Kapan Kawin?

“de, lo kapan nikah?”

“de, skrg pacar lo siapa?”

yes, dear. pertanyaan seperti itu paling dihindari kalau kita datang ke kawinan.

tapi ternyata tidak cuma di kawinan. pertanyaan-pertanyaan semacam itu datang juga pada saat acara reunian. tidak hanya itu. lalu diikuti dengan sang empu penanya pelan-pelan memamerkan kehidupannya yang seolah-olah bahagia dan tanpa cacat cela. bagaimana caranya? dengan meminta terkoneksi dengan akun sosial media! begitu permintaan pertemanan diterima, langsung banjirlah linimasa dengan foto diri, foto keluarga, dan foto anak yang ngga peduli cakep jelek, lucu atau mengerikan, tetap harus kita nikmati.

kehidupan di usia sekarang, memang rawan dengan pertanyaan-pertanyaan macam begitu. Jika ingin dianalisa, apa penyebabnya?

Kemungkinan penyebab pertama, sejak jaman dahulu, siklus kehidupan memang seperti itu. kita lahir, punya nama, belajar bicara, belajar berjalan, sekolah, lulus, kerja, punya pacar, menikah, punya anak, punya cucu, lalu mati. begitu berulang-ulang. itulah sebabnya, saat kita berada dalam satu stage kehidupan, akan ditanya ‘kapan kamu masuk ke stage berikutnya?’.

Baru lahir, akan ditanya, “sudah bisa bicara belum?” atau “sudah bisa jalan belum?”

sudah bisa bicara dan jalan akan ditanya, “sudah sekolah belum?”

setelah sekolah beberapa tahun, akan ditanya, “kapan lulus?”

begitu seterusnya. siklus kehidupan yang berulang-ulang. bahkan setelah sampai pada stage terakhir yakni mati, akan ditanya, “kapan dikubur?”

Kemungkinan penyebab kedua, si empunya yang bertanya ke kita sebenarnya sangat ingin membuka pembicaraan dengan kita. basa-basi yang terbaik menurut versi turun temurun adalah, “sudah menikah belum?”, “sudah punya pacar belum?”. terutama untuk orang-orang dengan usia 30 tahun ke atas.

kemungkinan penyebab ketiga adalah keinginan untuk pamer. yes, benar. akui sajalah. paling tidak sekali dalam hidup kita ingin memamerkan kesuksesan atau keberhasilan kita di depan orang lain. mulai dari keberhasilan dan kesuksesan besar, seperti kerja di perusahaan besar dengan jabatan tinggi, sampai kesuksesan remeh seperti punya pacar ganteng atau cantik.

“kerja dimana sekarang?… ooh.. kalo gue sih kerja di … blablabla”

“udah menikah? oh kenalin nih pacar saya, istri saya, suami saya, anak saya, babysitter saya..”

sounds familiar…?

namun terkadang, hidup tidak berjalan sesuai dengan stage yang seharusnya. terkadang dalam jangka waktu yang lama bahkan sampai kepada jangka waktu tidak ditentukan, kita tidak jua punya pacar. terkadang, sudah mengirimkan lamaran kerjaan ke berbagai perusahaan, tetap saja tidak ada yang memanggil untuk wawancara, apalagi mau menerima. atau bahkan terkadang, walau sudah ditulis dalam target di buku harian, dipajang di vision board atau dream board, sampai sudah disindir-sindir, tetap saja pasangan tidak kunjung mengajukan lamaran pernikahan.

terkadang, hidup tidak berjalan sesuai dengan stage ideal dan rencana kita. zaman dulu mungkin iya. tapi dijamin zaman sekarang lebih banyak penyimpangannya. setelah lulus, tidak langsung dapet kerja. punya pacar, belum tentu langsung menikah. banyak sekali tantangan untuk pindah dari satu stage ke stage lainnya.

lalu jika di urutan stage itu ada yang kita skip, lalu bagaimana?

apakah itu artinya hidup kita gagal? hidup tidak normal?

contohnya, sehabis lulus, menganggur. lalu tidak punya pacar. setelah punya pacar, menikah. tapi lalu cerai. sehabis cerai, belum punya anak, lalu kena sakit kanker. tidak langsung mati. tidak sempat punya cucu. apakah artinya hidup gagal?

tentu tidak.

menurut saya pribadi, tidak ada yang normal dalam hidup. oleh sebab itu tidak ada yang gagal dalam hidup. memang benar ada stage ideal yang harus dilalui. tapi jika kita gagal atau meloncati satu stage, tidak berarti hidup lantas tidak normal atau kehilangan maknanya. karena selalu ada sebab seseorang tidak melewati satu stage ideal dalam hidupnya.

buat apa menikah dengan pacar padahal kita sebenarnya cinta dengan orang lain? buat apa meneruskan pernikahan kalau cerai jauh lebih baik? apakah bekerja pilihan paling tepat kalau kita lebih baik jadi ibu rumah tangga, tinggal di rumah dan menganggur? apakah tepat memiliki anak hanya karena umur sudah cukup, penghasilan memadai, atau tuntutan lingkungan kalau sebenarnya hati tidak siap dan tidak ingin?

karena sebab-sebab di ataslah, makanya menanyakan pertanyaan semacam, “kapan menikah?”, atau “sudah punya pacar atau belum?”, atau “kapan punya anak?” sebaiknya tidak menjadi topik utama dalam sebuah pembicaraan basa-basi. saya yakin masih banyak pilihan pertanyaan lain yang bisa ditanyakan ke teman, saudara, kerabat, relasi yang sudah lama tidak pernah kita temui.

tapi bukan berarti pertanyaan-pertanyaan tersebut salah atau tidak boleh ditanyakan. hanya saja, dengan abnormalitas dan tantangan kehidupan saat ini yang seiring dengan evolusi manusia secara psikologis, maka relevansinya menjadi menurun dan meningkatkan sensitivitas yang selanjutnya dalam menyebabkan rusaknya hubungan antar manusia.

namun tidak semua orang tahu mengenai hal ini, mengenai teori saya. jadi solusinya apa?

kalau saya, setiap ada orang mulai bertanya, “kapan menikah?”, atau “sudah punya pacar atau belum?”, atau “kapan punya anak?”, saya membalasnya dengan santai,

“kenapa tidak tanya, kapan punya helikopter? kapan jadi milyuner? kapan punya pesawat pribadi?”. tentu saja dengan nada santai dan bercanda. mudah2an saja si penanya tidak tambah rese dan menanyakan hal-hal lain yang menyinggung kita.

yah walaupun jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas tetap saja….

belum, belum mampu beli pesawat sendiri, cuma pesawat telepon.

Advertisements

preambule

hello…

hah? masih ada ni orang.

PhotoGrid_1412350183817udah lama banget tidak ditengok. sudah berdebu sepertinya nih tempat. mau dibersihkan, tapi paling males bebersih… seperti biasa.

motivasi saya menulis biasanya hanya dua. yang pertama, karena membaca blog teman yang suka dan pintar menulis. dalam hati jadi kangen menulis lagi. makanya cari-cari peristiwa yang bagus buat jadi bahan tulisan.

kedua, karena ada kejadian penting yang perlu diabadikan, tentu saja dalam bentuk tulisan. jadi kejadian macam ulang tahun atau pernikahan itu ngga masuk hitungan. karena event-event semacam itu diabadikannya bukan dengan tulisan, tapi dengan foto.
karena ada beberapa kejadian besar yang patut diabadikan sejak terakhir menulis, maka tulisannya perlu dipisah-pisah agar tidak menimbulkan kebingungan saat dibaca. so tulisan ini hanyalah semacam preambule atau pembukaan. so, sampai di sini saja pembukaannya.

enjoy the ride.

2013 in review

 

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Happy New Year and this is my report! Hope it will have a better performance next year!

 

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 1,500 times in 2013. If it were a cable car, it would take about 25 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

CRUISE ON YOU… gambar dan cerita

menjadi pembantu dadakan adalah salah satu resiko yang didapat saat kantor menggalakkan program bernama 5R, alias Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin. semua harus dibereskan, pernak-pernik tidak penting dibuang dan barang-barang penting diorganisir dengan lebih rapi.

pada saat membereskan lemari di belakang meja saya, saya menemukan sebuah buku. buku berisi gambar-gambar sketsa hasil ilustrasi tangan saya. buka yang lahir di era tahun 2000 awal.

menggambar bagi saya adalah merupakan sarana melepaskan stress dan melemparkan sejenak beban ke alam kosmik mimpi dan membiarkannya melayang-layang berharap dikabulkan oleh Yang Maha Memberikan.

menggambar adalah sebuah dunia tanpa aturan bagi saya. saya menggambar apa saja, dimana saja, darimana saja, dan kapan saja saya mau. gambar saya dibuat dengan teknik sesuai yang saya pilih sendiri.

pada saat membuka lembar demi lembar buku itu, saya dipaksa melanglang dalam momen nostalgik pada saat melihat isinya. sudah lama sekali saya tidak sempat melakukan kegiatan yang maha menyenangkan ini karena dalam dunia sekarang, saya sendiri hanya sibuk menyenangkan orang lain di pekerjaan.

gambar pertama yang menarik perhatian saya adalah gambar penyanyi terkenal Mick Jagger saat masih muda. semua orang yang melihat gambar ini menyangka yang saya gambar adalah Liam Gallagher dari grup band OASIS yang kenamaan di tahun 90an. kesal dengan pertanyaan semua orang saat melihat gambar saya, saya putuskan untuk langsung mencantumkan nama ‘Mick Jagger’ di ilustrasi saya tersebut.

tapi anehnya tetap saja teman-teman saya tercinta menyangka si Mick Jagger ini bukanlah Mick Jagger.

seburuk itukah gambar saya sampai salah diinterpretasikan oleh mereka?

kembali membalikkan lembar buku gambar tersebut, gambar favorit saya kedua adalah ilustrasi stasiun kereta api yang saya gambar sambil duduk di stasiun kereta Bandung. melihat gambar itu saya jadi teringat kembali perasaan saya pada saat menggambarnya. saya sedang sedih tapi tidak tahu kenapa. Gambar mungkin bisa jadi tempat mencurahkan perasaan terbaik selain tulisan. banyak teman yang melihat gambar itu langsung ngeh kalau gambar itu dibuat pada saat saya sedang bersedih. 

gelap dan suram.

seringkali, saya menggambar hanya karena tertarik pada sebuah objek tanpa alasan yang jelas. gambar selanjutnya saya buat pada saat sehabis membaca koran KOMPAS bagian Profil.

waktu itu saya belum kenal dengan hobi fotografi seperti sekarang. saya sangat suka melihat hasil foto Perdana Meteri Mahatir Muhammad yang terpampang di koran itu. saya lupa tanggal percis terbitnya dan saya pun tak ingat siapa fotografernya. yang saya ingat hanyalah, artikel itu dibuat tepat pada saat Mahatir Muhammad sedang dilanda kasus skandal besar yang hampir menghancurkan nama baiknya.

lucunya, lagi-lagi gambar ini disalahartikan oleh teman-teman yang melihat. mereka semua menebak orang yang saya gambar ini adalah Alm. Pak Harto, presiden RI ke-2. pertama-tama, saya merasa terhina. kok bisa ya salah nebak mulu? apa gambar saya sejelek itukah?

tapi melihat karya orang lain lewat pameran seni, browsing lewat internet, membuat saya sadar kalau seni adalah subjektifitas. seni bagi saya adalah suka-suka saya. orang lain juga bebas mengartikan sendiri. saya tidak boleh marah dengan apa yang orang persepsikan mengenai hasil gambar saya.

bahkan, saya harusnya berbangga hati orang salah duga mengenai hasil karya saya. artinya saya punya kemampuan untuk membuat sebuah gambar yang bisa diartikan bermacam-macam oleh audiens saya. bukan hanya satu arti yang saklek. karena karya seni adalah (lagi-lagi) sebuah subjektifitas, bukan objektifitas ala ilmu pasti.

jaman kuliah S1 dulu, saya sangat suka nongkrong ngga jelas dengan teman-teman satu laki-laki satu angkatan saya. selayaknya anak kuliahan yang selalu mengaku anti-kemapanan, nongkrong seenaknya di lorong kampus tanpa alasan yang jelas adalah agenda wajib saya dan teman-teman laki-laki saya. dan gambar ini saya buat pada saat saya sedang menjalankan agenda itu dan berpikir, saya ingin mengabadikan pemandangan di depan saya ini agar suatu saat saya sudah tua, saya masih tetap ingat dimana saja sebenarnya tempat saya berasal.

gambar terakhir di dalam buku itu yang menjadi favorit saya adalah gambar ruangan dengan piano. gambar ini adalah murni hasil imajinasi. saya membuatnya pada saat baru patah hati dengan partner saya kala itu. saya masih menyimpan quote di salah satu sisi kertas gambar saya :

when my sky breaks my heart…

kala itu saya ingin menggambar sesuatu yang menjelaskan perasaan sedih saya tanpa harus terlihat obvious. saya pilih gambar ruangan berpiano yang disiram siar matahari sore. entah apa korelasinya dengan patah hati, tapi lagi-lagi orang yang melihat (pada umumnya) bisa menangkap kalau gambar ini dibuat pada saat saya sedang bersedih.

menutup buku ini membuat saya teringat kembali betapa nikmatnya bisa mengekspresikan perasaan saya lewat menggambar.

tetapi, kesibukan dan segala keruwetan dunia yang logis dengan ritme serba cepat membuat saya hampir lupa dengan semua itu. saya lupa bagaimana nikmatnya menggoreskan pensil mulai dari 2H sampai 6B, saya lupa nikmatnya meneruskan gambar sambil berharap-harap cemas hasilnya akan seperti apa, saya lupa nikmatnya perasaan saya yang lega setelah habis melahap satu kertas gambar dengan coretan-coretan yang ‘suka-suka saya’ itu.

dalam perjalanan hidup, saya bertemu seorang sahabat yang mengingatkan kembali betapa membahagiakannya hobi saya itu.

sahabat ini adalah sahabat baru tetapi serasa seperti sahabat lama bagi saya. hanya dalam hitungan bulan dia mengenal saya, tapi banyak hal yang saya pelajari dari dia.

pertama-tama yang paling indah adalah di tengah-tengah orang menganggap saya adalah spesies aneh di dalam sebuah komunitas, dialah yang menyadarkan saya bahwa being unique is special. dan saya menjadi bukan satu-satunya orang yang ‘tidak biasa’ karena ada dia.

kedua, dia membantu saya melihat diri saya seperti apa, terutama membangunkan saya untuk mulai mencintai diri sendiri dan melupakan orang-orang yang makin lama makin lupa hati nurani dan tega meringsek dan melumatkan kepercayaan diri saya hanya dalam waktu sekejap.

dia juga mengajak saya kembali ingat pada lembar-lembar kesukaan saya mencurahkan perasaan ke dalam kertas putih lewat goresan tak beraturan dari pensil gambar. setelah sekian lama saya lupa rasanya menggambar, saya diingatkan lagi olehnya untuk kembali jatuh cinta.

terakhir, saya dihibur lewat tulisannya yang sederhana namun menarik dan penuh pembelajaran. hal remeh bagi orang umum bisa dibuat spesial olehnya hanya dengan beberapa kalimat sederhana yang mudah dicerna dan selalu kita pakai sehari-hari.

di bukunya yang pertama, saya dipercaya untuk membuat desain cover dan menggambar sebagian ilustrasi di dalamnya. tanpa saya duga, di buku kedua, dia memberikan kehormatan yang sama.

buku yang dia buat sama sekali kosong dengan bahasa rumit dan kisah-kisah sarat intrik dan strategi. Tetapi justru penuh dengan sebuah kisah sederhana mengenai seorang gadis yang rela melakukan apapun untuk mengejar mimpinya. rangkaian bahasanya simple namun menciptakan ombak-ombak tawa dan gelombang inspirasi pada saat mata saya menelusuri kata per katanya.

buku ini jadi penuh arti buat saya karena adanya kesamaan saya dengan sang pengarang, sahabat saya. dengan buku ini saya (lagi-lagi) diingatkan untuk kembali merangkai mimpi-mimpi. sahabat saya mewujudkan mimpinya salah satunya lewat tulisannya di buku ini. sedangkan saya… mencoba menghiasnya dengan gambar-gambar ilustrasi sederhana yang saya harap bisa melengkapi sempurnanya buku mimpi beliau.

CRUISE ON YOU… sebuah buku dengan kisah yang indah itu, membuat saya diingatkan lagi untuk tidak selalu terbang dalam dunia-dunia logika yang rumit dan melelahkan, tetapi mulai menjejakkan kaki ke dunia lama saya, dunia mimpi yang indah dan menenangkan dimana segala hal yang kita angankan adalah mungkin.

karena ini adalah dunia saya yang dulu ada, dunia saya yang sebenarnya, maka sangat mudah bagi saya untuk memulai lagi kenangan dan hobi masa lalu, menggoreskan pensil kayu ke kertas untuk merepresentasikan sebuah cerita dalam teks menjadi lebih kaya maknanya.

gambar saya bukan yang teristimewa.

gambar yang saya buat masih merupakan sebuah ilustrasi tanpa aturan layaknya gaya saya bercerita di atas kertas. tetapi dengan segala perasaan kuat yang menyertai pada saat pembuatan ke-43 ilustrasinya, saya berharap bisa ikut memperkaya buku sahabat saya tercinta, Margareta Astaman, sang gadis margarita.

ingatkan kembali diri Anda sendiri untuk kembali jatuh cinta pada anak kecil dalam diri Anda, dimana dunia bukanlah tempat yang hanya dipenuhi kotak-kotak logika dengan segala pagarnya yang hanya bisa dilihat saklek dan dari satu sisi saja. tetapi dunia kita adalah tempat dimana segalanya adalah mungkin dan bisa terjadi serta bisa dilihat keindahannya dari segala macam sisi, mata dan juga kacamata…

SERIOUSLY! get it on bookstores WHILE IT’S HOT!

tricky 30s : perawan tua atau janda muda

melanjutkan tulisan saya sebelumnya adalah posting ini. bagaimana sebuah umur bisa menjadi ambigu (makna ganda) setelah mengalami penambahan status sosial, perawan tua dan janda muda.

saya melakukan survei kepada dua kategori manusia, lelaki dan perempuan, keduanya dibagi lagi menjadi dua kategori yang lebih dalam : menikah dan sudah atau pernah menikah. sangat menarik pada saat mendengar jawaban yang muncul bervariasi namun tampak serupa di dalam kelompok jenis responden yang sama.

dengan umur yang sama -yakni 30 tahun-, wajah yang sama cantik, karir yang sama sukses, bodi yang sama aduhai, perilaku yang sama sempurnanya, mana yang lebih dipilih : perawan tua atau janda muda?

janda... atau perawan saja ?

lelaki yang belum menikah hampir seluruhnya lebih memilih janda muda. sedangkan kawanan lelaki yang sudah menikah hampir semuanya lebih memilih perawan tua.

menarik.

saya memutuskan melakukan diskusi dengan dua kelompok tersebut. apakah yang menjadi sebab musabab ada kecenderungan tertentu bagi sebuah kelompok tertentu.

lelaki belum menikah hampir semua memberikan alasan yang sama, berkata memilih janda muda karena menurut mereka janda muda lebih berpengalaman -dalam konteks ini sudah jelas, yang dimaksud adalah pengalaman di tempat tidur-. selain itu, janda muda dianggap memiliki karakteristik lebih nakal atau nasty, dan gabungan dua alasan ini menggairahkan kawanan lelaki belum menikah.

alasan lainnya adalah karena kawanan perawan tua dianggap memiliki stereotype yang galak atau bitter. dalam hal ini sudah jelas, lelaki belum menikah memilih yang nakal, nasty, dan bisa diajak bersenang-senang.

yang menarik, lelaki sudah menikah yang memilih jawaban perawan tua, terbagi menjadi dua kategori alasan. yang pertama memberi alasan dengan mengiblatkan diri ke golongan lelaki belum menikah. lelaki sudah menikah berpendapat kalau lelaki belum menikah pada umumnya memiliki ekspektasi tinggi mengenai kehidupan di tempat tidur, sehingga mereka cenderung memilih janda muda. sedangkan lelaki sudah menikah merasa SUDAH merasakan kehidupan di tempat tidur setelah menikah, sehingga tidak memiliki ekspektasi lagi. yang lucunya, mereka berpendapat kehidupan setelah menikah itu biasa-biasa saja, tidak sesuai ekspektasi mereka pada saat masih perjaka. menurut mereka, lebih menarik jika mereka kemudian memilih lagi perawan (walaupun) tua yang belum berpengalaman, sehingga akan banyak belajar hal-hal baru.. di tempat tidur.

yang membuat saya senang adalah jawaban kelompok kedua yang jauh lebih jujur. lelaki sudah menikah memilih perawan tua karena perawan tua dianggap belum memiliki benchmark (lagi-lagi) di tempat tidur. kenapa hal tersebut penting? penting, karena dengan tidak memiliki benchmark, maka lelaki tersebut akan terbebas dari pembanding-pembanding yang mungkin muncul dari mulut sang perempuan jika ia adalah janda muda,

“hmm… yang dulu kayanya lebih tahan lama…”

“dulu sih saya lebih sering posisi selain ini”

atau yang paling menakutkan kaum lelaki,

aduuh.. kok punyamu lebih kecil yaaa”

walaupun hal terakhir jarang keluar dari mulut janda muda yang santun. ekspresi yang muncul lebih kepada muka masam, cemberut, atau datar serasa tidak merasakan apapun di tempat tidur.

survei tidak akan lengkap tanpa responden dari kaum yang yang menjadi objek. sang perempuan.

walaupun terdapat jawaban bervariasi, tapi saya bisa tuliskan di sini bahwa sebagian besar perempuan (baik ia janda muda, perawan tua atau bukan keduanya) menjawab memilih menjadi janda muda dibandingkan perawan tua.

bagi yang memilih menjadi perawan tua (golongan kecil) biasanya sudah menikah dan memiliki pengalaman yang biasa-biasa saja atau cenderung kurang menarik di area pernikahannya, baik itu di tempat tidur maupun di luar tempat tidur.

hal yang menarik, sebagian besar perempuan yang memilih menjadi janda muda -baik saat ini statusnya sudah menikah atau belum- memiliki alasan yang serupa, mereka lebih memilih jadi janda muda karena dengan menjadi janda muda artinya at least sekali (atau sebaiknya berkali-kali) sudah merasakan pengalaman di tempat tidur dan ekstrimnya, merasakan pengalaman orgasme paling tidak sekali di dalam hidup.

alasan kedua adalah perempuan lebih suka mendapat sebutan muda -dimanapun ia berada, di usia berapapun- dibandingkan mendapat sebutan tua, apapun embel-embel di depannya -perawan atau bukan-.

hal ini mengesampingkan fakta kalau pada kenyataannya banyak perawan tua yang sebenarnya sudah tidak benar-benar perawan.

apa yang bisa diambil dari survei ngga penting saya ini?

bahwa perempuan sebenarnya adalah makhluk yang fun. anggapan mayoritas yang pernah menyebutkan bahwa perempuan tidak fun setelah menikah adalah misleading. pada kenyataannya survei menunjukkan bahwa perempuan sudah menikah memiliki pandangan yang lebih ke arah tempat tidur, dibandingkan lelaki yang sudah menikah.

lagi-lagi ini hanya survei, tetapi jika dihubungkan dengan mitos pernikahan, mungkinkah sebuah pernikahan menjadi biasa-biasa saja karena lelaki memandang sebagai hal yang biasa-biasa saja? sehingga perempuan yang -ternyata- memiliki orientasi ‘tempat tidur’ yang cukup tinggi, menjadi terlihat (juga) biasa-biasa saja. lelaki sudah menikah lebih memilih perawan tua karena dianggap di luar ‘biasa-biasa’ saja.

kenyataannya dua makhluk ini adalah sama. sama-sama usia 30an, sama-sama cantik, sama-sama sukses di karir, sama-sama ber-bodi yahud, sama-sama berperilaku baik. apapun stereotipe-nya, harusnya kedua jenis ini mendapat kesempatan yang sama dalam cinta.

hidup, para janda muda!
dan
hidup, para perawan tua!

muda atau tua?

sungguh aneh jika sebuah hal bisa memiliki dua kubu penggemar berbeda , hanya dengan mengganti sebutan atau panggilannya.

dua orang wanita. sama-sama berumur 30 tahun, sama-sama cantik, sama-sama pintar, sama-sama jago memasak, sama-sama memiliki jabatan tinggi di kantor, memiliki sifat yang sama,… pokoknya semua sama. hanya satu yang berbeda. status.

yang pertama disebut janda muda, yang kedua disebut perawan tua.

pilih muda atau tua ?

yang pertama menikah di usia muda karena kesalahan manajemen resiko di tempat tidur. harus mengurus anak di usia muda, selalu bertengkar di dalam kehidupan rumah tangga membuat hidup tidak tentram. sebelum akhirnya ditinggalkan sang pendamping hidup karena alasan yang sedang beken… ketidak cocokan. perempuan pertama resmi diberi panggilan… Janda Muda.

yang kedua sepanjang hidupnya hanya disakiti dan disakiti oleh lelaki, sehingga memutuskan untuk sementara tidak mengharapkan uluran tangan dari kaum lelaki untuk bisa hidup. jika tidak menemukan lelaki yang bisa cocok dan sesuai dengan kriteria dia yang maha berat untuk menjadi pendamping hidup, maka ia tidak akan memutuskan menikah. perempuan kedua resmi diberi panggilan… Perawan Tua.

seperti saya bilang di awal. semua sama di antara keduanya. sama-sama berumur 30 tahun, sama-sama cantik, sama-sama pintar, sama-sama jago memasak, sama-sama memiliki jabatan tinggi di kantor, memiliki sifat yang sama,… pokoknya semua sama.

saya langsung membuat survey dadakan ke teman-teman lelaki saya.

mana yang Anda pilih, janda muda atau perawan tua?