutuskan hanya memasang jalan beton sepanjang 100 meter sebagai usaha memperbaiki jalan depan kantor yang sering rusak dan bolong-bolong. Dan beton yang keren itu dibangun tepat berhenti di sebelum depan kantor kami. Pemasangan beton setinggi hampir 20cm yang ‘pilih kasih’ itu membuat jalan di depan kami menampung air hujan dan tergenang seperti kolam ikan, dimana air tidak tahu harus ‘berlari’ kemana. Begitu pula kami –yang tidak tahu harus berlari kemana– pada saat hujan deras dan jalan banjir besar. Kecuali punya mobil jenis amphibi seperti Hummer.

Lengkaplah sudah sebutan Rawa Gatel pada jalan kantor kami.

Sayangnya, harapan tinggal harapan. Berita bahwa kantor hanya pindah 3 nomer yang justru semakin menjorok ke dalam jalan yang sama bagaikan petir di siang bolong.

“hah! Sumpe lo! Gue pikir kita bakal pindah ke daerah Sudirman!”

“Mana mungkin, cuy! Denger-denger ini politik jenis kelamin! Ada pihak-pihak tertentu yang mempengaruhi supaya kantor kita kagak pindah ke luar kawasan industri laknat ini!”

“masa sih?”

“menurut looo? si babe kan rumahnya di ujung dunia gitu. Kalo dia pengen pindah ya harusnya menuju Sudirman dong. Biar makin deket ke rumahnya! Ya ngga sih?”

Semua orang manggut-manggut dan memenuhi otaknya dengan kecurigaan dan prasangka.

Belum lagi, pembicaraan mengenai si gedung baru yang rupanya belum pernah kita lihat itu.

tau ngga sih lo, tuh gedung katanya bekas pembunuhan!”

hah! Yang bener lo?”

“iya. Udah gitu, udah lama banget ditinggalin, kagak ada yang nempatin! Pasti banyak setannya!”

yo oloooh! Di sini aja udah banyak setannya! Di sana lebih banyak lagi? Edan!”

Makin kacaulah otak para karyawan yang sebelumnya sudah dipenuhi kecurigaan dan prasangka, makin Pol ditambah dengan ketakutan yang tidak beralasan.

Dengan berbekal kecurigaan, prasangka, ketakutan plus rasa kecewa, sepulang makan siang di salah satu cabang Amigos kawasan industri, kami memutuskan mampir ke calon kantor baru. Tak kenal maka tak sayang.

Begitu masuk, kami sudah disambut gudang besar dengan tumbuhan liar di sekelilingnya.

“yang ini?”, Dodonat membelalak.

Ternyata bukan.

Sepanjang jalan dari gerbang depan hingga ke kantor yang dituju harus melewati 2 gudang besar lagi yang sudah lama tidak terpakai. Bayangkan betapa banyaknya setan-setan bergentayangan di sana! Tanaman merambat liar yang belum dipangkas membuat rasa ilfil semakin mendalam. Tiba-tiba keberadaan mas Lani si tukang taman di kantor sekarang sangat disyukuri oleh semua orang yang ada di dalam mobil itu.

Gedung yang akan menjadi kantor masa depan kita bagaikan Puskesmas terbengkalai kalau dilihat dari luar. 3 ekor angsa yang super galak hampir menerkam kami saat keluar dari mobil. Gedung macam apa ini kok penjaganya bukan anjing tapi malahan soang?

Untuk naik ke lantai dua –tempat brand management akan mangkal nantinya– belum dibangun tangga. Jadi terpaksalah kami harus naik lewat tangga besi darurat yang mirip dengan tangga yang dipasang di rumah menuju tempat jemuran.

lu sebaiknya nanti jangan pake high heels lagi deh, karena berisik, bo, pas lo naek tangga!” ujan Dodonat pada saya.

lah? Ini bakalan jadi tangga permanen?” teriak saya.

“menurut looo?”

Sudah keburu lemas dengan perjalanan menuju lokasi, serangan 3 ekor soang, pendakian tangga jemuran ditambah dengan bekal kecurigaan, prasangka, ketakutan plus rasa kecewa yang dibawa sebelum ke lokasi, membuat aura pada saat melihat lantai dua sudah keburu ngga enak.

kok jadi kecil bgini sih?”

“perasaan kita dipindahin karena kantor kita sebelumnya udah kekecilan deh! Lah ini kok malah lebih kecil lagi?”

“katanya per meja disekat-sekat. Lemari isi barang-barang gue mau ditaro dimana? Trus, kalo kita mau nge-gossip kan jadi susah!”

gimana kita bisa bekerja dengan baik kalo gedung tempat kita bekerja ngga nyaman dan ngga mendukung!”

Akhirnya kami berdelapan pulang ke kantor tanpa berkata apa-apa saking lemesnya dengan kenyataan yang dihadapi.

“perusahaan se-gede ini kok ya milih kantornya begini?” umpat salah seorang teman.

Ke delapan karyawan itu pun kemudian membuat heboh kantor dengan membahas ’temuan lapangan’ mereka dengan seisi kantor setelah shock berangsur-angsur hilang. Bisa ditebak, rasa kecewa meluber dengan mudah dan susah hilang selayaknya jalan depan kantor yang diluberi air pada saat hujan besar dan banjir ‘kolam ikan’.

Acara Brand-Brand Paling Nge-Top yang diadakan di hotel kawasan Senayan malam itu membawa sebagian dari kami melewati daerah kantor perusahaan kompetitor. Ternyata hampir mirip dengan kami, sang kompetitor baru saja membangun gedung kantor baru. Bedanya, dengan jarak hanya beberapa ratus meter dari kantor yang lama, bangunan kantor baru mereka jauuuuh lebih megah, ciamik, dan naik kasta mendekati langit, lantai 33!. Khas kantor modern kawasan Sudirman dan Kuningan. Lengkap sudah ke-ilfil­-an kami semua.

Secara skala perusahaan, kami jelas lebih besar. Perusahaan kami adalah terbesar di Asia Tenggara untuk kategori industrinya. Brand yang ada di bawah komando kami lebih dari 20 jumlahnya, dan setiap brand dikomandoi satu orang manager. Orang yang banyak plus tanggung jawab yang besar… paling tidak gedung yang kami miliki harus mirip –atau malah, lebih bagus– dari kompetitor kami, yang bukan terbesar se-Asia Tenggara.

lu tau ngga kalo anggota DPR katanya mau bangun gedung baru buat kantornya?”, siang itu saya menguping pembicaraan dua orang teman satu kantor.

gue baca sih di koran tadi pagi. Selewat doang. Gila juga ya! Perasaan gedung lamanya masih bagus”

lu tau ngga bugdet estimasi pembangunannya berapa?”

berape? Pasti M-M-an deh!” jawab sang temen sok yakin.

“jangan salah, cuy! 1.6 trilyun!”

“HAAAA! Apa alesannya harus bikin gedung semahal itu? Emang isinya apa? Gedung lama kan masih bagus!”

Denger punya denger, gedung perwakilan rakyat itu berisi spa dan kolam renang. Spa masih diperdebatkan kebenarannya, tetapi fakta kolam renang terjustifikasi dari twitter yang saya terima dari kantor berita online :

7 Sep 2010 xxxxx.com situs warta era digital. Anggota DPR: Kolam Renang Gedung Baru Bisa Bantu Padamkan Kebakaran

“Ini bukan untuk exercise. Menurut arsitek, pool yang terletak di lantai 36 (paling atas) bisa membantu kalau ada kebakaran. Kalau pemadam biasanya baru datang 1 sampai 2 jam, ini bisa langsung digunakan untuk memadamkan,” ujar Michael Wattimena, Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR.

“mereka bilang, gedung yang sekarang sudah miring, jadi tidak nyaman lagi buat bekerja. Makanya butuh gedung baru!”

“miring? Kan keren, kaya Menara Pisa. Jadi serasa di Italia”

“gila apa ya. Pake gedung sekarang aja mereka ngga bisa menghasilkan apa-apa. Apalagi pindah gedung baru!”

“iya ya, trus kolam renang sebenernya tuh fungsinya apa?”

“mungkin maksudnya biar kalo kebakaran tinggal nyemplung aja!”

cin… kolam renangnya di lantai 36! Gimana mau nyemplung!”

“atau… mungkin ntar tinggal dibocorin kolamnya biar airnya langsung turun ke bawah”

emangnya betonnya kelas kerupuk? Lagi ribet-ribet kebakaran masih sempet gitu nge-bor langit-langit atap?”

“atau pake ember? Jadi anggota DPRnya mondar-mandir naek turun madamin api?”

kalo kebakarannya di lantai 3 gimana? Keburu encok kaleeee”

“apapun itu! Gue yakin kalo gedung baru ngga akan mempengaruhi kinerja DPR! Tetep aja rakyat Indonesia bakal gini-gini aja!”

“gedung ngga ada hubungannya dengan kinerja!”

Sekeras-kerasnya teman-temanku berteriak, mereka tidak sadar kalau mereka (termasuk saya) meneriakkan sesuatu hal yang berbeda dengan apa yang dipraktekkan. Kami semua terluka dengan tindakan anggota DPR yang meminta gedung baru dan mewah demi kinerja lebih baik, di satu sisi kami sendiri kepengen juga punya gedung baru yang bagus sesuai keinginan kami karena kami anggap bisa mendukung kinerja kami.

Bekerja –hampir semua karyawan berpendapat sama– membutuhkan lingkungan yang nyaman dan mendukung. Tetapi kadang-kadang manusia menaikkan standar hak yang ingin mereka terima dan bukannya lebih dulu mendahulukan pemenuhan kewajiban. Dan ironisnya, kita (termasuk saya) tidak sadar kalau kelakuan kita ngga jauh beda sama anggota-anggota DPR yang kita cemooh!

Gedung baru kami bahkan belum 50% jadi, tapi kami sudah keburu berpikir yang ngga-ngga dan menjustifikasi seolah-olah kami pasti akan tinggal di kantor yang tidak layak dan bahwa kami sebenarnya berhak untuk dapat kantor yang jauh lebih mewah dan nyaman.

Kecurigaan, prasangka, dan ketakutan yang tidak beralasan menutupi mata kami untuk melihat yang sebenarnya:

  • Bahwa ubin gedung baru menggunakan granit yang jauh lebih bagus daripada gedung sekarang yang ‘Cuma’ pakai keramik biasa.
  • Bahwa Marketing director kami sebenarnya sudah khusus memanggil interior design untuk membuat kantor baru jadi senyaman mungkin untuk kami tempati.
  • Bahwa tetap berada di Rawa Gatel –dengan melupakan banjir lokal ala kolam ikan– adalah keuntungan bagi kami karena uang makan kami terselamatkan warung-warung Amigos dibanding jika kami bekerja di wilayah Sudirman atau Kuningan yang minimal pake budget cafe-cafe atau mall ber-AC.
  • Bahwa dengan sering makan kuliner rawan bakteri e-colli, perut kami jadi lebih terlatih dan tidak manja pilih-pilih makanan.
  • Bahwa kami lupa bersyukur pada situasi yang sebenarnya sudah sangat nyaman bagi kami.
  • Bahwa kami selalu menuntut hak –yang cenderung berlebihan–, padahal sebenarnya tugas kami adalah bekerja dengan baik. Dan tempat yang kami punya sebenarnya sudah layak.

Memang sih, kepindahan ke gedung baru masih di’hantui’ oleh kemungkinan banjir lokal dan gangguan soang atau setan-setan penghuni gedung yang merasa tempatnya diambil kami. Tapi kami juga tidak boleh lupa untuk belajar untuk lebih fokus pada hal-hal baik yang akan kami terima dan kepada kewajiban yang harus selalu kami maksimalkan dalam bekerja.

Anggota DPR dan rencana Gedungnya yang melukai sebagian besar rakyat Indonesia sebenarnya jadi pelajaran buat kami. Walaupun beda kasus jauh –dimana kita bukan pelayan masyarakat seperti anggota DPR–, tapi dimanapun kita berada, apapun kasusnya, jangan pernah lupa kalau memenuhi kewajiban dengan maksimal harus mendahului sebelum (dengan berlebih) kita menuntut hak-hak kita.

Selain itu, jangan pernah lupa bersyukur pada hal-hal apapun yang kita terima,… biarpun hal tersebut tidak punya lantai 36 dan kolam renang di atap gedung…

SAI GON Kick

Perjalanan ke negara yang katanya lebih miskin dibandingkan Indonesia memberikan pelajaran tersendiri ke saya. Suara-suara sumbang semacam ngapain lo ke negara yang lebih miskin dari kita?’, atau buang-buang duit aja lo. mending nabung lebih lama buat ke negara yang lebih oke, kayak Jepang, atau Eropa” atau lu mau liat apa di sana? pasti banyakan pemulung ama orang miskin. bisa-bisa rawan copet nanti” saya cuekin –karena sebagai bagian dari Program Keliling Dunia sebelum Usia 40 tahun–, saya yakin kalau di setiap negara PASTI ada keunikan tertentu yang bisa dipelajari dibandingkan dari negara kita sendiri.

Dengan tata kotanya yang khas Eropa dengan jajaran butik-butik ternama yang ada di sepanjang jalan layaknya Ruko dan bukan di dalam mal, toilet yang bersih di semua lokasi bahkan sampai di luar kota Sai Gon –yakni di tempat wisata Cu Chi Tunnel–, pengendara sepeda motor yang sangat banyak tapi semuanya berdandan tetap dandy dengan suit kerjanya, tanktop dan short super pendek, kuliner beragam yang rasanya tidak ada yang mengecewakan… Sai Gon di Vietnam adalah salah satu tempat wisata yang berkesan dan recommended bagi saya untuk dikunjungi lagi.

Pengaruh Perancis sebagai negara yang pernah menduduki Vietnam sangat terasa pada butik-butiknya yang tersebar di pinggiran jalan. Kesan yang didapat menjadi lebih customer-friendly dan mengundang semua orang untuk datang, tidak seperti layaknya butik-butik di Jakarta yang berdiri megah angkuh di dalam mal. Akibatnya adalah dompet juga jadi lebih mudah mengeluarkan uang. Yang membedakan kenapa saya belanja lebih sedikit dibandingkan dengan waktu di Singapur adalah hanya karena iman yang kuat di dalam hati.

Pelajaran : Orang Eropa rata-rata tidak ‘cacat mode’ karena butik-butiknya semua accessible bagi semua kalangan.

Kotanya yang relatif kecil membuat saya dan teman-teman lebih nyaman berjalan kaki dibanding naik taxi, walaupun taxi bisa dikategorikan sangat murah. Saya dan teman-teman pernah memutuskan berjalan kaki di tengah malam pukul 12.00 dengan dandanan after dinner yang lumayan ‘berani’. Kenyataannya, baik siang maupun malam, melewati kawasan elit maupun sekitar pembangunan lengkap dengan kuli-kulinya, berjalan kaki di Sai Gon sangatlah aman. Tidak ada mulut-mulut usil ala Jakarta yang suka melontarkan kata-kata godaan yang kampungan. So cozy!

Pelajaran : Miskin bukan berarti jadi penjahat. Negara miskin bukan berarti memicu banyaknya kejahatan. Menjadi jahat atau memutuskan jujur mencari kerja adalah pilihan pribadi masing-masing. Bahkan untuk negara yang lebih miskin dari Indonesia.

Pengendara motor hampir sama banyaknya dengan Jakarta dan lumayan mengganggu. Apalagi mereka punya hobi membunyikan klakson tanpa maksud. Hanya saja hati menjadi lebih pemaaf karena penampilan pengendara motor di Sai Gon jauh lebih ciamik dibandingkan pengendara motor di Jakarta. Pagi hari, para pekerja kantoran naik motor ke kantor pakai working suit yang rapi dan kinclong, siang hari pengendara motor pakai short super pendek di bawah pantat, tanktop, dan malam hari para perempuan tidak malu-malu berangkat dugem dengan LBD super ketat dan stiletto naik skuternya.

Beda banget dengan Jakarta dimana pengendara motornya kebanyakan mirip tukang ojek dengan jaket-jaket bomber yang ngga gaul dan membuat tambah kesal waktu hampir menabrak kita. Coba bayangkan kalau pengendara motor yang mau menabrak kita tampil kinclong dengan tanktop dan celana pendek di bawah pantat, saya yakin tingkat maaf Anda akan melesat tinggi seketika.

Pelajaran : Percaya Diri tinggi menjadikan pemandangan sekitar menjadi lebih indah, dan otomatis hati menjadi lebih tenang dan pemaaf.

Saya termasuk picky jika berkaitan dengan masalah toilet umum. Bagi saya lebih baik menahan pipis jika sedang berjalan ke luar kota dibandingkan harus dihadapkan dengan adegan horor dari toilet super jorok. Amazingly, di Vietnam toilet sangatlah bersih, bahkan pada saat kami melakukan tur ke luar kota Sai Gon. Melihat pemandangan sepanjang jalan, bisa disimpulkan kalau Vietnam memang lebih miskin daripada Indonesia. Tapi WC umumnya…? jauh lebih bersih.

Saya jadi bingung, apa bedanya perempuan Indonesia dengan perempuan Vietnam dari segi attitude? Kenapa tissue-tissue di toilet wanita di Indonesia harus menggunung di luar tempat sampahnya, padahal sebenarnya tissue bukan benda padat yang makan tempat? Harusnya dengan ‘usaha sedikit’ menekan dan memadatkan tissue pada saat kita membuang sampah, kita dengan mudahnya membuktikan diri kita sendiri lebih baik dari orang lain. Dan usaha yang sangat kecil itu bisa membantu menyamankan pengunjung toilet sesudah kita.

Pelajaran : cewek-cewek Indonesia rata-rata jorok! Sadar ngga?

Begitu banyak yang bisa kita pelajari dari orang lain, lingkungan lain, daerah lain, tempat lain, benua lain, negara lain. Bahkan walaupun orang, lingkungan, daerah, tempat, benua atau negara itu memiliki kekurangan dibandingkan kita, yakni dalam hal ini lebih miskin dari kita.

Secara kurs, Vietnam memang ada di bawah Indonesia. Tapi dengan attitude yang dimiliki sekarang, jika Indonesia tidak berhati-hati, maka kemungkinan Indonesia akan disalip lagi model Malaysia jaman dulu dan sekarang.

Saya bangga dengan Indonesia. Tapi saya rasa, keputusan saya untuk keliling dunia sebelum usia 40 tahun juga baik untuk saya belajar lebih banyak agar bisa membawa perubahan yang lebih baik untuk negara saya, walaupun kecil.

tontonan publik : CNN vs. TV ONE

‘teeeet…’

“maaf, mbak. Coba masuk lagi, ikat pinggangnya mohon dilepas dulu”

Saya memandang dari bawah ke atas. Baju yang saya pakai adalah sackdress warna hitam. Tanpa ikat pinggang! Bagian mana yang mesti saya lepas. Tapi sepertinya si satpam jutek itu tidak mau dengar alasan apa pun.

“saya ngga pake ikat pinggang,” kata saya dengan nada menggantung. Setengah mengejek.

“coba masuk lagi, mbak” begitu perintahnya. Akhirnya saya memutar untuk masuk gerbang bunyi itu tadi sementara beberapa pasang mata yang sedang mengantri mengisyaratkan, ‘cepetan napa! Emang lo doang yang mau masuk!’

‘teeeeet…’

Bunyi lagi!

“lepas sepatu!” kali ini lebih terdengar seperti perintah karena tidak mengikutsertakan kata ‘maaf, mbak’.

Saya memandang strappy heels warna merah yang cantik tapi membuat saya susah jalan, karena tingginya 12 senti dan haknya licin. Sepatu tinggi bertali milik saya itu memang memiliki buckle logam.

ah, mungkin memang ini penyebabnya’, ujar saya dalam hati sambil susah payah membuka tali sepatu sambil menjaga keseimbangan karena harus melepas dalam keadaan berdiri, tak ada kursi.

Suara mendesah bête yang mulai terdengar membuat saya memandang ke satpam dengan tatapan ‘haruskah?’. Tapi tatapan tajam sang satpam seolah jadi keputusan akhir. Buka! Atau kamu saya tahan!

‘teeeeeeettt…’

Perasaan saya saja atau suaranya makin kencang? Mulailah saya di-scan dengan detektor panjang bertuliskan GARRETT warna kuning. Tangan? Clear. Badan? Clear. Kaki beserta betis? Clear. Begitu sampe ke kepala…

‘tit tititt tiiit…’

Oh my God! Jepit rambut sialan!. Akhirnya dengan penampilan kusut masai, tanpa sepatu, rambut terburai karena jepit yang sudah susah payah selama satu jam disematkan harus dilepas, saya sukses melewati satpam jutek dan gerbang metal detector-nya yang menyebalkan. Oia, juga puluhan pasang mata dengan desahan geramnya karena kelamaan ngantri gara-gara saya.

Teroris-teroris sialan… Sambil memasang sepatu di lobby hotel berbintang lima yang pernah dibom dengan dashyat ini, saya memandang sekeliling dan ingatan melayang ke peristiwa beberapa bulan sebelum ini.

Saya sempat menunggu selama 1 jam setengah di lapangan parkir hotel pada saat menjemput teman saya, padahal Beliau sebelumnya sudah setengah maksa minta dijemput jam 8 atau saya mati. Ini sudah setengah 10 dan batang hidungnya saja belum tampak. Waktu saya dengan cemberut bertanya, dia Cuma menjawab dengan santai tanpa rasa berdosa,

“nonton penangkapan Noordin M Top dulu tadi. Seru”

What the Hell?

Ahh… saat-saat nostalgik itu. Dimana televisi di ruang kantor kami dikeraskan volume-nya setiap setengah jam sekali. Setiap ada headline news dan teman-temannya yang membahas betapa heroiknya para polisi menebus barikade rumah ‘yang-disangka-sebagai’ rumah Noordin M Top. Dimana TV ONE jadi juara rating dan rebutan para pemegang brand semacam kami untuk memasang spot iklan agar CPRP tinggi. (Cost Per Rating Point)

Semua orang seperti disihir. Semua mata seperti hipnotis dengan drama penangkapan teroris nomer satu Indonesia itu. Padahal, dari semenjak saya dengar kalau sang teroris teriak, ‘Noordin M Top!!’ pada saat ditanya, ‘siapa yang ada di dalam?’. Hehehe, saya langsung curiga kalau itu bukan beneran Noordin M Top. Mana ada penjahat langsung ngaku waktu ditanya namanya? Apalagi teroris macam Nooridn M Top yang terkenal cerdik dalam menghindar dari polisi dan intel. Segala macam penyamaran dilakoni, mulai dari numbuhin jenggot, pakai cadar, kawin dengan perawan setempat, sampai menyamar jadi wanita, … segalanya deh.

Tapi hampir semua televisi Indonesia, terutama TV ONE, tetap semangat dan optimis menayangkan adegan dramatis penangkapan itu, dan dengan pede menayangkan title : drama penangkapan teroris Noordin M Top. Dan seluruh pemirsa Indonesia yang cinta drama (terbukti dengan laris manisnya infotainment dan reality show drama) setia memantengi televisi 24 jam untuk ikut larut dalam peristiwa heroiknya polisi menangkap ‘dia-yang-disangka’ Noordin M Top.

Di saat yang sama di rumah, saya pindahkan saluran ke CNN. Murni iseng! karena macamnya saya mana pernah kuat nonton CNN!. Penyiarnya ngga ganteng, gaya bicaranya monoton, layout tempat duduk reporternya pun membosankan abis! Tapi mengingat kesohornya teroris dari Indonesia, karena berhasil memusnahkan ratusan warga asing dunia, saya pikir drama mantap yang dianggap berkualitas oleh sebagian besar rakyat Indonesia itu juga akan diliput dengan serius oleh CNN. Apalagi… ini prosesi penangkapan Noordin M Top gitu looch… ,menurut sebagian besar orang Indonesia, sama serunya dengan nonton aksi pembebasan tawanan oleh John McCaine di dalam seluruh sekuel film Die Hard.

Metro TV walaupun menayangkan berita yang sama, kurang laku dibandingkan TV ONE. gaya bahasa Metro TV mirip CNN. Lebih objektif dan bukan kearah drama. Liatlah betapa Grace, sang reporter TV ONE yang putih mulus cantik jelita terpaksa ada di medan penangkapan teroris, demi mengemban tugas kepada Negara, yakni Menyuguhkan berita terkini kepada masyarakat Indonesia! Kasian ya si Grace... Sempat-sempatnya teman saya berkomentar soal betapa sayangnya reporter se-putih dan se-mulus Grace ada di ‘medan yang berbahaya’ itu.

Bahkan setelah terkuak kenyataan kalau yang ada di situ ternyata bukan Noordin M Top beneran, TV ONE tetap dengan gempita menayangkan proses pernyataan revisai dari Kapolri berisi : ‘eh kita salah ternyata, bo’. Bukan Noordin M Top ternyata, cin..

Indonesia tetap bangga. Darahnya tetap mendidih dan berharap Noordin M Top yang sebenarnya segera tertangkap oleh Kapolri yang luar biasa hebat. Dengan senjata robot cucunguk yang bergeraknya luar biasa lambat, bisa menjebol pertahanan seorang teroris yang ada di dalam gubug tua yang luar biasa reyot. Lupa bicara dan mendengar fakta, tapi TV ONE tetap dicintai dan dianggap sebagai saluran televisi penyaji berita terbaik di Indonesia, dengan rating yang melonjak tinggi. Orang Indonesia sangat suka yang namanya drama, dan jiwanya serasa hidup dan dikasi makan dengan nonton tontotan dramatis yang padahal belum tentu benar.

Itulah salah satu beda mencolok orang Indonesia dan orang bule. Pada saat yang sama saya mencari berita drama itu di CNN, sama sekali tidak ada liputannya. NIHIL. Sebagai kantor berita yang terpercaya, CNN belum berani menayangkan berita apapun mengenai penangkapan Noordin M Top. Bukan karena mereka tidak ingin menjadi saluran berita terkini, tapi karena mereka percaya kualitas. Mereka hidup karena kualitas berita mereka. Apa yang mereka sajikan adalah kualitas yang akan ditonton dan dijadikan kiblat oleh seluruh penonton dunia yang punya parabola mini, satelit, atau saluran kabel seperti saya. Karena CNN percaya kualitas, maka mereka tidak akan bicara, sampai benar-benar keluar… FAKTA.

Tapi saya tidak bicara orang Indonesia dan TV ONE-nya payah. justru TV ONE dengan cerdas menangkap tipikal penonton Indonesia. Gaya bahasanya yang dramatis dalam setiap reportasenya menandakan kalau bagian riset TV ONE sudah mengerjakan PR dengan baik. Indonesia hidup karena drama, makanya semakin dramatis, semakin baik!

Saya juga harus berterima kasih sama TV ONE, karena berkat TV ONE jugalah saya jadi lebih mudah memilih waktu tayang untuk iklan-iklan produk saya, dan yang paling penting,… berkat TV ONE dan tayangan dramatisnya ‘penangkapan-teroris-yang-disangka-Noordin-M-Top-padahal-bukan’ itu, televisi di kantor jadi terus-menerus dikeraskan volume-nya dan boss saya jadi berkurang marah-marahnya karena sibuk nonton televisi.

VIVA TV ONE dan PENONTON SETIA INDONESIA!

sila V Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Cerita bermula dari boss I yang pernah mengalami cedera di syaraf tulang belakangnya sehingga mengharuskan Beliau membawa kursi khusus untuk dipakai di ruangannya. Oleh sebab itu, boss II dengan senang hati memakai kursi yang ditinggalkan oleh boss I. kursi istimewa dengan sandaran tinggi yang nyaman dan tidak membuat leher pegal walaupun berjam-jam bekerja menatap layar komputer.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, berkat kerja boss II yang sangat baik, Beliau naik level dan harus pindah ke dalam ruangan khusus yang sesuai pangkatnya, dengan kursi baru berjenis sama dengan yang lama, yang pernah ia duduki.

Saya, sebagai anak buah boss II, –yang sudah lama mengajukan permintaan pada Beliau untuk bisa memakai kursinya sewaktu-waktu Beliau dipromosikan dan masuk ke dalam ruangan– sudah tentu sangat bergembira. Akhirnya saya mendapatkan kursi yang tidak membuat leher dan punggung saya pegal, walaupun berjam-jam harus menatap layar komputer.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan hendak berganti tahun, saya lewati dengan nyaman dan bergembira bersama sang kursi. Walaupun sebenarnya sudah rusak –karena bekas pakai selama bertahun-tahun –, saya tidak terlalu peduli. Toh kenyamanan suasana bekerja adalah salah satu hak saya sebagai karyawan. Sampai suatu hari…

General affairs kantor hendak membetulkan kursi-kursi yang dipakai oleh karyawan sebagai bagian dari program continuous improvement yang sedang giat-giatnya dicanangkan.

“mbak, kursi diambil dulu ya untuk dibetulkan”

“yaaah… ngga usah deh. Aku ngga apa-apa kok. Kursiku ngga usah dibetulin,” jawab saya. Karena memang menurut saya kursi tersebut tidak perlu dibetulkan. Toh masih terasa nyaman dan ngga membuat saya jumpalitan akrobat saat duduk di situ.

“tapi memang semua kursi harus dibetulkan, mbak”

Akhirnya setelah lumayan ngotot menahan sang kursi kesayangan, saya harus rela melepas kepergiannya untuk… heh, berapa lama ya?

“berapa lama ya, mbak, selesainya?”, tanya saya pada mbak Susi (*bukan nama sebenarnya), sang eksekutor kursi.

“sebentar aja kok, mbak. Dibetulin trus dicuci. Setelah itu bisa dipakai lagi”

Sambil menghela napas, saya akhirnya rela kursi saya ditukar dengan kursi kecil yang biasanya dipakai tamu kalau sewaktu-waktu datang dan meeting di meja kami masing-masing.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan,… tidak sampai berganti tahun, tapi saya tiba-tiba sadar, kok kursi saya belum dibalik-balikin ya… ?

Positive thinking harus selalu mendahului setiap prasangka. Ah… mungkin memang belum selesai. Atau… pihak GA mungkin tidak ingat kursi mana saja yang harus dikembalikan karena kursinya memang banyak. Atau… kerusakannya agak parah, sehingga perlu lebih lama diinepin di dokter kursi. Akhirnya saya meninggalkan pesan ke resepsionis untuk membantu menanyakan perihal status sang kursi,

Dimana gerangan kursi saya?

Dasar pelupa. Saya sempat tidak aware untuk menindaklanjuti konfirmasi dimana gerangan kursi saya berada. Setelah beberapa minggu, di suatu pagi yang cerah, saya baru sampai kantor dan berpapasan dengan mbak Susi yang menggantikan resepsionis karena belum datang.

“pagi, mbak Sus,” sapa saya.

“pagi, mbak”

eh, mbak Sus, kursiku kemana ya? Kok kayanya udah lama banget belom balik-balik ke aku? Udah selesai dong harusnya. Kok belom dibalikin ke tempat aku ya?” cerocos saya.

oh, mbak. Kursi mbak sekarang dipakai sama mbak Putri Mahkota,” jawab mbak Susi sambil menatap saya lurus.

Heh?

lho? Itu kan kursi aku? Kok dipake sama mbak Putri? Lagian, kok ngga ada yang kasitau aku? Pantesan aja kursinya kok ngga balik-balik,yes, saya memang cerewet dan bawel.

“iya, mbak. Kemarin kursi mbak Putri Mahkota rusak. Tiba-tiba bawahnya rusak dan jebol, jadinya kursinya dipakai dulu sama mbak Putri Mahkota,” jawab mbak Susi –masih dengan tatapan lurus–.

trus… kapan kursi mbak Putri selesai dibetulin?,” tanya saya lagi. Setelah dibetulin berarti kursi saya bisa saya pakai kembali.

oh, kursinya ngga bisa dibetulin, mbak. Jadi sekarang mbak Putri Mahkota pake kursi itu,” jawab Beliau lagi.

L–H–O? what the hell…?

lho? Tapi… itu kan kursi aku. Kemarin kan katanya diambil Cuma mau dibenerin, trus dibalikin lagi ke aku. Kok sekarang tiba-tiba dikasi ke mbak Putri dan ngga ada yang kasitau aku?” nafas saya mulai terengah-engah dan nada mulai terdengar tinggi seperti ayam kejepit golok, tanda kemarahan mulai muncul dan dada rasanya mau meledak.

“ya, sekarang dipakai sama mbak Putri Mahkota, mbak,” jawabnya lagi dengan muka selurus jalan tol CIkampek.

“tapi… itu kan kursi saya…” tambah saya lagi makin bingung dan … okebete.

“yaa.. sebenernya kan itu kursi khusus manager, mbak. Jadi seharusnya ya disimpan khusus untuk manager,”

Kepala dan hati yang sudah mau meledak terselamatkan oleh seorang sahabat yang baru datang dan menggiring saya naik ke atas.

Sejak kapan manager harus memakai kursi khusus? Dan setahu saya, semua manager lantai II tidak ada yang memakai kursi semacam itu. Lalu kalau saya pakai emangnya kenapa?

Clearly I’m not getting well… merasa diperlakukan tidak adil karena sewaktu kursi itu diambil, saya dengan jelas mendengar perjanjiannya : kursi hanya diambil untuk diperbaiki dan dicuci bersih, untuk selanjutnya dikembalikan kepada yang menggunakan. Bukan untuk diambil, disimpan, lalu dipakai orang lain tanpa pemberitahuan sebelumnya!.

Akhirnya saya menghubungi mbak Sridevi (*lagi-lagi bukan nama sebenarnya), yang bertanggung jawab di bidang general affair karena menurut orang-orang sekitar, Beliau bisa memberikan keadilan.

“oh gitu ya, non. Oh mungkin kursimu yang ada di ruanganku. Oh pantesss. Oke deh, nanti gue urus. Gue sebenernya juga ngga suka sama kursi itu. Karena terlalu tinggi, menghalangi pandangan gue,”

Hati mulai lega. Akhirnya dengan hati gembira, saya melanjutkan pekerjaan karena merasa keadilan akan segera datang. Saya tidak salah kan? Itu memang kursi yang saya pakai sebelumnya. So.. itu adalah hak saya sebagai karyawan untuk bertanya mengenai kapan kembalinya sang kursi menemani saya bekerja.

Keesokannya, sepulang dari talkshow di radio, saya mendapati pemandangan aneh di meja saya. Kursi saya berubah bentuk. Bukan lagi kursi mungil yang biasa dipakai tamu-tamu di depan meja kami, tapi berubah bentuk menjadi kursi yang lebih besar. Tapi… BUKAN kursi saya.

kursi sengketa
Kepala saya mulai pusing dan kecewa. Saya langsung panggil OB dan minta tolong mereka menukar kembali kursi saya dengan kursi yang kecil. Kenapa harus pakai tak-tik? Menukar kursi sewaktu saya tidak ada di kantor, tapi bukan dengan kursi saya yang sebenarnya?

“itu bukan kursi saya,” jelas saya pendek setengah putus asa dan kecewa.

Beberapa menit kemudian mbak Susi menelepon saya untuk menjelaskan. Inti penjelasannya, kursi saya adalah kursi khusus manager di dalam ruangan. Jadi kursi itu harus disimpan kalau sewaktu-waktu ada manager dalam ruangan yang mengalami rusak kursi dan memerlukan penggantian.

lho? Dulu Bapak (boss saya, maksudnya) pake kursi itu bertaun-taun dan ngga ada yang ngambil, padahal dia kan dulu belum  ada di dalam ruangan. Kenapa sekarang aku ngga boleh pake?

“ya, mbak, sebenarnya dulu Bapak Cuma dipinjami. Sebenarnya ini kursi khusus manager dalam ruangan. Jadi ya harus disimpan kalau-kalau sewaktu-waktu ada kursi yang rusak,” jawab mbak Susi. Tidak rasional, jelas.

“yakin? Bukan karena dipakai sama mbak Putri?,” tanya saya mulai jengkel.

“ya, mbak, itu kursi khusus manager dalam ruangan. Jadi harus disimpan sampai nanti dibutuhkan lagi”

Disimpan gimana? Jelas-jelas kursinya dipakai sama mbak Putri. Salahkah saya kalau menganggap argumen itu terlalu tipis dan bukan didasarkan oleh fakta?

Saya jelas saja masih tidak terima. Mbak Sridevi kemudian menelepon saya untuk minta maaf dan menawarkan kursinya yang jauh lebih nyaman untuk diduduki agar digunakan oleh saya. Hellooo… it’s NOT her fault! Saya cuman pengen kursi saya kembali! Mbak Sridevi kemudian memberikan alasan lain sewaktu saya berargumen. Beliau bilang kursi di dalam ruangan lantai saya harus seragam wujudnya.

Saya memandang sekeliling ke kursi-kursi teman-teman yang tidak seragam warnanya, apalagi bentuknya!.

Mana yang seragam? Ngga ada yang seragam!

Beliau lalu menyempurnakan argumennya, “maksudnya… seragam tingginya,”

Sampai saat ini, saya belum mendapatkan kursi saya. Dan saya menolak kursi kecil yang sekarang saya pakai diganti dengan kursi lain –yang BUKAN kursi saya yang dulu– dengan janji akan jauh lebih nyaman. Mbak Sridevi juga menawarkan saya untuk bicara langsung ke HRD kalau saya mau minta kursi saya kembali.

Ya ampuuunn… hak saya diambil dan saya yang harus menghadap HRD?

Bagi sebagian besar orang yang membaca tulisan saya ini –mungkin termasuk Anda– akan merasa bahwa tindakan saya bodoh dan remeh. Saya ribut untuk sebuah masalah kecil. Masalah yang harusnya bisa diselesaikan saja dengan saya nrimo pertukaran kursi dengan kursi lain yang menurut versi mereka, ‘jauh lebih nyaman’.

Bagi saya, ini bukan Cuma masalah kursi. Ini masalah hak dan keadilan.

Sejak dari awal masuk dan dibagikan buku peraturan, tidak ada yang menyinggung mengenai masalah perbadaan kursi dengan perbedaan kasta : yang kasta bawah (means, ‘luar ruangan’) seperti saya, diharamkan memakai kursi jenis tertentu. Ketidakadilannya adalah pada saat kursi tersebut diambil, tidak ada yang memberi sinyal ke saya kalau kursi itu tidak boleh saya pakai, akan diambil dan selama-lamanya diharamkan bagi saya untuk menyentuh –kecuali seizin HRD–.

Kursi itu diambil atas nama perbaikan ke arah yang lebih baik, agar karyawan menggunakan kursi yang layak. NOTE : hanya untuk diperbaiki dan dicuci selama beberapa hari, lalu dikembalikan lagi.

Ternyata kursi yang saya pakai diambil. Dan tiba-tiba saja muncul peraturan-peraturan aneh yang seakan-akan melegalisasi pengambilalihan kursi saya. Peraturan-peraturan yang sebenarnya masuk akal. Tapi jadi tampak tidak adil karena beberapa hal.

Pertama, sejak dulu, Bapak (atasan saya, si boss II) selama bertahun-tahun menggunakan kursi itu. Tidak ada yang protes atau mengambil kursi itu dari Bapak. Begitu Bapak masuk ruangan, saya memakai kursi itu juga selama berbulan-bulan, juga tidak ada yang mengatakan apa-apa mengenai peraturan perkursi-kursian.

Kedua, jika memang itu peraturan, kenapa tidak ada yang mensosialisasikannya terlebih dahulu? Dan kenapa sejak dulu tidak diterapkan? Dan kenapa pada saat kursi saya diambil –dengan alibi ingin dibetulkan– tidak ada yang berbaik hati atau berniat profesional menyampaikan bahwa ada peraturan : saya bukan manager dalam ruangan dan saya tidak boleh memakai kursi untuk manager dalam ruangan?

2 butir dalam Sila V Pancasila menyatakan bahwa kita harus : Mengembangkan sikap adil terhadap sesama, dan Menghormati hak orang lain. Dalam hal ini jelas saya merasa sedih sebagian besar karena saya merasa diperlakukan tidak adil. Bukan Cuma karena sebuah kursi.

Saya baru sadar kalau selama SD kita mempelajari butir-butir Pancasila sebenarnya hanya sekedar menghapal saja. Selama SD kita tidak aware bahwa suatu saat di masa depan kita akan dihadapkan dengan masalah ‘ketidakadilan-pengambilan-kursi-secara-paksa’ semacam ini. Sehingga kita tidak sadar, sampai hal ini terjadi dan menampar tepat di muka kita sendiri.

kursiku sekarang
Kursi adalah sekedar kursi. Tidak seharusnya menimbulkan masalah besar. Yang menjadi sumber kesedihan saya hanyalah bentuk kecil ketidakadilan yang saya hadapi karena pengambilan kursi yang janggal ini. Saya tahu jika saya terus melawan dan
ngotot meminta balik kursi –karena memang tidak ada peraturan yang berkaitan dengan kasta dan kursi–, saya malah akan semakin terlibat jauh lebih dalam ke dalam masalah yang lebih besar instead of mendapatkan hak saya, sebuah kursi.

Mungkin itu sebabnya kenapa banyak orang terkadang takut meminta apa yang menjadi haknya. Ada orang takut melapor kepada pihak berwajib padahal sudah menjadi korban kejahatan korupsi, seorang anak takut melapor kepada guru atau orang tua padahal sudah menjadi korban penyiksaan teman-teman di sekolahnya, seorang istri takut melapor ke komnasham padahal sudah mendapat pukulan fisik dari suaminya. Karena seringkali di Indonesia, meminta hak bisa jadi malah menimbulkan masalah yang jauh lebih besar.

Mungkin itulah sebabnya ada kejadian, ketua KPK, Bibit dan Chandra sudah keburu ditahan padahal sebenarnya belum ada bukti-bukti kejahatan pidana, sementara koruptor-koruptor tetap bebas berkeliaran menghirup udara segar di luar negeri.  Mungkin itulah sebabnya ada kejadian seorang yang men-charge handphone di koridor apartemennya ditangkap polisi karena dituduh telah mencuri listrik yang bukan miliknya, sementara masih banyak pelaku penebangan hutan yang mencuri kayu-kayu milik negara dibiarkan tetap beroperasi dan mengeruk keuntungan di atas suramnya masa depan ekologi kita.

Mungkin itu sebabnya… mungkin itu sebabnya….

Orang-orang semua pernah melalui masa SD dan mempelajari Pancasila. Tetapi orang lupa untuk menghayati daripada hanya sekedar menghapalkan sila per sila, butir per butir dan lulus ujian dengan nilai 100.

Memang masalah saya tidak sebesar dan serumit kejahatan korupsi, penyiksaan teman-teman sekolah, pukulan fisik suami. Masalah tolol saya yang tolol ini hanya se-remeh… kursi. Tetapi saat ini, jelas saya duduk di depan meja saya dengan kursi kecil, merasa terluka lebih dalam karena keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam versi terkecil se-remeh sebuah kursi –bisa memintanya kembali, tanpa harus ketakutan akan menerima masalah yang lebih besar dari sang kursi–, tidak saya rasakan di sini dan saat ini.