Pernikahan (bagian pertama…)

 

“gue kemarin liat di Path, Otong lagi ngejalanin taaruf”

“taaruf? where did i ever heard those word?”

“itu lho, de…kenalan atau silahturahmi untuk nyari jodoh”

“haaa…??

of course i’m surprise.

Otong adalah teman baru. anak baik yang walaupun sering bercerita mengenai masa lalunya yang pernah semenleven dengan pacarnya, adalah anak yang rajin beribadah dan terlihat sangat baik-baik. lalu, apa anehnya Otong melakukan taaruf?

di suatu sore saat saya pulang bersama teman dan Otong yang menyetir mobil, di dalam mobil hampir setiap berapa menit, Otong mengecek dan bermain dengan telepon selulernya. awalnya tidak ada yang aneh. tapi lama-lama, sinar hape yang lumayan terang di tengah sore yang gelap itu mengganggu saya yang duduk di belakang dan memancing untuk melirik layar hape yang dibuka Otong.

warna kuning dominan itu langsung saya kenali. aplikasi online dating untuk sesama jenis, yang mayoritas diisi pria. as guilty as I am, saya sampai berkali-kali melirik untuk memastikan apakah yang dibuka oleh Otong benar-benar Grindr. ya tentu saja benar! lalu apa yang aneh?

sejak pertama kenal dengan Otong, saya dan teman-teman sudah merasakan that quality on him. tapi karena itu urusan masing-masing pribadi, kita tidak pernah memusingkannya. apalagi Otong sering kali menceritakan mengenai beberapa masa lalunya dengan menyelipkan ‘sama cewek gue’, saya berpikir, mungkin gaya Otong saja yang agak feminin. tapi kejadian terbukanya Grindr dan melakukan taaruf can’t help but got me thinking…

why?

i don’t have much of gay friends, apalagi yang terbuka dan terang-terangan mengakui identitasnya. dan sekarang, Otong menjadi salah satunya. dan jika memang benar dia gay, lalu kenapa dia melakukan taaruf dengan perempuan?

“mungkin buat dia, ya sudahlah, ini adalah hal yang tepat untuk dijalani”

“tapi, dia kan ngga suka perempuan. dan apakah calonnya kira-kira tau orientasi dia sebenarnya?”

“mungkin dia pikir suatu saat dia bakal cinta sama istrinya”

will him??”

“yah… mungkin dia pikir, pernikahan adalah ibadah. so… ngga apalah walau tidak cinta. yang penting menjalankan ibadah. it’s not our business anyway”

itulah percakapan siang saya dengan si Cemong, teman saya yang super cuek dan tidak suka ngurusin urusan orang lain. kalau dia sudah ngomong begitu, artinya adalah stop jangan ghibah mulu, ngga ada untungnya. biasanya saya langsung diam tidak melanjutkan topik yang sama.

ibadah. tentu benar pernikahan adalah ibadah. sebuah argumen yang sulit terbantahkan. tapi bagaimana dengan perasaan? apakah dengan pernikahan taaruf ini Otong akan serta merta berubah haluan menjadi cinta lawan jenis? dan melupakan hasratnya terhadap sesama jenis? menurut saya tidak. walau banyak orang yang berpendapat suka sesama jenis adalah penyakit atau dosa atau karena pergaulan, saya tetap berpendapat ada sebagian orang yang lahir tanpa diminta telah membawa kecenderungan tersebut. bukan karena dia terbawa arus pergaulan, they just born with it. seperti saya pernah bahas sebelumnya.

bagaimana jika perasaan tersebut tidak akan pernah hilang? bukankah pernikahan yang seharusnya adalah ibadah itu akan berubah menjadi kebohongan seumur hidup karena Otong akan tetap diam-diam membuka aplikasi Grindr, bercakap-cakap dengan matchnya, dan membohongi sang gadis lugu yang dipanggilnya neng itu? apakah hal tersebut tetap dihitung ibadah?

“tapi de, suatu saat manusia tetap harus menikah. memiliki pasangan hidup. walau itu tidak selalu harus dengan orang yang dicintainya”

“Otong dari keluarga yang sangat beragama sepertinya. mungkin bagi dia tidak mungkin buat jujur pada keluarga dan embrace his life as total gay dan menikahi lelaki yang dia cintai”

apakah benar? apakah lebih baik menikah dengan orang bukan yang benar-benar kita cintai tapi diam-diam masih mencintai orang lain daripada hidup sendirian mencintai orang yang mungkin belum tentu dapat bersatu?

pernikahan, di zaman sekarang, walau tetap disebut sakral, banyak terlihat sebagai kontrak kehidupan. entah mengapa walau kita sudah masuk era kebebasan, masih saja ada orang-orang yang terpaksa memasuki pernikahan bukan karena cinta yang meluap-luap, melainkan hanya just to be settle, punya teman hidup yang akan saling mengurusi sampai maut memisahkan.

atau orang-orang yang terpaksa tinggal di dalam pernikahan tanpa gairah dan cinta yang kemudian akhirnya menemukan cinta di luar pernikahan namun belum tentu dapat langsung bersatu. salah satunya adalah Otong.

tapi apakah Otong salah?

otong memutuskan untuk tidak mendobrak norma-norma yang dianggap benar oleh masyarakat, mengorbankan perasaan hatinya dan menikah dengan orang yang akan dianggap ‘normal’ oleh masyarakat. tapi di satu sisi juga Otong berpotensi mencegah neng bertemu jodoh yang benar-benar mencintainya dan hidup bahagia tanpa takut pasangannya diam-diam buka aplikasi Grindr di malam hari.

tapi Otong kan tidak hidup sendiri, begitu argumen lain bersuara. Otong punya keluarga yang mungkin tidak akan siap menerima Otong memiliki kencenderungan suka sesama jenis dan sebenarnya tidak mau menikah dengan gadis macam neng. Otong tidak mungkin menyakiti keluarganya hanya untuk napsu pribadinya semata.

sebegitu kuatnya kedua argumen, akhirnya membuat saya berpendapat, lalu kenapa harus one way or the other? bagaimana kalau Otong tidak menikah saja?

ya menikah adalah ibadah. tapi apakah tetap dihitung ibadah kalau hati masih ada di tempat lain dan membuat Otong membohongi Neng? ya mengakui diri adalah gay akan sangat membebaskan diri Otong, tapi bagaimana dengan resiko menyakiti seluruh anggota keluarga yang mungkin tidak ikhlas Otong bersama sesama jenis?

siapalah saya tahu apa yang terbaik untuk hidup Otong. tapi mungkin jika Otong suatu saat bercerita ke saya sejujurnya mengenai orientasinya, saya akan mengatakan padanya bahwa terkadang kita berpikir tidak dapat melanjutkan hidup tanpa teman hidup. bahwa hidup ini akan sulit dijalani jika kita sendirian. maka akhirnya kita memutuskan to settle for what’s available agar hidup bisa kita jalani tanpa takut sendirian dan tidak ada yang mengurus sampai mati.

padahal saat dijalani nantinya, kita akan merasakan sesuatu yang hilang, yang berpotensi suatu saat celah tersebut akan diisi oleh orang lain -yang biasanya bukan pasangan yang kita pilih-. then, what good comes to that? another heartbreak. yang kali ini bukan hanya dari Otong, tapi berpotensi dari neng dan orang baru yang akan mengisi hati Otong.

ah… tapi siapalah saya ini menasihati Otong tentang pernikahan. i’m not perfect myself. seperti layaknya Otong dan manusia lain di muka bumi ini, saya pun takut hidup sendiri jadi tua bangka tanpa ada yang ngurusin dan mendampingi.

but still, i hope Otong comes to his better senses. semoga Otong menyadari bahwa hidupnya bisa jadi lebih baik tanpa harus bersama neng yang baru dikenalnya itu.

semoga.

to move on OR to (not) move on

it all began at internship. terjadi waktu saya masih berusia 24 tahun. waktu itu saya harus melalui masa kerja praktek di sekolah S2. entah kenapa, semua perusahaan yang saya inginkan tidak membuka peluang internship. akhirnya setelah menunggu lama, dipanggilah saya di salah satu perusahaan percetakan dan media massa terbesar di Indonesia. saya sempat menolak sampai beberapa kali karena saya waktu itu berpikir, buat apa kerja praktek di sana? jualan buku? apa untungnya? what’s the prestige in that?

setelah melalui beberapa kali pemaksaan dari sekretariat kampus dan ditambah belum menemukan kandidat tempat internship lainnya, akhirnya saya menyerah. mau-mau ngga-ngga, saya datang ke sana.

seolah nasib sial yang tidak pernah berakhir, sesampai di sana, saat melapor ke resepsionis untuk dikonfirm ke calon atasan bahwa saya sebagai kandidat internship sudah datang dan siap diwawancara, ehh… resepsionis bilang, “nama Ibu tidak ada di salah satu kandidat yg dipanggil untuk kerja praktek”.

tentu saja saya marah besar. perjalanan ke kantor tersebut sangat panjang dan macet. ditambah saya sebenarnya tidak ingin internship di sana, eh.. ini tau-tau ada update info bahwa saya sebenarnya tidak diinginkan atau dipanggil? it’s a total bullsh*t!! akhirnya setelah marah-marah menelepon sekretariat di kampus saya untuk konfirmasi, saya dipanggil ke atas.

di atas, saya di-brief oleh seorang laki-laki -yang disebabkan karena amarah membara, terlihat seperti oom-oom menyebalkan-. saya di-brief ini itu mengenai proses kerja, kapan harus masuk, peraturan, dll dll. i’m so angry by the previous embarassing moment that i know i would remember that f***ing old face!

sebenarnya saya masih kurang berniat untuk internship di sana. tapi nafsu saya untuk bisa lulus tepat 15 bulan dengan GPA yang menawan, membuat saya memutuskan untuk menekan ego dan berpikir, “ah biarlah… it’s just 2 months internship, how bad could it be...?”, pikir saya. what i didn’t know then, this internship will be the milestone for one of biggest disaster moment in my life.

masuklah saya pada hari yang sudah ditentukan. entah seberapa konvensional atau menyedihkannya perusahaan percetakan dan media no. 1 di Indonesia ini, saya di sana dianggap sebagai gadis idola di antara sekian banyak karyawan yang memang mayoritas laki-laki. they thought i was attractive, how lame is that!? memang karyawan perempuannya bisa dihitung jari sebelah tangan. but still... tidak pernahkah mereka melihat perempuan di luar lingkungan kantor?

hari-hari berlalu, sembari memusingkan laporan kerja praktek macam apa yang harus saya buat?! saya memperhatikan karyawan di sekitar saya. mereka memang tidak masuk kategori karyawan yang menarik secara penampilan fisik, dan usia mereka pun rata-rata sudah tua. hingga akhirnya jatuh pandangan saya ke seorang laki-laki duduk tidak jauh dari meja kerja saya.

dia adalah si oom-oom yang waktu itu mem-brief saya di hari kejadian memalukan itu terjadi, yang kebetulan adalah atasan saya di tempat internship tersebut. dari tempat itu dan di detik itu, dia sama sekali tidak terlihat seperti oom-oom. usianya ternyata baru 28 tahun. he’s laughing in front of his monitor while working… and weird part is.. at that time, i suddenly think that he’s attractive!

to sum it up, ternyata dia juga menganggap saya menarik dan sengaja berpura-pura tetap bersikap sebagai atasan yang baik, karena dia tahu itu akan membuat saya penasaran dan lebih agresif. what a dick, right? but somehow, at time, i’ve been blinded. dan masuklah saya dalam perangkapnya. hanya dengan sedikit kenaikan di level agresivitas saya, gayung bersambut.

mulailah dia mengajak saya makan sewaktu saya harus kerjakan tugas di kampus dan tidak datang ke kantor. saya ingat that 1st un-official date. ayam bakar Ganthari di jl. Sunda. truth be told, saya tidak suka ayam bakar. terlalu manis dan lembek. tapi seperti saya bilang, waktu itu saya sedang buta. malam dihabiskan dengan memuji-muji masakan dari restoran itu. which i actually didn’t like. but all i was thinking a that time is to appeared more attractive in front of him.

semakin banyak waktu yang saya habiskan dengan dia. waktu bekerja saya gunakan untuk sneaked up berdua, pura-pura ada urusan yang harus diselesaikan berdua dan menghabiskan waktu bersama. kabur berdua, mencuri-curi kencan. saya benar-benar seperti sedang diracun dan disihir saat itu oleh dia. saya memujanya mati-matian.

kesempurnaan adalah milik dia, bukan lagi milik Tuhan.

sampai suatu hari di waktu bekerja. karena kapasitas file, saya harus mengerjakan tugas di komputer miliknya, tanpa sengaja saya membuka file yang masuk di recent updates.

isinya… janji pernikahan.

bagaikan petir di siang bolong. akhirnya saya buka semua dokumen di komputernya dan saya temukanlah. rencana pernikahannya 3 bulan ke depan, foto-foto pre wedding, dan… kabur mata saya oleh air mata. hancur hati saya saat itu. saya merasa tertipu. dia sudah mau menikah. dan dia mempersiapkan sendiri pernikahannya? lalu apa yang dia lakukan dengan saya? kenapa? kenapa? kenapa?

tapi jangan salah terka, semua belum berakhir di situ. saya memang terluka. tapi perasaan saya saat itu terlalu besar menguasai otak saya. saya memutuskan untuk tidak mengkonfrontasi. saya masih ingin menguasainya. jadi saya tetap melanjutkan hubungan, seolah-olah saya tidak pernah membuka file bernama janji pernikahan itu.

hubungan kita semakin manis dan semakin jauh. sampai ke titik dimana saya sudah tidak bisa keluar dengan hati yang tetap utuh. begitu pintarnya dia mengambil hati saya, saya adalah orang yang diajaknya menghabiskan waktu pergantian umurnya ke 29 tahun secara eksklusif, alias tanpa kehadiran orang lain. hanya berdua. tidak hanya itu, sampai sempat saya dibawanya ke rumah kakaknya tempat dia menumpang tinggal waktu itu. ah perempuan. dipikirnya waktu itu adalah tanda bahwa ia istimewa. dan itulah yang saya telan. saya adalah perempuan istimewa di hatinya.

sampai suatu hari, entah kenapa, kata-kata akhirnya muntah dari mulut saya. saya menanyakan padanya tentang apa yang saya temukan waktu itu. saya melihat janji pernikahan itu. benarkah dia akan menikah?

dan dia menjawab dengan tenang, seolah-olah memang sudah diprediksi saya akan bertanya. dia memang akan menikah. dia bilang pasangannya adalah pacarnya sejak masa SMA. hubungan yang panjang dan diwarnai putus sambung. sampai suatu ketika, kakak-kakaknya bertanya kepada sang perempuan yang sudah lama selalu bersama keluarga itu, kapan kalian akan menikah? dijawabnya, terserah dia. lalu secara terpisah, kakak-kakaknya bertanya juga pada adiknya, kapan dia mau menikah? pacar saya menjawab, terserah dia.

akhirnya diputuskan oleh kakak-kakaknya kalau dia harus segera menikah dengan pacarnya dan dia menurut. dia bilang, itu bukan keinginan dia. dia dipaksa. bahwa itu adalah kawin paksa.

the hillarious thing is… saya percaya.

saya jadi ingat kata-kata papa. kalo sudah cinta, tai kuda pun rasa cokelat. as gross as it sounds, i must say that i agree.

dibutakan dengan cinta dan mimpi kalau kisah saya bisa seindah cerita dalam dongeng, saya waktu itu bertanya apakah dia cinta saya? dia jawab ya. dan apakah dia cinta calon istrinya? dia jawab dengan diplomatis, hubungannya dengan perempuan itu adalah level yang berbeda.

lalu dia mulai cerita tentang masa lalunya sebagai anak nakal tukang mabok. (dia menyebutnya mabok darat, laut dan udara. yang artinya : mabok laut = mabok minuman keras, mabok darat = mabok pil, semacam ecstacy dan teman-temannya, mabok udara = mabok ganja). dia bercerita bahwa dulu ia hampir saja mati karena kenakalannya itu. tapi si perempuanlah yang selalu ada dan yang menolong waktu dia sedang ada di era kegelapan.

dia juga bercerita bahwa perempuannya itu tetap ada dan setia menunggu biarpun dia sembari berpacaran dengan banyak perempuan lain. dia pernah bertanya, kenapa sih kamu masih mau menunggu dan maafin aku? dan si perempuan menjawab, that’s the power of love..

mau muntah ngga siiih….

tapi seperti saya bilang, saya sedang tersihir. saya malah tersentuh oleh cerita gombal itu. lalu dia pun bilang kalau dia terpaksa menuruti kakak-kakaknya karena ia berhutang budi pada kakak-kakaknya yang sudah membesarkan dia. kakak-kakaknya ada sembilan orang dan sudah jadi orang sukses semua. orang tuanya sudah sangat tua sehingga kakak-kakaknya lah yang membiayai hidup dan sekolah dia dari kecil sampai sekarang. secara garis besar, dia mengimplikasi bahwa itu adalah kawin paksa dan dia sebenarnya ingin bersama saya.

lalu, seperti cerita-cerita dalam film, saya mencoba taktik pengorbanan. saya bilang dengan heroik padanya, asalkan kamu bahagia, saya juga akan melepasmu dengan bahagia. taktik ini dimaksudkan membuat efek dia menjadi tersentuh, terbuka hatinya dan kabur atau menentang keluarganya demi memilih saya. (ah… i should stop to watch those crappy desperate love movies…)

dan demi kemaslahatan dan keselamatan seluruh saudara perempuan saya di luar sana, please stop watching those movies if it will makes you think that those kind of thing trully exist in real life!! stop before someone gets hurted. and that someone is YOU!

dengan segala kharismanya pun ia meminta saya menonton film Notebook dan secara tidak langsung membuat saya berpikir di alam bawah sadar bahwa film itu bisa jadi cerita hidup saya. cinta yang ditentang. cinta yang tidak mungkin, bisa melawan segalanya!

taktik sudah dijalankan, waktu berlalu. dia sepertinya adem-adem saja. dia tetap menjalankan hubungan mesra dengan saya, merayu, bilang sayang, tapi seolah-olah tidak terjadi apa-apa. seolah-olah pernikahan tidak pernah ada. yeah… you wish, ade!

suatu ketika, 2 minggu menjelang tanggal yang pernah saya lihat adalah tanggal ITU. tanggal pernikahannya dengan perempuan lain. di dalam mobil, dalam perjalanan kencan, dengan sok manja saya menanyakan bagaimana proses persiapan pernikahannya? sambil dalam hati berharap dia akan menjawab bahwa sudah dibatalkan dan ia akan memilih saya.

kenyataannya? dia menjawab santai, seolah itu hal biasa, kalau persiapan pernikahannya sudah oke dan beres semua.

i instantly freaked out!! taktik saya gagal! saya lalu histeris dan menangis. orang yang saya sayangi, puja-puja akan menikah dengan perempun lain!! dia kaget. dengan bodohnya dia bilang, “bukannya kamu bilang kamu akan melepas saya dan bahagia kalau saya bahagia?”

it was a very stupid story, to think about it right now, right? but BELIEVE ME…it ain’t over yet.. kebodohan saya belum berakhir di situ.

saat itu, saya ingat saya langsung memaksa dia untuk membatalkan pernikahannya. bilang pada kakak-kakaknya kalau dia mencintai orang lain. bahwa dia tidak mau dipaksa untuk menikah dengan orang yang tidak ia cintai. aneh bukan? semua orang tahu kalau hampir tidak mungkin pernikahan yang tinggal 2 minggu lagi bisa dibatalkan. tapi saya memang terlalu banyak menonton drama romantis sialan itu. semua mungkin terjadi! semua mungkin terjadi jika dilakukan karena cinta.

waktu itu sih kelihatannya dia setuju. katanya dia akan bicara dengan kakaknya untuk menunda atau membatalkan pernikahannya, karena dia sebenarnya tidak mencintai perempuan itu.

saat itu saya lega. saya pun menanti hasil dia berbicara ke kakaknya dan akhirnya mereka setuju dan menjadi keputusan bahagia untuk saya dan dia, sambil trus menonton DVD The Secret, membaca cerita-cerita inspirasinya, membuat afirmasi-afirmasi bahwa saya dan dia akan hidup bahagia selamanya, menulis nama saya dan dia di manapun di setiap kesempatan yang ada,dan melakukan hal-hal bodoh bin mistis lainnya. itulah yang dinamakan harapan. harapan palsu. saya hidup di dalam ilusi harapan bahwa saya dan dia memang diciptakan Tuhan untuk bersama walau harus melalui proses yang berat.

seminggu berlalu.

kami bertemu. saya menanyakan hasil pertemuan dengan kakaknya dengan harap-harap cemas. this is it. this is the moment of love.

ternyata, apa coba yang dia bilang?

kakak-kakaknya tidak setuju. kakak-kakaknya memarahi dia bahkan salah satunya sempat mendamprat dia. mereka mengharuskan pernikahan itu tetap terjadi. tidak ada penundaan ataupun pembatalan. sekali lagi, hati saya hancur. saya menangis sambil memohon-mohon padanya untuk tetap berusaha, toh dia tidak mencintai perempuan itu. dia tidak bergeming. dia bilang, dia tidak mau mengecewakan kakak-kakaknya. dia berhutang budi terlalu banyak dengan mereka.

to think about it today… i think it was all bullsh*t. kemungkinan besar. kejadian itu tidak pernah terjadi. tidak ada adu mulut, tamparan, bahkan kemungkinan besar dia tidak pernah bilang apa-apa ke kakak-kakaknya. dia hanya ingin memelihara saya dan perasaan saya.

dengan hati hancur, pernikahan itu tetap terjadi. pada hari menjelang dan saat pernikahan itu terjadi, saya masuk ke dalam fase stress berat. saya tidak bisa makan. apapun yang saya makan, saya muntahkan kembali. saya tidak merasakan lapar. hal tersebut terus berlangsung, sampai saya kehilangan berat badan sebanyak 11 kilogram.

(kadang kalau ingat, heran juga hal itu bisa terjadi. jika mungkin, pengen juga mengulang kejadian turun berat 11 kilogram. minus pacar kurang ajar tentu saja…)

selain depresi berat, saya pun trauma mendengar lagu Shania Twain – from this moment on. karena lagu itu adalah lagu yg diputar waktu dia dan istrinya pertama menginjak altar setelah resmi jadi suami istri. setelah kejadian itu, saya bisa histeris, menutup kuping erat-erat setiap saya sadar ada intro lagu si Shania Twain itu.

hari pernikahan berlalu, kebetulan pernikahan itu bersamaan dengan waktu internship berakhir dan masuk waktu saya harus mempersiapkan laporan kerja praktek untuk disidangkan di depan dosen. saya disibukkan dengan laporan kerja praktek dan berusaha melupakan tentang bulan madu yang dilewati dia dan istri barunya.

namun, penderitaan tidak selesai sampai di situ.

saya diberitahu oleh pihak kampus, bahwa salah satu penguji materi laporan saya nanti adalah atasan saya sewaktu di tempat internship. lemaslah saya. apa yang harus saya lakukan? apa yang akan terjadi nanti waktu saya bertemu dia? bagaimana perasaan saya?

pertanyaan terjawab saat waktu sidang itu tiba. dia datang dengan wajah yang segar, which i hate. dan dia tetap bersikap seperti sebelumnya. penuh senyum dan berkharisma. selama sidang laporan itu, sewaktu saya presentasi dan menjawab pertanyaan, dia tetap menatap saya seolah-olah saya adalah satu-satunya perempuan yang menarik hatinya. dan… just like that, saya masuk lagi ke dalam perangkapnya.

lame, i know…

setelah sidang itu, dia menghubungi saya. mengajak saya bertemu. mengatakan bahwa dia kangen sama saya dan bahwa saya terlihat sangat menarik dibandingkan sebelumnya. dia masih menginginkan saya! orang normal akan berpikiran : “what the hell?!!! aren’t you married, dude??!“. tapi saya saat itu tidak masuk kategori normal sama sekali. yang ada dalam pikiran saya adalah :

oh my God! ternyata dia masih mencintai saya! dia sangat mencintai saya walau sudah dipaksa menikah dengan perempuan itu!! how romantic!!

again, remember, girls… movies like Notebook? poisoned you.

akhirnya saya jatuh ke kegelapan lagi. saya menjalin hubungan dengan dia lagi. kali ini dalam situasi lebih parah. dia sudah menikah dan saya adalah simpanannya.

saya mulai menipu diri saya sendiri. setiap orang bertanya, saya selalu menjawab saya sudah punya pacar. saya mendeskripsikan dia ke semua orang di sekitar saya. semua. kecuali fakta bahwa dia sudah menikah. semua orang kagum, seakan saya punya pacar yang sempurna. saya menciptakan ilusi bahwa dia adalah seseorang yang bukan dia sebenarnya di dunia nyata.

anehnya saya pun selalu percaya kebohongan dia. suatu hari, dia menelepon dan bilang kalau dia sedang sakit. dia mengajak saya datang ke tempat tinggalnya, sebuah kost kontrakan kecil di belakang ITC Kuningan. dia bilang istrinya sudah berangkat kerja. dia ingin ditemani oleh saya.

datanglah saya ke sana, seolah-olah saya adalah malaikat yang dia inginkan menjaga dia. sampai tempat tinggalnya, saya mulai sedikit disadarkan. dia bukan laki-laki yang sendiri lagi. tempat tinggalnya kecil tapi sangat rapi, dengan foto pernikahan di atas tempat tidur.

dia mengundang saya ke tempat mereka tidur bersama harusnya saya anggap kurang ajar, tapi saya kembali menciptakan kebohongan untuk menenangkan hati saya sendiri. mereka masih tinggal di kontrakan kecil begini, pasti ini bukan pernikahan serius. pasti mereka sebentar lagi bercerai! dosa terbesar adalah pada saat kita berusaha membohongi diri sendiri. saya sempat cemburu melihat kamar kecil itu. dan melihat cemburu di mata saya, dia buru-buru bilang kalau dia tidak pernah tidur dengan istrinya. dia tidur di ruang sebelah yang kecil dengan kasur gulung. at time time, i can’t believe i even bought that load of crap! it’s clearly a lie, but i happily believed it!

tiba-tiba, ada yang datang dan membuka pintu rumah! istrinya ternyata pulang karena ingin memberikan bubur untuk sarapan suaminya yang dia kira sakit. what the hell?!  di luar dugaan saya, saya langsung dipaksa masuk ke kamar mandi di rumah kecil itu oleh dia, dengan niat untuk menyembunyikan saya agar tidak diketahui istrinya.

tapi ternyata istrinya tahu. saya diminta keluar. saya lalu keluar dan pergi dari situ dengan perasaan malu dan hancur. tapi anehnya, tiba-tiba perasaan itu berubah. perasaan itu berubah menjadi…. berharap dia akan bertengkar dengan istrinya, dan dia membela saya dan mengejar saya agar tidak pergi. perasaan senang bahwa akhirnya istrinya tahu ada saya. saya adalah orang yang dicinta suaminya, bukan dia. gara-gara? ya tadi itu… seperti film-film romantis picisan itu.

tapi ilusi memang tidak akan pernah jadi nyata.

tidak ada yang mengejar saya. bahkan dia tidak menelepon saya sampai saya menelepon dia untuk bertanya apa yang terjadi. dia bilang dia dan istinya bertengkar hebat. tapi akhirnya mereka baik-baik saja.

APAAA???

saya kembali terluka. tapi anehnya, luka itu tenyata sangat cepat sembuhnya, karena beberapa waktu setelah itu, dia mengajak saya bertemu seolah tidak pernah terjadi apa-apa, dan saya setuju. saya kembali jadi kekasihnya. saya kembali membohongi diri sendiri dan orang-orang di sekitar saya.

saya rela melakukan apapun untuk dia. termasuk merekomendasikan dia ke teman untuk bisa pindah dan masuk ke perusahaan minuman terbesar di Indonesia. saya rela begadang untuk membuatkan cv yang kredibel, membuat presentasi flash based yang menarik agar dia bisa memukau saat interview dan diterima bekerja di perusahaan tersebut.

ilusi yang saya ciptakan di pikiran saya adalah jika saya bisa berperan begitu besar dalam hidupnya, maka dia akan berhutang budi pada saya. dia akan sadar bahwa sayalah yang bisa membuat dia berhasil mendapatkan karir yang lebih baik dan sukses. dia akan sadar dan akhirnya memilih saya sebagai orang yang paling tepat untuk mendampinginya.

dan memang benar akhirnya dia memukau semua orang. dia berhasil dan karirnya semakin menanjak sejak itu. dengan kharismanya, dia menjadi anak kesayangan atasan. dia bisa melakukan hal-hal yang selama ini cuma bisa ia impikan. berkat saya, dia jadi seorang manajer hebat di perusahaan besar.

hubungan kami terus berlanjut. saya bercerita ke semua orang betapa hebatnya pacar saya. tentu saja dengan menghilangkan fakta bahwa dia sudah menikah. seolah-olah dia adalah eligible bachelor yang luar biasa. dan begitu pintarnya dia memperlakukan saya, saya merasa seolah-olah sayalah satu-satunya perempuan di hati dan dunianya. dia bahkan sempat beberapa kali datang ke rumah saya dan bertemu dengan orang tua saya, seolah-olah dia adalah lelaki bujangan dan kita menjalani hubungan yang normal.

tapi dia tidak pernah ingin terlihat bersama saya di tempat umum. kami selalu pergi kencan ke tempat-tempat jauh yang kecil kemungkinannya untuk bisa bertemu orang yg ia kenal. dan saat jalan berdua, dia tidak pernah menggandeng saya. dia selalu jalan lebih cepat di depan saya. dia hanya bersikap mesra jika kami hanya berdua tanpa kemungkinan kehadiran orang lain. karena saya adalah simpanannya. dia pun tidak pernah memberikan nomor handphone-nya. karena dia tidak mau saya menelepon di saat dia sedang berdua dengan istrinya, atau mengirim SMS mesra yang kemudian akan dibaca istrinya. dia selalu menelepon saya dengan nomor-nomor berbeda yang diganti setiap hari. dan saya diberi nama Made di phone book agar tidak dicurigai istrinya.

sampai akhirnya orangtua saya pun mulai mencium hubungan ini. entah darimana mereka tahu, tapi mereka mulai curiga dan melarang saya untuk bersama dia lagi.

but you know the old saying… tell a girl she can’t have something, aaand… she wants it even more! (from movie Suburban Girl)

saya semakin liar dan berontak. pertama saya sembunyi-sembunyi  tetap berhubungan dengan dia. lama-lama saya terang-terangan, bahkan tidak peduli walau orang tua melarang saya. saya merasa tertantang. ini adalah kisah cinta terlarang. kisah cinta telarang selalu sulit, tetapi pada akhirnya akan bersatu mengalahkan segalanya!

err…. begitu selalu kan yang ada di film-film…?

apalagi keromantisannya tidak berkurang. waktu itu, saya berulang tahun. dia menelepon dan meminta saya mendengarkan single lagu yang baru rilis pagi itu, Sempurna oleh Andra and the Backbone. dia bilang, lagu itu sangat menggambarkan diri saya dan lagu itu dia persembahkan untuk saya.

waktu itu lagu Sempurna benar-benar baru rilis dan saya belum pernah dengar. langsung saya bernapsu mencari-cari dan bertanya ke seluruh teman kantor, seperti apa lagunya? apa liriknya. belum ada yang tahu. karena memang baru rilis. setelah membabi buta mencari ke sana sini, teman saya ada yang sudah dapat dari oom-nya yang kerja di industri musik. dengan tidak sabar saya pasang headset saya, dan….

kau begitu sempurna
di mataku kau begitu indah
kau membuat diriku akan slalu memujamu

bait pertama yang saya dengar langsung membuat saya meneteskan airmata. he loves me that much! saya sangat teharu. dan saat ini, saat saya mengetik cerita ini, saya tidak bisa menahan tawa mengingat betapa lugu dan tololnya saya. saya termakan gombalan lagu seorang lelaki beristri. saya, lulusan S2 cum laude dengan GPA 3.75. geez, louise…!

saya pikir dia sangat mencintai saya, sampai suatu ketika, saya mengalami musibah. seorang teman kantor memfitnah saya. saya dipaksa mengundurkan diri karena sesuatu yang tidak saya lakukan. saya dipermalukan oleh orang-orang yang sudah saya dedikasikan sebagian kerja keras saya. saya berada dalam kondisi hancur. saya menghubungi dia, karena saya tahu dia pasti akan menghibur dan melindungi saya.

ternyata tidak! waktu saya kebingungan dan menelepon dia, dia malah mengatakan sesuatu yang bagai tusukan pisau setelah mendapat tamparan. dia meminta saya meninggalkan dia. alasannya, karena permintaan istrinya. menurut dia, istrinya mengendus kembali hubungan kita dan meminta agar diakhiri, dan dia minta saya merelakan dia.

one of worst days of my life! baru saja dipaksa mengundurkan diri, bukannya didukung dan dihibur… eh malah didepak sama orang yang saya sayang. dan walaupun saya terus menelepon dan menelepon dan memohon dan memohon, dia sepertinya tidak bergeming. katanya waktu itu… lupakan saja dia, saya akan jauh lebih bahagia tanpa dia.

saya menghabiskan waktu untuk menangis dan menangis. bertanya kepada Tuhan kenapa saya diberi kejadian semacam ini. drama queen. it didn’t occured to me at that time, that it was one of God’s awful sense of humor.

saya tidak dipersiapkan untuk menghadapi ini. selama 3 bulan saya bangkrut, tidak tahu harus apa, melamar kerja dimana dan berpikir beberapa kali untuk menghabisi hidup. untungnya saya pengecut. jadi hal itu tidak pernah terlaksana. saya tidak pernah berani bunuh diri. saya masih ada di sini.

dengan sisa harapan dan semangat saya melamar kerja lagi dan akhirnya diterima di perusahaan tempat saya bekerja saat ini. walaupun sudah memulai babak baru dalam hidup, saya masih tidak bisa melupakan dia. apalagi ternyata… di kantor baru saya, salah satu karyawannya adalah mantan teman sekerjanya. dan ada pula karyawan lainnya… adalah kakak kandungnya!! what a nightmare, right?

setiap hari saya harus melihat kakak laki-lakinya di kantor dan melihat bayang-bayang dia di sana. menyiksa! saya harus menghindar sebisa mungkin karena gerak-gerik saya pasti akan mencurigakan. semakin saya sulit untuk melupakannya. setiap malam saya menangis sebelum tidur. bertanya pada ruang kosong, saya harus apa? bagaimana caranya melupakannya? bagaimana cara melanjutkan hidup kalau saya ternyata tidak bisa mencintai orang lain? pokoknya, hidup saya sangat menyedihkan.

sangat sulit pula berkonsentrasi kerja di kantor. karena setiap melihat kakaknya, yang saya lihat adalah dia. saya berkali-kali berdoa, semoga kakaknya pindah ke perusahaan lain. segera! hingga pada suatu ketika, doa saya terkabul. kakaknya mengundurkan diri dari kantor karena mendapat pekerjaan lain. betapa bahagianya saya! satu pengganggu hilang sudah! tapi…ternyata tidak semudah itu. saya masih tetap tidak bisa melupakan dia. saya masih tetap menangis setiap malam karena selalu ingat dia. lagu cinta yang cuma mirip sedikit dengan cerita kami, langsung bikin saya menangis, film romantis bikin mata saya sembab ngga karuan, dan ada hobi baru yang lebih menyedihkan… saya menuliskan nama saya dan dia, dan keinginan-keinginan saya akan hubungan kita di kertas, saya simpan di dasar laci meja kantor, untuk selanjutnya dibaca setiap hari dan berharap suatu saat akan terjadi.

aah… memalukan sekali untuk menceritakan ulang hal ini. tapi, semua harus dibuka. agar tidak ada lagi koban berjatuhan seperti saya.

6 bulan berlalu semenjak saya didepak. saya mulai lebih sedikit memikirkan dan menangisi dia walau belum bisa sepenuhnya lupa. hingga suatu ketika. saya sedang menonton acara tv yang disponsori oleh produk yang menjadi tanggung jawab saya di kantor. tiba-tiba ada nomor telepon tak dikenal masuk. tanpa firasat apapun, saya terima.

 suara yang sangat saya rindukan terdengar di sana!

harusnya saya tutup telepon saat itu juga. harusnya saya maki-maki dia. harusnya saya menjalankan mesin rasionalisasi saya sebelum jatuh ke kegoblokan yang sama lagi. tapi tidak. dengan bahagia dan berbunga-bunga, saya menyambut kembalinya sang pangeran tercinta. seketika saya lupa dengan semua sakit hati yang sudah ia sebabkan. mata saya buta kembali.

dengan gayanya yang menawan, dia menanyakan kabar saya. dia bilang dia ingat saya waktu melihat produk saya tampil di tv. seketika saya bereaksi, dia tahu apa pekerjaan saya sekarang! dia pasti masih terus mengamati saya! dia masih belum bisa melupakan saya! dia masih mencintai saya! kembali suara-suara harapan dan ilusi palsu itu membuat kesimpulan atas asumsi yang ada.

dia juga bercerita bagaimana suksesnya dia sekarang. dia sangat mencintai pekerjaannya. pekerjaan yang dia dapat akibat pertolongan saya dan membuat dia akan selalu berterima kasih dan menganggap saya adalah bagian penting dalam hidupnya, begitu pikir saya. dia bilang dia merindukan saya dan banyak sekali yang ingin dia bicarakan dengan saya sehingga dia mengajak saya untuk menemuinya.

tanpa berpikir panjang, saya setuju. saya bersedia melakukan apa saja untuknya! saya tidak peduli dia sudah memiliki istri! toh cinta sejati pasti akan berakhir bahagia. siapa tau suatu saat dia memutuskan meninggalkan istrinya. atau istrinya yang meninggalkan dia. atau… atau… atau… dengan serakah, saya langsung membuat asumsi-asumsi untuk memvalidasi keputusan saya ini. ini bukti cinta sejati! setelah 6 bulan dia menghubungi saya lagi! sama seperti di film-film yang saya tonton selama ini. fairy tales do come true!

saya kembali menjalin hubungan terlarang itu. saya dibawa ke rumahnya yang baru. sekarang dia sudah tidak tinggal di kost kontrakan butut lagi. dia sudah membeli rumah yang cukup besar di pemukiman dekat kantornya. rumah yang bersih dan sangat minimalis. dan walaupun di tangga saya melihat foto-foto mereka berdua dalam berbagai event bahagia dipajang, saya tetap percaya (atau lebih tepatnya, membohongi diri sendiri!) waktu dia bilang, dia tidak pernah tidur berdua dengan istrinya. dia tidur di ruang di luar kamar tidur dengan sofa bed menghadap televisi.

waktu itu saya mempercayainya karena dia juga bercerita mengenai pekerjaannya yang sekarang banyak berhubungan dengan dunia malam. dia sering pulang larut malam sehingga dia jarang bertemu istrinya. lagi-lagi saya bersorak dalam hati, dia memang mencintai saya! dia tidak betah bersama istrinya! dia malahan mencari saya lagi!. padahal, jelas-jelas saya lihat di foto-foto itu betapa bahagianya mereka. entah apa yang ada di otak saya waktu itu.

saya masih ingat betapa saya rela mengumpulkan uang dari gaji saya yang tidak seberapa untuk membelikan hadiah mahal saat dia ulang tahun. saya selalu menunggu saat itu dan berharap dia akan terkesima dan teringat oleh hadiah-hadiah itu. uang yang saya keluarkan bisa sampai jutaan rupiah!

saya tidak peduli. apalagi sekarang dia sudah kembali ke tangan saya. bukti kalau dia tidak bisa hidup tanpa saya. kami kembali berjalan bersama. seperti biasa, tingkah lakunya tidak berubah karena memang saya adalah kekasih rahasia. di tempat umum, dia selalu jalan di depan saya, menolak saya gandeng, dan seperti dua orang yang tidak saling kenal.

 mengingat dia masih tetap bersama istrinya, dia cukup egois dengan melarang saya untuk dekat dengan laki-laki lain. kalau dia menangkap saya dekat atau didekati lelaki lain, dia bisa marah besar. dan dia bisa menghabiskan waktu lama untuk memaafkan saya. padahal belum tentu benar saya dekat dengan laki-laki itu. saya pun tidak boleh memakai pakaian seksi atau yang bisa menarik perhatian laki-laki. dia ingin saya jadi milik dia seutuhnya. waktu itu, saya merasa sangat tersanjung. padahal… bagaimana dengan dia sendiri? saya tidak boleh protes kalau dia sudah dimiliki oleh istrinya!

selama beberapa bulan kita bersama, saya merasakan ada yang agak aneh. beberapa kali dia terlihat agak menghindar dan menjaga jarak. tapi karena saya sangat takut kehilangan dia, saya tidak protes dan berusaha selalu berhati-hati menjaga perasaannya. termasuk ketika saya mendengar beberapa cerita yang menguak bahwa dia juga dekat dengan beberapa perempuan lain.

seorang teman saya yang baru sekali bertemu dia, tidak sengaja satu lift dengan dia di sebuah mal. dia bersama perempuan lain. mereka tampak mesra sampai akhirnya dia sadar dia seperti mengenali teman saya. dia langsung buru-buru keluar lift dan tidak menunjukkan sikap mesra lagi dengan perempuan tadi.

kedua, teman dekat saya yang lain mendengar cerita koleganya kalau ada temannya, seorang manajer brand minuman yang sukses karena bisa memiliki pacar seorang perempuan yang juga bos club malam bermobil audi TT coupe. manajer itu adalah dia! and clearly, it wasn’t me with the coupe!

i think somewhere i realized that i actually being bullsh*ted. tapi kenyataannya saya masih belum bisa dan belum rela menerima kenyataan kalau dia hanya memanfaatkan saya dan tidak pernah sekalipun benar-benar menyayangi saya.

benar saja. suatu hari. out of nowhere, datang sebuah email. email berisi kalimat perpisahan singkat yang menyatakan dia sudah tidak bisa bersama saya lagi. dengan alasan dia menemukan fakta bahwa saya pernah dekat dengan seorang laki-laki lain pada saat masih berhubungan dengan dia. what a lame excuse to breaking up! saya terkejut dan terluka lagi. saya tidak rela ditinggalkan lagi begitu saja, tanpa kesempatan membela diri.

saya tidak bisa menelepon dia karena dia tidak memberikan nomor teleponnya, seperti dulu. saya tidak bisa BBM, karena dia tidak pernah memberikan nomornya pada saya. saya hanya bisa email. saya email berkali-kali meminta penjelasan. saya email berkali-kali meminta kembali. saya memohon dan memohon tapi…. tak ada balasan.

begitu desperate-nya saya ditinggal untuk yang kedua kali, saya mulai berhalusinasi lagi. saya tetap menyebarkan cerita ke teman-teman bahwa pacar saya adalah dia. saya pasang fotonya di handphone saya, saya pasang di wallpaper komputer kantor saya, saya pasang foto masa kecilnya di meja rumah saya. saya resmi terobsesi. kedua kalinya.

setiap hari saya mengirimkan email untuk dia seakan-akan tidak terjadi apa-apa. saya mengucapkan selamat pagi, mengucapkan selamat siang, jangan lupa makan, dll dll. it was no doubt a desperate act cries for help. saya berharap dengan terus memperhatikannya tanpa mengharapkan balasan, dia akan tersentuh, tergugah dan kembali ke saya. tanpa balasan? we know there’s no such thing! setiap perasaan pasti mengharapkan balasan. dan di dalam hati saya waktu itu, saya tahu, saya mengharapkan dia membalas dan masih memiliki perasaan yang sama.

akhirnya saya sedikit demi sedikit mulai mengurangi email ke dia. saya masih sering menangis memikirkan dia di malam hari. memikirkan apa yang akan terjadi pada saya kalau saya tidak pernah akan bisa melupakannya? orang tua saya tidak tahu saya sudah ditinggal lagi oleh dia. yang mereka tahu, saya masih berhubungan dengan dia. mereka kehilangan akal karena saya sangat tertutup dan selalu menghindar. sampai suatu ketika mama saya datang ke kamar saya dan mengatakan hal yang mengejutkan,

“kalau memang dia serius sama kamu dan kamu mau terima dia, papa bilang suruh dia datang kemari untuk meminta kamu baik-baik jadi istri kedua. kalau itu memang yang kamu mau”.

saya tidak pernah menyangka orang tua saya akan berkata seperti itu. dan itu serius. saya hanya diam saja. tidak bereaksi. karena memang saya tidak tahu dia masih memiliki perasaan yang sama atau tidak. saya bahkan tidak tahu dia ada dimana.

hari berganti hari. begitu pula dengan bulan. sampai suatu ketika, kira-kira setahun kemudian, dia datang lagi. ya, dia menghubungi saya untuk mengajak bertemu dan makan siang bersama. saya terkejut walau sedikit bisa memprediksi. karena tetap masih ada perasaan dan harapan, saya mengiyakannya. kami bertemu lagi untuk makan bersama.

tapi kali ini ternyata berbeda. saya lebih hati-hati dan menjaga jarak karena saya tidak mau terlihat terlalu berharap padanya. dia pun telihat tidak sehangat dulu. hal ini membuat saya berpikir, lalu untuk apa dia mengajak saya bertemu? untuk apa dia kembali lagi?

suatu hari saat sedang pergi bersamanya, saya bertanya,

“bagaimana penikahanmu?”
“yah.. begitulah. seperti biasa.” dia menjawab acuh tak acuh.
“maksudnya?” saya bertanya karena tidak mengerti maksudnya apa.
“ngga apa-apa. hanya saja saya sering membayangkan. kalau saja saat ini, saat saya sedang sukses, ada di puncak karir dan punya banyak uang saya belum menikah, bayangkan betapa fun-nya hidup saya!” jawabnya.

jawabannya membuat saya kaget. ternyata inilah dia. jawaban itu menggambarkan keinginan dia. jawaban itu menggambarkan posisi istrinya. jawaban itu menjelaskan rumor yang saya dapat mengenai banyak perempuan di hidupnya.

kita tidak bertemu sesering dulu. tapi dia masih menyempatkan mengirimkan SMS untuk menanyakan kabar saya atau saya sedang apa. sampai tiba suatu hari datang sebuah SMS. isinya menyuruh saya untuk tidak lagi menghubungi dia, tidak mengganggu dia, karena dia sudah memiliki pacar yang lain. ah… ternyata dikirim oleh seorang perempuan yang juga kekasihnya. entah siapa.

beberapa menit kemudian, dia menelepon. dia minta maaf. dia mengatakan bahwa perempuan tadi yang mengirimkan SMS adalah kekasihnya. dia juga minta maaf karena sudah banyak menyakiti saya dan pamit ke suatu tempat yang jauh karena ada suatu masalah. dan dia berpesan jangan mencari dia.

as usual, saya menangis. tapi kali ini tangis yang berbeda. tangis kelelahan. dalam hati saya bingung, siapa yang mencari dia? siapa yang memulai setiap hubungan? apa sebenarnya yang dia inginkan dari saya?

dan tanpa disangka, itu adalah airmata terakhir saya untuk dia. setelah itu, saya seperti tidak merasakan apa-apa lagi untuk dia. dia pergi, ok, that’s good for him. semoga dia bahagia dengan siapapun itu. dan kali ini, tanpa ada taktik di belakang ucapan saya dalam hati. saya benar-benar merelakan dia.

aneh memang. tapi setelah selama 5 tahun saya berada di dalam emotional hell, jauh dari keluarga saya, berbohong kepada semua orang di sekitar saya dan yang paling parah, berbohong pada diri saya sendiri, saya bisa melewati fase itu begitu saja.

ah well, tentu saja tidak ‘begitu saja’. 5 tahun bukan waktu yang singkat!

sering saya menyesali 5 tahun yang berlalu dengan sia-sia itu. kenapa saya harus bertemu dengan dia, kenapa saya sangat terbutakan sampai tidak bisa melihat bahwa saya dipemainkan, kenapa saya harus memusuhi orang tua saya hanya untuk seseorang yang tidak peduli dengan saya, kenapa saya rela melakukan apapun, menghabiskan berapapun untuk bisa menyenangkan hatinya dan tidak pernah terjadi sebaliknya? yang dia berikan hanyalah tas butut yang bahkan tak pantas dipakai perempuan yang mengaku perempuan. dan anehnya, saya dengan bangga memakainya setahun penuh!

terus terang saya tidak mendapatkan jawabannya. tapi saya menciptakan jawaban sendiri. mungkin saya memang harus melewati semua itu agar saya bisa menilai sendiri apa yang harus saya lakukan. mungkin memang harus seperti itu agar saya mendapatkan pelajaran dan pengalaman.

jika suatu saat ada orang yang Anda kenal atau teman Anda yang mengalami hal yang sama (untuk jaman sekarang ini, yakin… kemungkinannya sangat besar), bersabarlah. tahan diri untuk menasehatinya. percayalah, mereka tidak akan pernah mendengarkan Anda jika Anda sendiri belum pernah mengalami hal yang sama. ngotot menasehati mereka hanya akan semakin menjauhkan mereka dari Anda. dengarkan mereka dan selalu siap di samping mereka jika mereka membutuhkan Anda.

jika suatu saat Anda mengalami hal yang sama, akan sulit untuk melihat kebenaran. Anda akan terus membohongi diri sendiri untuk melegitimasi hubungan itu. harapan saya jika memang Anda juga mengalaminya adalah semoga Anda mendapat jawaban terbaik sebelum terlambat dan semoga di akhirnya Anda tidak menyesalinya. apapun yang Anda alami, selalu ada maksudnya dan ada yang bisa dipelajari.

pada kenyataannya, walau ada konsep jodoh atau soulmate atau apapun itu, kita tidak akan pernah tahu keberadaannya. jadi jangan buru-buru men-stempel seseorang yang spesial dengan ikrar soulmate.

just because he/she likes the same bizzaro crap like you do, doesn’t makes him/her your soulmate. (from movie 500 Days of Summer).

Saat ditinggalkannya, Anda mungkin akan merasakan semua runtuh, Tuhan tidak adil, Anda adalah orang tersial di dunia, tidak ada gunanya lagi Anda hidup di dunia dan Anda merasa Anda tidak akan bisa hidup tanpa dia, takkan bisa mencintai atau menyayangi orang lain seperti dia. percayalah…

that’s pure crap!

nikmati rasa sakit Anda saat itu terjadi. jangan pernah berusaha memaksakan untuk melupakan, jangan pula membuang barang-barang yang mengingatkan Anda padanya, atau menghindari lagu-lagu yang penuh kenangan. biarkan semua tetap ada di sekitar Anda. saya tidak bisa memastikan berapa lama, tapi lama kelamaan semua perasaan sakit dan ingatan terhadap dia akan hilang.

dan jika Anda beruntung seperti saya, setelah 5 tahun penuh tangis dan sakit hati, rasa itu akan pergi hilang begitu saja. tanpa bekas. apa tandanya? sudah tidak ada amarah tersisa, walau Anda paksakan mengingat yang sedih-sedih, airmata tidak bisa keluar, tidak ada keinginan dendam, dan juga tidak ada masalah jika Anda harus bertemu dia lagi. selamat, Tuhan baru saja memberitahu orang itu bukan soulmate atau jodoh Anda (jika memang benar konsep itu ada dan bukan ciptaan Hallmark belaka).

ngomong-ngomong, setelah lama menghilang, dia menghubungi saya lagi. asumsi saya yang keGe-eRan, dia masih ingin melihat peluang untuk memanfaatkan saya. apakah saya masih bisa kembali ke pelukannya. saya menanggapinya dengan sopan dan saya rasa dia tahu, sudah tidak ada antusiasme di dalam respon saya. mungkin dia menyesal, mungkin juga tidak.

well, i’m glad it was all over. just wait for the karma to come.  hehehe…. actually i hope it will never come. i hope the universe is kind enough to forgive me for what i did to the poor wife.

sorry for the long ramblings. you might think some facts were unimportant to revealed, but believe me, if i go on detail, it would be a very thick and boring book!

this is just an excerpt!

keras BELUM TENTU bikin puas

saya tidak pernah merasakan menjadi Rihanna, tapi at least saya pernah merasakan rasanya jadi sahabat Rihanna.

eits… jangan buru-buru cek majalah gossip luar negeri terbaru buat lihat apakah tampang saya ada di dalam salah satu majalah, berdiri di samping Rihanna…

terus terang menceritakan hal ini bukan hal yang mudah. tetapi saya rasa, akan ada beberapa orang yang bisa mendapat kegunaan dari membaca cerita ini. apapun itu.

ManisMan, sahabat saya, bercerita kepada saya kalau selain baru-baru ini Evandut, kekasihnya mulai berubah sikap, beliau juga mulai (lagi) melakukan kekerasan emosional dan fisik kepada ManisMan.

apa saja bentukan kekerasan emosional dan fisik yang dialami ManisMan? mari kita mulai dari kekerasan jenis emosional.

Evandut (tanpa berusaha bersikap rasis…) adalah keturunan Ambon. tentu saja tidak bermaksud mendeskriditkan orang Ambon pada umumnya yang terkenal kasar dan keras. karena lihat saja, penyanyi soul -yang baru-baru ini- bercerai dengan istrinya, dengan karakteristik lagu-lagunya yang halus dan lembut sudah pasti menggambarkan kalau stereotipe orang Ambon kasar adalah salah.

tapi Evandut sayangnya masih masuk kategori Ambon feodal. setiap kali bertengkar atau marah ke ManisMan, Evandut kadang-kadang tidak bisa mengontrol emosi. kata-kata penghinaan kepada ManisMan sering kali keluar pada saat beliau marah. dan kata-katanya (tanpa perlu disebutkan di sini…) masuk kategori kasar, dan perlu masuk Badan Sensor.

saya bukan kategori konvensional, oleh sebab itu, kata-kata kotor yang masuk kategori kebun binatang atau segala varian kotoran masih bisa saya tolerir kalau memang orang tersebut sedang marah besar. tapi… yang dialami ManisMan adalah penghinaan yang berkaitan dengan kondisi fisik.

kedua, adalah kekerasan secara fisik. awalnya ManisMan tidak pernah cerita ke saya mengenai hal ini. bisa jadi karena malu, atau terlalu males untuk menceritakan kepada orang lain. tapi akhirnya beliau cerita ke saya, kalau pada saat bertengkar, Evandut terkadang melakukan kekerasan fisik ke ManisMan.

contoh yang terjadi adalah : membenturkan kepala ManisMan ke tembok berulang kali … sampai kepada… melempar ManisMan dengan barang-barang yang seharusnya ada di tempatnya dan bukan untuk dilempar.

jika saya feminis sejati, saya pasti akan langsung angkat senjata, menuju KomNasHam perempuan dan melaporkan perlakuan Evandut, sementara di lain pihak menyusun plot tindakan balas dendam untuk menghajar Evandut atau memberi pelajaran dalam bentuk apa pun, termasuk pasang bom, sewa hitman, dan hal-hal sejenisnya.

tapi saya BUKAN feminis.

i’m a sucker for love.

jadi pada saat saya mendengar ‘Rihanna versi Indonesia’ bercerita di depan saya, hati saya terbelah menjadi dua.

saya tahu jika seseorang bercerita, terkadang mereka hanya ingin bercerita. mereka bukan ingin minta saran (karena kalau mau minta saran akan dateng ke psikiater atau nulis surat pembaca ke majalah-majalah wanita). mereka bukan ingin minta bantuan (karena kalau ingin minta bantuan, pasti datengnya ke KomNasHam atau lapor polisi seperti Manohara). mereka kadang juga bukan ingin minta petunjuk jalan yang benar (karena kalau ingin minta petunjuk jalan yang benar, tinggal berdoa saja sama Tuhan atau yang ekstrim, minta petunjuk dukun).

Beliau hanya ingin didengar. dan didukung secara moril.

jadi, walaupun sedih dan ingin marah karena terluka, yang keluar dari mulut saya bukan kalimat-kalimat template seperti,

lu gila kali yaa! tinggalin aja orang begituan!”

edan setan alas! cari aja cowok laen! masih banyak kale yang mau ama lo!”

sialan tuh laki-laki! gue gamparin baru tau rasa!”

atau hal-hal sejenis. walaupun saya sebenarnya ingin.

pada saat kita jatuh cinta, kita tetap memiliki otak rasional. hanya saja otak rasional tertutup oleh emosional. dan memang begitu yang seharusnya. jika rasional kita lebih berperan pada saat kita jatuh cinta, bisa dipastikan kita sebenarnya tidak jatuh cinta beneran.

sebagai penggemar Sex and The City, di film-nya Carrie pernah berkata kepada Miranda, kalau Miranda sebagai seorang lawyer bisa berargumen dalam dua sudut pandang masalah (PRO dan KONTRA), tapi tetap saja, jika berkaitan dengan cinta, sisi emosional-lah yang memutuskan. you could argue both sides of the case, but still, when it comes to love, the decision purely emotional, NOT rational.

dan seperti tulisan saya sebelumnya, seseorang tidak berhak memberi saran kepada orang lain kecuali orang pertama pernah atau sedang mengalami hal yang sama. begitu pula dengan saya, saya tidak berhak memberi saran selama saya tidak berada di dalam ‘sepatu yang sama’. dipukuli sekaligus dihina orang yang saya cintai.

selain itu, hidup adalah pilihan. apapun yang jadi pilihan seseorang adalah mutlak hak dia. salah atau benar itu adalah kata hatinya. jika keputusan yang kita ambil benar, berarti kita ketiban jackpot kehidupan, jika salah berarti itu adalah bahan pembelajaran atau ada maksud tersembunyi di dalamnya.

tapi, pada saat sudah memilih sesuatu, seseorang harus komit pada pilihannya. menjalani dengan sepenuh hati segala kesenangan dan resikonya. dan ZERO COMPLAINT.

say NO to domestic violence

mencintai dalam versi saya adalah memberi. memberi dengan tidak menuntut kembalian -dalam bentuk apapun, termasuk uang receh. but then again, manusia bukan malaikat atau Tuhan. yang bisa memberi tanpa rasa pamrih atau keinginan untuk sebuah balasan atau timbal balik. manusia adalah manusia. dengan segala keterbatasan tanggungan perasaannya. termasuk keinginan untuk mendapatkan balasan atas cinta yang sudah diberikan.

pada dasarnya kita tidak bisa merubah orang lain, meminta orang tersebut menyesuaikan diri dengan kita. yang bisa kita lakukan adalah merubah diri kita sendiri. menyesuaikan diri kita dengan orang lain. kita tidak bisa merubah kekasih kita yang punya kebiasaan selingkuh, berbohong, memukul, dsb. tapi jika kita benar-benar cinta, kita-lah yang menyesuaikan diri. sambil berdoa, suatu saat dia akan berubah. jika pun tidak, kita tetap akan di sisinya, karena kita cinta. tanpa tuntutan.

maka yang saya lakukan saat berhadapan dengan ‘Rihanna Indonesia’ adalah…

berkata padanya bahwa apapun yang jadi pilihannya, terus atau berhenti, saya dukung keputusannya 100%. saya ada di belakang dia, tetap sebagai temannya saat dia butuh saya ataupun tidak. tapi saya memberi catatan-catatan tambahan khusus padanya.

pada saat memutuskan lanjut atau terus mencintai sang kekasih, kita harus berpedoman bahwa yang namanya cinta, harus membuat kita sendiri merasa bahagia, dan tanpa beban, tanpa keluhan. jika kita sudah mulai menuntut dan merasa berat jika tidak dapat balasan yang sama, artinya sudah bukan cinta, keputusan yang lebih baik bisa jadi adalah tinggalkan dan lupakan.

kalau mau teruskan… sok wae, silakan, my pleasure… tapi lakukan dengan hati yang penuh cinta, seperti tujuan sebelumnya, juga jangan lupa menanggung bonus sesuai paket, resiko-resiko dari pilihan kita.

seorang teman (sebut saja Melou – bukan nama sebenarnya) pernah cerita kalau dia mencintai istri orang lain. dan sang istri yang di’kawin’ paksa dengan suaminya sekarang juga sebenarnya sangat mencintai Melou. awalnya Melou terus menuntut sang istri untuk cerai dengan suaminya. tapi hubungan jadi tidak bahagia. tuntutan-tuntutan hanya mengarah kepada frustasi dan kecenderungan saling menyakiti.

which is OF COURSE… not categorized as love.

akhirnya Melou tersadar. dengan situasi itu dia punya dua pilihan : terus atau berhenti. setelah mencoba membuka diri kepada the other hottie in town dan tidak berhasil, akhirnya Melou sadar… dia hanya cinta kepada sang perempuan. dia cuma bahagia jika mencintai perempuan itu, yang sudah jadi milik orang lain.

akhirnya dia memutuskan, tetap mencintai sang perempuan. karena itu membuatnya bahagia. because his love is a food for his soul. dan cinta itu tanpa tuntutan. hanya memberi. jika memang suatu saat sang perempuan memutuskan bercerai dan meninggalkan suaminya, maka itu adalah salah satu jackpot kehidupan. tapi jika akhirnya Melou bertemu dengan jodoh lain dan bukan perempuan itu, at least dia tidak pernah menyesal karena melewatkan kesempatan mencintai orang yang dia puja seumur hidupnya. dan tetap… siapkan kesadaran penuh menerima segala resiko-resiko yang ada.

get it?

hal sejenis itu yang saya ucapkan ke ManisMan.

tapi diam-diam saya tetap menyiapkan bom untuk jaga-jaga. atas nama cinta saya untuk ManisMan, sahabat saya…

i love you, my girl. and cheers for love…

*buat para feminis yang kebetulan mampir dan baca, atau para ibu-ibu dan/atau bapak-bapak KomNasham yang terhormat, mohon maaf yang sebesar-besarnya.

tricky 30s : perawan tua atau janda muda

melanjutkan tulisan saya sebelumnya adalah posting ini. bagaimana sebuah umur bisa menjadi ambigu (makna ganda) setelah mengalami penambahan status sosial, perawan tua dan janda muda.

saya melakukan survei kepada dua kategori manusia, lelaki dan perempuan, keduanya dibagi lagi menjadi dua kategori yang lebih dalam : menikah dan sudah atau pernah menikah. sangat menarik pada saat mendengar jawaban yang muncul bervariasi namun tampak serupa di dalam kelompok jenis responden yang sama.

dengan umur yang sama -yakni 30 tahun-, wajah yang sama cantik, karir yang sama sukses, bodi yang sama aduhai, perilaku yang sama sempurnanya, mana yang lebih dipilih : perawan tua atau janda muda?

janda... atau perawan saja ?

lelaki yang belum menikah hampir seluruhnya lebih memilih janda muda. sedangkan kawanan lelaki yang sudah menikah hampir semuanya lebih memilih perawan tua.

menarik.

saya memutuskan melakukan diskusi dengan dua kelompok tersebut. apakah yang menjadi sebab musabab ada kecenderungan tertentu bagi sebuah kelompok tertentu.

lelaki belum menikah hampir semua memberikan alasan yang sama, berkata memilih janda muda karena menurut mereka janda muda lebih berpengalaman -dalam konteks ini sudah jelas, yang dimaksud adalah pengalaman di tempat tidur-. selain itu, janda muda dianggap memiliki karakteristik lebih nakal atau nasty, dan gabungan dua alasan ini menggairahkan kawanan lelaki belum menikah.

alasan lainnya adalah karena kawanan perawan tua dianggap memiliki stereotype yang galak atau bitter. dalam hal ini sudah jelas, lelaki belum menikah memilih yang nakal, nasty, dan bisa diajak bersenang-senang.

yang menarik, lelaki sudah menikah yang memilih jawaban perawan tua, terbagi menjadi dua kategori alasan. yang pertama memberi alasan dengan mengiblatkan diri ke golongan lelaki belum menikah. lelaki sudah menikah berpendapat kalau lelaki belum menikah pada umumnya memiliki ekspektasi tinggi mengenai kehidupan di tempat tidur, sehingga mereka cenderung memilih janda muda. sedangkan lelaki sudah menikah merasa SUDAH merasakan kehidupan di tempat tidur setelah menikah, sehingga tidak memiliki ekspektasi lagi. yang lucunya, mereka berpendapat kehidupan setelah menikah itu biasa-biasa saja, tidak sesuai ekspektasi mereka pada saat masih perjaka. menurut mereka, lebih menarik jika mereka kemudian memilih lagi perawan (walaupun) tua yang belum berpengalaman, sehingga akan banyak belajar hal-hal baru.. di tempat tidur.

yang membuat saya senang adalah jawaban kelompok kedua yang jauh lebih jujur. lelaki sudah menikah memilih perawan tua karena perawan tua dianggap belum memiliki benchmark (lagi-lagi) di tempat tidur. kenapa hal tersebut penting? penting, karena dengan tidak memiliki benchmark, maka lelaki tersebut akan terbebas dari pembanding-pembanding yang mungkin muncul dari mulut sang perempuan jika ia adalah janda muda,

“hmm… yang dulu kayanya lebih tahan lama…”

“dulu sih saya lebih sering posisi selain ini”

atau yang paling menakutkan kaum lelaki,

aduuh.. kok punyamu lebih kecil yaaa”

walaupun hal terakhir jarang keluar dari mulut janda muda yang santun. ekspresi yang muncul lebih kepada muka masam, cemberut, atau datar serasa tidak merasakan apapun di tempat tidur.

survei tidak akan lengkap tanpa responden dari kaum yang yang menjadi objek. sang perempuan.

walaupun terdapat jawaban bervariasi, tapi saya bisa tuliskan di sini bahwa sebagian besar perempuan (baik ia janda muda, perawan tua atau bukan keduanya) menjawab memilih menjadi janda muda dibandingkan perawan tua.

bagi yang memilih menjadi perawan tua (golongan kecil) biasanya sudah menikah dan memiliki pengalaman yang biasa-biasa saja atau cenderung kurang menarik di area pernikahannya, baik itu di tempat tidur maupun di luar tempat tidur.

hal yang menarik, sebagian besar perempuan yang memilih menjadi janda muda -baik saat ini statusnya sudah menikah atau belum- memiliki alasan yang serupa, mereka lebih memilih jadi janda muda karena dengan menjadi janda muda artinya at least sekali (atau sebaiknya berkali-kali) sudah merasakan pengalaman di tempat tidur dan ekstrimnya, merasakan pengalaman orgasme paling tidak sekali di dalam hidup.

alasan kedua adalah perempuan lebih suka mendapat sebutan muda -dimanapun ia berada, di usia berapapun- dibandingkan mendapat sebutan tua, apapun embel-embel di depannya -perawan atau bukan-.

hal ini mengesampingkan fakta kalau pada kenyataannya banyak perawan tua yang sebenarnya sudah tidak benar-benar perawan.

apa yang bisa diambil dari survei ngga penting saya ini?

bahwa perempuan sebenarnya adalah makhluk yang fun. anggapan mayoritas yang pernah menyebutkan bahwa perempuan tidak fun setelah menikah adalah misleading. pada kenyataannya survei menunjukkan bahwa perempuan sudah menikah memiliki pandangan yang lebih ke arah tempat tidur, dibandingkan lelaki yang sudah menikah.

lagi-lagi ini hanya survei, tetapi jika dihubungkan dengan mitos pernikahan, mungkinkah sebuah pernikahan menjadi biasa-biasa saja karena lelaki memandang sebagai hal yang biasa-biasa saja? sehingga perempuan yang -ternyata- memiliki orientasi ‘tempat tidur’ yang cukup tinggi, menjadi terlihat (juga) biasa-biasa saja. lelaki sudah menikah lebih memilih perawan tua karena dianggap di luar ‘biasa-biasa’ saja.

kenyataannya dua makhluk ini adalah sama. sama-sama usia 30an, sama-sama cantik, sama-sama sukses di karir, sama-sama ber-bodi yahud, sama-sama berperilaku baik. apapun stereotipe-nya, harusnya kedua jenis ini mendapat kesempatan yang sama dalam cinta.

hidup, para janda muda!
dan
hidup, para perawan tua!

thirty, flirty, and thriving…

ini adalah salah satu kalimat yang saya ingat dari film Suddenly 30, atau yang juga dikenal dengan judul 13 Going on 30, yang dibintangi oleh Jennifer Garner. dimana seorang gadis berusia 13 tahun sangat ingin segera menjadi wanita berumur 30 tahunan, karena bagi dia umur 30 tahunan adalah masa dimana wanita terlihat menawan, mandiri, dan menarik.

di sekitar saya, dikelilingi oleh wanita-wanita 30 tahunan, yang cantik, mandiri, mapan, menawan. mereka adalah sahabat-sahabat saya sendiri.

Sinaran, usia 32 tahun, brand manager sebuah perusahaan minuman terbesar di Indonesia. berwajah manis, sudah memiliki rumah sendiri, dan mobil MPV keluaran terbaru, hidup mandiri dan mapan, mau beli barang branded impor apapun… bisa.

Mei Lan, usia 35 tahun, senior brand manager dari perusahaan farmasi terbesar di Indonesia. kulitnya putih, wajahnya cantik, tubuh tinggi semampai, punya 2 apartemen milik pribadi, mobil sedan keluaran terbaru, dan lebih mudah lagi membeli barang-barang branded apapun.

Pelita, usia 32 tahun, analyst di perusahaan kimia multinasional. kulitnya kuning langsat, wajahnya cantik, sudah bisa membiayai dan membesarkan sendiri anak angkatnya 2 orang, juga membiayai keluarganya.

mereka punya segalanya yang diidam-idamkan gadis 13 tahun di film tadi. kecuali… pria berkualitas yang ‘berani’ mendampingi mereka.

pria, di usia 30an, dengan wajah tampan, body keren, dandanan bermerk, jabatan di pekerjaan tinggi, punya rumah, bermobil mewah, dan belum menikah?…  dianggap high quality jombloeligible bachelor, dan sebagainya, dan sebagainya…

most wanted 30s man

wanita, di usia 30an, dengan wajah cantik, badan seksi, penampilan modis, jabatan di pekerjaan tinggi, punya rumah sendiri, bermobil mewah, tapi belum menikah?… dianggap perawan tua, milih-milih jodoh, dan sebagainya, dan sebagainya…

lihat perbedaannya?

kemana nyali pria-pria untuk berani menjadi pendamping wanita-wanita tersebut ketika sebaliknya bisa hampir beratus-ratus wanita mengejar-ngejar pria dengan kriteria yang sama? kenapa yang satu dideskriditkan dengan sebutan ‘perawan tua’, ‘susah jodoh’, sedangkan yang satu lagi dipuja-puja dengan ‘bujangan keren’ atau ‘high quality jomblo’?

sejak kecil kita dididik untuk mengejar pendidikan sampai ke negeri Cina, menggantungkan cita-cita setinggi langit. tetapi, setelah dewasa, wanita-wanita dengan titel lebih panjang dari namanya, jabatan tinggi, keuangan yang berlimpah sampai bingung mau dihabiskan dimana, malahan dihindari oleh para pria. anggapan umum yang beredar di pria-pria?

“wah, berat di ongkos, cing…
gile, bisa-bisa doi seenaknya ama gue ntar kalo jadi istri gue
“aduh.. jangan-jangan ntar banyak mintanya lagi”
ntar kalo
ada cowok yang lebih tajir dari gue, gue bisa ditinggalin dong…

sounds familiar…ngaku lo

sebesar apakah ego pria sampai harus ‘dielus’ dengan wanita yang harus memiliki standar di bawah dia.

“okelah, ngga bego-bego amat tapi pendidikannya di bawah gue deh”
ya.. kaya raya ngga apa-apa, asal yang kaya Bapaknya aja, jadi kita tinggal minta warisan”

itulah sebabnya kenapa semakin dewasa wanita dan semakin mapan, semakin sedikit pula pria yang berani mendekati dia. karena alasan ego, dan insekuritas.. perasaan tidak aman dengan diri sendiri. takut ditinggal-lah, takut ngga kuat ngurus secara finansial-lah, takut diperlakukan seenaknya-lah

semua semata-mata karena fakta kalau wanita dengan standar yang lebih tinggi sudah pasti akan jauh lebih percaya diri dan bisa memegang kendali.

tapi anggapan itu harusnya tidak perlu ditakuti pria. kenapa harus takut (bukan malah bangga) punya istri cantik, punya jabatan tinggi, dan mandiri secara keuangan alias ngga perlu setiap bulan mengeluh minta uang belanja? kenapa harus was-was dan gelisah punya istri dengan kesibukan tinggi akan lupa mengurus suami dan keluarga di rumah dan tidak bisa dikendalikan?

most wanted 30s woman

pria adalah kepala keluarga. saya rasa tidak perlu takut dengan wanita-wanita 30an ini. peganglah kendali jika takut ‘dikendalikan’. caranya? tunjukkan kalau sebagai pria, bisa provide kebutuhan keluarga dengan baik. sebagai pria, walaupun gaji lebih kecil tapi tetap tegas sebagai pemimpin keluarga (dengan alasan jelas tentu saja) untuk mengendalikan istri-istrinya.

alasan memilih wanita-wanita high quality ini?
mereka mapan, artinya keuangan keluarga pun akan mudah dikelola oleh mereka. mereka mandiri, artinya pada saat ingin beli barang-barang pribadi untuk memenuhi hasrat pribadi, mereka bisa bayar sendiri. mereka dewasa, artinya tidak manja dan bisa diajak diskusi dan komunikasi pada saat ada isu-isu keluarga. mereka pintar, artinya lebih enak diajak ngobrol sehari-hari, diajak bertukar pikiran apapun.

bukankah itu sebenarnya yang dicari dari diri pasangan-pasangan kita? kenapa mesti takut, guys…?

hebatnya lagi, wanita-wanita 30an jaman sekarang, sudah tidak se-desperate jaman dulu. seiring bertambah usia, yang saya lihat, bukan semakin menurun kriteria pasangannya karena pada kenyataannya akan lebih susah mencari pasangan di usia lebih dewasa karena bersaing dengan daun muda. mereka justru memasang kriteria yang makin tinggi.

contohnya, saya masih ingat sahabat saya, Pelita. kriteria pria idamannya adalah harus ganteng, harus kaya, harus pintar. dan kalaupun HARUS HARUS itu sudah terpenuhi, yang paling penting adalah harus ada chemistry. sudah kaya, ganteng, pintar, tapi ngga ada chemistry?

“lebih baik tidak,”

itulah hebatnya wanita jaman sekarang.

so… pria-pria di luar sana, apa pendapat kalian?

bukan perempuan biasa

studi banding mengenai asmara, gaya hidup, laki-laki, dan fashion peek tidak terlalu berjalan mulus karena bercampur aduk dengan jadwal shoppingobjective utama kami datang ke Singapore. tetapi, anehnya, tanpa niat ‘studi banding’, saya justru mendapat beberapa insight menarik yang berkaitan dengan topik-topik di atas.

di Singapore, kami berempat menginap di Orchard Road ParkSuites Serviced Residence milik Far East Organization, penginapan dengan tipe kondominium  full-service. tipe kondo yang kita tinggali selama 3 hari adalah penthouse dengan rate SING$ 5,500/minggu atau total dalam Rupiah sebesar sebelas setengah juta Rupiah selama 2 malam kita tinggal.

4 sahabat yang sangat shopaholic memang rela menghabiskan uang dengan jumlah yang sama besar hanya untuk belanja. tapi untuk hotel, rasa-rasanya tidak akan mau sampai se-royal itu.

penginapan itu adalah courtesy dari salah satu ‘teman’ Mei Lan. Mei Lan biasa menyebut ‘teman spesial’ dengan kata ‘teman’ saja.

say thanks ya ke teman kamu, Mei,” kata saya sebelum kita berangkat ke Singapore

“.. bilang aja sendiri nanti di sana,” jawab Mei Lan

“oh, dia dateng dari Inggris, Mei?”

setau saya ‘teman’ Mei Lan adalah warga negara asing yang tinggal di Inggris.

“oh.. bukan. ini temanku yang tinggal di Singapore”

saya terdiam.

hari pertama di Singapore, Mei Lan pamit ‘memisahkan diri’ untuk bertemu dengan ‘teman’nya. saya langsung berinisiatif menawarkan diri ikut. mau kenalan dan berterima kasih atas courtesy penginapan kita selama 3 hari.

“heh… bukan yang itu”

“oh, yang dari Inggris dateng ya, Mei? asik.. asik..”

“bukan. ini temanku yang lain”

yang mana?” (selidik curiga)

aku mau ketemu temanku yang lain. yang ini dari India”

Inggris. Singapore. India.

what a great life.

Mei Lan pernah cerita sama saya kalau dia sedang mencari calon suami yang serius mengingat usianya sudah lumayan dewasa. dan Mei Lan mencari calon jodohnya hanya dari warga negara asing karena hanya orang bule saja yang tidak mudah terintimidasi oleh kesuksesan, kecantikan, kemandirian, dan kemapanan Mei Lan.

entah berapa banyak lagi yang belum Mei Lan ceritakan ke saya.

Mei Lan, bukan perempuan biasa...

dan hebatnya mei Lan, dalam mencari jodoh yang berbibit, berbebet, dan berbobot, dia punya banyak kandidat berkualitas. tidak hanya terjebak dengan satu calon saja. tapi satu yang jadi kriteria utama Mei Lan, calon pendampingnya tidak boleh playboy alias mata keranjang.

lha, Mei, lo sendiri pacarannya sama banyak orang sekaligus”

Mei Lan tertawa, “aku cuma berteman kok. kan masih cari-cari yang cocok”

Mei Lan adalah salah satu bukti kalau punya kandidat banyak untuk calon pendamping, alias jadi playboy bukan cuma hak lelaki.

bukan berarti saya melegalkan, tapi dengan sifat seperti ini, Mei Lan lebih rasional, menghindari emotionally attached sebelum ada kepastian dari kedua belah pihak, dan lebih mudah bersenang-senang dalam menjalani sebuah hubungan.

mengingatkan saya pada diri saya sendiri 5 tahun lalu.

HeHeHe…