CHANGE atau BYE!

waw… sudah lama banget rasanya tidak menulis. sampai ngga berani liat tanggal terakhir posting.

saking lamanya, sampe wajah saya sebenarnya sudah berubah. sudah tidak seperti banner di blog ini. sudah harus ganti. sudah harus diperbarui.

apa saja yang berubah? yang jelas adalah rambut sudah 3 kali ganti potongan dan model. mulai dari Victoria Beckham kelindes bus, sampe terakhir ke model Emma Watson wannabe but could never be. iya… iyaa… nanti saya update lagi bannernya.

ke-absen-an posting diwarnai oleh berbagai kesibukan pekerjaan yang sekarang sedang dipegang. entah karena krisis paruh baya atau apa, tapi setelah hampir 4 tahun bercokol di posisi ini dan memegang brand yang sama, sedikit-sedikit dalam diri saya menginginkan terjadinya perubahan. makanya posting ini saya beri judul change atau bye!

kenapa bukan change or die seperti kutipan aslinya? ya karena terlalu ekstrim. biar gimana, ngga akan sampe die-lah. buktinya pegawai-pegawai negeri Indonesia yang sudah berpuluh-puluh tahun hidup dengan etos kerja yang begitu-begitu aja, ngga die-die tuh. dan kenapa bye?.

… mmm bingung jelasinnya. sebenernya sih karena susah cari kata ber-rima sama yang lain. hehehehe. ngga penting.

semenjak memasuki usia tertentu (yang tidak boleh disebutkan di sini), tiba-tiba melintas di pikiran untuk mulai merubah jalan hidup. selama ini saya selalu hidup dengan ekspektasi orang lain, yang mainly orang lain itu adalah orang tua saya sendiri. dan belakangan ini, perasaan kurang sreg semakin terasa.

penyebabnya memang bisa banyak. bisa karena tadi, krisis paruh baya. atau karena memang ada kebutuhan rohani yang tidak/belum terpenuhi, alias belum totally bahagia. seringkali setiap hari dilewatkan dengan keterpaksaan. dan bikin dalam hati bertanya-tanya, sampe kapan mau begini ya?

pengen sekali-kali ngerasain bangun pagi ngga sabar untuk kerja (which is saya yakin JARANG terjadi di dalam kehidupan pembaca yang budiman). ngaku!

nah, bagaimana saya bisa tahu mana penyebab yang benar? krisis paruh baya atau karena memang ada kebutuhan yang belum terpenuhi? either way, tidak masalah. life’s too short to be worry. namanya pilihan, selalu ada konsekuensi. dan dengan memutuskan memilih jalan yang berbeda dibandingkan yang selama ini saya rintis, saya menjudikan nasib saya. tapi hasilnya kan fifty-fifty. bisa gagal dan tetep berasa sengsoro, bisa juga jadi berubah drastis bahagia.

mengetahui adanya kemungkinan fifty-fifty itu, bikin saya semangat untuk menjalani change itu. dan semua dimulai sedikit-sedikit. dan sepertinya juga oleh Yang Di Atas sana, dibuka jalannya sedikit-sedikit. walau sempat ragu-ragu, akhirnya sedikit-sedikit saya memberanikan diri belok arah dan mencoba mengambil resiko dari sebuah pilihan. kalo ngga sekarang, kapan lagi?

beberapa perubahan yang saya ambil itu adalah :

  1. memotong rambut dari sepinggang menjadi seleher dan akhirnya, cuma beberapa senti dari kulit kepala
    perubahan ini menghemat tenaga dan uang. tidak perlu blow dan catok setiap mau pergi dan tampil. dan pengeluaran untuk shampoo jadi berkurang. anehnya, waktu yang dihabiskan untuk dandan di pagi hari kok ngga berkurang? teteeep aja telat berangkat kantor. dasar perempuan….
  2. menerima tawaran boss untuk memilih jalur lain di dalam profesi kantor.
    selama ini Beliau melihat passion saya jauh lebih besar di bidang desain daripada brand. saya sempet keukeuh bahkan sampai bawa-bawa argumen kalo saya dulu kuliah bidang brand saja bisa lulus cum laude, kenapa ini ngga bisa? tetapi saya pikir-pikir lagi, kenapa ngga?
    segala bidang bisa dijadikan bahan pembelajaran. dan kalo memang boss besar menilai saya bagus di situ, kenapa tidak dicoba? mengerjakan sesuatu yang jadi hobi saya… hmmm, bisa jadi kemungkinan saya bangun dengan bersemangat setiap hari untuk masuk kerja jadi terbuka lebar.
  3. mengungkapkan apa yang jadi trauma pekerjaan saya selama ini
    saya sempat mengalami sebuah trauma. entah benar trauma atau saya melebih-lebihkan saja, tapi peristiwa di pekerjaan itu cukup membuat saya tertekan selama beberapa masa. dan menurut saya, peristiwa itu juga cukup berkontribusi dalam terbentuknya saya sebagai pribadi kerja di masa sekarang.
    kemarin sewaktu ada kesempatan membuka cerita itu di depan boss besar, saya sempat ragu-ragu dan ingin mengubur saja dalam-dalam. tapi saya pikir-pikir lagi… mungkin dengan bercerita, bukan berarti saya membuka kejelekan seseorang, tapi juga bisa berarti penyembuhan jiwa saya sendiri. so i took that chance!

lalu apa yang terjadi setelah saya melakukan perubahan-perubahan tersebut di atas?

untuk masalah rambut, sejauh ini komentarnya positif-positif. atau… takut komen negatif karena takut sama saya? hehehe. ada yang bilang, “wah, keliatan lebih muda, lebih fresh!”, yang artinya “dulu lo tua banget keliatannya and kucel”. and seperti tadi saya bilang, walaupun tidak ada pengurangan durasi yang dihabiskan untuk dandan di pagi hari, tapi paling tidak listrik rumah berkurang beberapa watt (dari penguruangan pemakaian hairdryer dan catokan) dan, beberapa rupiah berkurang untuk pembelian shampoo dan conditioner.

tapi ada penambahan sedikit di budget untuk pembelian  hair wax. again, dasar perempuan….

untuk pekerjaan, kebetulan baru kemarin ditawarain boss dan belum ada kelanjutan story-nya. tapi semoga saja perubahan ini membawa nasib yang lebih baik. at least bisa jadi motivasi kerja jadi lebih baik dari sebelumnya. fifty-fifty.

untuk poin yang terakhir juga belum ada follow up dari pihak Beliau. tapi yang jelas, perubahan mulai terjadi di dalam diri saya. saya mulai merasa sedikit lega. paling tidak trauma ini sudah bukan jadi konsumsi pribadi yang sedikit demi sedikit memakan kapabilitas saya sebagai manusia unggul. adanya perubahan sesudah itu atau tidak, semuanya saya serahkan pada pak boss tercinta yang sudah bersedia mendengarkan saya.

kenapa change atau bye?

karena kalau tidak mau berubah dengan situasi saat ini, maka artinya kita juga harus mengucapkan bye atau selamat tinggal kepada kemungkinan-kemungkinan fifty-fifty tadi. kemungkinan untuk lebih bahagia, lebih lega, dan lebih muda.

kan ada kemungkinan fifty lain yang jeleknya? well… semua bisa terjadi atas kehendak Yang Punya Sandiwara. tapi dengan positif memikirkan kemungkinan yang lebih baik, mudah-mudahan diberi jalan juga untuk mendapatkan hal-hal yang lebih baik.

change or bye.

jangan cuma menghujat cina

karena populasinya yang sangat banyak dan tersebar di seluruh dunia, Cina termasuk ras yang ditakuti kehadirannya. wujud ketakutan muncul dalam berbagai jenis. salah satunya dengan hujatan bahwa mereka rakus, pelit dan tukang tiru. despite of semua penilaian jelek itu, setiap ras sebenarnya punya kebaikan dan keburukan, dan alangkah tidak adil kalau karena kita hanya menghujat dan tidak melihat sisi lain dari sebuah individu, kelompok atau pun ras.

salah satu sisi hebat dari Cina adalah seorang pengarang wanita yang berhasil merekam sisi gelap Cina yang membuat ras itu tersebar di seluruh negri. yakni selain karena kehebatan ras itu sendiri dalam mengembangkan kemampuan dan ilmu pengetahuannya, juga karena tersebarnya bayi-bayi perempuan Cina akibat sistem di dalam negara yang kurang berpihak pada bayi perempuan.

lagi-lagi, hal ini bukan sesuatu yang harus dihujat. Xin Ran sang pengarang dengan jujur dan tidak berpihak, menceritakan bagaimana kesedihan ibu-ibu yang mungkin dipandang orang luar tak berbelas kasihan karena tega membunuh bayi pada saat baru lahir karena ketahuan jenis kelaminnya perempuan. salah satu sebabnya adalah karena tuntutan sistem negara -yang tadi saya bilang- tidak berpihak pada perempuan.

KOMPAS kasi saya tugas buat bikin cover buat buku ini. suatu kehormatan buat saya karena bukunya adalah best seller. saya dikasi sample-nya buat baca and menghayati isi di dalemnya. walhasil, selesai baca, mata saya bengkak abis. and butuh beberapa hari buat merangkai inspirasi cover buku yang sangat menggugah emosi ini. saya menawarkan 2 versi untuk covernya. saya belum tahu mana yang dipilih, tapi mudah-mudahan teman-teman KOMPAS buku suka.


jangan lupa baca, apalagi setelah bukunya berganti sampul saya. cihuyyy…

babi kejujuran

posting awalnya dibuka dengan kalimat… wah sudah lama ngga posting nih… kemudian dilanjutkan dengan kalimat… sialan, barusan postingan udah cape-cape bikin, ngga nongol sama sekali isinya! kehapus total!

well, apakah karena topiknya karena babi?

setelah sekian lama tidak kongkow bareng, 4 sahabat akhirnya memutuskan untuk kumpul merayakan dirgahayunya ManisMan. dikarenakan 4 sahabat sebenarnya datang dari asal 4 agama yang berbeda dan agama bukanlah sebuah isu sentral di antara kami, dirgahayu dirayakan di restoran yang menjual babi panggang asal Bali yang baru buka di daerah Kelapa Gading. walaupun beda dengan babi Roma punya Pak Tony yang biasa kita makan, ternyata si babi panggang mbak Nuri ini punya keistimewaan lain yang lebih luar biasa dibandingkan babi dari Roma punya pak Tony.

setelah menyantap 4 porsi babi panggang yang menurut ManisMan sangat ‘bau babi’, 4 sahabat memulai sesi berikutnya, yakni gossip. yang aneh dibandingkan dengan sesi-sesi sebelumnya, sesi kali ini dipenuhi dengan yang namanya kejujuran. sekonyong-konyong, setelah makan babi, keluarlah rahasia yang selama ini dipendam antara kita. rahasia yang berkaitan dengan kecurangan, ketidaksukaan, dan sampai ke perselingkuhan…

ternyata yang namanya sahabat, bukan berarti tidak ada rahasia antara kita. pernah nonton serial Desperate Housewives? itu adalah salah satu serial favorit saya. salah satu cerita di dalamnya adalah antara temanpun kadang-kadang kita saling menyimpan rahasia. sebenarnya bukan rahasia yang menyinggung satu sama lain, tapi tetap kita simpan bisa karena berbagai alasan. bisa jadi rahasia itu berhubungan dengan kehidupan salah seorang teman kita, namun yang paling sering terjadi adalah… kita menyimpan rahasia dari teman kita karena kita malu. rahasia itu adalah sesuatu yang memalukan yang membuat kita mengira teman kita akan menciptakan suatu ‘penilaian’ tertentu terhadap kita.

tapi ternyata, sahabat adalah sahabat. orang yang tetap tertawa dan memandang kita sama seperti sebelum kita menceritakan rahasia kita. se-ringan dan semudah itu. dan saya mulai berpikir, kenapa ya saya setengah mati menyimpan rahasia ini dari mereka sebelumnya? begitu pula waktu saya dengar rahasia mereka. saya cuma tertawa, tersenyum, dan simpati. tapi penilaian saya tidak pernah berubah terhadap teman-teman saya.

makan malam dirgahayu malam itu mengajarkan banyak hal buat saya. pertama… alangkah beruntungnya kalau kita bisa menemukan sahabat-sahabat dalam hidup kita. sahabat adalah orang yang bisa menerima kita apa adanya. tidak peduli berapa lama kita berjauhan dengan mereka, pada saat kita bertemu… semuanya tetap sama. kita tidak harus selalu bersama layaknya kembar siam dalam rahim ibu, tapi setelah perpisahan yang lama pun, saat bertemu.. semua tetap sama.

kedua… ternyata orang lain bisa jadi jauh lebih pemaaf daripada yang kita kira. saya kira teman saya akan berubah penilaian setelah mendengar rahasia yang saya simpan selama ini. ternyata tidak. mereka hanya mendengar sambil tertawa. tidak ada perubahan di ekspresi wajah, tidak ada perubahan sikap. kadang kita setengah mati menyimpan sebuah rahasia karena kita pikir akan merusak persahabatan kita. kita berusaha muncul sebagai seseorang yang bukan kita di depan teman kita. ternyata, itu cuma ketakutan kita. mereka tetap menerima kita, apapun rahasia kita. mungkin ada pertengkaran, kemarahan, rasa kecewa. tapi sahabat adalah orang yang pada akhirnya tetap tertawa, sememalukan apapun diri kita.

yang ketiga… peribahasa lama, ‘apa yang keluar dari mulut jauh lebih penting daripada apa yang masuk mulut’, (yang bukan untuk diartikan, jackpot hungover lebih baik daripada mabok-mabok yang dilakukan sebelumnya…). tetapi orang tidak dinilai dari semata-mata apa yang dia makan.

apakah orang yang makan babi akan mati sebagai pendosa tidak peduli berapa banyak amal ibadah yang sudah dia perbuat dan berapa banyak yang dia kontribusikan untuk kebaikan sesamanya? dan apakah orang yang tidak makan babi akan bebas melenggang masuk surga padahal mulutnya suka berkata-kata kotor, membicarakan orang, memukul perempuan, bakar-bakaran tempat ibadah dan dihujat banyak orang karena bikin perkumpulan yang praktis merusak nama satu agama?

saya rasa Tuhan menciptakan babi ada maksudnya. bukan menjadi sesuatu yang sangat dihujat dan sama sekali tidak memberi kegunaan bagi orang banyak.

salah satu buktinya adalah malam itu. pulang menyantap babi, kami berempat tertawa gembira karena baru saja melepas rahasia dan tetap bisa saling menerima antara kami. memang, bisa jadi kejujuran malam itu muncul karena memang sudah saatnya muncul. but i know i have my dear pork to be thankful to…

salam babi.

nasionalisme di baju-ku

Negara saya akan menjadi nasionalis mendadak dalam 2 hari ke depan ini. Tanggal 2 oktober ditetapkan oleh PBB sebagai Hari Batik Nasional Indonesia. Excitement-nya sudah terasa dari seminggu sebelumnya. Kerumunan cewek-cewek sudah mulai janjian bareng-bareng belanja batik di mal-mal terdekat dan yang paling affordable.

Di kantor saya sendiri, batik bukan merupakan excitement lagi. Sejak setahun yang lalu, batik sudah ditetapkan sebagai seragam ‘wajib’ dipakai setiap hari Senin, agak beda dengan kantor-kantor lain, yakni sebagian besar hari batik wajibnya adalah hari Jumat atau akhir minggu. Karena sifatnya yang menjadi ‘kewajiban Senin’ itulah, bagi kami, batik lebih cenderung kepada beban dibandingkan ‘belanja atau dresscode hepi-hepi’.

Excitement tersebut sebenarnya adalah bentuk cinta sejati kepada batik, ataukah hanya sekedar rasa puas karena sudah menang perseteruan dengan tetangga dan ikut-ikutan trend semata? Lalu, apakah batik yang Anda miliki sebenarnya sudah masuk kategori benar-benar batik, atau sebenarnya hanya sekedar tekstil dengan motif penuh yang ‘bertopeng’ sebagai batik?

Salah satu ilmu yang saya dapatkan dari menjadi panitia acara grosir gathering di Jogjakarta digabung dengan menjadi anak seorang laki-laki asli Jawa Tengah membuat saya tahu bahwa batik sendiri hanya ada dua jenis, batik tulis dan batik cap. Saya sendiri hanya punya 3 batik tulis yang berbentuk samping (kain bawahan) yang hanya ‘keluar kandang’ kalo kondangan saja karena make-nya ribet.

Batik tulis biasanya digambar di atas kain semi sutera atau sutera. Digambarnya dengan menggunakan canting, yakni diawali dengan mengambar polanya di atas kertas, yang kemudian dicopy ke atas kain. Tapi si canting ini bukan untuk mewarnai. Lilin di dalam canting fungsinya hanya melindungi kain dari pewarnaan. Dan warnanya sendiri sebisa mungkin berasal dari alam, kecuali untuk jenis-jenis warna lain yang lebih variatif. Contohnya, untuk Yogyakarta biasanya batik monokromatik seperti ParangRusak. Mega Mendung dar Cirebon lebih dominan biru dan/atau ungu, batik Lasem, Pekalongan, Madura sendiri identik dengan motif bunga-bunga dan warna yang lebih cerah.

Mengingat cara pembuatan dan bahan-bahannya yang bisa masuk kategori sulit, maka tidak heran kalau batik tulis termasuk mahal. Tips memilikinya dengan lebih affordable? Langsung datang ke pembuatnya, jangan ke toko kain.

Karena batik tulis relatif mahal, maka ditemuin bentuk lain yang lebih affordable, yakni batik cap dengan Menggunakan cap khusus. Jika penggambaran dengan canting bisa memakan waktu berminggu-minggu, maka dengan cap, batik bisa dibuat dengan lebih cepat sehingga menguntungkan untuk stimulasi industri, dimana dalam jangka waktu yang sama, industry bisa memproduksi batik cap lebih banyak dibandingkan memproduksi batik tulis.

Bisa jadi pula si cap dikombinasi dengan tulis, yakni dikenal dengan nama semi-tulis. Kalo tidak salah, motif semi-tulis salah satunya adalah parangrusak yang merupakan motif repetisi. Walaupun berbeda, tapi ada satu kesamaan ciri-ciri batik tulis dan batik cap, yakni motifnya menembus hingga ke sisi lain kain, sehingga bisa dipakai bolak-balik.

Nah, kalo kita sekarang datang ke pusat-pusat perbelanjaan seperti pusat-pusat grosir, dimana banyak batik bergelimpangan dengan mode beraneka ragam, apakah itu batik? Menurut saya bukan.

Jika dilihat sekilas, memang beberapa batik yang dijual bebas di pasaran dengan model-model trendy itu sangat mirip dengan batik aslinya. Tetapi kalau kita teliti, biasanya motif batik itu tidak menembus ke sisi lain kainnya. gawatnya lagi, beberapa motif dibuat mirip percis dengan aslinya, padahal sebenarnya batik itu adalah impor dari Cina, negara yang sangat pintar dari segi duplikasi barang se-original dan dari brand apapun. si tukang tiru kelas wahid!

Di kantor saya juga sama, karena karakteristiknya yang sudah berulang beberapa kali, teman-teman yang awalnya benar-benar memakai batik dan excited menambah koleksi batik dalam lemari bajunya, pada akhirnya ‘cuma’ pake baju yang ‘asal’ bermotif penuh. Khususnya para perempuan .

Suatu Senin ManisMan muncul di kantor dengan terusan warna biru.

“perasaan baju lo bukan batik deh,” ujar saya.

emberrr… ini kan motif paisley,” jawab ManisMan.

Saya tertawa dan dibalas lagi dengan ucapan cuek khas ManisMan,

bodo ah. Yang penting motif”

That simple.

Coba kita lihat ke belakang pada saat kita jadi siswa SD, SMP dan SMA. Sekolah mewajibkan kita untuk memakai seragam batik di setiap hari Jum’at. Tanpa tahu esensi dan tanpa pernah diajarkan sama sekali mengenai batik –jenis maupun sejarah dan cara pembuatannya–, otak kita mentah-mentah di­-brainwash mengenai konsep si batik itu sendiri dan …. Tidak tepat. Coba ingat-ingat, motif batik Anda waktu masih di bangku sekolah. Apa iya kemeja dengan motif print Hawaii dengan corak Tut Wuri Handayani itu disebut sebagai : Batik?

Pada saat batik diklaim oleh Malaysia sebagai salah satu hasil kebudayaan mereka, kita ribut-ribut panas ati mati-matian membela ‘hasil kebudayaan’ kita itu. Tetapi kalau kita telaah lebih lanjut, sebenarnya apakah benar memang kita cinta dan ingin melestarikan serta membudayakan batik di dalam negeri kita sendiri padahal sebenarnya yang kita pakai adalah batik abal-abal yang sebenarnya bukan hasil produsen Indonesia, melainkan tiruan KW Super dari Cina?

Apa esensi dari teriakan kita, kalau ternyata sejak bangku sekolah kita malah mendidik anak-anak kita bahwa definisi batik adalah print Hawaii yang dipaksakan dengan motif Tut Wuri Handayani?

Apa esensi dari teriakan kita, kalau akhirnya pengrajin-pengrajin batik tetap miskin dan tidak maju, dan cuan dari penjualan batik dan devisa negara tetap masuk ke kantongnya enci-enci dan engko-engko dari negeri Tirai Bambu?

tapi saya juga ngga bisa berkutik apa-apa waktu menghadiri malam gala dinner pengumpulan dana untuk pembangunan gereja dimana satu seatnya berharga 5 juta Rupiah dan di dalamnya dilelang batik almarhum Iwan Tirta dan piring keramik dengan motif batik. kenapa tidak berkutik, karena untuk karya asli yang benar-benar batik itu, lelang harganya saja sudah dimulai dari angka lima puluh juta Rupiah.

Efek wine tasting (yang merupakan bagian dari acara) sebanyak 10 gelas, membuat Dodonat (yang kebetulan jadi partner saya malam itu) bolak-balik mengancam,

“awas ya lu kalo berani-berani salah angkat tangan. gue ngga mau tanggung jawab!”

So… esensi dari batik masa kini yang banyak bertebaran di pasaran and sebenernya adalah hasil karya enci-enci dari negeri nun jauh di sana dan bukan hasil karya pengrajin batik domestik yang rela puasa 7 hari 7 malam sebelum menenun kain sutra batik adalah mbak-mbak dan mas-mas tetep bisa ha-ha-hi-hi merasan bergaya stylish dengan batik kodian tanpa kuatir kantong bolong dan tetap dengan bangga berteriak dan mengaku lantang, ‘Nasionalis!!’

ironi gedung baru

Setelah menjadi gossip selama lebih dari satu tahun, akhirnya diputuskan juga kepindahan kantor kami ke gedung baru. Tidak hanya itu, lokasi pun dengar-dengar sudah diputuskan. Tapi seperti biasa, di awal-awal informasi belum bocor sehingga membuat kroco-kroco seperti kami ini mulai melakukan investigasi.

Marketing director kami tergolong pria dengan selera tinggi. Sekolahnya di bidang arsitektur dan hobinya di bidang desain membuat kami 100% yakin akan pindah ke gedung yang lebih nyaman, elegan, dan lebih bagus dari sekarang.

Sebagian besar teman-teman berharap kita keluar dari kawasan industri. Selain karena dianggap ngga keren banget!, lokasi juga membuat pencarian sesuap nasi untuk makan siang lebih sulit. Jarang tempat gaul yang genah dan terjamin bebas bakteri e colli. Rumah makan dengan AC (atau at least kipas angin) berjarak lebih dari setengah jam dari kantor kami, sehingga Warung Amigos (Agak Minggir Got Sedikit) sudah pasti jadi langganan setiap makan siang.

Alasan kedua adalah karena nama jalan kantor kami sangat-sangat tidak menjual untuk disebut, rawa gatel. Entah apa yang dipikirkan orang yang menciptakan nama jalan ini dulu. Yang jelas, jika maksud orang itu adalah agar reaksi orang yang mendengar jawaban kami saat ditanya alamat kantor adalah tertawa keras atau diam tapi memandang hina, maka usaha beliau berhasil dengan gemilang.

Pembangunan infrastruktur jalan yang tidak merata adalah alasan ketiga. Entah kenapa, pengembang kawasan industri memutuskan hanya memasang jalan beton sepanjang 100 meter sebagai usaha memperbaiki jalan depan kantor yang sering rusak dan bolong-bolong. Dan beton yang keren itu dibangun tepat berhenti di sebelum depan kantor kami. Pemasangan beton setinggi hampir 20cm yang ‘pilih kasih’ itu membuat jalan di depan kami menampung air hujan dan tergenang seperti kolam ikan, dimana air tidak tahu harus ‘berlari’ kemana. Begitu pula kami –yang tidak tahu harus berlari kemana– pada saat hujan deras dan jalan banjir besar. Kecuali punya mobil jenis amphibi seperti Hummer.

Lengkaplah sudah sebutan Rawa Gatel pada jalan kantor kami.

Sayangnya, harapan tinggal harapan. Berita bahwa kantor hanya pindah 3 nomer yang justru semakin menjorok ke dalam jalan yang sama bagaikan petir di siang bolong.

“hah! Sumpe lo! Gue pikir kita bakal pindah ke daerah Sudirman!”

“Mana mungkin, cuy! Denger-denger ini politik jenis kelamin! Ada pihak-pihak tertentu yang mempengaruhi supaya kantor kita kagak pindah ke luar kawasan industri laknat ini!”

“masa sih?”

“menurut looo? si babe kan rumahnya di ujung dunia gitu. Kalo dia pengen pindah ya harusnya menuju Sudirman dong. Biar makin deket ke rumahnya! Ya ngga sih?”

Semua orang manggut-manggut dan memenuhi otaknya dengan kecurigaan dan prasangka.

Belum lagi, pembicaraan mengenai si gedung baru yang rupanya belum pernah kita lihat itu.

tau ngga sih lo, tuh gedung katanya bekas pembunuhan!”

hah! Yang bener lo?”

“iya. Udah gitu, udah lama banget ditinggalin, kagak ada yang nempatin! Pasti banyak setannya!”

yo oloooh! Di sini aja udah banyak setannya! Di sana lebih banyak lagi? Edan!”

Makin kacaulah otak para karyawan yang sebelumnya sudah dipenuhi kecurigaan dan prasangka, makin Pol ditambah dengan ketakutan yang tidak beralasan.

Dengan berbekal kecurigaan, prasangka, ketakutan plus rasa kecewa, sepulang makan siang di salah satu cabang Amigos kawasan industri, kami memutuskan mampir ke calon kantor baru. Tak kenal maka tak sayang.

Begitu masuk, kami sudah disambut gudang besar dengan tumbuhan liar di sekelilingnya.

“yang ini?”, Dodonat membelalak.

Ternyata bukan.

Sepanjang jalan dari gerbang depan hingga ke kantor yang dituju harus melewati 2 gudang besar lagi yang sudah lama tidak terpakai. Bayangkan betapa banyaknya setan-setan bergentayangan di sana! Tanaman merambat liar yang belum dipangkas membuat rasa ilfil semakin mendalam. Tiba-tiba keberadaan mas Lani si tukang taman di kantor sekarang sangat disyukuri oleh semua orang yang ada di dalam mobil itu.

Gedung yang akan menjadi kantor masa depan kita bagaikan Puskesmas terbengkalai kalau dilihat dari luar. 3 ekor angsa yang super galak hampir menerkam kami saat keluar dari mobil. Gedung macam apa ini kok penjaganya bukan anjing tapi malahan soang?

Untuk naik ke lantai dua –tempat brand management akan mangkal nantinya– belum dibangun tangga. Jadi terpaksalah kami harus naik lewat tangga besi darurat yang mirip dengan tangga yang dipasang di rumah menuju tempat jemuran.

lu sebaiknya nanti jangan pake high heels lagi deh, karena berisik, bo, pas lo naek tangga!” ujan Dodonat pada saya.

lah? Ini bakalan jadi tangga permanen?” teriak saya.

“menurut looo?”

Sudah keburu lemas dengan perjalanan menuju lokasi, serangan 3 ekor soang, pendakian tangga jemuran ditambah dengan bekal kecurigaan, prasangka, ketakutan plus rasa kecewa yang dibawa sebelum ke lokasi, membuat aura pada saat melihat lantai dua sudah keburu ngga enak.

kok jadi kecil bgini sih?”

“perasaan kita dipindahin karena kantor kita sebelumnya udah kekecilan deh! Lah ini kok malah lebih kecil lagi?”

“katanya per meja disekat-sekat. Lemari isi barang-barang gue mau ditaro dimana? Trus, kalo kita mau nge-gossip kan jadi susah!”

gimana kita bisa bekerja dengan baik kalo gedung tempat kita bekerja ngga nyaman dan ngga mendukung!”

Akhirnya kami berdelapan pulang ke kantor tanpa berkata apa-apa saking lemesnya dengan kenyataan yang dihadapi.

“perusahaan se-gede ini kok ya milih kantornya begini?” umpat salah seorang teman.

Ke delapan karyawan itu pun kemudian membuat heboh kantor dengan membahas ’temuan lapangan’ mereka dengan seisi kantor setelah shock berangsur-angsur hilang. Bisa ditebak, rasa kecewa meluber dengan mudah dan susah hilang selayaknya jalan depan kantor yang diluberi air pada saat hujan besar dan banjir ‘kolam ikan’.

Acara Brand-Brand Paling Nge-Top yang diadakan di hotel kawasan Senayan malam itu membawa sebagian dari kami melewati daerah kantor perusahaan kompetitor. Ternyata hampir mirip dengan kami, sang kompetitor baru saja membangun gedung kantor baru. Bedanya, dengan jarak hanya beberapa ratus meter dari kantor yang lama, bangunan kantor baru mereka jauuuuh lebih megah, ciamik, dan naik kasta mendekati langit, lantai 33!. Khas kantor modern kawasan Sudirman dan Kuningan. Lengkap sudah ke-ilfil­-an kami semua.

Secara skala perusahaan, kami jelas lebih besar. Perusahaan kami adalah terbesar di Asia Tenggara untuk kategori industrinya. Brand yang ada di bawah komando kami lebih dari 20 jumlahnya, dan setiap brand dikomandoi satu orang manager. Orang yang banyak plus tanggung jawab yang besar… paling tidak gedung yang kami miliki harus mirip –atau malah, lebih bagus– dari kompetitor kami, yang bukan terbesar se-Asia Tenggara.

lu tau ngga kalo anggota DPR katanya mau bangun gedung baru buat kantornya?”, siang itu saya menguping pembicaraan dua orang teman satu kantor.

gue baca sih di koran tadi pagi. Selewat doang. Gila juga ya! Perasaan gedung lamanya masih bagus”

lu tau ngga bugdet estimasi pembangunannya berapa?”

berape? Pasti M-M-an deh!” jawab sang temen sok yakin.

“jangan salah, cuy! 1.6 trilyun!”

“HAAAA! Apa alesannya harus bikin gedung semahal itu? Emang isinya apa? Gedung lama kan masih bagus!”

Denger punya denger, gedung perwakilan rakyat itu berisi spa dan kolam renang. Spa masih diperdebatkan kebenarannya, tetapi fakta kolam renang terjustifikasi dari twitter yang saya terima dari kantor berita online :

7 Sep 2010 xxxxx.com situs warta era digital. Anggota DPR: Kolam Renang Gedung Baru Bisa Bantu Padamkan Kebakaran

“Ini bukan untuk exercise. Menurut arsitek, pool yang terletak di lantai 36 (paling atas) bisa membantu kalau ada kebakaran. Kalau pemadam biasanya baru datang 1 sampai 2 jam, ini bisa langsung digunakan untuk memadamkan,” ujar Michael Wattimena, Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR.

“mereka bilang, gedung yang sekarang sudah miring, jadi tidak nyaman lagi buat bekerja. Makanya butuh gedung baru!”

“miring? Kan keren, kaya Menara Pisa. Jadi serasa di Italia”

“gila apa ya. Pake gedung sekarang aja mereka ngga bisa menghasilkan apa-apa. Apalagi pindah gedung baru!”

“iya ya, trus kolam renang sebenernya tuh fungsinya apa?”

“mungkin maksudnya biar kalo kebakaran tinggal nyemplung aja!”

cin… kolam renangnya di lantai 36! Gimana mau nyemplung!”

“atau… mungkin ntar tinggal dibocorin kolamnya biar airnya langsung turun ke bawah”

emangnya betonnya kelas kerupuk? Lagi ribet-ribet kebakaran masih sempet gitu nge-bor langit-langit atap?”

“atau pake ember? Jadi anggota DPRnya mondar-mandir naek turun madamin api?”

kalo kebakarannya di lantai 3 gimana? Keburu encok kaleeee”

“apapun itu! Gue yakin kalo gedung baru ngga akan mempengaruhi kinerja DPR! Tetep aja rakyat Indonesia bakal gini-gini aja!”

“gedung ngga ada hubungannya dengan kinerja!”

Sekeras-kerasnya teman-temanku berteriak, mereka tidak sadar kalau mereka (termasuk saya) meneriakkan sesuatu hal yang berbeda dengan apa yang dipraktekkan. Kami semua terluka dengan tindakan anggota DPR yang meminta gedung baru dan mewah demi kinerja lebih baik, di satu sisi kami sendiri kepengen juga punya gedung baru yang bagus sesuai keinginan kami karena kami anggap bisa mendukung kinerja kami.

Bekerja –hampir semua karyawan berpendapat sama– membutuhkan lingkungan yang nyaman dan mendukung. Tetapi kadang-kadang manusia menaikkan standar hak yang ingin mereka terima dan bukannya lebih dulu mendahulukan pemenuhan kewajiban. Dan ironisnya, kita (termasuk saya) tidak sadar kalau kelakuan kita ngga jauh beda sama anggota-anggota DPR yang kita cemooh!

Gedung baru kami bahkan belum 50% jadi, tapi kami sudah keburu berpikir yang ngga-ngga dan menjustifikasi seolah-olah kami pasti akan tinggal di kantor yang tidak layak dan bahwa kami sebenarnya berhak untuk dapat kantor yang jauh lebih mewah dan nyaman.

Kecurigaan, prasangka, dan ketakutan yang tidak beralasan menutupi mata kami untuk melihat yang sebenarnya:

  • Bahwa ubin gedung baru menggunakan granit yang jauh lebih bagus daripada gedung sekarang yang ‘Cuma’ pakai keramik biasa.
  • Bahwa Marketing director kami sebenarnya sudah khusus memanggil interior design untuk membuat kantor baru jadi senyaman mungkin untuk kami tempati.
  • Bahwa tetap berada di Rawa Gatel –dengan melupakan banjir lokal ala kolam ikan– adalah keuntungan bagi kami karena uang makan kami terselamatkan warung-warung Amigos dibanding jika kami bekerja di wilayah Sudirman atau Kuningan yang minimal pake budget cafe-cafe atau mall ber-AC.
  • Bahwa dengan sering makan kuliner rawan bakteri e-colli, perut kami jadi lebih terlatih dan tidak manja pilih-pilih makanan.
  • Bahwa kami lupa bersyukur pada situasi yang sebenarnya sudah sangat nyaman bagi kami.
  • Bahwa kami selalu menuntut hak –yang cenderung berlebihan–, padahal sebenarnya tugas kami adalah bekerja dengan baik. Dan tempat yang kami punya sebenarnya sudah layak.

Memang sih, kepindahan ke gedung baru masih di’hantui’ oleh kemungkinan banjir lokal dan gangguan soang atau setan-setan penghuni gedung yang merasa tempatnya diambil kami. Tapi kami juga tidak boleh lupa untuk belajar untuk lebih fokus pada hal-hal baik yang akan kami terima dan kepada kewajiban yang harus selalu kami maksimalkan dalam bekerja.

Anggota DPR dan rencana Gedungnya yang melukai sebagian besar rakyat Indonesia sebenarnya jadi pelajaran buat kami. Walaupun beda kasus jauh –dimana kita bukan pelayan masyarakat seperti anggota DPR–, tapi dimanapun kita berada, apapun kasusnya, jangan pernah lupa kalau memenuhi kewajiban dengan maksimal harus mendahului sebelum (dengan berlebih) kita menuntut hak-hak kita.

Selain itu, jangan pernah lupa bersyukur pada hal-hal apapun yang kita terima,… biarpun hal tersebut tidak punya lantai 36 dan kolam renang di atap gedung…