putri kodok dan kodok Banana

Alkisah, seorang kodok yang mendadak jadi Putri untuk periode tertentu pemerintahan baru saja naik tahta. Putri kodok harus memimpin beberapa kodok-kodok untuk menjalankan program 100 hari pemerintahan.

di dalam jajaran pemerintahan itu, ada satu kodok yang sulit sekali bekerja sama dengan sang putri. sebutlah dalam bahasa Cina, aura mereka ciong alias bentrok. sang kodok, namanya adalah Banana, punya sifat yang menyebalkan. suka memotong pembicaraan orang sebelum selesai, dan punya tendensi untuk jadi sok tahu. sehingga bisa ditebak, dalam setiap perjalanan kerjasama, putri kodok dan Banana terus bertengkar.

tanpa sadar, namanya cewek, putri kodok tanpa sengaja menebar pengaruhnya ke jajaran kodok lainnya, sehingga akhirnya seluruh kodok-kodok lain jadi ikut-ikutan apriori dengan kodok Banana. rasa benci berpadu dengan kelemahan kodok Banana menjadi formula jitu yang membuat Banana akhirnya dikucilkan oleh seluruh kodok di pemerintahan 100 hari.

setiap melakukan kegiatan dan gagal, instead of mengevaluasi dan memberi masukan yang proper, putri kodok dan kodok-kodok lainnya menyalahkan kodok Banana. dan sebaliknya, instead of sadar diri, introspeksi dan mengubah diri, kodok Banana malah makin menjadi-jadi. sulit diatur, melawan dan seringkali teledor sehingga membuat kegiatan yang jadi tanggung jawab bersama nyaris hancur.

proses kerjasama sangat tidak mengenakkan. karena aura permusuhan sangat terasa diantara kodok-kodok itu. saking kuatnya pengaruh putri kodok, ia berhasil mempengaruhi kodok-kodok lain di luar pemerintahan  untuk ikut tidak suka pada kodok Banana dan akhirnya memusuhinya.

akhirnya 100 hari pemerintahan selesai, walaupun penuh pertikaian dan permusuhan dalam selimut, semua berakhir cukup sukses. kodok Banana menjadi semakin pendiam dan seperti sengaja mengucilkan diri dari sekelilingnya. dan memperparah situasi, tidak ada kodok lain pun yang berniat mendekati dan menjadi temannya.

sampai suatu ketika, putri kodok harus berada di bawah pimpinan raja kodok hitam. sebenarnya, sang putri kodok dipaksa untuk mempelajari sesuatu oleh Dewa Dewi di khayangan melalui hubungan kerjasama ini.

raja kodok hitam sejak awal sudah kurang suka dengan putri kodok. antara lain karena karakter mereka yang jauh berbeda. sehingga pada saat Kaisar kodok menyuruh putri kodok menjadi di bawah bimbingan raja kodok hitam, raja kodok hitam sebenarnya tidak setuju. tapi… apa boleh buat…

kaisar kodok’s wish is raja kodok hitam’s command.

raja kodok hitam entah mengapa selalu bersifat kejam dengan putri kodok. apapun yang putri kodok kerjakan dan laporkan selalu salah. dan pada saat terjadi kesalahan, raja kodok hitam seperti tidak mau dengar penjelasan sang putri kodok. bagi sang raja kodok hitam, kalau sudah salah ya salah. tidak usah beralasan.

putri kodok menjadi sangat muram dan selalu bersedih. pada saat bangun tidur, putri kodok selalu ketakutan karena hari itu dia harus ke istana dan menghadap raja kodok hitam. dia selalu takut membuat kesalahan, karena raja kodok hitam pasti akan mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya.

putri kodok sadar bahwa dirinya memiliki banyak kelemahan, dan sebagian besar kebetulan adalah hal-hal yang paling dibenci raja kodok hitam. tapi… bukankah setiap orang pasti memiliki kelemahan? dan bukankah tugas pemimpin -yang sudah pasti notabene lebih hebat daripada bawahannya adalah mengerti dan mendidik bawahannya agar jauh lebih baik?

di tengah perenungan dalam kesedihan, putri kodok teringat kodok Banana.

bagaimana cerita ini mirip dengan ceritanya dulu, namun ia dalam posisi berbeda. ialah dulu sang raja kodok hitam, yang dengan kejam menyiksa batin kodok Banana. hanya karena masalah rasa tidak suka karena kelemahan kodok Banana, putri kodok bersikap kejam pada kodok Banana dan tidak memberinya kesempatan.

sama percis seperti dirinya, kodok Banana memang memiliki banyak kelemahan. tapi… waktu itu kan putri kodok adalah atasannya. sebagai bawahan, kasarnya, adalah hak mereka untuk menjadi lebih bodoh dari atasan. dan sang atasan tidak seharusnya semakin membodohi bawahannya. tetapi membimbing, mendidik dan mengajarinya, agar sang bawahan menjadi lebih baik dari sekarang.

di tengah malam itu, putri kodok menangis.

putri kodok menyesali perbuatannya. dan lucunya, pelajaran dari Dewa Dewi khayangan datang dengan cara putri kodok dijebloskan ke situasi yang sama. dengan cara itu, Dewa Dewi yakin, putri kodok akan lebih mudah belajar dan memperbaiki dirinya sebagai seorang kodok yang baik.

akhirnya, di suatu sore, putri kodok memberanikan diri untuk  berbicara dengan kodok Banana.

putri kodok menangis menceritakan semuanya dan bagaimana dia sadar dulu sudah sangat kejam pada kodok Banana. putri kodok meminta maaf dan di luar dugaan, kodok Banana hanya tersenyum setelah mendengar pernyataan dan cerita sang putri.

kodok Banana mengatakan kalau dia sudah memaafkan putri kodok sejak lama. dan bahwa dia juga meminta maaf karena dulu bersikap keras kepala, tidak mau berubah karena kesal sudah dimusuhi semua, dan semakin keras diserang, dia menjadi semakin defensif. tapi kodok Banana bersyukur karena putri kodok sudah menyadari semuanya. akhirnya mereka berbaikan lagi dan sekarang keduanya sudah menjadi sepasang teman akrab.

they say nothing last forever…
dreams change, trends come and go…
but friendship never goes out of style…
Carrie Bradshaw
SEX and the CITY

cerita ini adalah cerita nyata saya dan sahabat saya Banana. dibuat dalam perumpamaan agar suatu saat saya bicara cerita lagi ke anak cucu, tanpa bermaksud menggurui.

ya benar… sayalah yang mengaku-ngaku sebagai putri, walaupun sebenernya, masih masuk kategori kodok juga…

Advertisements

tontonan publik : CNN vs. TV ONE

‘teeeet…’

“maaf, mbak. Coba masuk lagi, ikat pinggangnya mohon dilepas dulu”

Saya memandang dari bawah ke atas. Baju yang saya pakai adalah sackdress warna hitam. Tanpa ikat pinggang! Bagian mana yang mesti saya lepas. Tapi sepertinya si satpam jutek itu tidak mau dengar alasan apa pun.

“saya ngga pake ikat pinggang,” kata saya dengan nada menggantung. Setengah mengejek.

“coba masuk lagi, mbak” begitu perintahnya. Akhirnya saya memutar untuk masuk gerbang bunyi itu tadi sementara beberapa pasang mata yang sedang mengantri mengisyaratkan, ‘cepetan napa! Emang lo doang yang mau masuk!’

‘teeeeet…’

Bunyi lagi!

“lepas sepatu!” kali ini lebih terdengar seperti perintah karena tidak mengikutsertakan kata ‘maaf, mbak’.

Saya memandang strappy heels warna merah yang cantik tapi membuat saya susah jalan, karena tingginya 12 senti dan haknya licin. Sepatu tinggi bertali milik saya itu memang memiliki buckle logam.

ah, mungkin memang ini penyebabnya’, ujar saya dalam hati sambil susah payah membuka tali sepatu sambil menjaga keseimbangan karena harus melepas dalam keadaan berdiri, tak ada kursi.

Suara mendesah bête yang mulai terdengar membuat saya memandang ke satpam dengan tatapan ‘haruskah?’. Tapi tatapan tajam sang satpam seolah jadi keputusan akhir. Buka! Atau kamu saya tahan!

‘teeeeeeettt…’

Perasaan saya saja atau suaranya makin kencang? Mulailah saya di-scan dengan detektor panjang bertuliskan GARRETT warna kuning. Tangan? Clear. Badan? Clear. Kaki beserta betis? Clear. Begitu sampe ke kepala…

‘tit tititt tiiit…’

Oh my God! Jepit rambut sialan!. Akhirnya dengan penampilan kusut masai, tanpa sepatu, rambut terburai karena jepit yang sudah susah payah selama satu jam disematkan harus dilepas, saya sukses melewati satpam jutek dan gerbang metal detector-nya yang menyebalkan. Oia, juga puluhan pasang mata dengan desahan geramnya karena kelamaan ngantri gara-gara saya.

Teroris-teroris sialan… Sambil memasang sepatu di lobby hotel berbintang lima yang pernah dibom dengan dashyat ini, saya memandang sekeliling dan ingatan melayang ke peristiwa beberapa bulan sebelum ini.

Saya sempat menunggu selama 1 jam setengah di lapangan parkir hotel pada saat menjemput teman saya, padahal Beliau sebelumnya sudah setengah maksa minta dijemput jam 8 atau saya mati. Ini sudah setengah 10 dan batang hidungnya saja belum tampak. Waktu saya dengan cemberut bertanya, dia Cuma menjawab dengan santai tanpa rasa berdosa,

“nonton penangkapan Noordin M Top dulu tadi. Seru”

What the Hell?

Ahh… saat-saat nostalgik itu. Dimana televisi di ruang kantor kami dikeraskan volume-nya setiap setengah jam sekali. Setiap ada headline news dan teman-temannya yang membahas betapa heroiknya para polisi menebus barikade rumah ‘yang-disangka-sebagai’ rumah Noordin M Top. Dimana TV ONE jadi juara rating dan rebutan para pemegang brand semacam kami untuk memasang spot iklan agar CPRP tinggi. (Cost Per Rating Point)

Semua orang seperti disihir. Semua mata seperti hipnotis dengan drama penangkapan teroris nomer satu Indonesia itu. Padahal, dari semenjak saya dengar kalau sang teroris teriak, ‘Noordin M Top!!’ pada saat ditanya, ‘siapa yang ada di dalam?’. Hehehe, saya langsung curiga kalau itu bukan beneran Noordin M Top. Mana ada penjahat langsung ngaku waktu ditanya namanya? Apalagi teroris macam Nooridn M Top yang terkenal cerdik dalam menghindar dari polisi dan intel. Segala macam penyamaran dilakoni, mulai dari numbuhin jenggot, pakai cadar, kawin dengan perawan setempat, sampai menyamar jadi wanita, … segalanya deh.

Tapi hampir semua televisi Indonesia, terutama TV ONE, tetap semangat dan optimis menayangkan adegan dramatis penangkapan itu, dan dengan pede menayangkan title : drama penangkapan teroris Noordin M Top. Dan seluruh pemirsa Indonesia yang cinta drama (terbukti dengan laris manisnya infotainment dan reality show drama) setia memantengi televisi 24 jam untuk ikut larut dalam peristiwa heroiknya polisi menangkap ‘dia-yang-disangka’ Noordin M Top.

Di saat yang sama di rumah, saya pindahkan saluran ke CNN. Murni iseng! karena macamnya saya mana pernah kuat nonton CNN!. Penyiarnya ngga ganteng, gaya bicaranya monoton, layout tempat duduk reporternya pun membosankan abis! Tapi mengingat kesohornya teroris dari Indonesia, karena berhasil memusnahkan ratusan warga asing dunia, saya pikir drama mantap yang dianggap berkualitas oleh sebagian besar rakyat Indonesia itu juga akan diliput dengan serius oleh CNN. Apalagi… ini prosesi penangkapan Noordin M Top gitu looch… ,menurut sebagian besar orang Indonesia, sama serunya dengan nonton aksi pembebasan tawanan oleh John McCaine di dalam seluruh sekuel film Die Hard.

Metro TV walaupun menayangkan berita yang sama, kurang laku dibandingkan TV ONE. gaya bahasa Metro TV mirip CNN. Lebih objektif dan bukan kearah drama. Liatlah betapa Grace, sang reporter TV ONE yang putih mulus cantik jelita terpaksa ada di medan penangkapan teroris, demi mengemban tugas kepada Negara, yakni Menyuguhkan berita terkini kepada masyarakat Indonesia! Kasian ya si Grace... Sempat-sempatnya teman saya berkomentar soal betapa sayangnya reporter se-putih dan se-mulus Grace ada di ‘medan yang berbahaya’ itu.

Bahkan setelah terkuak kenyataan kalau yang ada di situ ternyata bukan Noordin M Top beneran, TV ONE tetap dengan gempita menayangkan proses pernyataan revisai dari Kapolri berisi : ‘eh kita salah ternyata, bo’. Bukan Noordin M Top ternyata, cin..

Indonesia tetap bangga. Darahnya tetap mendidih dan berharap Noordin M Top yang sebenarnya segera tertangkap oleh Kapolri yang luar biasa hebat. Dengan senjata robot cucunguk yang bergeraknya luar biasa lambat, bisa menjebol pertahanan seorang teroris yang ada di dalam gubug tua yang luar biasa reyot. Lupa bicara dan mendengar fakta, tapi TV ONE tetap dicintai dan dianggap sebagai saluran televisi penyaji berita terbaik di Indonesia, dengan rating yang melonjak tinggi. Orang Indonesia sangat suka yang namanya drama, dan jiwanya serasa hidup dan dikasi makan dengan nonton tontotan dramatis yang padahal belum tentu benar.

Itulah salah satu beda mencolok orang Indonesia dan orang bule. Pada saat yang sama saya mencari berita drama itu di CNN, sama sekali tidak ada liputannya. NIHIL. Sebagai kantor berita yang terpercaya, CNN belum berani menayangkan berita apapun mengenai penangkapan Noordin M Top. Bukan karena mereka tidak ingin menjadi saluran berita terkini, tapi karena mereka percaya kualitas. Mereka hidup karena kualitas berita mereka. Apa yang mereka sajikan adalah kualitas yang akan ditonton dan dijadikan kiblat oleh seluruh penonton dunia yang punya parabola mini, satelit, atau saluran kabel seperti saya. Karena CNN percaya kualitas, maka mereka tidak akan bicara, sampai benar-benar keluar… FAKTA.

Tapi saya tidak bicara orang Indonesia dan TV ONE-nya payah. justru TV ONE dengan cerdas menangkap tipikal penonton Indonesia. Gaya bahasanya yang dramatis dalam setiap reportasenya menandakan kalau bagian riset TV ONE sudah mengerjakan PR dengan baik. Indonesia hidup karena drama, makanya semakin dramatis, semakin baik!

Saya juga harus berterima kasih sama TV ONE, karena berkat TV ONE jugalah saya jadi lebih mudah memilih waktu tayang untuk iklan-iklan produk saya, dan yang paling penting,… berkat TV ONE dan tayangan dramatisnya ‘penangkapan-teroris-yang-disangka-Noordin-M-Top-padahal-bukan’ itu, televisi di kantor jadi terus-menerus dikeraskan volume-nya dan boss saya jadi berkurang marah-marahnya karena sibuk nonton televisi.

VIVA TV ONE dan PENONTON SETIA INDONESIA!

keringatmu gairahku…

berdiri tepat jam 2 siang di depan 35 ribu lebih manusia yang berdesak-desakan dan berteriak antusias, saya disadarkan kembali bagaimana rasanya menjadi seorang anak muda.

di dalam keadaan bernafas dan detak jantung dalam ritme normal, kemungkinan besar saya tidak akan tertarik dengan lelaki itu. tapi siang ini, di bawah terik matahari yang tertutup riging panggung, saya terpesona dengan lelaki itu. lelaki yang sedang melompat-lompat, menyanyi, bermain musik, tertawa, dan sekali-sekali berkomunikasi dengan puluhan ribu manusia lainnya dengan bahasa yang kental nuansa Sunda-nya.

charly's colorful stage action

sepanjang sejarah hidup pendek yang saya lewati, personil band adalah sekelompok manusia yang memiliki daya tarik paling besar untuk memikat para perempuan, baik ABG, wanita muda, ibu-ibu, bahkan sampai nenek-nenek. yang masuk kategori band ini mulai dari yang tanpa alat musik -yang lazim disebut boy band– sampai yang memainkan alat musik lengkap -yang biasa disebut band saja-.

sewaktu ABG, saya cinta banget sama NKOTB. saya sering mengkhayal datang ke konsernya dan dapat kesempatan mengobrol akrab dengan salah satu personil favorit saya, Jonathan Knight. tentu saja, mimpi tinggal mimpi, karena Bapak saya saat itu tidak pernah mengijinkan saya nonton konser, apalagi mau kesampean ngobrol intim.

saya juga sempat melewati fase Backstreet Boys dan Oasis. ikut nge-fans pada saat mereka sedang ngetop-ngetopnya. lagi-lagi dengan mimpi yang sama, menonton konsernya, diikuti dengan sesi obrolan intim. dengan kenyataan yang sama, tidak pernah terkabul.

menjelang remaja sampai kuliah, saya suka sekali dengan Radiohead. dua lagunya, Creep dan Just membuat saya setia mengulang-ulang playlist yang sama. sejalan dengan hobi saya main band di usia SMA dan kuliah, mimpi saya agak berbeda, main gitar sebagai pengiring dan duet nyanyi dengan mereka.

banyak orang bingung dengan kekaguman saya pada Thom Yorke, sang vokalis. secara fisik Beliau tidak bisa dikatakan ganteng seperti Noel atau Liam Gallagher, atau Damon Albarn. lebih pasti lagi tidak mungkin lebih ganteng dari Kevin Richardson. tapi setiap kali nonton videoklip Creep dan Just, saya langsung terpesona total dan hooked up. entah apa yang lebih membuat saya terpesona, wajahnya, gaya panggungnya, ekspresinya… yang jelas, saya bisa memutar-mutar ulang lagu dari Radiohead yang sama berkali-kali tanpa bosan.

dan siang ini, saya kembali muda. melihat lelaki itu sungguh saya terpesona.  saking terpesonanya sampai waktu meng-observasi lelaki ini dengan lensa tele, saya sempat bengong sesaat. sama seperti pada Thom Yorke, entah apa yang lebih membuat saya terpesona, wajahnya, gaya panggungnya, atau ekspresinya.

saya melihat sekeliling dan mendapati 35 ribu orang di sekitar saya sependapat. bahkan seorang nenek-nenek rela terjepit di pagar barikade panggung demi menonton lelaki itu. pada saat saya menengok ke kanan, pemandangan lain menunggu…

seorang gadis muda sambil menangis terharu menonton sang superstar baru. temannya di samping membujuknya untuk pulang. dari ekpresinya saya tahu, itu ekspresi jatuh cinta sang penggemar kepada idolanya.

in love and cry

35 ribu lebih penonton tersihir. semua ikut aksinya, semua menangis terharu… entah karena apa, semua menuruti permintaan sang lelaki, bahkan untuk hal yang sempat membuat saya tertawa.

“mana tanda fisnya?” teriak sang lelaki sambil mengacungkan jari perdamaian.

saya bengong dan mencoba membenarkan anak-anak rambut di pipi dan telinga untuk mendengarkan lebih jelas. sumpah, saya tidak salah dengar.

“mana tanda fisnya?” teriak sang lelaki untuk kedua kalinya.

sebagian besar penonton dengan kompak mengacungkan jari tanda perdamaian. saya tersenyum. bahkan pesonanya bisa menulikan kuping sebagian besar penonton. kesalahan pengejaan karena dialek Sunda yang kental tidak membuat penonton memaki sang lelaki. bahkan semakin memuja.

charly in guitar action

ada apa dengan perempuan dan musisi? bahkan sejak masih di bangku sekolah, pemain band amatir sekolah lah yang paling banyak mendapat hadiah histeria murid perempuan. wajah lelaki yang dalam kehidupan nyata rakyat jelata tidak akan dilirik sebelah mata, mendadak jadi pujaan hati di atas panggung. saya bertaruh, di luar panggung bisa menemukan tukang becak, tukang ojek yang mukanya serupa sang lelaki, tetapi di atas panggung… semua berubah menjadi pesona, pesona, dan pesona.

sambil terus mengambil gambar sang lelaki lewat lensa tele, saya terus tersenyum-senyum dan bergoyang pinggul. he is a magnet and i admit it. di atas panggung melihat aksinya, saya tidak peduli apakah di luar sana saya dengan mudah bisa mendapat 1000 lelaki dengan wajah yang serupa atau bahkan lebih tampan daripada beliau.

saya terpesona.

charly the rocker in bw

saya sempat berpikir, apakah setiap laki-laki, seperti apapun wajahnya di dunia nyata, di atas panggung dengan sebuah gitar akan terlihat mempesona seperti Charly? seperti Thom Yorke? dalam kehidupan nyata, wajah seperti mereka jarang dilirik oleh perempuan kota besar seperti saya, tetapi pada saat di panggung, tidak ada perasaan lain menyelimuti hati saya… kecuali pesona. apakah benar?

sekelompok lelaki yang akan naik panggung selanjutnya akan saya jadikan teori apakah memang benar, lelaki yang di kehidupan nyata tidak akan dilirik sebelah mata, serta merta akan menjadi magnet di atas panggung?

dari mulai lewat depan mata, saya sudah mulai males dengan musisi lelaki yang akan mengisi panggung setelah Charly. dengan nama yang sama dengan tukang jagal penyuka sesama jenis, keberadaan Ryan seolah-olah membuat saya hilang gairah. tinggi badan? tidak memadai. wajah? pas-pasan. model rambut? seperti sudah tidak menyentuh shampoo selama berbulan-bulan. pakaian? ugh… skinny jeans putih, converse hitam, dan cardigans hijau tosca? ehm ehm… it’s a BIG NO NO NO in male fashion dan sama sekali tidak mengangkat kualitas penampilannya yang sudah katro dari sananya

(big kiss and sorry, ryan… but, that’s the truth).

ryan on the massive action

saya mencoba optimis. mungkin pesona itu muncul setelah ada aksi panggung. maka dengan harap-harap cemas saya berdiri di samping panggung menunggu aksi si Ryan yang sangat massive katanya.

Gleg.

mulai dari lagu pertama dan aksi panggung pertama, tanda-tanda penuaan sudah muncul di wajah saya. dahi berkerut dan ilfeel seketika. semua lagu yang lelaki ini bawakan adalah lagu romantis. yang sukses membuat perempuan termehek-mehek. tapi, instead of terpesona, saya merasa drop.

saya lalu melayangkan pandangan ke ribuan penonton. hawa kerumunan sudah tidak se’panas’ saat lelaki pertama manggung. dan ada yang berubah dari karakteristik penontonnya. sungguh banyak penonton yang berganti kelamin. eits, eits, maksud saya adalah… band yang massive ini ternyata lebih banyak memiliki penggemar perempuan dibanding laki-laki. terutama adalah dari kalangan remaja perempuan bawah umur.

bandung lautan remaja wanita

mungkin masalah selera, tapi saya sama sekali tidak bernafsu menonton aksi panggung sang tukang jagal gairah, apalagi sampai terpesona. yang saya pikirkan cuma, kenapa orang ini bisa manggung? disertai spekulasi-spekulasi dan legitimasi, ah mungkin tadi  sengaja disusun sebagai klimaks acara dan yang kali ini sebagai anti klimaks..

yeah right… saya sungguh tidak akan merasa klimaks.

acara berakhir. saya bersiap-siap hendak keluar dari backstage saat seorang Bapak-bapak menghampiri saya dan ManisMan,

punten, neng… ini saya bawa orang. saya kasian. tadi dia dikasi sesuatu sama Ryan, tapi direbut sama penonton lain. sekarang saya anter supaya dia bisa minta barang lain ke Ryan”
(*translate: Punten berarti Permisi…)

saya mengernyitkan dahi (ah.. penuaan semakin dekat..) dan melongok ke belakang Bapak-bapak ‘baik hati’ itu. dua orang ABG perempuan. yang satu wajahnya normal, satu lagi wajahnya merah padam sambil menangis. kontan saya panik.

waduh… trus sekarang gimana dong?”, sungguh tidak menawarkan solusi.

itu, teh… hiks hiks… saya .. hiks …direbut anduknya. anduk yang dilempar Ryan… Hiks… direbut sama penonton lain… hiks

trus.. mau apa?” sungguh makin tidak sensitif. tapi sumpah, saya bingung dia maunya apa. ManisMan pun tidak membantu. Beliau tampak bingung di sebelah saya.

“itu, teh… mau ketemu…hiks… Ryan aja”

“Heh! Ryan mah udah pulang dari tadi,” sergah saya. again… with the sensitivity. “begitu selesai manggung tadi langsung pulang”

(kaget) “Haah? masa sih, teh?!

ya iyalah! pintu backstage udah terbuka lebar dan elo bisa masuk! mana mungkin lo dibiarin bebas masuk kalau artisnya masih pada gentayangan di sini. tapi bukan itu yang keluar dari mulut saya,…

“iya tuh, duuh… maaf banget ya. trus sekarang gimana dong?”

setelah melewati bujukan-bujukan ngga penting yang lumayan bikin saya dan ManisMan mangkel, akhirnya keluarlah kalimat dari mulut sang ABG yang bikin saya makin kaget,

“kalau minuman bekas Ryan, ada ngga, teh? pasti ada kan, teh? aku mau minta botol minum bekas Ryan aja,” sambil mukanya tetap merah dan menangis.

“wah,..ngga ada. tapi saya punya foto Charly yang bagus. mau?”

ih. ogah,” katanya pendek dengan nada jijik.

saya dan ManisMan saling pandang.

oke, bentar ya”

entah kenapa saya masuk ke dalam tenda yang tadi dipakai artis untuk transit dan mencari-cari botol minum.

mana lu tau mana yang bekas si Ryan? lagian emang ada?”, ManisMan sewot melihat saya bertingkah aneh.

nek, daripada lama-lama kita mesti ngadepin ABG itu! udah! tuntaskan saja! lebih cepat lebih baik!,” entah kenapa quote dari salah satu calon presiden Indonesia selalu kebawa-bawa.

tega lu….” kata ManisMan.

dengan sigap saya meraih botol air mineral setengah isi yang ada di sebuah meja. entah punya siapa. tapi jelas itu botol minum dan jelas itu bekas minum. saya bukan tega. tapi saya harus mengambil keputusan cepat selayaknya manager yang baik untuk membuat sang gadis ABG lebih bahagia dan mengeluarkan saya dari situasi tersebut. karena saya yakin, beliau akan tetap ngotot sampai apa yang dia inginkan bisa didapat.

benar saja. teknik saya berhasil! sang ABG memandang saya dengan penuh rasa terima kasih. botol air mineral yang entah bekas dipakai siapa dipegang dengan penuh kasih sayang selayaknya botol minuman keramat.

baru saja saya dan ManisMan beringsut kabur, segerombolan ABG lain muncul dan menyerang tanpa ampun.

teteh! teteh! minta nomer handphone Ryan atuh!” teriak mereka bersahut-sahutan.

Heh! Mana gue punya!

bohong! biasanya kan orang-orang di backstage punya nomer telepon artis-artisnya!” seru mereka sok tahu.

ini yang perlu diluruskan. tidak semua orang yang berkeliaran di belakang panggung punya nomer telepon artis, atau memiliki hubungan dekat dengan artis. saya cuma panitia acara yang kebetulan sponsor utama sehingga punya akses bebas di belakang panggung, salaman, cipika cipiki, ketawa ketiwi palsu, foto bareng berbagai pose sampai nungging, joget-joget di pinggir panggung tanpa takut kegencettapi tidak pernah memiliki hubungan dekat dengan artis. apalagi sampai dibagi nomer handphonenya.

Helooo? emangnya lagi kopi darat sampai harus tuker-tukeran nomor handphone?

dan apakah mereka tidak pernah berpikir kalau di belakang panggung juga ada janitor dan cleaning service?

akhirnya saya berhasil kabur dari ABG-ABG yang jejeritan mencari Ryan si tukang jagal gairah yang sudah entah kemana di dalam mobil artisnya.

ternyata memang benar.

keringatmu bukan gairahku

lelaki di dalam sebuah band memiliki pesona dan daya tariknya sendiri. masalah akan tertarik atau tidak, itu masalah selera. sang ABG lebih suka tipe Ryan, sedangkan saya ilfeel, saya yang lebih tua tertarik pesona Charly dan sang ABG tampak ogah saat mendengar nama Charly saya sebut. tapi yang jelas, ada sesuatu di dalam diri musisi-musisi itu. terlepas dari apakah wajah itu akan ‘laku’ jika jalan-jalan di dunia nyata tanpa microphone dan gitar listrik, tapi saat mereka berada di atas panggung, bahkan keringatnya pun jadi incaran dan gairah para perempuan.

contohnya, sang handuk bekas lap keringat Ryan yang direbut dari tangan sang gadis, ditangisi sampai muka merah dan dikejar sampai dapat botol air mineral setengah minum -yang entah punya siapa- dan langsung dijaga seakan-akan harta karun berharga…

… oh keringatmu, memang bisa jadi gairahku…

*posting ini tidak berlaku untuk Rhoma Irama dan band-nya, Soneta Group. maaf, bang Oma…. tapi saya berkata jujur.